Bab 10

1206 Words
Hari sudah gelap, Radit masih mencoba mencari adiknya, Zahra. Radit mencari ke jalanan yang biasa Zahra kunjungi, tetapi nihil, ia tak menemukan jejak Zahra. Sesekali ia berhenti dan mencoba menelfon Zahra, tetapi masih tetap sama, ponsel Zahra mati. Hujan tiba-tiba turun, Radit segera mencari tempat berteduh. Ia menemukan halte disana. Radit memarkirkan motornya di depan halte dan ia segera berlari untuk meneduh. Hawa mulai dingin karena turunnya hujan, tetapi bagi Radit itu semua tak terasa, pikirannya hanya tertuju kepada Zahra. Ia sangat merasa bersalah karena tak menjemput Zahra tadi. Padahal, Raga sudah memberi tahunya jika posisi Zahra mungkin dalam bahaya saat ini. Ponsel Radit tiba-tiba berbunyi, ia mengambil dari saku jaketnya dengan harapan yang menelfonnya adalah Zahra atau paling tidak ada kabar terbaru tentang Zahra. Ia melihat nama yang tertera di layarnya, ia mendengus sebal. Ia malas mengangkat telfon dari cewek itu, siapa lagi kalau bukan Chintya. Pasti tak penting, pikir Radit, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya kemudian kembali menggosokkan kedua tangannya untuk mencari kehangatan sedikit. Chintya menelfonnya lagi, Radit sangat malas untuk menjawabnya. Ia sebenarnya sudah sangat muak jika harus berhubungan dengan Chintya lagi, tetapi Chintya bisa berbuat nekat dengan cara menghancurkan keluarganya jika Radit tak mau kembali kepadanya. Radit membiarkan ponselnya berbunyi tanpa berniat menjawabnya. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi kembali, tetapi kali ini bukan ada notifikasi panggilan, melainkan notifikasi pesan singkat. Radit membuka dan membacanya. Ia terbelalak. Dengan tergesa-gesa, Radit menghampiri motornya dan menjalankannya, menerobos hujan yang masih turun dengan derasnya. Ia tak peduli, karena hal ini menurutnya sangat penting melebihi apapun. Inilah kabar yang ia tunggu daritadi. Radit menjalankan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi. Ia ingin cepat sampai di tempat tujuannya. "Mana Zahra?" Tanya Radit ketika ia sudah sampai di tempat tujuannya. Cewek itu hanya melirik matanya seperti memberi informasi keberadaan Zahra. "Kak Raditttt" Teriak Zahra ketika melihat Radit, ia langsung berlari dan memeluk kakaknya itu. Radit sangat bersyukur akhirnya ia telah menemukan adik tersayangnya itu dalam keadaaan baik-baik saja meskipun ia melihat muka Zahra sedikit lebam dan kondisinya benar-benar berantakan. "Kamu kemana aja, Ra? Kakak, Mama, Papa, bahkan Raga itu cariin kamu" Ujar Radit yang masih memeluk adiknya. Ia mengelus lembut rambut adiknya itu. Zahra menangis sesenggukan di pelukan Radit. Radit membiarkannya agar Zahra lebih tenang. "Kamu kenapa, Ra? Cerita sama kakak" Tanya Radit setelah mereka melepaskan pelukannya. Zahra masih terdiam, ia masih belum mau berbicara apapun. "Gimana ceritanya lo bisa nemuin adik gue?" Tanya Radit kepada Chintya. Ya, Chintya-lah yang memberi kabar kepada Radit bahwa Zahra sedang berada di rumahnya. *Flashback On* Chintya baru saja pulang dari mall karena habis berbelanja kebutuhannya mulai dari make up, tas, sepatu, dan lain lain. Hari ini Chintya memang ingin berbelanja sendiri, jadi ia mengendarai mobilnya sendiri tanpa diantar oleh supir. Chintya lewat Jalan Anggrek, jalan yang lumayan sepi dan terkenal seram karena banyak begal disana. Ia lebih memilih jalan itu karena ia malas jika harus terkena macet jika ia melewati jalan besar. Lagian, jika ia terjadi apa-apa, ia sudah memasang GPS, jadi orang terdekatnya pasti bisa melacak daerah dimana Chintya berada. Ketika melewati jalan itu, Chintya seperti melihat ada seorang gadis yang masih memakai seragam SMA bersama dengan orang-orang berbadan besar yang berpakaian serba hitam, dibelakangnya sudah ada seorang cewek sekitaran SMA yang Chintya duga adalah dalang dari penculikan itu. Karena ia hanya menyuruh orang-orang yang berbadan besar itu untuk memasukkan siswa SMA itu ke sebuah gudang tua di jalan tersebut. Chintya tak berani jika langsung mendekat ke TKP. Ia lebih memilih menghubungi polisi agar posisinya lebih aman dan ia bisa menyelamatkan siswa SMA itu. Beberapa saat kemudian, polisi datang, Chintya turun dan menjelaskan apa yang ia lihat kepada dua polisi yang datang. Chintya dan kedua polisi itu bersiap-siap untuk segera melakukan penggrebekan yang diduga penculikan itu. "Jangan bergerak" Ucap Pak Polisi ketika sudah berhasil membuka gudang tua itu. Semua orang yang ada di dalam itu sangat terkejut dan takut. Mereka mengangkat kedua tangannya. Chintya langsung menghampiri siswa SMA yang diikat di sebuah kursi dengan kondisi mulut dan mata yang ditutup. Chintya segera melepaskan ikatan di tangan gadis itu, dan membuka lakban yang menutup mulutnya serta kain yang digunakan untuk menutup matanya. Ketika semua telah terbuka, Chintya sangat terkejut, ia tahu betul siapa gadis ini. Dia adalah Zahra, adik Radit, pria yang sangat ia cintai. Mungkin Zahra memang tak kenal siapa Chintya, tetapi Chintya tau semua yang berbau tentang Radit. "Ayo kamu ikut aku. Kita pergi dari sini" Ujar Chintya segera menarik tangan Zahra keluar dari gedung tua itu dan membawanya ke dalam mobil Chintya. Zahra menangis, kondisi mukanya sudah sangat berantakan. Pipinya lebam, seperti ditampar berkali-kali. Chintya segera membawa Zahra menuju ke rumahnya. Ia mengompres luka yang ada di muka Zahra agar tak terasa sakit lagi. Sementara, si penculik sudah di bawa ke kantor polisi untuk ditahan dan dimintai keterangan. Chintya juga memberi Zahra minuman hangat agar Zahra bisa kebih tenang. Setelah ia melihat Zahra lebih tenang, Chintya segera menelfon Radit. Tetapi, Radit tak mengangkatnya melainkan malah merejectnya. Ia telfon lagi, tetapi tetap sama. Radit tak mengangkatnya. Akhirnya, Chintya memutuskan untuk mengirim chat kepada Radit. *Flashback Off* "Siapa yang culik kamu, Ra?" Tanya Radit setelah ia mendengarkan cerita dari Chintya. "Dit, penculiknya udah ada di kantor polisi, jadi lo tenang aja. Jangan paksa Zahra buat ngomong dulu. Mungkin dia masih shock" Ujar Chintya. "Thanks, lo udah nyelametin adik gue" Ujar Radit tulus. Chintya hanya tersenyum sekilas. ***** Saat ini, Raga dan teman-temannya melakukan latihan terakhir sebelum besok bertanding. Raga banyak tak fokusnya, bola yang ia dribble dan ia bawa ke ring, pasti meleset dan alhasil bola itu direbut oleh tim lawan. Raga mendapat teguran berkali-kali dari Reihan dan juga teman di timnya. Raga juga mendapat teguran dari Pak Dani, pelatihnya. "Ada apa Raga? Apa kamu ada masalah?" Tanya Pak Dani kepada Raga. Pak Dani meniupkan peluit agar permainan di selesaikan. Pak Dani melihat ada yang tak beres dengan Raga. Tak biasanya Raga seperti ini. "Nggak ada apa-apa, Pak. Maaf, Pak, hari ini saya nggak bisa konsen" Ucap Raga menundukkan kepalanya. Ia sangat merasa bersalah dengan Pak Dani, juga teman-temannya. "Jika ada masalah segera selesaikan. Jangan sampai ini akan menganggu pertandinganmu besok. Ingat, Raga, kamu adalah calon kapten basket tahun depan. Kamu harus menujukkan skillmu" Ucap Pak Dani menasehati. Raga hanya mengangguk lemah. Moodnya sedang berantakan, jika ia belum mendapat kabar tentang Zahra, pikirannya belum tenang. "Emang belum ada kabar apapun tentang Zahra?" Tanya Ardan setelah Pak Dani membubarkan semua timnya dan menyuruh mereka beristirahat dan menyiapkan mental untuk pertandingan esok. Raga menggeleng.  "Ga, lo gak bisa kaya gini. Lo harus fokus buat pertandingan besok. Lo harus berfikir positif tentang Zahra, lo harus yakin Zahra nggak apa-apa, Ga" Tutur Reihan.  "Iya, Ga. Ini demi sekolah kita loh. Jangan sampe lo ngecewain semuanya terutama Pak Dani yang udah ngasih kepercayaannya sama lo" Ujar Fikri ikut menasehati Raga. ***** Zahra merasa badannya kurang sehat pagi ini. Mamanya sudah melarangnya untuk masuk sekolah terlebih dahulu. Mamanya takut jika terjadi apa-apa dengan putrinya itu. Begitupula dengan Radit, ia juga sudah melarang Zahra untuk tak masuk sekolah, tetapi Zahra masih tetap ngotot untuk masuk sekolah karena hari ini ada ulangan matematika katanya.  Ponsel Radit berbunyi saat ia masih berada di kamar Zahra bersama dengan mamanya. Radit melihat sekilas, ternyata dari Raga. "Halo, Ga" Sapa Radit. Zahra menoleh saat Radit menyebut nama Raga. Zahra ingat jika hari ini Raga dan tim basket sekolahnya tanding. "Iya ini Zahra udah di rumah kok" Ujar Radit. "...." "Kemarin itu Zahra di--" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD