Bab 9

1792 Words
"Liv, gue mau ngomong bentar sama lo" Ujar cowok yang beberapa hari ini terus mengejar Nadien. "Gue gak mau ngomong sama lo" Balas Nadien. Ia berbalik badan untuk segera meninggalkan cowok itu dan segera pulang. "Liv, please, lo harus tau alasan gue kenapa harus ninggalin lo. Gue terpaksa, Liv" Ujar cowok itu. "Mau lo terpaksa atau gak, yang namanya perselingkuhan tetep aja salah dan gue gak mau mengulang kisah dengan orang yang udah berani selingkuhin gue!!" Ujar Nadien memperingatkan. Kemudian ia berjalan menjauhi cowok itu. Tetapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh cowok itu sehingga ia harus berhenti. Nadien berbalik badan, tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh cowok itu. Nadien berusaha melepaskan, tetapi ia tak bisa karena tubuh cowok itu lebih besar daripada tubuhnya yang mungil itu. "Lepasin gue" Teriak Nadien meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. "Gue gak akan lepasin lo sebelum lo mau denger penjelasan gue" Ujar cowok itu. "Sampe kapanpun gue gak akan mau denger apapun dari lo. Kita udah selesai dari dulu. Gue udah lupain lo dan please, jangan ganggu gue lagi" Tak terasa air mata Nadien menetes. Ia tak sanggup menahannya. Semuanya terasa begitu menyakitkan untuknya. Nadien sebenarnya sangat mencintai cowok ini tetapi kepercayaannya telah dikhianati ketika Nadien tau bahwa cowok ini sudah memiliki kekasih lagi dibelakang Nadien. Hati Nadien hancur, ia tak ingin melihat cowok ini lagi tetapi mengapa takdir harus mempertemukannya kembali. "Please, Olivia, aku masih cinta sama kamu. Aku sayang cuma sama kamu. Aku mohon dengarkan penjelasan aku sebentar aja" Ujar cowok itu. Dari kejauhan ada yang melihat aksi pelukan antara Nadien dengan cowok itu. Ia marah, tangannya mengepal kuat. Ia sangat ingin menghampirinya tetapi ia masih bisa berfikir jernih sehingga ia akan membalas perbuatan itu dengan tangannya sendiri. ***** Zahra menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia masih memikirkan kejadian tadi. Sebenarnya, ucapan Karin dan teman-temannya sangat menganggu pikiran Zahra. Zahra khawatir dengan ancaman itu, tetapi ia harus melawan rasa khawatirnya ketika di depan Karin. Ia harus menjadi gadis yang pemberani. "Apa gue cerita sama Raga aja ya" Pikir Zahra. "Eh jangan deh, nanti malah gue dikira ember lagi. Diancam dikit udah ngadu" Ujarnya lagi pada dirinya sendiri. Ponsel Zahra berbunyi tanda ada panggilan masuk disana. Ia melihat nama yang memanggil, dan ternyata adalah Raga. "Haloo" Ujar Zahra setelah menempelkan ponsel di telinganya. "Lo dimana?" Tanya Raga diseberang sana. "Di rumah. Kenapa?" Tanya Zahra. "Yaudah bagus deh. Tadi gue lihat Karin masih ada di sekolah. Gue takut kalo lo bakal diapa-apain sama dia. Gue tau banget sifat Karin soalnya" Ujar Raga. "Emangnya Karin gimana anaknya?" Tanya Zahra memancing Raga untuk menceritakan tentang Karin. "Karin tuh orangnya nekat banget. Kalo suatu hal gak bisa dia dapetin, dia bakal menghalalkan segala cara buat dapetinnya. Lo tau sendiri Karin tuh tergila-gila banget sama gue. Gue takut aja kalo status lo sebagai pacar gue sekarang bakal diincer sama Karin" Jelas Raga. Zahra semakin khawatir dengan keselamatan dirinya.  "Tenang aja. Gue gak papa kok. Lo gak usah khawatir" Ujar Zahra mencoba menenangkan Raga. "Selama gue di Bandung minggu depan, lo jangan pernah sendirian. Lo harus pulang sama temen-temen lo atau sama kakak lo. Pokoknya jangan sampe sendirian, oke?" Ujar Raga menasihati Zahra. "Lo apaan sih, Ga. Gue tuh udah gede. Gue bisa jaga diri gue sendiri kok. Lagian, kalo temen gue ada kesibukan, dan kakak gue juga gak bisa, masa gue harus maksain mereka? Namanya gue egois dong" Ujar Zahra, ia menggelengkan kepalanya, ia heran dengan sifat Raga yang ternyata se posesif ini. "Gue takut ada apa-apa sama lo. Gue khawatir sama lo, Ra" Ujar Raga melembut. ***** Karin Novalia Andini, ia adalah seorang gadis yang pemberani. Ia berani melakukan apapun demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Keinginan Karin dari dulu selalu bisa dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya adalah orang yang sukses. Jadi, apapun yang Karin minta akan selalu dikabulkan oleh mereka, apalagi Karin adalah anak semata wayang dari keluarga itu. Pernah dulu saat masih SMP, Karin meminta mobil kepada ayahnya. Ayahnya awalnya menolak karena Karin masih duduk di bangku SMP dan belun cukup umur untuk mengendarai mobil. Tetapi Karin ngambek, dia tak mau keluar kamar bahkan tak mau sekolah selama hampir satu minggu, lebih parahnya lagi, ia menngancam akan bunuh diri. Ayah dan Bunda nya tak mau ambil risiko, akhirnya mereka menuruti permintaan Karin. Ayahnya tak pernah mengajari Karin bagaimana cara untuk mengendarai mobil. Itu semua karena ayahnya tak ingin jika Karin bisa mengendarai mobil kemudian Karin jadi keluyuran kemana-mana. Tetapi tak disangka, tanpa bantuan ayahnya, Karin bisa mengendarai mobil itu. Ia diam-diam les privat belajar menyetir mobil demi bisa menggunakan mobilnya untuk jalan-jalan. Ayahnya sudah tak habis pikir dengan tingkah laku anaknya itu. Biasanya, seusia Karin masih senang berjalan-jalan bersama temannya tanpa harus memikirkann mobil, tetapi mengapa anaknya sangat antusias untuk mengendarai kendaaran itu. Ayah dan Bundanya sudah menyerah menasihati Karin. Karena itu semua tak akan mempan bagi Karin yang super nekat itu. Meskipun tidak dibolehi oleh kedua orang tuanya, tetapi jika Karin menginginkan semua itu, ia akan tetap melakukannya. Begitulah sifat Karin, Gadis yang super nekat. ***** Hari ini adalah hari keberangkatan Raga berserta tim basket SMA Harapan Bangsa ke Bandung untuk mengikuti tournament tingkat nasional. Sebelum berangkat tim basket berangkat, seluruh siswa SMA Harapan dari kelas 10 sampai dengan 12 dikumpulkan di lapangan guna mengikuti doa bersama agar tim basket pulang dengan membawa piala kemenangan. Setelah berdoa bersama yang dipimpin oleh kepala sekolah, Raga ingin menemui Zahra sebentar. Raga ingin melihat cewek itu sebelum ia berangkat selama 3 hari ke depan. "Zahraaa" Teriak Raga saat ia melihat Zahra berjalan meninggalkan lapangan bersama ketiga temannya. Zahra, Tasya, Rania, dan juga Nadien pun menoleh karena teriakan Raga. "Ada apa, Ga?" Tanya Zahra. "Bisa ngobrol sebentar?" Tanya Raga seperti meminta izin kepada ketiga temannya untuk meninggalkan mereka berdua saja. "Kita ke kelas duluan deh, Ra" Ujar Nadien yang mengerti maksud Raga. "Iyaa" Balas Zahra kemudian ketiga temannya berjalan menjauhi Zahra dan Raga. "Kamu harus benar-benar jaga diri, Ra. Aku sebenarnya tidak ingin berangkat hari ini. Aku rela nggak ikut tournament ini cuma demi kamu" Ujar Raga memegang kedua pundak Zahra, raut mukanya begitu khawatir dengan Zahra. "Lo apaan sih, Ga. Gue gak papa, lagian disini gue gak sendirian. Gue punya banyak teman kan. Lo gak usah khawatir dan gue pesen sama lo, lo harus fokus di pertandingan basket ini dan wajib membawa piala. Gue cuma minta itu aja kok" Ujar Zahra, ia tersenyum kepada Raga. "Lo tapi harus inget pesen gue kemarin ya, jangan pernah sendirian. Kabarin gue kalo udah sampe di rumah" Ujar Raga. "Iya bawel banget sih" Zahra terkekeh. "Semangat ya, lo harus menang!!" Ujar Zahra. ***** Setelah keberangkatan Raga, Zahra merasa kesepian, biasanya ada yang merecokinya saat pulang. Biasanya ada yang mengajaknya pulang tetapi sekarang ia harus pulang sendiri, karena teman-temannya sudah pulang duluan karena Zahra memintanya untuk meninggalkannya saja karena ia harus melaksanakan piket terlebih dahulu. Sedangkan kakaknya, selalu sibuk sendiri dengan urusannya, Zahra sendiri tak pernah tau sebenarnya kakaknya itu sibuk apa. Zahra melangkahkan kakinya untuk keluar dari gerbang sekolah, tetapi saat ia berjalan, ia merasa seperti ada yang mengikutinya. Zahra menoleh ke belakang tetapi nihil, tak ada siapa-siapa disana. Zahra membalikkan badannya lagi dan tiba-tiba mulutnya di bekap dengan kain sapu tangan. Zahra tak sadarkan diri. ***** "Perasaan gue kenapa gak enak banget sih" Ujar Raga. Saat ini ia bersama teman-temannya sudah sampai di tempat peristirahatan sementaranya.  "Kenapa, Ga?" Tanya Reihan. "Gak tau. Kaya ada sesuatu yang gak beres aja" Ujar Raga. "Lo harus mikir positif aja, Ga. Jangan terlalu banyak yang lo pikirin, lo harus fokus buat pertandingan besok. Lo kan dicalonkan sama Pak Dani buat jadi kapten basket tahun depan" Ujar Ardan menasehati. "Iya, bener tuh, Ga. Lo harus fokus dan jangan mikir apapun dulu" Tambah Fikri yang mencoba menenangkan Raga. "Yaudah, yok. Kita masuk ke dalem terus istirahat bentar karena nanti malem kan kita harus kumpul lagi untuk bahas strategi-strategi buat pertandingan besok" Reihan berjalan terlebih dahulu lalu diikuti oleh teman-temannya di belakang. Raga telah selesai membersihkan dirinya. Saat ini ia merebahkan tubuhnya di kasur. Ia satu kamar dengan Reihan. "Rei, perasaan gue masih aja gak enak. Gue kepikiran mulu sama Zahra" Ujar Raga. "Udah lo santai aja, Ga. Paling lo cuma kangen sama Zahra, makanya kepikiran mulu" Reihan terkekeh. Raga masih sibuk dengan pikirannya. Reihan jadi bingung bagaimana jika sampai besok Raga tak fokus dan akan menganggu pertandingannya, bisa berantakan nanti. "Mendingan lo telfon Zahra aja deh biar pikiran lo lebih tenang" Usul Reihan, Raga menoleh sebentar lalu ia segera mengambil ponselnya yang berada di nakas dan mencari kontak Zahra. "Arrrghhh, nomernya gak aktif" Ujar Raga. Ia melempar ponselnya kasar, ia mengacak rambutnya sebal. Mengapa Zahra tak bisa dihubungi, padahal baru saja tadi ia berpesan kepada cewek itu agar Zahra mengabarinya jika sudah sampai di rumah, tetapi mengapa ponselnya sekarang malah tidak aktif. "Lo coba tanya temen-temennya deh, Ga. Mungkin mereka tau" Ujar Reihan lalu menyesap teh hangatnya. "Gue telfon Nadien dulu" Ujar Raga kemudian ia mengambil ponselnya yang telah ia lempar sembarangan dan segera mencari kontak Nadien. "Halloo, Nad. Lo tadi balik sama Zahra?" Tanya Raga to the point saat telfon sudah tersambung, Reihan hanya melirik Raga sekilas kemudian kembali menyesap tehnya. "....." "Jadi, lo pulang duluan dan gak bareng sama Zahra?" Tanya Raga lagi. "....." "Hp nya gak aktif, Nad. Dia kemana coba" Ujar Raga. Raut mukanya terlihat khawatir disana. "......" "Tasya sama Rania juga gak ada yang barengan sama Zahra?"  "....." "Yaudah deh. Thanks, Nad, bye" Ujar Raga lalu menutup telfonnya. "Gimana?" Tanya Reihan. "Zahra pulang belakangan soalnya dia ada jadwal piket kata Nadien. Tasya sama Rania juga pulang duluan. Jadi, pasti mereka gak ada yang tau. Dia tuh kemana sih" Raga menjadi uring-uringan tak jelas. Reihan bingung harus bagaimana mengahadapi temannya itu. "Lo mau telfon siapa lagi, Ga?" Tanya Reihan saat melihat Raga kembali menempelkan ponselnya di telinga. Raga hanya meliriknya sekilas. "Halo, kak. Zahra udah balik?" Tanya Raga saat telfon telah tersambung. "....."  "Oh gitu. Kalo dia udah pulang tolong kabarin gue ya, kak" Ujar Raga. "....." "Makasih kak" Raga menutup telfonnya. "Gue tadi telfon kakaknya Zahra. Katanya, Zahra tadi pamit ke kakaknya kalo mau mampir ke supermarket dulu" Jelas Raga kepada Reihan. "Yaudah sekarang lo yang tenang. Mungkin emang Zahra masih ke supermarket" Reihan menepuk bahu Raga untuk memberi ketenangan kepada Raga yang sedari tadi gelisah. ***** "Adik kamu kemana, Dit? Ini udah sore loh, kok dia belum pulang juga" Ucap Anjani khawatir. "Nggak tau ma, mungkin dia masih kejebak macet. Mama tenang aja, Zahra pasti baik-baik aja kok" Ujar Radit. Sebenarnya ia juga khawatir dengan keadaan adiknya itu, jika terjadi apa-apa dengan Zahra nanti, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Gara-gara dia hanya mementingkan kepentingannya sendiri, adiknya harus kena imbasnya. "Ma, aku coba susul Zahra ke supermarket ya. Siapa tau di masih ada disana" Ujar Radit. "Iya sana cari adikmu. Hati-hati ya" Ucap Anjani, kemudian Radit segera menjalankan motornya keluar pekarangan rumahnya dan menuju supermarket yang biasa ia dan Zahra kunjungi. Saat sampai disana, ia tak melihat tanda-tanda ada adiknya disana. Radit semakin khawatir. Ia takut terjadi apa-apa dengan adiknya. "Lo kemana sih, Ra" Radit mencoba menelfon nomor Zahra tetapi masih saja tidak aktif yang semakin membuatnya khawatir. "Ra, please jangan buat khawatir dong" Radit masih menempelkan ponsel di telingan berharap telfonnya tersambung. Tetapi tetap saja nihil, telfonnya sama sekali tak tersambung dengan nomor Zahra. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD