Bab 19

1214 Words
"Dan, bisa ngomong bentar?" Tanya Nadien saat menghampiri Ardan di mejanya. Reihan, Fikri, dan Ardan saling bertatapan. Mereka bingung mengapa tiba-tiba saja Nadien memanggil Ardan. Apalagi Nadien ingin bicara empat mata dengan Ardan. Sedangkan Raga, ia bodoamat dengan itu, ia lebih asik memainkan ponselnya. "Ngomong apaan?" Tanya Ardan. "Ngomongin perasaan kita?" Goda Ardan. Nadien hanya tersenyum malu. Sedangkan Reihan dan Fikri sudah pasti makin menggodanya. "Ceilah, bener juga kata lo, Dan. Kemarin mah bilangnya kagak mau tapi sekarang udah mau tuh. Padahal belum mau study tour loh" Ujar Fikri terkekeh. "Bener banget tuh, Fik. Ini tuh yang dinamain the real kemakan omongan sendiri" Ujar Reihan tertawa. Fikri dan Ardan yang mendengarnya pun tertawa. "Udah ah, kasian anak orang lo godain mulu" Ujar Ardan. "Mau ngobrol dimana?" Tanya Ardan yang mengalihkan tatapannya pada Nadien. "Keluar dulu yuk" Ajak Nadien kemudian diangguki oleh Ardan. Nadien segera melangkahkan kakinya untuk keluar kelas dan menuju ke tempat duduk yang ada dibawah pohon pinggir lapangan. Ardan hanya mengikuti Nadien dari belakang. "Ada apa?" Tanya Ardan yang melihat Nadien yang masih bungkam, tak ada tanda-tanda ia akan memulai pembicaraan. "Lo suka sama gue, Dan?" Tanya Nadien ragu. Ardan mengerutkan keningnya. "Kenapa nanya gitu?" Ujar Ardan terkekeh. "Gue serius" Balas Nadien. "Emang lo mau jadi pacar gue kalo gue bilang suka sama lo?" Tanya Ardan. Nadien tersenyum kikuk. Ia salah tingkah. Sebenarnya bukan itu yang ingin ia tanyakan pada Ardan. Ia hanya ingin basa basi saja. "Lo kenapa sih?" Tanya Ardan. "Gue tau lo bukan mau ngomongin hal ini. Iyaa kan?" Tanya Ardan tepat pada sasaran yang membuat Nadien semakin bingung dibuatnya. "Lo ngomong aja apa yang mau lo omongin sama gue sampe lo ngajak gue kesini" Ujar Ardan lagi. "Gue tau lo gak bakal jawab jujur" Ujar Nadien yang membuat kening Ardan semakin mengkerut. Ardan semakin bingung dengan arah pembicaraan gadis ini. "Maksudnya apaan sih gue gak paham" Ujar Ardan. Nadien menghela napasnya pelan. "Tentang Zahra dan Raga" Jawab Nadien. "Terus?" Tanya Ardan. "Apa bener Raga pacarin Zahra cuma gara-gara kalah main ToD bareng lo, Fikri sama Reihan?" Tanya Nadien to the point. Ardan terkejut, ternyata ini yang ingin ditanyakan oleh gadis yang ada dihadapannya ini. Ardan tak mungkin menjawab yang sebenarnya. Karena Ardan tau, pasti Nadien ingin mengorek informasi tentang Raga dan akan di beri tau ke Zahra. Ardan juga sudah berjanji pada Raga jika ia tak akan membocorkan apapun tentang ini. "Kenapa lo tanya gitu?" Tanya Ardan. Ia berhasil mengalahnya gugupnya dan memasang tampang seperti tak tau apa-apa. "Yaaa lo kan temennya Raga dan kemungkinan lo juga terlibat dalam permainan itu kan?" Ujar Nadien. "Gue yakin lo tau sesuatu, Dan" Lanjutnya. "Lo tanya sendiri aja sama yang bersangkutan. Ngapain tanya ke gue" Balas Ardan mulai sinis. Nadien menghela napasnya kasar. "Kalo Raga mau jawab jujur juga gue gak akan nanya lo" Ujar Nadien. "Emang Raga bilang apa?" Tanya Ardan. "Dia bilang kalo dia macarin Zahra bukan karena dare" Ujar Nadien. "Nah, yaudah kan. Kalo Raga udah bilang gitu ya berarti itu jawabannya. Lo ngapain masih tanya gue?" ***** Malam ini, Zahra diajak Raga untuk makan malam. Sebenarnya Zahra malas sekali menerima ajakan Raga, mengingat ia masih curiga dengan Raga tentang teror sms yang ia terima. Tetapi bukan Raga namanya jika ia gampang menyerah. Raga terus memaksa Zahra. Zahra juga kekeuh tidak mau jika ia harus pergi dengan Raga malam ini. Saat pulang sekolah Raga selalu mengantarkan Zahra. Biasanya, jika sudah sampai didepan rumah Zahra, Raga langsung pamit pulang, tetapi tidak dengan tadi. Raga meminta izin Zahra untuk main sebentar ke rumahnya dengan alasan kangen dengan papa dan mama Zahra. Mama Zahra keluar untuk menemui Raga, sedangkan papa Zahra masih ada di kantor dan belum pulang. Tak disangka, ternyata Raga malah meminta izin kepada Anjani - Mama Zahra untuk mengajak Zahra dinner nanti malam. Zahra menggerutu kesal. Ia sudah kecolongan. Jika mamanya sudah mengizinkan, bagaimanapun itu Zahra harus tetap berangkat. Apalagi mama Zahra sangat suka dengan Raga. Jadi, jika Raga izin mengajak Zahra untuk dinner atau kencan, pasti langsung dibolehi. Sesampainya di tempat dinner, Raga memesan steak kesukaannya, sedangkan Zahra hanya menyamakan pesanananya dengan Raga saja. Zahra benar-benar tidak mood dengan Raga. Pikirannya masih negatif dengan cowok itu. "Ra, kamu masih mikirin sms itu?" Tanya Raga membuka obrolan. "Lo pikir aja sendiri" Jawab Zahra ketus. Ia memalingkan wajahnya dan menatap ke jendela yang ada di sebelahnya. "Apa kamu nggak percaya sama aku?" Tanya Raga. Ia mulai mengambil tangan Zahra yang ada di meja, lalu menggenggamnya erat. Zahra yang menerima perlakuan manis itu terkejut. Tubuhnya bergetar seperti tersengat listrik. Ia suka dengan perilaku Raga yang manis seperti ini. Hatinya mudah luluh. "Gue perlu bukti" Ucap Zahra menetralkan rasa gugupnya di depan Raga. "Emang kelakuan aku akhir-akhir ini ke kamu nggak cukup kamu jadikan sebagai bukti?" Tanya Raga lagi. "Bukan gitu, Ga" Ujar Zahra menggantungkan ucapannya. "Ra, kalo emang isi sms itu bener, kamu bakal ngelakuin apa sama aku?" Tanya Raga masih dengan nada lembutnya. Zahra menunduk. "Gue nggak tau" Ucapnya lirih tetapi masih bisa didengar oleh Raga. "Ra, lihat aku" Perintah Raga. Zahra masih menundukkan kepalanya dan tak mau melihat Raga. "Raa" Panggil Raga lembut. "Iiiyaa..." Jawab Zahra, ia mendongakkan kepalanya pelan hingga matanya dan Raga bertemu. Zahra tak akan kuat ditatap seperti itu oleh Raga. Tatapan Raga seolah candu baginya. Tatapan yang sangat meneduhkan baginya. "Aku cinta sama kamu" Ujar Raga jujur. Zahra terdiam. Mulutnya seakan terkunci rapat tiba-tiba. Ia terkejut, terkejut dengan penuturan cowok yang ada di depannya itu. Hanya empat kata tetapi begitu memabukkan bagi Zahra. "Aku benar-benar cinta sama kamu, Ra. Bukan main-main. Aku harap perasaan kamu juga gitu dan nggak anggap aku sebagai pacar yang kamu terima karena kalah main di timezone" Ujar Raga. "Kamu harus percaya itu, Ra. Aku sayang sama kamu" Ujar Raga lagi. Zahra membeku. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Tak terasa air matanya jatuh, hanya air mata yang bisa menjawab semuanya. Mulut Zahra sangat kelu. Untuk berbicara sedikit saja, Zahra tak bisa. "Ra, ada yang sakit? Kenapa kamu nangis?" Tanya Raga panik. Tangan Raga menyentuh wajah Zahra dan menghapus air matanya. "Jangan nangis, aku nggak suka lihat kamu nangis" Ujar Raga. "Kamu beneran sayang sama aku?" Tanya Zahra yang sudah mulai bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Raga mengangguk. "Apa kamu masih ragu sama aku?" Tanyanya. Zahra menggeleng pelan. "Aku juga sayang sama kamu, Ga" Ucap Zahra lirih dan kembali menunduk. Raga tersenyum. Ia sangat bahagia malam ini, cewek yang selama ini jadi musuhnya sekarang benar-benar menjadi kekasihnya. Raga senang karena ternyata Zahra mempunyai rasa yang sama dengannya. "Jangan nunduk. Aku jadi nggak bisa lihat wajah cantik kamu itu" Ujar Raga menggoda Zahra. Zahra mendongakkan kepalanya dan menatap Raga dengan tatapan tajam. "Dasar Fakboi" Ujarnya. Raga terkekeh mendengarnya. Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan telah datang. Raga dan Zahra segera menyantapnya. Ketika sedang asyik makan, tiba-tiba ponsel Raga berbunyi. "Aku angkat dulu ya, Ra" Ucap Raga meminta izin. Zahra hanya mengangguk sebagai jawaban. "Halloo..." Ujar Raga saat telah memencet tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "...." "Apaa?" Ujar Raga terkejut. Zahra hanya memperhatikan Raga dengan tatapan bingung. "...." "Oke, saya kesana sekarang" Ujar Raga lalu menutup telfonnya. "Ada apa, Ga?" Tanya Zahra. "Ra, kamu bisa pulang sendiri kan? Aku bakal cariin kamu taxi sekarang. Aku harus pergi" Ujar Raga, wajahnya sudah benar-benar panik. "Ada apa sih, Ga? Kok kamu mau pergi gitu aja" Tanya Zahra yang sedikit kesal. "Ada masalah penting. Udah yuk sekarang aku cariin kamu taxi. Aku buru-buru, Ra" Ujar Raga. "Gak usah. Gue bisa pulang sendiri" Ujar Zahra yang sudah terlanjur kesal. "Oke. Kamu hati-hati ya pulangnya. Aku pergi dulu" Pamit Raga kemudian ia segera berlari dan meninggalkan Zahra yang masih terdiam di tempatnya. "Dasar cowok aneh. Baru aja baperin gue sekarang ditinggalin" Zahra ngedumel sendiri melihat kelakuan Raga. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD