Jace Graves Point of View
Aku keluar dari dalam mobil, berlari kecil mengintarinya, dan membuka bagasi belakang. Aku mengambil sepasang classic bellerina flat berbahan kain satin biru keabuan dengan bross ciri khas karya Manolo Blahnik diantara beberapa sepatu yang tersedia sebelum mengenakannya. Aku sengaja mengganti stilleto heels-ku mengingat selama satu hari penuh, aku harus berada di rumah kakek dan nenek untuk melihat secara langsung persiapan acara perayaan dua hari lagi. Tentu aku tidak ingin mengalami cedera kaki.
Saat itu, aku baru menekan tombol pada kunci mobil agar pintu bagasi tertutup secara otomatis. Aku dikejutkan oleh seorang pria tengah bersandar pada bagian pintu belakang mobil membuatku mengambil satu langkah mundur sebelum berseru, "Oh Tuhan!"
Pria itu terkekeh pelan dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Mungkin maksudmu, Oh Alex!"
Aku mendengus kesal dan memutar mata sambil lalu membuat pria itu segera mengikutiku. Aku tidak akan bertannya apa yang pria itu lakukan di sini atau mengusirnya pergi seperti sebelumnya. Akan membuatku terlihat bodoh jika aku melakukannya mengingat keberadaan pria itu memang sedang dibutuhkan. "Just stay away from me. Aku tidak ingin kau berada di sekitarku."
"Bukankah kau menantikan permainan yang sudah ku susun sedemikian rupa dengan adikmu?" tanya pria itu dengan nada jahil.
Aku berhenti melangkah tepat saat kami berdua sudah di teras depan mansion. Aku mendengus geli dan menggelengkan kepala samar sebelum memutar tubuh menghadap pria itu "Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan ikut dalam permainan itu?"
Pria itu menyeringai seperti biasa. Ia mengambil satu langkah ke depan tanpa melepaskan tatapannya dari mataku. "Tanpa kau sadari. Kau sudah ikut permainan ini, Jace. Hanya menunggu waktu sampai kau benar-benar menyadarinya."
"Baiklah. Kalau begitu, permainan apa untuk hari ini?" tanyaku dengan nada menantang.
Pria itu melirik ke arah belakang tubuhku. Ia tersenyum lebar. "Watch me..." bisiknya sambil lalu melewatiku.
Aku mengerjap beberapa kali berusaha memahami apa maksud perkataan pria itu. Aku dengan cepat membalikkan tubuh dan mendapati pria itu tengah melangkah lebar menghampiri seorang pria tua sedang melangkah keluar dari dalam mansion bersama Jean yang menuntunnya. "Kakek Stevano! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu secara langsung. Aku banyak mendengar tentangmu dari Jace."
"Maafkan aku yang tidak sopan ini. Apakah aku mengenalmu?" tanya kakekku sambil menatap pria itu dengan pandangan bingung
Dengan cepat aku melangkah, bahkan mulai berlari kecil mendekati mereka. Aku memberikan seulas senyum terpkasa kepada kakekku itu. "Maafkan aku juga. Ada sesuatu yang kami berdua harus bicarakan. Ini penting." sergahku sambil menarik pria itu.
Namun pria itu menahan dan menarik tanganku hingga masuk ke dalam dekapannya. Aku mendongak menatap pria itu, memberikan tatapan membunuh. Terutama saat pria itu mengatakan, "Sebaiknya kau membicarakannya di depan kakekmu dan Jean. Aku yakin mereka akan senang mendengarnya."
"Membicarakan apa?" tanya Jean. Gadis itu menatap kami berdua secara bergantian.
"Kami berdua akan bertunangan dalam waktu dekat."
"Apa?!" seruku dan Jean secara bersamaan karena kami berdua tidak menduga akan mendengar jawaban seperti itu. Sementara, kakekku yang memang selalu membicarakan masalah jodoh untukku, seketika tersenyum lebar.
...
Alexander Harper sudah gila.
Bagaimana mungkin pria itu mengatakan di hadapan kakekku kalau kami berdua akan bertunangan dalam waktu dekat? Bahkan saat kata 'bertunangan' melintas dalam benakku hampir membuatku merasa mual. "Kau! Ka-" aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Aku mengusap wajahku frustasi. "Kau harus menarik ucapanmu tadi."
"Aku tidak mau menarik ucapanku." kata pria itu dengan nada santai. "Setidaknya sampai kau mau memberiku sebuah kesempatan untukku mengenalmu."
"Kau sudah tahu namaku, nomorku, alamatku. Bahkan kau hampir mengenal seluruh orang di keluargaku. Apakah masih belum cukup?!"
"Ya. Itu semua belum cukup." jawab pria itu singkat.
Aku memejamkan mata selama beberapa detik sebelum menarik napas sedalam mungkin. Aku harus menahan emosiku atau semua akan berdampak buruk. Entah itu untuk diriku sendiri atau ruang musik dimana kami berdua berada saat ini.
"Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Aku ingin tahu apa makanan yang kau sukai-"
"French toast." sergahku sebelum pria itu sempat melanjutkan kalimatnya. "Apalagi yang ingin kau ketahui?" Aku rasa ini merupakan salah satu cara yang mungkin bisa membuat pria itu berhenti mengganggu kehidupanku. "Aku akan menjawab semuanya."
Pria itu mengintari grand piano tua milik ayahku sambil berdehem pelan. Ia mengalihkan pandangan kembali ke padaku saat aku duduk di sebuah sofa terdekat. "Warna yang kau sukai?"
"Hitam."
"Tempat liburan yang kau sukai?"
"Paris."
"Bagaimana dengan pria yang kau sukai?"
Aku terdiam selama beberapa detik untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. Terdengar sangat menjebak hingga membuatku semakin ragu. Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, maka jelas pria itu akan menggunakan jawabanku sebagai senjata. Aku tentu tidak ingin mengalami senjata makan tuan. Aku menelengkan kepala. "Aku sudah pernah mengatakannya. Aku menyuka-"
"Ryan Wyatt?" tanya pria itu sambil mengangkat sudut bibir. "Kita berdua tahu kalau itu semua hanyalah sebuah kebohongan yang kau buat agar aku menjauh darimu." tambahnya menjawab sendiri pertanyaannya.
"Baiklah. Aku ketahuan." kataku. Aku melipat tangan di depan d**a dan memicingkan mata sebelum menambahkan. "Apa yang kau inginkan?" Tidak ada pilihan lain selain mencoba bernegosiasi. Hal semacam ini selalu berhasil untukku dalam memenangkan sesuatu dalam berbisnis. Jadi, aku akan menganggap semua ini semacam pertemuan bisnis.
"Sedari awal hingga detik ini. Keinginanku masih tetap sama." jawab pria itu dengan nada mantap. Ia berpindah ke seberang meja di hadapanku dan duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan bentuk tidak beraturan alami dari kayu jati dan berkaki rendah. "Aku ingin mengenalmu lebih jauh."
"Akan kuberi kau kesempatan untuk mengenalku lebih jauh." mendengar itu membuat pria itu mengulas sebuah senyum simpul di bibirnya. Aku menggelengkan kepala kecil. "Jangan senang terlebih dahulu. Aku masih belum selesai."
...
Alexander Harper Point of View
"Aku akan mendengarkan semua syarat darimu." jawabku setelah berhasil memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Jace.
"Pertama." Jace mengangkat jari telunjuknya. "Kau harus mengatakan pada kakek dan nenekku kalau kita tidak akan bertunangan dalam waktu dekat sebelum mereka berdua memberi tahu orang tuaku."
"Itu mudah." balasku dengan cepat. Aku hanya perlu mengatakan kami berdua akan menunda pertunangan itu. Bukan membatalkannya. Aku tahu itu terdengar sama sekali tidak sesuai seperti yang diinginkan Jace. Namun aku masih punya kepercayaan diri setinggi langit kalau aku akan berhasil mendapatkan wanita itu.
"Kedua. Kau harus berhenti berusaha untuk mengenalku. Biarkan semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Jadi, tidak boleh ada rencana seperti kau berusaha membuat pertemuan kita menjadi sebuah kebetulan dan semacamnya."
Aku menahan senyum di bibirku saat mendengar syarat kedua itu membuat Jace melirikku sinis.
