Bab 16

927 Words
Seperti biasa, setiap berangkat sekolah Raga akan menjemput Zahra di rumahnya untuk berangkat bersama. Saat di perjalanan, Zahra hanya diam saja, ia masih sibuk memikirkan isi pesan singkat yang ia terima semalam, apa benar Raga hanya memacarinya karena kalah main ToD. "Kenapa diam aja?" Tanya Raga yang melirik sekilas ke arah Zahra kemudian kembali fokus menyetir. "Nggak papa" Balas Zahra, ia lebih memilih melihat kaca mobil Raga dan menikmati pemandangan yang ia lewati. "Emang diluar sana lebih indah ya daripada aku yang disamping kamu?" Ujar Raga. Zahra menoleh. Sejak kapan Raga menjadi alay seperti itu, batinnya. "Terus aku harus lihat kamu terus gitu?" Zahra melipat kedua tangannya. Raga terkekeh. "Aku seneng kamu udah mau pake bahasa aku-kamu" Ujar Raga. Zahra terkejut, ia baru sadar jika dirinya sudah mulai menggunakan aku-kamu jika berbicara dengan Raga. "Gak sengaja" Balasnya. "Kamu kenapa sih? Lagi PMS?" Tanya Raga. "Nggak" Jawab Zahra. "Bohong dosa" Ujar Raga. "Udah tau" Ujar Zahra. "Aku tau kamu bohong" Ujar Raga. "Tau darimana?" Tanya Zahra yang menoleh ke arah Raga. "Mata dan sikap kamu udah nunjukin kalo kamu bohong" Ujar Raga. "Ada apa?" Tanya Raga. Tangan kiri Raga mengambil tangan Zahra lalu mengusapnya lembut. "Nggak papa" Ujar Zahra. Raga menghela napasnya pelan "Aku nggak suka kamu cuekin" "Bilang ke aku, ada apa?" Tanya Raga lagi. Zahra menggigit bibirnya, ia sangat ingin bertanya kepada Raga, tetapi ia takut jika semua itu tidak benar dan Zahra tak mau jika ia dianggap curigaan kepada Raga. "Jangan digigit" Ujar Raga. "Iya enggak" Balas Zahra. "Jadi, ada apa?" Tanya Raga. "Aaa...kuu kemarin dapat sms" Ujar Zahra terbata-bata. Raga menaikkan satu alisnya menunggu kata-kata Zahra selanjutnya. "Katanya, kamu pacarin aku hanya karena dapat dare dari temen-temen kamu" Kata Zahra. Raga terkejut. "Siapa yang kirim itu?" Tanyanya. Zahra hanya menaikkan bahunya. "Bener?" Tanya Zahra. "Nggak, Ra" Ujar Raga lembut. "Kemarin aku udah bilang sama kamu kan, apapun yang terjadi, kamu harus selalu percaya sama aku. Kamu ingat kan?" Lanjutnya. Zahra mengangguk pelan. "Jangan percaya gosip yang belum tentu bener" Ujar Raga. ***** "Kusut amat muka lo. Kaya baju yang belum di setrika" Ujar Fikri terkekeh. Saat ini Raga, Fikri, Ardan dan Reihan menikmati bakso favorit mereka di kantin. "Kenapa lo, Ga?" Tanya Reihan. "Zahra tau" Ujar Raga. "Kebiasaan kalo ngomong sukanya kredit" Ujar Ardan, ia kembali memasukkan pentol yang masih tersisa di mangkoknya. "Zahra tau apaan?" Tanya Reihan. "Tau tentang dare gue yang dari lo semua" Balas Raga. Ardan tersedak, untung saja pentolnya sudah masuk di tenggorokannya, jika tidak bisa-bisa melompat ke arah Raga yang tepat ada dihadapannya. Ardan segera menyesap es teh nya. "Tau darimana?" Tanya Fikri. Raga mengangkat bahunya tanda ia tak tau. "Dia semalem dapet sms katanya. Di dalam pesannya bilang kalo gue pacarin dia cuma gara-gara dare dari lo" Ujar Raga. "Sms itu dari siapa?" Tanya Ardan. "Zahra gak tau. Dia gak simpan nomornya" Balas Raga. "Kalo yang sms Zahra tuh tau tentang ini, pasti dia ada disekitar kita, Ga" Ujar Reihan. "Eh tapi, kita juga baru aja ngomongin ini semalem kan?" Tanya Ardan. "Zahra dapet sms itu jam berapa?" Tanyanya lagi. Raga mengangkat bahunya lagi. "Tapi setelah lo pada pulang dari rumah gue, gue telfon Zahra. Waktu telfon itu, Zahra gak ngomong apapun, kaya gak ada apa-apa aja. Baru tadi pagi, dia sempet cuekin gue" Ujar Raga bercerita. "Apa mungkin ada yang nguping pembicaraan kita semalem?" Tanya Ardan yang membuat semua temannya menatapnya. "Eh, Zahra sama temen-temennya tuh. Udah lo pada diem aja dulu" Ujar Fikri saat melihat Zahra dan teman-temannya berjalan menuju ke mejanya. "Kita ikut gabung ya" Ujar Zahra. "Silahkan nyonya Raga yang terhormat" Jawab Fikri. Zahra hanya tersenyum ramah. "Pada lagi ngomongin apaan tadi? Seru amat kayanya" Tanya Nadien yang mengambil tempat duduk di sebelah Ardan. "Biasa, urusan cowok" Jawab Reihan. "Eh, bulan depan kita ada study tour kan? Udah pada ada gandengan waktu study tour nanti?" Tanya Ardan terkekeh. "Kalo diantara kita sih yang pasti Zahra yang pasti udah ada" Ujar Tasya melirik Zahra. "Lo tanya gitu kaya punya gandengan aja, Dan" Ucap Fikri menoyor kepala Ardan. "Enak aja lo. Gue punya" Balas Ardan. "Siapa?" Tanya Fikri. "Nih disebelah gue" Ujar Ardan terkekeh. Nadien yang ada disebelah Ardan pun tersipu malu, pasalnya dia ada di sebelah kanan Ardan. Sedangkan di sebelah kirinya ada Fikri. Tidak mungkin kan jika Fikri yang dimaksud oleh Ardan. "Nadien? Emang Nadien mau apa sama lo?" Goda Fikri, ia tertawa. "Yeee, tanya aja sok atuh. Pasti dia mau" Ujar Ardan percaya diri. "Kepedean banget lo" Balas Nadien. Fikri, Reihan yang mendengar jawaban Nadien pun langsung tertawa keras. "Mampus lo, Dan" Ujar Reihan di sela-sela tawanya. Ardan menggaruk kepalanya yang gatal. "Sekarang gak mau, ntar kalo study tour tiba pasti mau" Ujar Ardan menatap ke arah Nadien. Nadien menunduk, ia sangat malu jika ditatap seperti itu. "Lo gimana, Rei? Udah ada?" Tanya Fikri. "Lo tadi ngatain Ardan kalo tanya-tanya tandanya udah punya gandengan. Emangnya lo punya gitu?" Ujar Tasya. "Ada dong jelas. Lo aja kali yang gak punya, dasar nenek lampir" Balas Fikri. "Apa lo bilang" Suara Tasya semakin meninggi. "Udah, malah pada berantem. Awas loh nanti jatuh cinta" Ujar Reihan terkekeh. ***** 081357823*** : Masih percaya aja sama pacar lo itu? Lo udah dibohongin b**o! Zahra terkejut membaca pesan itu. Ini adalah nomor yang kemarin berkata bahwa Raga hanya memacarinya karena games ToD bersama teman-temannya. Dan sekarang isi pesannya berkata seperti itu, seolah-olah orang itu tau apa yang terjadi tadi pagi saat ia bertanya kepada Raga. Zahra sebenarnya belum 100% percaya dengan ucapan Raga yang tadi. Ia juga tak percaya dengan sms dari orang aneh jika belum ada bukti yang kuat. Zahra ingin mencari bukti itu dengan caranya sendiri. Azzahra Paramita : Lo siapa sih? 081357823*** : Gak perlu tau. Gue cuma mau lo jauhin Raga. Azzahra Paramita : Lo fansnya Raga ya?  081357823*** : Gue bilang lo gak perlu tau!! "Aneh banget ini orang. Dia bilang kalo Raga pembohong, terusbnyuruh gue buat jauhin Raga. Terus Raga buat dia gitu?" Ujar Zahra pada dirinya sendiri. "Eh tapi kok kaya kejadian waktu itu sih?" pikir Zahra *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD