Semua sudah tidak sama lagi
Setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk jatuh dan tersakiti namun yang membedakan adalah bagaimana cara mereka untuk bangkit dan mengejar kebahagiaan.
Suasana dikampus yang dulu tempat Sabrin dan Sendi menimba ilmu cukup ramai sore ini. Ternyata sang menteri yang menjadi tamu penting dalam reuni akbar kali ini mampu menyedot banyak perhatian dari semua orang. Bukan hanya alumni dan mahasiswa kampus itu yang datang, melainkan orang-orang luar juga turut meramaikan acara reuni ini.
Beberapa pedagang kaki lima berbaris membuka lapak berjualannya, mereka berusaha mencari keuntungan dari ramainya pengunjung yang datang. Bahkan tak ketinggalan tukang parkir dadakan yang tiba-tiba muncul seakan menambahkan orang-orang yang memang sengaja mencari sesuap nasi dalam acara ini.
"Terus pak. Mundur.. Terus.. terus. Sip" tukang parkir tadi membantu Imam untuk memarkirkan mobilnya dilapangan luas samping kampus yang sudah disulap menjadi lahan parkir.
"Mas mau tunggu disini?" Sabrin mendengar Sendi bertanya kepada kakak laki-lakinya itu.
"Kok rame begini? Katanya reuni kampus. Ini sama saja kayak ada pesta besar disana." Ketus Imam. Dari pandangannya dia bisa melihat banyak polisi dan tentara yang berjaga-jaga disekitar kampus.
"Mana aku tahu mas kalau seramai ini." Jawab Sendi bingung.
"Ayo Sen. Tadi aku lihat ada Bila disana. Kangen sama dia." Sabrin berseru senang melihat adik juniornya dulu yang kebetulan adalah teman sekamar kost Sendi sebelum dia menikah dengan Imam ikut hadir dalam acara ini.
"Aku keluar dulu ya mas." Pamit Sendi tak enak hati. Karena wajah Imam sejak berangkat dari rumah sampai saat ini terlihat sangat tidak suka bila Sendi datang ke reuni.
Sejak menikah, Imam memang sangat over protectif terhadap istrinya itu. Dia lebih suka seorang istri yang selalu berdiam dirumah, merawat anak-anak sambil menunggu dia pulang bekerja. Bukan perempuan yang ikut-ikut perkumpulan seperti ini.
Dia hanya tidak ingin Sendi lupa akan tugas sesungguhnya menjadi seorang istri. Apalagi dunia luar tidaklah baik untuk seorang perempuan. Sedikit melakukan kesalahan saja maka fitnah lah yang akan timbul.
"Hati-hati." Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Imam.
Sabrin menarik tangan Sendi untuk mengikuti langkahnya menuju segerombolan orang yang banyak ia kenal. Ia sudah lama tidak tahu kabar dari sahabat-sahabatnya ketika dikampus dulu.
"Assalamu'alaikum." Seru Sabrin.
"Wa'alaikumsalam" semua kompak menjawab salam itu sembari memperhatikan Sabrin dari atas hingga bawah.
Pandangan mata tak percaya mereka berikan kearah Sabrin yang tersenyum dengan lebar.
"Hai, aku kangen kalian." Sabrin mencium satu demi satu pipi perempuan-perempuan yang dulu teman satu organisasi musiknya. Rasanya sudah lama sekali Sabrin tidak berkumpul bersama dengan mereka. Dulu setiap sore mereka akan berkumpul untuk melatih suara mereka membawakan beberapa jenis lagu daerah. Namun sekarang, kesibukan yang membuat mereka terpisah tak pernah dipertemukan kembali.
Hingga saat bertemu kembali, semua sudah berubah. Banyak yang sudah menikah. Bahkan salah satu teman Sabrin ada yang baru saja mengurus perceraiannya.
Dulu ketika masih kuliah, memang Sabrin lebih dikenal oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya dibandingkan Sendi. Apalagi Sabrin tergabung dalam organisasi yang sering diperhatikan orang banyak. Entah diperhatikan karena suka atau benci. Sedangkan Sendi, karena sifat pendiamnya membuat yang lain sedikit ragu untuk begitu dekat dengan Sendi.
"Sumpah ini Sabrina. Berubah banget." Sabrin hanya tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dia sudah biasa mendengar kata-kata seperti ini.
Jika mengingat dulu saat dikampus, Sabrin jauh sekali perbedaannya dengan sekarang. Tidak ada tshirt andalannya, atau sepatu convers yang diinjak bagian belakang. Style kemeja kebesaran dengan legging sudah sangat lama dia tinggalkan.
Sekarang ini adalah Sabrin yang sudah berubah menjadi lebih baik. Bila dia memakai celana, maka pilihannya akan jatuh pada celana bahan. Selain memang lebih nyaman dipakai, disamping itu Fatah kerap kali memarahinya bila masih memakai celana jeans. Fatah sering menjelaskan bagaimana efek samping dari pemakaian celana jeans bagi kesehatan.
Karena itu Sabrin hanya menurutinya saja. Selama yang dijelaskan Fatah untuk kebaikan insha Allah dia akan menurutinya. Walau pertama-tama merubah kebiasaan itu teramat susah, tapi waktulah yang mampu menjawab kesabarannya dalam berubah menjadi lebih baik.
"Alhamdulillah, aku sedang belajar menjadi lebih baik." Jawabnya sambil terkekeh bahagia.
Lalu pandangan orang-orang itu beralih kepada Sendi dan tersenyum ramah. Dulu memang Sendi paling tidak suka bila Sabrin sudah meminta ijin kepadanya untuk datang ke organisasi musik itu. Dia tidak akan pernah setuju sahabatnya lebih mementingkan keperluan dunia dibandingkan akhirat.
Ketika mereka tengah berbincang-bincang, beberapa orang didepan Sabrin berbisik-bisik lalu tersenyum penuh arti kearahnya.
"Rin, tuh lihat siapa yang lagi pada ngumpul."
Sabrin memutar tubuhnya dan melihat dengan kedua mata yang membulat. Laki-laki itu hadir lagi didepan matanya.
Walau Darwan tidak melihat kearah Sabrin, tapi dia bisa mengenali postur tubuh laki-laki itu.
"Cie, ada yang CLBK nih." Kedua alis Sabrin bertautan.
CLBK?
Maksudnya CLBK apa? Cinta Lama Belum Kelar? Atau Cinta Lama Bersemi Kembali?
Rasanya kedua jawaban itu salah. Dia dengan Darwan tidak pernah CLBK, baik yang bermakna pertama maupun kedua. Sejak penolakan sepihak oleh Darwan, Sabrin sadar hidupnya tidak boleh berhenti pada titik rasa sakit itu. Dia harus bangkit dan meraih semuanya untuk menjadi lebih baik.
Lalu sebagai jawabannya, Allah hadirkan Fatah untuk membantunya. Laki-Laki itu adalah prioritas utamanya setelah Allah saat ini. Jadi bagi Sabrin, Darwan adalah sosok laki-laki yang membuatnya sadar sakitnya rasa penolakan.
Dia berandai-andai, dulu dia begitu terpuruk hanya karena ditolak rasa cintanya. Lalu bagaimana dengan Tuhan? Banyak sekali makhluknya yang tidak tahu diri. Menolak kenyataan bila semuanya adalah ciptaanNya, tapi banyak dari makhluk Tuhan yang seakan lupa akan hal itu.
"Dek Sabrin." Suara yang begitu familiar bisa ditangkap oleh indera pendengaran Sabrin.
Sudut bibirnya tertarik keatas saat melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi dan besar berlari kearahnya.
"Ya Tuhan, cakep banget sekarang. Masih kenal gak sama abang?"
"Bang Catur kan?" senyumnya.
"Duh sekarang abang seneng lihat dek Sabrin. Adem banget. Mukanya berseri-seri gitu." Godanya sambil tertawa bahagia.
Tawa itu tertular pula kepada Sabrin, dia tidak akan pernah lupa bagaimana sejak dulu laki-laki ini selalu berusaha mendekatinya. Tapi bagi Sabrin, Catur hanya sebatas seniornya dikampus.
"Bang Catur juga kurusan." Kekehnya.
"Dek Sabrin bisa aja. Memang apanya yang kurusan? Jempolnya?"
Sabrin kembali tertawa, mereka berdua terlarut dalam percakapan nostalgia hingga beberapa laki-laki ikut mendekati mereka.
"Hmm. Tur, ente gangguin istri orang."
Tawa Sabrin seketika hilang, wajahnya menunduk takut. Sudah hampir 4 tahun, tapi tetap saja jika bertemu laki-laki ini aura mencekam bisa dia rasakan.
"Masih takut sama saya?" buru-buru Sabrin mengangguk namun langsung kembali menggelengkan kepala. Buat apa dia takut lagi dengan orang ini?
"Saya bukan setan hitam lagi kan?" Godanya kepada Sabrin.
Semua yang mendengar serempak tertawa bahagia. Panggilan 'Setan hitam' itu begitu melekat pada laki-laki ini. Sejak pertama kali Sabrin memanggilnya seperti itu dulu, semua junior dibawah angkatan Sabrin turut memanggil dengan nama yang sama.
"Apa kabar Sabrina? Sudah lama tidak bertemu. Mana suami mu?"
"Baik. Mas Fatah sedang ada tugas dirumah sakit." Jawab Sabrin masih dengan menunduk.
"Oh begitu. Padahal saya pikir dia akan datang." Sahut Azhari.
Mereka semua kembali diam, hingga acara ingin dimulai semua berjalan masuk kedalam ruangan auditorium kampus yang memang sudah dipenuhi oleh banyak orang.
Sabrin duduk disisi Sendi yang menimang-nimang Shaka karena mulai tidak bisa diam.
"Titip sama mas Imam aja apa Sen. Kan kamu juga gak bakalan ngapa-Ngapain" kesalnya.
"Gak papa kok. Aku senang mas Imam seperti ini. Sifat cemburunya membuat aku merasa segalanya untuk dia."
"Dia nya aja yang berlebih. Buktinya mas Fatah biasa aja." Ada perasaan tidak enak saat berkata bila Fatah tidak berlaku seperti kakak laki-lakinya. Rasanya dia juga ingin merasakan seperti yang Sendi rasakan, walau hanya sedikit.
Sang menteri yang menjadi salah satu bintang tamu dalam acara ini menjelaskan secara singkat bagaimana kemajuan teknologi di Indonesia. Banyak anak-anak sekolah yang sudah mampu menciptakan teknologi baru bukan hanya mengembangkan saja.
Maka dari itu, sang menteri menghimbau agar semua mahasiswa yang lulus dari kampus ini juga ikut berlomba untuk melangkah lebih maju dari perkembangan teknologi negara barat.
Karena semua manusia didunia ini sesungguhnya tidak ada yang bodoh, namun yang malas lah yang banyak. Hingga dari kemalasannya itu menciptakan sifat bodoh dalam mengerjakan segala hal.
Sabrin yang begitu antusias, bertepuk tangan cukup kencang ketika sang menteri menuntup sesi penjelasannya tadi. Menteri itu berharap hadir dalam acara ini memberikan semangat baru bagi mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir yang terkadang putus asa ingin membuat apa sebagai penulisan akhir mereka.
Apalagi bagi mahasiswa yang mengambil jurusan berhubungan dengan teknologi seperti kampus ini. Sudah bisa dipastikan untuk penulisan akhir mereka, sangat diharuskan membuat suatu sistem baru atau teknologi baru yang belum pernah dibuat sebelumnya.
"Wow. Keren ya Sen. Gak nyesel aku datang." Sendi pun mengangguk mengiyakan kata-kata Sabrin tadi.
Namun saat bintang tamu kedua mulai membuka sesi pembicaraan dalam acara reuni mereka ini. Tubuh Sabrin membeku. Dia berusaha memastikan dengan benar yang berdiri didepan panggung itu.
"Assalamu'alaikum. Perkenalkan saya ukthi Ana. Mungkin mahasiswa angkatan 2010 masih bisa mengenal siapa saya. Kebetulan panitia mempercayakan saya menjadi bintang tamu pada acara ini. Kami disini hadir bukan untuk mengajarkan kalian semua, namun kami, terutama saya sendiri hadir disini untuk melepas rindu kepada sahabat-sahabat dan saudara muslim saya. Disamping itu bila terselip pembelajaran lebih, alhamdulillah berarti berkumpulnya kita semua disini bermanfaat"
Tubuh Sabrin kembali duduk dengan wajah lesu. Memori masa lalunya kembali berputar, ditempat yang sama, dan orang yang sama 4 tahun lalu.
Sabrin menggelengkan kepala, semua tidaklah sama. Dia sudah berbeda. Dan dia mampu membuktikan bahwa perubahan seseorang itu hanya masalah waktu.
Dulu dia dicaci maki dan disindir oleh mereka semua yang mengaku memiliki agama lebih baik. Dulu dia tidak dipercaya akan bisa menjadi manusia yang lebih baik. Namun semua itu adalah masa lalu.
Masa lalunya boleh buruk, tapi tidak untuk masa depannya. Dan tidak seharusnya orang-orang itu merendahkan dia seperti itu.
Dia hanya butuh kepercayaan dan dukungan. Sama seperti manusia yang terkena penyakit AIDS, manusia seperti itu bukanlah dijauhi atau direndahkan. Namun dirangkul dan diberikan dukungan untuk dapat terus bertahan hidup.
Bukannya Tuhan tidak pernah merendahkan umatnya yang berusaha untuk menjadi lebih baik. Lantas apa manusia pantas merendahkan manusia lain seperti itu?
"Saya disini ingin menyambung penjelasan dari pak Menteri, teknologi itu harus sejalan dengan Iman. Mengapa saya berkata demikian? Apa ada yang tahu?" perempuan itu tersenyum terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Karena teknologi yang tidak dilandasi dengan akhlakul kharimah akan menjadi penghancur dan merusak bumi. Padahal Islam sejak turunnya kitab suci Al Qur'an dan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasulullah. Menunjukkan bahwa teknologi yang terkandung di dalam kitab suci Al-Qur'an akan membawa rahmat bagi segenap umat di muka bumi ini.
Masih banyak contoh lainnya seperti kemajuan dalam bidang farmasi. Banyak obat-obatan disalahgunakan seperti narkoba, yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk menghancurkan generasi muda. Begitu juga melalui media-media dengan memasukan unsur-unsur pornografi dan pornoaksi yang mencoba menghancurkan akhlak dan menyebarkan kemaksiatan di muka bumi.
Karena itu marilah kita umat Islam yang sedang giat-giatnya mengejar ketertinggalan teknologi dari dunia Barat agar pandai memilah dan memilih teknologi yang pantas kita kembangkan atau tidak. Semoga Allah melindungi umat Islam dari bahaya kemajuan teknologi Barat yang saat ini tengah membumi." Tutup perempuan itu masih dengan senyumannya yang sama namun membuat Sabrin muak.
Jika dia tahu perempuan ini datang, bisa dipastikan dia tidak akan hadir.
Sampai diakhir acara bagi yang beragama muslim bisa melakukan sholat magrib bersama. Karena waktu magrib telah tiba.
Sendi sudah meninggalkan Sabrin sendiri didepan mushola kampus yang memang sudah dipersiapkan untuk acara sholat bersama. Perempuan itu ingin mencari Imam diparkiran tadi untuk bergantian menjaga anak mereka ketika waktu sholat tiba.
"Hei. Kok melamun aja kak?" sosok Bila hadir sambil tersenyum kepada Sabrin. "Ayo siap-siap untuk sholat." Ajaknya.
Akan tetapi baru satu langkah Sabrin memasuki mushola itu, samar-samar dia mendengar orang-orang sekeliling yang mulai menilainya kembali.
Mereka merasa Sabrin tidak cocok berpenampilan seperti sekarang ini. Bagi mereka semua Sabrin hanya seperti memakai topeng untuk menutupi keburukkannya dahulu.
"Sudah kak jangan didengarkan." Bila tahu kakak seniornya ini pasti sakit hati mendengar orang menilainya tidak pantas seperti ini.
Awalnya memang Sabrin tidaklah peduli, tapi ketika dia berdoa diakhir sholatnya Sabrin menangis. Menumpahkan segala perasaan sakitnya saat ini. Apa begitu hina nya dia menutup dirinya menjadi lebih baik. Mengapa orang-orang hanya mengingat keburukannya tanpa memberikan kepercayaan bila dia sudah berubah.
Seusai sholat, sosok yang sejak tadi dia tunggu berdiri tak jauh dari Sabrin. Laki-laki itu tersenyum walau diwajahnya tergambar kelelahan saat ini.
"Assalamu'alaikum. Mas." Sabrin mencium punggung tangan Fatah dengan perasaan bahagia.
Dihatinya yang tengah gundah, Fatah datang seperti membawa kesejukan tersendiri.
"Sudah mau pulang?"
"Belum, ada satu acara lagi. Ramah tamah. Mas mau kan menunggu sebentar?"
Fatah mengangguk kemudian merangkul bahu istrinya.
"Assalamu'alaikum, dokter Fatah" Bila menyapa Fatah yang turut tersenyum sambil menjawab salam kepadanya.
Dulu Sabrin sempat mengenalkan adik juniornya ini kepada Fatah, dan Fatah tahu Bila sosok perempuan yang baik.
Dari belakang tubuh Fatah seseorang memukul kuat bahunya sampai membuat Fatah berbalik dan tertawa melihat siapa yang berdiri dibelakangnya. Sahabat pesantrennya dulu tersenyum menyambut kedatangannya.
"Ente apa kabar Tah?"
"Ana baik. Ente sendiri gimana? Istri baik kabarnya?"
Dulu Fatah pernah diundang ke pernikahan sahabatnya itu. Tapi memang nasibnya tidak dapat hadir karena ada tugas operasi mendadak yang dia harus tangani waktu itu.
"Alhamdulillah baik. Kebetulan itu orangnya." Tunjuknya pada sosok perempuan yang baru saja keluar dari mushola.
Sabrin yang terlihat ingin tahu siapa sosok istri dari laki-laki yang dia sering panggil setan hitam, langsung berbalik melihat kearah yang ditunjuk laki-laki ini.
Dirinya kembali dibuat tak bisa berkata-kata. Sama seperti perempuan berhijab syar'i dihadapannya.
"Sabrina pasti kenal dia kan. Tah kenalin, ini dia bidadari dalam rumah tangga ana"
"Fatah" Fatah hanya menunduk sambil tersenyum ramah. Namun tidak bagi Sabrin, dia ingin kabur dari sini tapi sayangnya dia tidak mampu melakukannya.
"Fatah ini teman Aa waktu dipesantren dulu. Dan disebelahnya itu istrinya yang kebetulan mahasiswi sini juga. Kamu kenal kan?" Azhari menjelaskan sambil merangkul istrinya.
"Ah. Iya aku kenal." Sahut Ukhti Ana.
Sabrin sendiri lebih memilih diam sambil terus mendengarkan Fatah yang masih terlarut berbicara bersama Azhari.
"Rin.." dalam hati Sabrin bersorak gembira, Sendi datang bersama kakak laki-lakinya. Keadaan tidak enak seperti ini membuatnya salah tingkah sejak tadi.
"Sudah sholat kamu?" Imam bertanya kepada Sabrin yang dijawab anggukan bahagia kepada kakaknya itu.
"Kenapa lagi nih anak satu?" Imam menatap aneh, namun segera paham ketika wajahnya menatap perempuan didepan Sabrin.
Imam tidak akan pernah lupa wajah ini. Dulu perempuan ini salah satu yang berdiri dibelakang orang-orang yang bergunjing sesuatu hal tidak benar tentang Sabrin.
"Kenalkan kakak ipar ana, namanya Imam. Kebetulan istrinya Sendi sahabat Sabrin." Fatah merasa tidak enak karena sejak tadi Imam sengaja berdehem tidak jelas diantara mereka.
"Imam Abdul Hamid, kakaknya Sabrina" tegasnya.
"Azhari, dan ini istri saya. Namanya Ana"
Imam mengangguk masih sopan kepada perempuan itu.
"Saya tidak tahu Sendi menikah sama kakaknya Sabrin" ucap Azhari merasa tidak percaya melihat paket keluarga dihadapannya.
"Perasaan cinta tidak bisa ditebak kepada siapa dia akan hadir dan kapan akan bersemi" jelas Imam masih dengan kedua mata menatap perempuan itu tidak suka.
"Benar, cinta memang tidak ada yang tahu. Seperti saya ini, kenal sudah lama dengan Ana. Satu kampus, satu angkatan. Ternyata bisa satu rumah tangga" kekehnya merasa lucu.
Fatah ikut tersenyum bersama sahabatnya itu. Memang benar cinta tidak ada yang tahu, seperti dirinya dengan Sabrin saat ini. Dia tidak pernah berpikir ternyata Sabrin lah yang akan menemani dirinya sampai maut memisahkan.
Imam tersenyum dengan sinis, kemudian dia menutup kedua matanya sejenak untuk meredakan emosi yang menderanya sejak tadi. Ini tidak boleh dibiarkan. Kesakitan Sabrin kala itu kembali berputar dalam dirinya.
"Hm, memang begitulah cinta. Bagi saya dan istri, mencintai itu jangan seperti tuyul mencari uang."
"Tuyul?" lagi-lagi bahasa aneh Imam yang keluar, cibir Sabrin.
"Iya, kalian semua pasti tahu tuyul kan seperti apa. Dia mencari uang untuk menghidupi tuannya. Berapa pun uang yang dia dapatkan akan diberikan kepada tuanya itu tanpa adanya target dan apresiasi bila tuyul itu berhasil mendapatkan banyak uang"
Mereka semua terdiam seakan menunggu kelanjutan penjelasan dari Imam.
"Maka dari itu saya tidak mau hubungan saya dengan istri seperti tuyul. Apalagi dalam cinta. Cinta yang hanya menerima tanpa adanya target didepan untuk di capai bagai makan nasi tanpa lauk. Karena itu saya dan Sendi menerapkan cara supir angkot"
Azhari menahan tawanya karena merasa tidak enak diberikan tatapan tajam oleh Imam.
"Tolong jangan memandang rendah supir angkot. Dia bekerja halal untuk keluarganya. Dia juga memiliki target seberapa banyak yang harus dia dapat setiap hari untuk dia setorkan sebagai imbalan membayar sewa mobil yang dia pakai perhari, lalu menyisihkan untuk kehidupan keluarganya. Untung-Untung ada sisa uang lebih untuk mencuci mobil angkotnya.
Memang banyak orang memandang rendah beliau, tapi coba kita terapkan perjuangan supir angkot dalam hubungan percintaan. Setiap hari terus menentukan target sejauh apa yang bisa dicapai dalam mencintai pasangan hidup. Dan setiap hari bersyukur juga karena bisa mendapat lebih banyak cinta untuk diberikan kepada anak dan orang tua" tutup Imam.
Fatah mengangguk setuju sembari menepuk bahu Imam. "Sebuah pelajaran buat saya."
"Mas Imam bisa banget sih kasih perandaian" kekeh Sabrin.
"Mas begini karena adik mas yang satu ini sulit paham kalau pakai bahasa tingkat tinggi." Imam merangkul Sabrin yang terus menatap wajahnya.
"Bagi sebagian orang diberitahukan sekali memang bisa langsung bisa dimengerti, namun ada beberapa orang yang harus berkali-kali untuk membuatnya paham. Sama seperti membimbing orang yang dikasihi menjadi lebih baik. Aku belajar itu dari istri ku, Sendi. Seburuk apapun Sabrin adikku sejak dulu, dia tidak pernah meninggalkan Sabrin sendiri. Walau berkali-kali dia menjelaskan baik dan buruk kepada adikku ini, namun tetap saja sulit diterima olehnya. Tapi Sendi tidak pernah mundur untuk berjuang, dia juga tidak pernah merendahkan adikku sedikitpun. Karena baginya yang bisa menilai orang baik dan buruknya cuma Allah. Kita manusia tidak pantas melakukan hal itu. Apalagi menghina orang yang ingin memperbaiki diri" tutupnya.
"Mas. Maaf."
Hati Imam semakin sakit mendengar Sabrin meminta maaf padanya.
Hei disini bukan adiknya lah yang salah. Kenapa berulang kali harus Sabrin yang meminta maaf.
"Saya bangga dengan istri mu" ucap Imam kepada Azhari yang langsung memasang wajah bingung tak mengerti. "Bangga karena perlakuannya kepada adik saya membuat saya selalu ingat kepada Tuhan. Bila Tuhan tidak akan pernah lupa menciptakan Iblis untuk menggoda Iman manusia" tutupnya dengan senyum bahagia.
Karena perempuan berhijab syar'i itu hanya mampu diam sambil menunduk.
Tutuplah kedua mata mu ketika semua orang memandang mu rendah. Karena saat itulah dirimu tahu bila orang-orang itu pada kenyataannya lebih rendah dari mu.
------
continue