Sampai ditempat tujuan, Sri terlebih dahulu masuk ke dalam hotel. Romeo, menatap kepergian wanita itu dengan perasaan bersalah. Tidak sepatutnya dia mengatakan hal yang seperti itu. Dia, menghela nafasnya yang terasa berat. Lalu, mencoba untuk membiarkan wanita itu lebih tenang. Didalam kamar, Sri mengomel tidak jelas. Tangannya berkacak pinggang, dia duduk disofa dengan raut wajah yang sangat kesal. Suara decihan terdengar di bibir wanita itu,"Cih, coba saja bilang lagi didepan Sri, mulutnya mau tak sendal rasanya!" Sri kesal. Dia teringat ucapan Romeo sebelumnya membuat hatinya panas. Mulutnya komat kamit seperti Mbah dukun. Dia sangat kesal sekali. "Yang nyuruh mengatakan cinta siapa?! Dia sendiri, terus marah - marah ndak jelas!" Sri, lalu memukul bantalnya keras. Dia melampiaska