"Perasaan tidak ada yang lucu disini."
"Ada." kataku mengkoreksi. "Kau selama ini menganggap semua pertemuan kita adalah sebuah rencanaku?" tambahku bertanya.
Jace tidak menjawab. Ia hanya mengangkat sebelah bahu sebagai tanda bahwa ia memang benar-benar menganggap semua pertemuan kami berdua ittu merupakan sebuah rencanaku.
"Baiklah. Biar kuluruskan. Aku memang menyukaimu, Jace. Kau wanita yang sangat menarik di mataku."
Jace mendengus geli. Ia menggelengkan kepala tidak percaya. "Belum sampai satu menit aku baru mengatakan, berhentilah berusaha dengan keras untuk mendekatiku."
Aku mengangkat kedua tanganku di depan d**a. "Aku sedang tidak berusaha mendekatimu. Aku mengatakan semua itu dengan jujur. Aku memang menyukaimu. Tapi selama ini, pertemuan kita bukanlah sebuah rencana yang telah kubuat. Di toko buku, di kantormu, di Per Se."
"Bagaimana dengan di mansion? Kau datang pagi itu."
Aku meringis. Aku lupa dengan yang satu itu. "Mungkin, untuk yang satu itu memang sudah kurencanakan bersama adikmu."
Jace menyandarkan tubuh pada sandaran sofa tanpa melepaskan lipatan tangan di depan d**a. Ia tersenyum puas mendengar jawabanku, "Kalau begitu, kita lanjutkan persyaratan ketiga."
Aku mendesah pelan. "Masih ada lagi?" tanyaku dengan nada tidak percaya.
Jace tampak tidak menggubrisku. Ia mencondongkan tubuh kedepan. Kedua sikunya bertumpu pada lutut sementara telapak tangannya saling terkait. "Kau boleh menyukaiku. Tapi kau tidak boleh jatuh cinta padaku."
...
"Dia mengatakan apa?!"
"Kau boleh menyukaiku. Tapi kau tidak boleh jatuh cinta padaku."
Jean mengerjap beberapa kali. Ia tampak masih berusaha mencerna perkataanku meski sudah kusebutkan dengan jelas sebanyak dua kali. "Lalu kau menjawab apa?"
"Aku akan berusaha mengikuti semua persyaratan yang dimintanya. Hanya saja aku tidak berjanji akan memenuhi semuanya." jawabku dengan santai.
"Kita tidak akan pernah tahu perasaan seseorang." balas Jean sambil menghela napas lega. "Jadi, itu adalah jawaban yang sangat pintar." tambahnya.
Aku mendengus geli sebelum mengedarkan pandangan ke seluruh rumah taman di bawah mulai dipenuhi dekorasi, memperhatikan orang berlalu lalang untuk mempersiapkan panggung dan berdehem pelan karena kami berdua saat ini berada di balkon kamar Jean. "Hhmmm yeah. Kita tidak akan pernah tahu perasaan seseorang."
"Mengapa kau terdengar ragu?" tanya Jean. Ia menyenggol lenganku dengan lengannya membuatku menoleh menatap gadis itu.
"Bukan ragu, hanya saja..." aku sengaja menggantung kalimatku. Aku membalikkan tubuh menghadap pada Jean. "Entah ini hanya sebatas perasaanku atau Jace sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu."
"Menyembunyikan sesuatu seperti?"
"Aku tidak tahu. Apakah kau tidak merasa aneh dengan kakakmu?" aku balik bertanya.
"Sedikit. Aku merasa Jace sedikit berbeda." jawab Jean setelah berpikir beberapa saat. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk pada tepian ranjang "Dia seperti menghindari kami semua. Menghindariku, menghindari orang tua kami. Terutama saat aku bertanya mengapa ia tidak pulang selama dua bulan belakangan."
Aku terdiam selama beberapa detik. Dalam hati aku membenarkan perkataan Jean mengenai Jace yang tampak berusaha menghindar. Bahkan tanpa di sadari, Jace berusaha menolak keberadaanku seolah mengenalnya adalah sebuah kesalahan. Tentu tidak mungkin hanya sebatas membencikubukan? Pasti ada sesuatu yang lain.
...