munafik !!
Tolong jangan engkau katakan bila dirimu mencintai hujan dibawah sebuah payung. Karena sebagaimana besarnya rasa cinta mu pada hujan, tak akan pernah sedikit pun kau merasakan tangis hujan yang menusuk masuk kedalam ruang hati kecilmu.
Darwan tergagap ketika sebuah teguran oleh seorang perempuan yang sedang menatapnya saat ini. Bibirnya kelu untuk menjawab karena hatinya masih saja begitu khawatir dengan sosok yang masih setia dalam pelukan seorang laki-laki.
“Ayo Rin, kita pulang.”
Imam merangkul Sabrin sambil membawanya pergi menjauh dari Darwan. Sedangkan Sendi, perempuan yang menyapa Darwan tadi nampak bingung melihat kejadian ini.
Hari ini dia dan suaminya, Imam, memang sengaja datang ke mall ini ingin membeli beberapa kebutuhan putra mereka di salah satu toko bayi. Namun Imam sempat menghilang dari pandangan Sendi tadi. Dan ternyata ketika Sendi menemukan Imam, suaminya itu tengah memeluk sang adik dengan erat.
“Ante Sendi.” Baju gamis panjang yang Sendi pakai, ditarik-tarik bagian bawahnya oleh seseorang. Ternyata yang berdiri disampingnya adalah, Syafiq.
“Iya sayang.” Sapa Sendi. Ia berjongkok, agar tingginya sejajar dengan tubuh Syafiq yang jauh dibawahnya. “Kamu tadi sama ibu ya kesini? Ayah mu mana?” tanya Sendi sembari melirik kearah Darwan. Dia sengaja bertanya pada Syafiq dimana keberadaan Fatah. Karena tidak mungkin bila Fatah ikut bersama mereka, Darwan bisa leluasa seperti ini.
“Ayah kelja.”
“Oh.” Sahut Sendi. “ Syafiq pulang sama tante yuk.” Ajaknya. Ia mengusap rambut Syafiq yang sedang menganggukkan kepala.
Sendi tersenyum lalu memposisikan dirinya berdiri kembali. Ia tersenyum kearah Darwan yang ikut tersenyum masam kearahnya.
“Maaf ya kak, aku pulang dulu.” Sendi menunduk melihat tubuh Syafiq yang tersenyum kepadanya. Ia menjadi tidak tega bila terjadi apa-apa dengan orang tua anak ini kedepannya, apa senyum Syafiq akan tetap sama.
“Ka, maaf kalau Sendi ikut campur sebelumnya. Bukannya aku mengungkit masalalu mu dengannya, tapi alangkah baiknya jangan pernah mengusik hidupnya lagi. Dia sudah bahagia kak, dia sudah bertemu tempatnya untuk bersandar. Bila maksud kakak datang hanya membuatnya terluka, lebih baik jangan kak.” Sendi menyeka air matanya yang hendak mengalir.
“Aku masih ingat betul bagaimana dirinya dicaci maki kala itu. Aku masih ingat betul dia yang dihina oleh orang banyak. Dia sahabat ku kak, sakitnya adalah sakit ku. Mungkin kakak tidak akan pernah sadar bagaimana kakak menyakitinya. Mulai dari sebuah penolakan, hinaan karena tidak cocok bersanding dengan mu, hingga..” suara Sendi tercekat ditenggorokan. Ia mulai terisak menceritakan bagaimana pedihnya kehidupan Sabrin terdahulu.
“Hingga perempuan yang kau kejar-kejar kala itu juga merendahkannya. Bila kau memang mencintanya dengan tulus, harusnya kau rangkul dia kak. Kau lindungi dia. Kau sempurnakan dia sesuai dengan apa yang agama mu ajarkan. Bukannya kau biarkan dia tak tentu arah. Dalam sebuah hubungan, laki-laki adalah nahkodanya. Bila kau saja tidak yakin, bagaimana kami perempuan bisa berdiri disampingmu.”
Darwan mengangguk mengakui dia telah salah dulu. Dan saat ini tidak seharusnya ia datang kembali.
“Seharusnya dulu kau jangan menyerah untuk dapat berjalan bersamanya. Karena kini kau harus bertahan untuk tidak mengganggu kehidupannya” sambung Sendi sebelum tubuhnya berbalik sempurna meninggalkan Darwan yang masih diam membisu.
Sebelah tangannya menyentuh d**a kirinya, dimana jantungnya berdetak dengan kuat seakan menertawakan bila dia telah lama kalah untuk memperjuangkan apa yang dia rasa.
**
“Lama banget sih.” Satu kalimat itu yang keluar dari bibir Imam ketika Sendi masuk kedalam mobil.
