Hari ini, Zahra sangat tidak fokus saat guru menjelaskan di kelasnya. Pikirannya melayang kemana-mana, apalagi mengingat tadi malam ia mendapatkan sms lagi yang mengatakan bahwa Raga telah bohong kepadanya. Zahra ingin sekali mengungkap kebenarannya tetapi ia tak tau bagaimana caranya.
"Azzahraa?" Panggil Bu Yuni saat melihat Zahra sedang asik melamun.
Zahra hanya diam saja dan melanjutkan lamunannya.
"Raa" Panggil Nadien.
"Zahraaa" Nadien menggoyangkan lengan Zahra karena hanya dipanggil Zahra tak merespon.
"Apaan sih" Ujar Zahra cemberut.
"Tuh" Ujar Nadien melirik Bu Yuni yang sudah berada di samping Zahra.
"Eh ibu, ada apa ya, Bu?" Tanya Zahra yang salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal menggunakan bulpoin yang daritadi ia pegang.
"Coba jelaskan soal yang ada di depan. Tadi saya sudah memberi cara untuk mengerjakan itu" Perintah Bu Yuni - guru fisika di kelas Zahra.
"Mampus gue" Ucap Zahra lirih.
"Kenapa Zahra?" Tanya Bu Yuni.
"Eh nggak papa, Bu. Maaf saya tadi nggak fokus, Bu" Ujar Zahra.
Bu Yuni menghela napas. "Lain kali kalo saya mengajar kalian, jangan sampai ada yang tak mendengarkan apalagi melamun. Kalian mengerti?" Ujar Bu Yuni.
"Mengerti, Buu" Jawab seluruh murid di kelas.
Bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut mereka yang kelaparan karena lelah menghadapi pelajaran. Begitupun dengan Zahra, ia merasa sangat lapar apalagi tadi adalah pelajaran yang amat ia benci, yaitu fisika.
"Kantin yuk" Ajak Zahra.
"Lo duluan aja. Gue sama Tasya masih mau salin yang ada di papan" Ujar Rania.
"Lo ke kantin kan, Nad?" Tanya Zahra.
"Iya. Yauda yuk" Ujar Nadien.
"Ran, Sya, kita duluan yaa. Byee" Pamit Zahra kepada Rania dan Tasya.
"Iyaa bye" Sahut Rania dan Tasya.
"Lo kenapa sih, Ra? Tumben banget lo ngelamun pas pelajaran. Lagi ada masalah?" Tanya Nadien. Saat ini Zahra dan Nadien menyusuri koridor sekolah untuk menuju ke kantin.
"Gue nggak papa kok. Cuma masalah kecil aja" Alibi Zahra.
"Gue tau lo kali, Ra. Meskipun kita belum lama kenal tapi gue tau kalo lo ada masalah. Lo bisa cerita sama gue kalo ada apa-apa" Ujar Nadien.
Zahra memikirkan sejenak. Sepertinya bercerita kepada Nadien bukan sesuatu yang buruk.
Kini mereka telah sampai di kantin dan duduk di bangku yang kebetulan kosong.
"Dua hari ini, gue dapet teror sms dari orang yang gak gue kenal" Zahra memulai ceritanya.
"Terus?" Tanya Nadien.
"Di sms itu bilang kalo Raga bohongin gue" Ujar Zahra.
Nadien menaikkan satu alisnya. "Bohong soal apa?" Tanyanya.
"Kata dia di sms itu, Raga pacarin gue cuma gara-gara dapet dare dari teman-temannya" Ujar Zahra.
"Hah? Lo serius? Terus lo udah coba tanya Raga?" Ucap Nadien yang terkejut.
"Udah. Tapi Raga bilang itu nggak bener. Gue harus percaya sama dia karena dia gak bakal bohongin gue. Tapi gak juga gak tau kenapa hati gue tuh gak bisa sepenuhnya percaya sama Raga, Nad" Ujar Zahra.
"Tapi disisi lain, gue juga gak bisa sepenuhnya percaya sama sms itu kalo gak ada bukti yang pasti" Lanjutnya lagi.
"Jalan satu-satunya ya lo harus cari bukti itu, Ra" Ujar Nadien.
Nadien berpikir sejenak. "Gue bakal bantuin lo" Lanjutnya lagi. Nadien tersenyum penuh arti.
"Caranya?" Tanya Zahra bingung.
*****
"Gimana, Ga? Udah mulai cari pelaku yang neror Zahra?" Tanya Reihan, kini mereka berada di rooftop sekolah. Rooftop itu kini dijadikan basecamp oleh Raga dan teman-temannya. Karena selama beberapa hari ini, tak ada yang mengunjungi rooftop ini selain mereka. Mungkin penghuni sekolah belum banyak yang tau tentang keberadaan rooftop in
"Belum. Gue bingung harus gimana. Gue bilang sama Zahra kalo dia harus percaya sama gue, tapi kenyataannya gue yang bohongin dia tentang masalah ini" Ujar Raga yang fokus menatap gedung-gedung tinggi yang bisa dilihat dari rooftop itu.
"Lo ada nomor si peneror itu?" Tanya Ardan.
Raga menggeleng. "Kagak" Jawabnya.
"Lo harus dapetin nomor peneror itu dengan gitu lo bisa tau siapa yang udah neror Zahra" Ujar Ardan.
Fikri menjetikkan jarinya. "Bener banget tuh. Pinter lo, Dan" Ujarnya.
"Gue emang pinter. Gak kaya lo" Ujar Ardan kepada Fikri.
Reihan hanya terkekeh melihat adu bacot kedua temannya itu. Daridulu memang mereka tak pernah akur.
"Inget, Ga. Lo harus gerak cepet sebelum Zahra tau semuanya" Peringat Reihan.
*****
Sambil menunggu Nadien beraksi untuk membantunya mencari bukti tentang kebenaran tentang Raga, Zahra mencoba cari tahu tentang siapa yang telah menerornya selama ini.
Zahra mencoba menelfon nomor itu. Ia dan Nadien kini berada di depan kelas. Target awal yang ia curigai adalah teman sekelasnya, karena orang itu tau tentang keseharian Zahra dan Raga, jadi kemungkinan besar, pelaku itu ada di kelas Zahra sendiri.
Zahra mulai mendiall nomor itu. Matanya masih mengelilingi seluruh murid yang ada di kelasnya. Jika ada seseorang yang memegang ponsel, lalu raut mukanya berubah, dan langsung menutup telfon Zahra, berarti orang itu adalah yang meneror Zahra selama dua hari ini.
Zahra menempelkan ponsel di telinganya. Zahra terkejut ada seseorang yang baru saja mengangkat ponsel juga bebarengan dengan nada telfon Zahra tersambung. Lalu, Zahra segera mematikannya, dan anehnya lagi, orang yang ia curigai pun menjauhkan ponsel dari telinganya.
Nadien yang melihat kejadian itu pun terkejut. Nadien dan Zahra saling berpandangan.
"Dia?" Tanya Nadien dan Zahra bersamaan.
"Berani-berani nya dia ngelakuin ini" Ujar Zahra kesal.
"Tapi gue gak seberapa kaget sih. Dari awal gue juga udah mikir kalo dia pelakunya" Ujar Nadien. Kini mereka berjalan menjauh dari kelasnya.
"Kok lo bisa berpikiran gitu?" Tanya Zahra bingung.
"Siapa lagi coba. Lo tau sendiri kan kalo dia tuh ambis banget kalo soal Raga. Dia selama ini juga suka gangguin hubungan lo sama Raga. Dan yang terpenting lagi tuh, dia suka banget sama Raga, Ra" Ujar Nadien.
"Tapi Karin gak mungkin berani gangguin gue lagi, Nad" Ujar Zahra. Ya, memang Karin-lah yang saat ini jadi tersangkat Nadien dan Zahra. Karena tadi hanya ia yang tiba-tiba mengangkat ponselnya saat nada telfon di ponsel Zahra telah tersambung.
"Gak mungkin? Kenapa?" Tanya Nadien bingung.
Zahra membelalakkan matanya setelah sadar dengan apa yang barusan ia ucapkan. "Ya gak mungkin aja menurut gue. Masa iya di ngefitnah temennya sendiri. Ii...iya kan?" Alibi Zahra.
Zahra merutuki dirinya sendiri yang hampir keceplosan berbicara tentang penculikannya tempo hari yang ternyata dalangnya adalah Karin. Zahra yakin bahwa Karin bukan pelakunya karena mama Karin sendiri yang berani menjamin dan juga Zahra berpikir bahwa Karin benar-benar kapok dengan kejadian itu, karena kejadian itulah di hampir dijebloskan ke penjara dan hampir saja di drop out dari sekolah.
Tetapi setelah Zahra mengingat kembali ucapan Nadien yang berkata bahwa Karin menyukai Raga. Zahra tak bisa menyangkal itu, karena menurut Zahra, sampai saat ini pun Karin masih menyukai Raga.
*****