Pagi ini, Zahra memutuskan untuk berangkat sekolah lebih awal dari biasanya karena ia ingin menghindar dari Raga. Kejadian semalam membuatnya benar-benar ingin sekali membenci Raga. Tetapi ia heran, mengapa ia tak bisa sedikitpun untuk membenci cowok itu.
Zahra sebenarnya menyesal karena semalam ia jujur tentang perasaannya kepada Raga. Ia terlalu terbawa suasana hingga ia menumpahkan segala isi hatinya. Dan berakhir seperti inilah, lagi-lagi ia merasa seperti dipermainkan oleh Raga.
Sepertinya Zahra datang terlalu pagi hari ini. Karena sekolah masih sepi. Di kelasnya pun, hanya dia yang sudah datang. Tapi Zahra tak masalah karena dia berhasil menghindar dari Raga hari ini.
Beberapa menit kemudian, Zahra melihat Raga yang baru datang. Zahra merasa jika Raga akan menghampirinya. Zahra menunduk dan pura-pura membaca buku agar tak dihampiri oleh cowok itu.
"Ra, kenapa berangkat duluan?" Tanya Raga. Benar dugaan Zahra, Raga pasti menghampirinya untuk menanyakan hal ini. Zahra benar-benar malas dengan cowok yang ada di depannya ini.
"Gak papa" Jawab Zahra singkat.
"Kamu marah sama aku?" Tanya Raga.
"Gak" Lagi-lagi Zahra hanya menjawab singkat.
"Raa, aku tau kamu marah" Ujar Raga.
"Terus? Ngapain tanya" Ujar Zahra.
Raga terkekeh. Melihat raut muka Zahra yang marah, ia menjadi gemas. Raut mukanya sungguh sangat lucu menurutnya.
"Gak ada yang lucu. Ngapain ketawa" Ujar Zahra masih dengan nada ketusnya.
"Kamu makin cantik kalo lagi marah"
Blushh... Muka Zahra memerah seperti kepiting rebus. Ia menunduk untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Jantungnya berdetak kencang.
"Kenapa nunduk sih?" Ujar Raga lalu memegang dagu Zahra dan menariknya agar Zahra tak lagi menunduk.
"Nyebelinnn" Ujar Zahra sebal.
Lagi-lagi Raga terkekeh. Melihat muka Zahra seperti ini, ia jadi ingin melahapnya. Gemas sekali.
"Maaf ya, kemarin aku ada urusan yang bener-bener penting" Ujar Raga.
"Sepenting apa?" Tanya Zahra.
Raga mengerutkan keningnya. "Kamu gak perlu tau" Jawab Raga.
"Kenapa?" Tanya Zahra.
"Ini urusan pribadi aku" Ujar Raga.
Zahra hanya mengangguk mengerti.
Waktu istirahat telah tiba, seperti biasanya Zahra bersama dengan Rania, Nadien, dan Tasya akan ke kantin untuk mengisi perutnya.
Saat mereka sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba Raga bersama teman-temannya datang menghampiri meja keempat cewek itu.
"Haiii gaes , kita boleh kan gabung disini?" Tanya Fikri menyapa keempat cewek itu.
"Kagak!" Tolak Tasya cepat.
"Gue gak nanya lo. Geer amat sih" Ujar Fikri sewot."
"Udah ah duduk aja yok" Ujar Ardan kemudian langsung mengambil kursi yang berada di sebelah Nadien.
"Alah modus lo, Dan. Dasar fakboi" Ujar Reihan terkekeh, lalu ia mengambil tempat yang ada disebelah Rania. Sedangkan Raga sudah pasti ada di sebelah Zahra, kalau Fikri? Kalian tau sendiri dia pasti ada di sebelah siapa.
"Udah ah diem lo" Ujar Ardan memperingati.
"Makin hari lo makin cantik aja sih, Nad" Ujar Ardan mulai menggombal kepada Nadien. Sebenarnya Nadien tak seberapa minat dengan gombalan Ardan. Tetapi akhir-akhir ini debaran jantungnya sangat cepat ketika Ardan mendekatinya bahkan saat Ardan mencoba menggombal seperti sekarang ini.
"Jangan mau, Nad. Dia tuh fakboi" Ujar Reihan kompor.
"Nah bener banget tuh, FAK-BOI" Ujar Fikri yang menekankan kata terakhirnya.
Reihan dan Raga terkekeh melihat ulah Fikri dan ekspresi tak suka dari Ardan.
"Lo mau gue gombalin juga kaya Nadien?" Tanya Reihan kepada gadis yang ada disebelahnya - Rania.
Rania hanya menatapnya jijik.
"Yahhhh, sama aja b**o. Gitu lo bilang gue fakboi. Nyatanya lo sendiri yang fakboi. Dasar lo Rei" Ujar Ardan.
"Namanya juga usaha" Jawab Reihan santai.
"Tapi gue gak suka sama lo" Sahut Rania.
Raga, Fikri, Ardan bahkan Tasya, Zahra, dan Nadien pun tak kuasa menahan tawanya saat mendengar ucapan Rania.
"Kasian banget lo, Rei. Ditolak sebelum berjuang" Ujar Ardan terkekeh.
Saat mereka sedang asyik bercanda, tiba-tiba seorang gadis berjalan ke arah mereka dan membuat mereka semua diam.
"Beuhhh, nenek lampir tuh" Ujar Fikri seenaknya.
"Husshhh, jangan gitu ah" Balas Tasya memperingatkan.
"Ga, gue boleh ngomong bentar sama lo?" Tanya Karin saat menghampiri meja Raga.
"Gue? Ada apa?" Tanya Raga pada Karin.
"Ada perlu penting. Gue cuma mau ngomong bentar aja kok" Ujar Karin.
"Lo gak lihat gue lagi makan?" Tanya Raga yang mengalihkan pandangan ke makanan yang ada di depannya.
"Raga, please, kasih gue 5 menit aja buat ngomong ini sama lo" Ujar Karin memohon.
Raga melirik sebentar ke arah Zahra. Zahra hanya mengangguk setuju sebagai jawaban.
"Oke" Ujar Raga. Kemudian ia berdiri dan mengikuti Karin dari belakang.
*****
Pulang sekolah ini, Zahra ingin mengajak Raga untuk mampir ke supermarket sebentar untuk membelikan pesanan mamanya. Tadi siang, mamanya mengirim pesan kepada Zahra untuk membelikan beberapa bahan masakan yang mulai habis dirumahnya.
Zahra pun mengiyakan dan dia berencana untuk mengajak Raga karena Raga sudah berkata jika nanti Zahra harus pulang bersama Raga.
"Ra, maaf ya, lo pulang sama kak Radit dulu hari ini" Ujar Raga menyesal.
"Hah? Kenapa gitu? Lo mau kemana?" Tanya Zahra bingung.
"Ga, udah selesai siap-siapnya? Yuk berangkat" Ajak Karin yang tiba-tiba menghampiri Raga dan Zahra.
Zahra menatap sebentar ke arah Karin kemudian kembali menatap Raga "Ohh, ok gue balik duluan, bye" Ujar Zahra kemudian pergi meninggalkan Raga dan Karin yang masih ada disana.
"Raaa" Panggil Raga tetapi Zahra tak menghiraukannya dan tetap berjalan menjauhi Raga dan Karin.
Zahra benar-benar tak habis pikir dengan Raga. Mengapa cowok itu senang sekali mempermainkannya. Kemarin malam ia sudah berbesar hati karena Raga meninggalkannya begitu saja saat mereka sedang dinner.
Sekarang, Zahra benar-benar tak bisa memaafkan Raga lagi. Bisa-bisanya ia mementingkan Karin daripada Zahra yang notabenya adalah pacar Raga.
Zahra sudah muak dengan semuanya. Berkali-kali ia memaafkan Raga tetapi berkali-kali juga Raga masih saja mengulangi kesalahannya.
Zahra segera menghampiri kelas Radit. Ia hanya berharap kakaknya itu belum pulang.
"Kakk" Panggil Zahra saat melihat kakaknya masih membereskan buku yang ada di mejanya.
"Raa?" Ujar Radit bingung. Lalu segera menghampiri adiknya itu.
"Gue bisa nebeng lo?" Tanya Zahra meminta izin.
"Raga kemana?" Tanya Radit.
"Lo bisa gak nebengin gue?" Tanya Zahra mencoba mengalihkan pembicaraan kakaknya.
"Iya bisa. Tunggu bentar ya" Ujar Radit, lalu ia kembali masuk ke kelasnya dan mengambil tas.
"Yuk" Ajak Radit. Mereka berjalan ke parkiran. Radit bingung, mengapa adiknya daritadi diam saja. Biasanya, adiknya itu sangat berisik.
"Lo kenapa sih, Ra? Ada masalah sama Raga?" Tanya Radit.
"Gak usah bahas dia" Jawab Zahra.
"Kalo ada masalah tuh diselesein, bukan malah kabur-kaburan gini" Ujar Radit menasehati adiknya.
Zahra menghentikan langkahnya. "Lo gak tau apa-apa, kak" Ujar Zahra.
Radit-pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Gue emang gak tau masalah lo, Ra. Tapi gue cuma mau ngingetin, jangan kabur dari masalah yang sedang lo hadapi" Ujar Radit.
"Ya udah ayok pulang, keburu gelap" Ajak Radit lalu melangkahkan kakinya diikuti Zahra yang ada di belakangnya.
Sesampainya di rumah, Zahra merebahkan tubuhnya. Ia masih memikirkan kata-kata Radit tadi sore.
Memang ada benarnya, kita tidak boleh lari dari masalah tetapi Zahra sudah benar-benar kesal dengan sikap Raga yang makin hari makin seenaknya kepadanya.
Zahra membuka ponselnya agar ia bisa melupakan sejenak masalah dengan Raga. Ia membuka aplikasi w******p. Dalam list chatnya ada nomor tak dikenal yang masuk. Ia membuka isi chatnya.
081357823*** : Masih aja lo gak percaya sama gue.
081357823*** : Lo udah lihat sendiri kan kelakuan pacar lo itu.
081357823*** : Dia cuma permainin lo seperti cara dia dapetin lo. Dari sebuah permainan ToD.
Azzahra Paramita : Lo siapa sih? Sok tau banget
Azzahra Paramita : Jangan suka fitnah kalau gak ada bukti!
081357823*** : Oh, lo butuh bukti?
081357823*** : Wait...
081357823*** sent a video.
*****