Dia masuk ke kursi belakang mobil Imam. Dapat Sendi lihat, Sabrin sudah duduk disamping suaminya dengan pandangan dialihkan ke jendela mobil. Seakan diluar sana ada yang lebih indah untuk dilihat.
“Maaf mas, tadi aku sempat berbicara dengan Kak Darwan dulu.”
“Jadi dia yang namanya Darwan? Pantas nampak familiar.” Sahut Imam masih dengan emosi yang sama.
“Mas kenal dia?” tanya Sendi.
“Pernah ada yang bercerita kepada ku tentangnya.” Sendi hanya mengangguk dan tersenyum kearah Syafiq yang memandangnya.
“Kok pulangnya ndak sama pak Kaldi?” tanya Syafiq bingung.
“Biar tante sama om yang anter Syafiq kerumah ya.” Jawab Sendi dengan sayang.
Imam mulai menjalankan mobil menuju rumah Fatah, dimana selama ini Sabrin tinggal. Sedangkan pak Kardi di suruh oleh Imam untuk mengikutinya dari belakang.
Ia pikir Sabrin akan bercerita kepadanya saat ini, tapi adik perempuannya ini lebih memilih untuk diam. Sangat berbeda ketika Sabrin belum menikah dulu.
“Rin, kamu cerita dong sama aku.” Bujuk Sendi. “Ada apa sih Rin?”
Tidak ada sahutan apapun. Tapi Imam dan Sendi tahu, Sabrin tengah menangis saat ini karena tangannya berkali-kali mengusap kedua matanya.
“Rin dengarkan mas. Menyesal memang akan selalu ada diakhir cerita. Mungkin ada sedikit dalam hatimu merasa menyesal akan pilihan kedua orang tua mu untuk menikahi laki-laki yang awalnya tidak kau cintai. Tapi mas ingin bilang lagi Rin padamu, tolong Rin cintailah dia yang sudah tulus mencintai mu. Karena Fatah pun diposisi yang sama dengan mu. Jadikan masa lalu mu sebagai pelajaran. Ambil hikmahnya untuk dirimu sendiri.” Nasihat Imam sambil mengusap tangan Sabrin yang berada dipahanya.
“Jangan menangisi yang telah berlalu Rin, tataplah masa depan mu. Kamu sudah punya Syafiq, kamu bersamanya bisa jauh lebih baik. Apalagi yang kau cari? Kau hanya tinggal menyempurnakan apa yang sudah kau miliki. Perbanyak amal ibadah mu, perdalam rasa cinta mu kepadaNya. Maka selanjutnya, surgalah sebagai balasanya.” Sambung Imam.
Sendi yang duduk dibelakang bersama Syafiq, hanya mampu tersenyum. Dia tahu suaminya mampu menenangkan Sabrin saat ini. Tapi bila Sabrin membutuhkan dirinya sebagai sahabat, dia akan selalu ada untuk Sabrin.
“Mas gak akan pernah tahu. Karena semua yang pernah mas cintai pernah mas miliki. Sedangkan aku.” Histerisnya sesak.
“Ya, mungkin bagimu mas jauh lebih baik. Tapi kau tidak pernah tahu bagaimana terpuruknya mas, karena merasa bersalah setelah keegoisan mas kala itu.”
“Laki-laki memang semuanya egois.” Celetuk Sabrin dengan kesal.
“Mas rasa bukan hanya laki-laki yang egois.” Jawab Imam tak mau kalah.
“Maksud mas Imam, perempuan juga? Gitu. Enak saja kalau ngomong. Pikir dulu mas.” Sabrin mulai menatap Imam dengan wajah kesal menahan amarahnya. “Coba sebutkan bagian mana perempuan egois?”
Sekali lagi Imam menghembuskan nafas dalam. Dia tidak boleh dengan emosi saat ini. Karena Sabrin sedang dalam keadaan tidak baik.
“Begini Sabrina adikku, bagi mas sikap egois ada macam-macam bentuknya. Karena itu mas rasa baik laki-laki maupun perempuan pasti memilikinya. Tadi kamu minta contohnya, maka mas ambil contoh yang mudah kamu pahami dan paling banyak kamu bisa temui. Yaitu egois dalam agama.”
“Dalam agama?” kedua mata Sabrin menatap Imam yang berbicara sambil terus mengemudikan mobilnya.
“Iya, egois dalam agama seperti...” Imam menghentikan mobilnya pada lampu merah, kemudian melihat beberapa orang yang melintas didepan mobilnya. Ada perempuan-perempuan pekerja kantor yang memakai pakaian seperti kekurangan bahan. “Kau lihat mereka?” Sabrin mengangguk pasti.
“Iya, lihat. Kenapa?”
“Diantara perempuan-perempuan itu, ada yang memiliki agama Islam. Tapi kau lihat pakaiannya?”
“Mas tahu dari mana kalau mereka Islam?” tanya Sabrin masih sibuk menilai orang-orang itu.
“Karena salah satunya adalah pekerja dikantor ku.” Jawab Imam. “Itu kan kantor mas, kamu gimana sih.” Tunjuknya pada gedung bertingkat tak jauh dari lampu merah itu.
“Oh.”
“Kenapa mas bilang mereka egois? Karena mereka mengaku Islam didepan semua orang. Bahkan mengaku Islam pada negara dan hukum pemerintahan, namun kau lihat apa yang dia kenakan? Bukannya sama saja dia egois dalam agamanya?”
“Gitu kah mas?”
“Iya, egois mereka disini, yaitu mereka egois pada dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman Allah.” Tutup penjelasan Imam sambil menatap Sabrin. “Jelas tidak apa maksud mas? Sikap egois itu luas Rin, dan mas harap kau jangan pernah bersikap seperti itu dalam bentuk apapun.”
“Tapi..” cicitnya.
“Satu yang kau lupa Rin, bersyukur lah kepadaNya. Karena Dia saat ini tengah menguji kekuatan rumah tangga mu. Kuatkan pondasi dalam rumah tangga kalian dengan iman, insha Allah semua akan berjalan lancar.”
“Aku setuju Rin, sama mas Imam. Banyak-banyak bersyukur. Allah itu sayang pada mu Rin, maka dari itu Ia menguji mu.” Sendi menambahkan jawaban Imam sembari memeluk Syafiq yang sudah terlelap dalam pelukannya.
“Iya, mas. Sen. Terima kasih.” Lirihnya.
“Sudahlah. Lagian juga mas gak suka sama si Darwan-darwan itu. Apa-apaan dia maksudnya? Adik mas udah berubah jadi cantik begini baru dia datang lagi. Jangan harap mas kasih ijin.”
Mau tidak mau Sabrin dan Sendi sama-sama tertawa mendengar nada tidak suka dari Imam. “Mas, kamu itu ya. Nggak boleh begitu.” Ucap Sendi sambil mengusap bahu Imam.
“Ya habisnya, laki-laki kok begitu banget. Nih dengarkan mas Rin, anggap saja dirimu itu seekor ulat yang sedang berproses dalam hidupnya. Mungkin semua orang yang lihat proses itu akan merasa jijik, tapi ingat proses yang kamu lakukan akan terus berlalu menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu indah walau tak ada yang menghargai mu sedikitpun.”
“Iya mas, Sabrin paham.”
“Bagus kalau paham. Harusnya yang terus kau cintai adalah laki-laki yang mau menemani mu ketika proses itu terjadi. Bukan setelah proses itu selesai.” Sambung Imam sambil menggenggam tangan Sabrin dengan erat.
“Makasih banyak ya mas, makasih banyak ya Sen. Mungkin tanpa kalian apa jadinya aku tadi.”
**
Sabrin melambaikan tangan pada mobil Imam yang menjauhi rumahnya. Syafiq nampak tertidur pulas dalam gendongannya. Ia kembali tersenyum saat mengingat-ingat nasihat Imam tadi, perubahan seekor ulat. Apa begitu menjijikan dirinya dulu? Sampai Mas Imam berkata demikian.
“Pak, barang-barang yang tadi saya beli bawa masuk kedalam ya pak.” pak Kardi mengangguk patuh, lalu turut masuk kedalam rumah bersama Sabrin.
Rumah masih terlihat sepi sore ini. Biasanya suara tawa Syafiq yang meramaikan rumah sang mama saat semua orang sibuk bekerja seperti ini.
“Taruh di sofa saja ya pak belanjaannya.” Perintah Sabrin.
“Iya bu.” Pak Kardi meletakkan beberapa belanjaan pada sofa kamar Sabrin, lalu kembali keluar dari kamar itu.
Sabrin menidurkan Syafiq ke ranjangnya, kemudian membuka sepatu dan baju yang Syafiq kenakan saat ini. Kemudian dicium putranya itu dengan sayang.
“Maafin ibu ya nak, gak seharusnya ibu bersikap seperti tadi. Harusnya ibu sadar, ibu sudah punya Syafiq sekarang ini. Kamu tetap segalanya buat ibu nak. Walau pada awalnya ibu dan ayah mu tidak terikat atas dasar cinta, tapi kau adalah bukti cinta kami.” Ucapnya dalam isak tangis.
Sabrin menuju kamar mandinya, lalu segera membersihkan diri. Karena dia tahu Fatah akan segera kembali sebentar lagi. Tadi pagi Fatah berkata tidak ada jadwal sore hari, maka dari itu sebentar lagi sudah bisa dipastikan suaminya akan ada dirumah.
Selepas sholat ashar, pintu kamarnya terbuka dan disanalah Fatah berdiri sambil tersenyum kearah Sabrin yang masih mengenakan mukenanya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Sabrin menyambutnya dengan mencium tangan Fatah.
“Syafiq tidur jam segini? Tumben. Pasti kecapekan dia.” Ucap Fatah ketika kedua matanya memandang Syafiq yang masih setia bermimpi padahal hari sudah sore.
“Iya, aktifitasnya terlalu banyak. Aku jadi takut dia kelelahan mas, terus sakit.” Sabrin berdiri disamping Fatah sembari merangkul lengan suaminya itu.
“Kamu usahakan dia meminum vitamin yang kemarin aku bawa.”
Mereka berdua sama-sama terdiam sesaat karena terlarut dengan pemandangan didepan mata mereka. “Mas, terima kasih atas segalanya.”
“Terima kasih?”
“Iya. Karena sudah mau menerima ku dengan tulus kala itu.”
“Tidak perlu berterima kasih. Apapun akan aku usahakan yang terbaik untukmu dan juga Syafiq.” Fatah merangkul tubuh Sabrin kedalam pelukannya. Dia masih tidak bisa melepas pandangannya dari sosok malaikat mungil yang tersenyum dalam tidurnya.
“Senyumannya mirip mu.” Kekeh Fatah.
“Benar kah? Aku pikir tidak ada gen ku sedikit pun yang Syafiq bawa.”
“Mas rasa ada satu gen yang dia bawa dari mu.”
“Apa?”
“Gen menjadi dirinya sendiri. Dia tidak pernah merubah apa yang dia sukai. Walau sekitarnya melarang dirinya memukul-mukul benda ke tembok, tapi akan tetap dia lakukan tanpa peduli dengan orang lain.”
“Kok hal buruk sih yang aku turunin.” Rajuk Sabrin.
“Karena hal baik dari mu hanya untukku.” Fatah mencium kening Sabrin dengan sayang.
“Mas gombal.”
Fatah tertawa sejenak lalu menggelengkan kepala. “Pernahkah aku menggombal selama ini kita menikah? Mas rasa tidak.”
“Yakin gak?” kedua alis Sabrin dinaik turunkan untuk menggoda Fatah.
“Iya. Mungkin selama 4 tahun kita menikah, dan 3 tahun memiliki Syafiq, masih banyak hal yang harus kita pahami satu sama lain. Mas rasa masih banyak hal yang tidak mas tahu tentang mu, begitu pun sebaliknya. Maka ijinkanlah mas untuk terus mengenal mu, menjadikan dirimu dan diriku satu yang tak akan mungkin terpisahkan.”
“Iya mas, aku juga sadar kita masih harus banyak belajar bila ingin menjadi seperti mama-papa atau papi mami. Kalau kata papa waktu itu, menikah itu hanya cinta pada tahun-tahun pertama saja yang akan dirasakan. Karena selebihnya hanya kebiasaanlah yang menjadi lebih mendominasi.”
“Itu untuk mereka. Karena mas inginnya, sampai mas menutup mata, rasa cinta akan selalu ada untukmu seorang.”
“Mas...”
“Hust. Tak semua kata mampu terucap dengan bahasa. Ada beberapa yang memilih menuangkannya lewat aksara. Bukan berarti mereka tak memiliki nyali. Namun karena tak ingin dihakimi oleh yang lainnya. Mungkin sampai saat ini aku pernah salah pada mu, karena diriku yakin bukan hanya suka yang ku tuliskan, melainkan duka. Andai saja hanya suka yang mampu ku bagi kepada mu, biarkanlah duka ku pendalam hati sebagai rasa sakit yang tak akan pernah ku bagi kepada mu. Karena bahagia mu adalah hidup mati ku.” Sambungnya sambil memeluk tubuh Sabrin dari belakang.
Sabrin menutup bibirnya seakan menahan isak tangis yang kini ia rasakan.
Dia sudah terlalu jahat saat ini, menyakiti sosok yang begitu mencintainya dengan tulus.
Isi hatiku biarlah hanya aku yang tahu. Karena yang perlu kau tahu hanya hidup dan mati ku selalu tertuju kepada mu. Menjalani kisah kita berdua selama Tuhan masih memberikan waktu.
---------
Continue
Siapa aja yang udah beli bukunya?