"Zevanya, kamu sudah menandatangani kontrak kerjamu dalam keadaan sadar, ya kan?" tanya Nila keesokan harinya. Staff recruitment yang mewawancarai Zevanya selama proses penerimaan karyawan itu menatapnya dengan intens.
"Iya, tapi saya tidak mengira kalau kontrak ini akan berlaku selama seumur hidup. Tidak mungkin juga kan saat saya tua renta nanti saya masih bekerja di Star Group?" desah Zevanya.
"Mungkin kedepannya akan ada kebijakan baru lagi untukmu. Tapi untuk saat ini, kami tidak bisa menerima surat pengunduruan dirimu. Kecuali, kamu mau menerima segala konsekuensinya."
Barusan Zevanya membaca seluruh isi kontrak kerjanya itu. Jadi Zevanya tahu konsekuensi seperti apa yang Nila maksud. Selain akan mendapatkan tuntutan secara hukum dengan nominal yang sangat fantastis, Zevanya juga akan dipastikan menganggur selamanya karena ia akan di black list Star Group.
Jika sudah masuk ke dalam daftar hitam Star Group, bisa dipastikan tidak akan ada satupun perusahaan yang akan menerimanya.
Berkali-kali Zevanya mengutuki dirinya sendiri karena tidak membaca lagi secara teliti isi surat kontraknya. Hanya karena gaji yang menggiurkan ia langsung terlena begitu saja.
"Bagaimana kalau saya tetap bekerja di sini, tapi saya pindah ke department lain. Bisa kah?"
Setidaknya jika Zevanya tidak bertemu secara langsung dengan Reynard, kemungkinan ia bertemu dengan Nada akan sangat kecil. Selain itu, ia tidak akan sesibuk saat bekerja di department tertinggi perusahaan itu.
"Tidak bisa. Karena yang memintamu secara langsung untuk bekerja dengannya adalah Tuan Rey sendiri. Apa kamu pikir semua karyawan yang akan bekerja di perusahaan ini akan diwawancarai langsung oleh Tuan Reynard? Tidak, Zevanya. Hanya kamu saja yang meiliki kesempatan emas itu di sini."
Sontak saja penjelasan Nila membuat kedua mata Zevanya membola. Jika benar demikian, kenapa Reynard melakukan itu? Apa sebenarnya pria itu tahu kalau Zevanya adalah adik tiri Nada?
Tapi saat di golf club kemarin, Reynard sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia tahu Zevanya dan Nada merupakan adik dan kakak. Lagipula, perlakuan Reynard padanya begitu kejam. Tidak mungkin Reynard bisa sekejam itu padanya kalau dia tahu Zevanya akan segera menjadi adik iparnya.
Lalu apa yang menjadi tujuan pria itu padanya?
Dibilang Zevanya karyawan spesial karena diwawancarai langsung oleh Sang CEO itu tidak juga. Kerena alih-alih memperlakukan Zevanya secara spesial, pria itu malah cenderung memberinya perintah di luar nalar manusia.
Tidak dapat menemukan jawaban yang tepat,Zevanya pun bertanya pada Nila, berharap wanita itu mengetahui alasannya,
"Bu Nila tahu kenapa Tuan Reynard memberikan kontrak seumur hidup pada saya?"
"Awalnya, saya dan team pun tak percaya saat Pak Marco meminta kami untuk membuat kontrak kerja kamu. Biasanya bagi karyawan baru akan ada masa probation selama tiga bulan. Tapi kamu malah mendapatkan kontrak seumur hidup dengan gaji lebih besar dari kami."
Zevanya mendesah pelan sambil bersandar di kursinya. Harapannya mendapatkan jawaban dari Nila pupus sudah, karena wanita itu sama tidak tahunya dengannya.
Nila terlihat mencondongkan sedikit badannya saat berbisik,
"Kamu bukan mantan kekasihnya kan?"
"Mantan kekasih siapa?" tanya Zevanya dengan bingung atas perubahan topik pembicaraan mereka itu.
"Tuan Reynard. Kami semua menduganya seperti itu." Zevanya pun kembali duduk tegak saat menyangkalnya dengan tegas,
"Astaga, tentu saja bukan! Aku baru bertemu dengan Tuan Reynard saat wawancara itu, kami tidak pernah bertemu sebelumnya!"
"Apa kamu yakin?"
"Seribu persen! Lagipula, tidak mungkin Tuan Reynard kenal denganku. Pergaulan kami bahkan jauh berbeda. Ibaratnya langit dengan bumi, Bu Nila."
Zevanya tidak mengira, kalau Nila yang kelihatannya kalem itu ternyata bisa bergosip juga. Ia memang tidak seharusnya menilai seseorang dari nampak luarnya saja.
Nila kembali duduk di posisinya semula, matanya tetap tertuju pada Zevanya,
"Kami kira kontrak seumur hidup itu karena Tuan Reynard akan menikahimu. Tapi ternyata, kamu hanya dipekerjaan sebagai cleaning service. Well, mungkin saja Tuan Reynard sedang memiliki banyak waktu luang saat mewawancaraimu. Tapi ... Tetap saja gaji yang kamu terima tidak masuk akal."
'Pekerjaannya pun tidak masuk akal!' keluh Zevanya dalam hatinya.
"Tapi di dalam kontrak itu, aku baru bisa keluar dari Star Group kalau aku menyandang status sebagai tahanan, benar kan?"
"Dipecat lebih tepatnya!" ralat Nila.
"Ya, aku akan dipecat kalau aku melakukan kejahatan. Apa ada isi kontrak seperti itu sebelum aku?"
"Tidak ada. Kamu yang pertama."
Zevanya kembali mendesah pelan. Salah satu alasan ia bisa keluar dari Star Group sama sekali tidak bisa ia lakukan. Menjadi seorang tahanan? Itu tidak akan bagus untuk perkembangan mental Abercio. Sementara alasan lainnya, ia tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar dendanya.
Menjadi tahanan atau membayar denda? Keduanya sama-sama berat untuk Zevanya lakukan, nyaris mustahil. Tapi kalau Zevanya tetap bekerja di perusahaan itu, kejahatannya cepat atau lambat pasti akan terbongkar. Entah Nada yang akan melakukannya, atau Ramon.
Lalu ia harus bagaimana?
Zevanya sungguh menyesali keputusannya pindah ke Star Group. Seharusnya ia tetap mempertahankan pekerjaan sebelumnya. Meskipun dengan gaji tidak sebesar sekarang, pekerjaannya itu tidak terlalu berat, dan Zevanya memiliki banyak waktu dengan Abercio.
Sekarang tidak hanya waktu Zevanya bersama Abercio saja yang berkurang, tapi juga tenaganya. Kesehatannya pun mulai bermasalah. Entah berapa kali Zevanya muntah semalam dan menjadi sedikit demam karenanya.
"Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi?"
"Tidak ada," jawab Zevanya lirih. Ia telah terbelenggu bersama dengan CEO kejam itu seumur hidupnya. Atau selama ia dapat mengumpulkan uang untuk membayar dendanya.
'Ah ya benar! Aku harus hidup lebih hemat lagi untuk menebus diriku sendiri! Atau ... Apa aku harus terus berpura-pura ceroboh supaya Tuan Reynard habis kesavaran denganku dan akhirnya memecatku?' batin Zevanya.
Sementara itu di ruang kerja Reynard,
"Mengundurkan diri katamu?" tanya Reynard pada Marco.
"Ya, Tuan. Sekarang Zevanya sedang berada di ruang HRD," jawab Marco.
"Cih, baru bekerja selama dua hari saja sudah tidak tahan dia! Bagaimana dengan saya yang harus melewati hari saya tanpa pernah bisa melupakan pelecehan yang sudah wanita itu lakukan pada saya!" geram Reynard, lalu beralih dari pemandangan kota ke mata Marco, ia menatap tajam asisten pribadinya itu,
"Kau sudah memastikan kalau kontraknya berlaku seumur hidup kan?"
"Ya, sudah Tuan. Dan pastinya Bu Nila juga akan menjelaskan isi kontrak itu pada Zevanya."
Senyum sinis terbentuk di sudut bibir Reynard, sementara matanya menyipit dengan penuh kebencian,
"Saya dapat membayangkan dengan sangat jelas, akan seperti apa reaksi wanita sialan itu saat mengetahuinya. Dia pikir dapat lepas dari saya begitu saja? Hah! Tidak akan! Nerakanya baru berjalan dua hari, masih banyak hari yang akan dia lalui dalam penderitaan!"