Bab 6

2451 Words
Pahami keinginan ku. Tutuplah kedua mata ketika menangis, berdoa dan mencium. Mengapa ku pinta demikian? Karena keindahan tak bisa terlihat oleh mata, namun tersimpan didalam hati. Untuk itu, tutuplah mata mu tapi tidak untuk hatimu. Biarkan rasa cinta ini masuk disetiap celah hati mu sampai kau sendiri tersesak olehnya. Hari demi hari telah berlalu hingga tiba saatnya Sabrin gelisah ingin meminta ijin suaminya untuk pergi ke acara reuni kampus yang sangat ingin dia datangi. Sebelumnya Sabrin sudah mengajak Sendi untuk datang bersamanya, namun saat awal mengajak, Sendi sedikit ragu untuk ikut. Dia merasa datang keacara seperti itu tidak begitulah penting. Karena tidak datang pun, maka tidak berpengaruh apa-apa dalam hidupnya. Tapi Sabrin terus saja merengek pada Sendi untuk mau menemaninya. Jadilah Sendi menuruti kemauan adik ipar sekaligus sahabatnya itu. "Bu" panggil Fatah dari luar kamarnya. Laki-laki itu menatap aneh gelagat dari istrinya yang sedang menggenggam ponsel sambil duduk dikursi depan meja rias. Hari ini adalah hari minggu, kebetulan Fatah tidak memiliki jadwal shift di rumah sakitnya. Karena sejak jum'at kemarin laki-laki itu sudah mendapat jatah lembur disana. Fatah mendekati Sabrin yang tak menggubris kedatangannya. "Ai.." panggilnya lagi lebih lembut. Sabrin tersenyum kearah Fatah yang berjongkok disampingnya kini. Kehidupan rumah tangga mereka memang sudah lebih baik. Walau terkadang masih sering adanya perselisihan kecil diantara keduanya, tapi semuanya masih bisa diatasi oleh Fatah maupun Sabrin. Untuk masalah Darwan kala itu, Sabrin tidak berniat menceritakannya kepada Fatah. Bukannya dia tidak ingin jujur, dia hanya ingin bersikap seolah-olah dia tidak pernah mendengar ungkapan penyesalan Darwan. Biarlah semuanya berlalu seperti hembusan angin yang sering menggoyangkan daun pada ranting. Seperti itulah Sabrin berpikir tentang masalah dirinya dan Darwan. Dia juga sudah menceritakan apa yang terjadi pada Sendi, sahabatnya. Dan yang membuatnya ajaib Sendi tidak menyalahkannya sama sekali. Ia berkata dalam pernikahan pasti ada saja pihak ketiga yang akan masuk diantara suami dan istri. Entah itu wanita idaman lain atau pria idaman lain. Selain itu juga sering ada kasus dimana orang ketiga ada mertua sendiri yang tidak suka sikap menantunya. Masih banyak lagi sebenarnya yang akan menjadi pihak ketiga didalam rumah tangga. Tapi bagi Sendi, rumah tangga yang sehat bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah diterpa masalah. Karena baginya, setiap masalah yang datang pasti ada hikmah dibaliknya. Entah membuat pasangan suami istri menjadi sadar akan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Atau membuat cinta diantara keduanya semakin nyata dan tak mungkin terhapuskan. Satu kata yang selalu Sabrin ingat atas nasihat dari Sendi. 'Bersyukurlah' hanya itu. Karena bersyukur atas apa yang telah kau miliki saat ini lebih sulit dari pada mengejar atas apa yang belum kau punya. Oleh karena itu, berkali-kali Sabrin bersyukur memiliki suami sesempurna Fatah, memiliki anak sepintar dan sesholeh Syafiq, memiliki keluarga serta sahabat yang selalu mendukungnya. Lalu apa lagi yang harus dia cari? Semuanya sudah Allah berikan kepadanya. Maka perlajaran bersyukur yang kini dia harus terapkan dalam hidup. "Bu, ayah tanya kamu diam saja." Sabrin tersenyum, dia mengangkat tangannya kemudian mengusap lembut rahang Fatah yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Maaf ya sayang. Aku cuma berpikir" "Mikir apa siang-siang begini?" "Mikir gimana jadinya aku tanpa kamu" Fatah menggelengkan kepala, ada saja yang dipikirkan istrinya ini. Sabrin tanpa dia? Entah apa yang terjadi. Mungkin akan lebih buruk dirinya tanpa Syafiq dan Sabrin. "Sudahlah bu, jangan dipikirkan yang tidak terjadi. Pikirkanlah yang sekarang sudah terjadi. Atau yang akan terjadi kedepannya. Masih banyak bu yang bisa kita pikirkan untuk kehidupan keluarga kecil kita"Jelas Fatah sambil mengusap tangan Sabrin yang masih menempel pada pipinya. Sabrin mengangguk dan tersenyum kepada Fatah. Dia sudah terlalu larut dalam hal yang tidak terjadi. Saat Fatah ingin berdiri dan berbalik kearah luar, Sabrin memanggilnya lagi. "Mas, apa aku boleh datang ke reuni kampus ku minggu besok?" Fatah tersenyum dan mengangguk pada Sabrin. Tidak ada kemarahan atau rasa cemburu disana. Padahal Fatah tahu membiarkan Sabrin datang kesana sama saja membuka masa lalu istrinya itu. "Kamu yakin aku boleh datang mas?" "Memangnya kenapa tidak boleh? Walau sudah menikah, kau masih memiliki waktu mu dengan sahabat-sahabat mu Ai. Asal satu hal yang aku pesankan kepada mu, jangan lupakan kewajiban mu sebagai seorang istri dan seorang ibu." "Tapi mas..." cicitnya merasa tak enak hati. "Tapi apa?" Fatah kembali tersenyum dan menarik tangan Sabrin untuk berdiri dihadapannya. Wajah istrinya memang sangat cantik tanpa polesan apapun. Sejak pertama bertemu Sabrin, Fatah tahu istrinya tidak suka berdandan sedikit pun. Jadi setiap harinya, Fatah selalu menikmati wajah Sabrin yang terlihat selalu apa adanya tanpa tertutupi bedak atau segala macamnya. "Jika kamu saja ragu akan dirimu, bagaimana aku bisa mempercayai mu Ai." Bisik Fatah ditelinganya. "Bukan begitu. Harusnya kamu seperti mas Imam yang berkomentar panjang lebar dulu pada Sendi waktu dia meminta ijin dengan mas Imam." Fatah tertawa mendengar curahan apa yang dirasakan istrinya saat ini. "Demi Tuhan, istriku. Untuk apa aku berlaku seperti itu. Sama saja aku tidak percaya dengan mu. Aku bersikap seperti ini karena aku percaya pada mu sayang. Tidak ada yang lebih penting dalam hubungan suami istri selain kepercayaan" "Berarti mas Imam gak percaya Sendi dong" gumam Sabrin. "Mungkin ada banyak alasan dia berlaku seperti itu pada istrinya. Jangan kau pikirkan kehidupan rumah tangga orang, belum tentu kehidupan rumah tangga kita lebih baik dari yang lainnya. Masih banyak yang harus kita benahi dalam keluarga kecil kita. Kau dengan sikap mu yang mas tahu masih sulit untuk kau rubah. Sedangkan aku, dengan semua yang ku anggap baik untuk semuanya ternyata tidak berlaku untukmu. Jadi mas tolong, kamu selalu ingatkan mas. Jangan diam. Jangan merajuk dengan sikap yang mas tidak bisa pahami. Bicarakan baik-baik, karena bicara adalah ungkapan yang paling tepat dalam ketidaksesuaian" Sabrin tersenyum dan mengangguk yakin. Ia tahu, sikapnya masih jauh dari kata sempurna. Dan hanya bicaralah keduanya akan tahu apa yang tidak disukai oleh masing-masing pihak. "Mas kadang lucu bila mengingat masa lalu masing-masing dari kita. Dulu kamu begitu benci saat melihat ku pertama kali waktu itu. Tapi sekarang dari kedua mata ini hanya cinta yang dapat ku lihat" ujar Fatah sambil mengusap kedua mata Sabrin. Pipi Sabrin bersemu merah, Fatah memang selalu memujinya tapi bukan dengan kata-kata gombalan yang sering dikeluarkan oleh banyak laki-laki saat ini. Melainkan cara Fatah menyampaikannya benar-benar dengan kata yang sangat tepat hingga menusuk dihatinya yang terdalam. "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ayo keluar Syafiq tadi mas tinggal sama mama" Mereka berjalan bersisian dengan senyuman yang tidak pernah lepas diantara keduanya. *** Tepat diruang keluarga ternyata semua berkumpul, ada papa dan mamanya serta Hans suami Umi yang tengah memangku Syafiq. Mereka terlibat percakapan yang membuat papa tak henti-hentinya tertawa mendengar celotehan cucu kesayangannya. "Ibu..." panggil Syafiq. Bocah laki-laki itu berpindah dan meminta Sabrin untuk memangkunya. "Syafiq sedang apa?" "Sapik lagi mau makan buah" celotehnya. Tangan mungilnya mencoba masuk kedalam kerudungan yang Sabrin pakai. "Hei, Syafiq kan sudah besar. Kok nakal" Sabrin menggeleng tanda tidak boleh dilakukan. "Yah.." rengeknya pada Fatah. Kebiasaan yang sulit dihilangkan oleh Syafiq ketika dipangku oleh Sabrin, tangan mungilnya akan masuk kedalam baju Sabrin dan mengusap-usap bagian d**a Sabrin. Memang sejak berumur 2 tahun Syafiq sudah tidak menyusu lagi pada ibunya. Tapi yang sulit Sabrin hilangkan kebiasannya itu. Bahkan setiap mau tidur pun, hal ini akan selalu Syafiq lakukan hingga ia bisa tertidur pulas. "Kenapa?" tanya Fatah. Ia meraih Syafiq dalam pelukannya. Dan sengaja menggoda Syafiq dengan bulu-bulu halus dirahangnya. Syafiq tertawa geli merasakan sensasi aneh di pipinya. "Ampun Ayah." Tawanya tak dihiraukan Fatah sedikit pun. Sampai anaknya itu lupa maksud rengekannya tadi. "Memangnya belum berubah juga Rin?" bisik mama. Sabrin menggeleng sambil memperhatikan interaksi anak dan ayah itu. "Susah ma, kalau aku keraskan untuk melarang dia nangis." "Diajarkan baik-baik" nasihat papa. Semua orang tahu kebiasaan cucu laki-laki dikeluarga Al Kahfi itu. Selain kesukaan anehnya memukul-mukul barang, hal satu ini juga sulit untuk dihilangkan. "Buah datang" teriak Umi dengan membawa 2 piring buah yang ia letakkan diatas meja. "Asik.." teriak Syafiq. Ia melihat kearah Pamannya Hans yang langsung saja mengambil potongan buah itu tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. "Ayah" rengeknya lagi. "Iya sayang." "Cacing itu bisa tumbuh besal ndak?" ucapnya dengan bahasa yang masih bisa dipahami oleh orang banyak. Umur Syafiq memang belum genap 3 tahun tapi masih banyak kosa kata yang sulit dia ucapkan dengan benar. "Bisa dong. Kan cacing itu makhluk hidup. Apalagi kalau dikasih makan." "Ayah, kata ibu kalau mau makan ndak cuci tangan bisa ada cacingnya. Syafiq ndak mau pelihala cacing" ia menarik tangan Fatah untuk berdiri menemanya mencuci tangan. Sedangkan Fatah yang mulai paham maksud putranya hanya tersenyum pada Hans yang diam dengan mulut penuh dengan potongan buah. "Jorok. Malu juga gak di sindir sama keponakannya" celetuk Umi dengan kesal. "SANA CUCI TANGAN DULU." Hans langsung berdiri sambil berlari mengikuti arah Syafiq dan Fatah tadi. "Jangan galak-galak nduk sama suami mu. Kalau kamu galak begitu, wibawanya bisa hancur. Apalagi didepan papa sama mama" nasihat mama sambil mengusap perut Umi yang sudah mulai membesar. Keluarga ini memang tengah menunggu kelahiran cucu kedua dari Umi. Kehamilan yang tidak disangka-sangka ditengah polemik keluarga kecilnya mampu menyatukan Umi dan Hans kembali. "Gimana Mi? Dia nendang-nendang ya?" tanya Sabrin yang turut mengusap perut besar Umi. Usia kandungan Umi memang baru memasuki bulan ke 5, tapi karena kehamilan dia dengan Sabrin sangat berbeda membuat tubuh Umi cukup besar dengan perut yang tak kalah besar. "Hati-hati Mi, usia kandungan segini cukup rentan. Jangan sampai kejadian ku waktu itu terulang lagi." "Tenang saja kak Sabrin. Hans setia kok. Awas saja dia tinggal-tinggal aku lagi saat usia kandungan ku makin besar." Bengis Umi. Syafiq berlari dari arah belakang langsung menabrak perut Sabrin yang tengah duduk. "Ibu. Sapik mau buah" Sabrin mengambilkan buah itu untuk Syafiq dengan ditusuk pada garpu kecil untuk Syafiq pegang. "Pelan-pelan ya makannya." Anaknya itu mengangguk dan memilih bersadar pada kaki Hans yang sibuk memakan potongan buah itu. Kadang dari bibirnya terdengar suara tawa karena melihat kelucuan Hans memakan buah-buah itu. "Pelan-pelan Hans" Fatah mengingatkan Hans yang hanya mampu dibalas dengan cengiran aneh oleh laki-laki itu. "Dalam dunia kesehatan, mengunyah makanan yang baik itu minimal 30 kali untuk makanan keras. Sedangkan makanan lembut cukup 5-10 kali" nasihat Fatah. "Mas, bukannya sama saja. Mengunyah banyak atau sedikit nantinya jadi kotoran juga" kekeh Hans. "Otak mu tuh yang isinya kotor" celetuk Umi. "Disapu Ammah bial belsih" Syafiq tak mau kalah mengeluarkan suaranya disini. Ia tersenyum sambil menggigit-gigit kecil potongan buah yang dia pegang. Papa dan mama tertawa melihat reaksi cucu nya itu. Sedangkan Hans menjadi diam sambil menatap Syafiq dengan kesal. Bukannya dia membenci Syafiq, tapi celetukan spontan dari bocah laki-laki itu memang kadang memancing gelak tawa serta emosi bagi orang disekitarnya. Sangat mirip dengan Sabrin bila semakin diperhatikan. "Bukan begitu Hans, makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan terbuang tanpa terserap lebih dahulu kandungan nutrisi didalamnya. Kemudian akan menumpuk dan terjadi pembusukan didalam tubuh. Apalagi bila didiamkan, maka racunlah yang akan dihasilkan oleh pembusukan itu. Asalkan kau tahu, air liur yang keluar ketika kau mengunyah makanan itu dengan benar akan bercampur dengan asam lambung dan cairan empedu. Semua itu akan membantu mu dalam pencernaan." Tutup Fatah dengan penjelasan yang sangat baik. "Dengar gak kamu? Kunyah dulu sebelum ditelan." celetuk Umi. "Iya, sama kayak masalah keluarga. Kunyah dulu jangan langsung ditelan mentah-mentah" cibir Hans pada dirinya sendiri. Semua nampak diam, dan tidak melanjutkan perkataan ini. Karena hal yang sangat sensitif baru saja dilalui oleh penikahan Umi dan Hans. Oleh karena itu mereka semua memilih untuk diam. *** Sabrin melihat pantulan dirinya didalam sebuah cermin besar dalam kamarnya. Hari reuni kampusnya itu akhirnya tiba. Dia akan datang, tentu saja dengan Sendi yang ikut serta. Reuni ini diadakan ba'da Ashar hingga usai Isya. Dari yang Sabrin dengar, reuni itu akan didatangi oleh pak mentri yang saat ini tengah menjabat. Karena beliau adalah salah satu alumni dari kampus Sabrin, untuk itu Sabrin ingin sekali untuk datang kekampusnya ini. "Kamu belum jalan Rin?" mama masuk kedalam kamar Sabrin dengan senyum senang melihat tampilan menantunya itu. "Belum Ma, sebentar lagi" "Cantik kamu" puji sang mama dengan tulus. Dia merapihkan bentuk hijab Sabrin dibagian belakang. Saat ini Sabrin memakai hijab berwarna biru muda dengan sebuah dress panjang yang menutupi dirinya hingga mata kaki. Tidak ada perhiasan apapun yang melekat pada tubuhnya. Begitu sederhana namun tetap cantik. Hanya cincin pernikahan yang terselip dijari manisnya membuat tanda bila dia sudah dimiliki oleh seseorang. "Kamu sama pak Kardi kesana?" "Gak ma, Nanti mas Imam sama Sendi yang jemput kesini." Kekeh Sabrin bila ingat kakak laki-laki nya itu begitu over protectif kepada Sendi. "Memangnya Fatah bertugas sampai jam berapa hari ini?" tanya mama yang menatap lekat wajah Sabrin. "Sabrin gak tahu ma, tapi nanti dia yang akan menjemput aku" "Ya sudah hati-hati." "Titip Syafiq ya Ma, dia masih belum pulang kan?" Mama menggelengkan kepala lalu kembali tersenyum kepada Sabrin. "Biarkan Hans dan Umi direpotkan dengan celotehan anak itu." *** Mobil yang Imam kemudikan sudah sampai didepan rumah bernuansa minimalis itu. "Mas kamu mau turun gak?" Wajah Imam masih terlihat jengkel tidak suka. Dia hanya menatap kedepan dengan kedua tangan mencengkram kuat kemudi mobil. "Kamu itu ya. Emosi terus. Padahal gak tahu apa yang harus dibuat menjadi emosi seperti itu" ucap Sendi. Dia mencoba turun dengan Shaka yang tertidur dalam gendongannya. Imam tidak mengijinkan Sendi pergi tanpa membawa Shaka dalam reuni itu. Dia ingin semua tahu bila Sendi sudah menjadi miliknya dan milik anak laki-lakinya. "Assalamu'alaikum" salam Sendi. Mama dan Sabrin keluar rumah sambil menjawab salam dari Sendi. Keduanya sama-sama terlihat bingung. Mengapa Sendi membawa putranya yang masih hitungan bulan. "Kamu bawa Shaka Sen?" tanya Sabrin. Sendi hanya meringis dan tersenyum masam. "Biasa ada yang ketakutan" kekeh Sendi. "Ya sudah kalian hati-hati ya" ucap Mama. Sendi dan Sabrin masuk kedalam mobil dimana ada Imam didalamnya. Nuansa dingin dan mencekam langsung menyerang Sabrin. "Ya Allah, berasa lagi nonton film horor." Goda Sabrin sambil duduk dikursi belakang. "Fatah datang nanti Rin?" Sesungguhnya Imam ingin datang, namun dia tidak enak karena tidak ada yang dia kenal. Sedangkan laki-laki yang ingin dia ajak untuk hadir ada tugas dirumah sakit yang membuatnya tidak bisa datang. "Datangnya waktu mau jemput aku nanti" kekeh Sabrin. Imam meringis dan mulai menjalankan mobilnya. Bahkan seharian ini Imam sengaja tidak pergi kerja hanya untuk mengawasi sang Istri agar tidak berpakaian berlebihan. "Cemburu sih boleh mas, tapi yang berlebihan itu gak baik. Itu yang sering mas Fatah bilang" goda Sabrin untuk mencairkan suasana. Namun yang ada tatapan kesal dari Imam melalui kaca spion dibagian tengah yang dia berikan kepada Sabrin. Sampai Sabrin berhenti tertawa dan menyesali perkataannya. Bila menggoda orang yang tengah marah sama saja membunuh dirinya sendiri. Namun terkadang Sabrin iri dengan sikap cemburu Imam pada Sendi. Ia juga ingin sekali-kali merasakan Fatah bersikap seperti itu. Karena dari sanalah dia akan tahu seberapa besar rasa cinta Fatah terhadap dirinya. Seperti inilah sikap perempuan yang harus dimengerti oleh laki-laki. Ia tidak suka menjelaskan namun sangat suka dimengerti. Terutama oleh kekasih hati. ----- continue.. komen dan tap love jangan lupa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD