Sebelum semua ini menjadi rumit, izinkan aku memperkenalkan kami. Namaku Diana, dan aku adalah seorang istri sekaligus ibu dari satu orang anak yang kini telah menginjak usia lima tahun. Di usiaku yang ke-30 tahun ini, boleh dibilang hidupku hampir sempurna. Aku bekerja sebagai editor lepas untuk beberapa penerbit buku, sebuah pekerjaan yang memungkinkanku mengerjakan semuanya dari rumah sambil tetap bisa mengawasi tumbuh kembang putri kami, Kayla.
Suamiku, Rendy, berusia setahun lebih tua dariku. Dia adalah seorang arsitek yang cukup dihormati di firmanya. Dengan tinggi badan sekitar 175 cm dan tubuh yang tetap terjaga karena sempat aktif bermain futsal walaupun tidak terlalu berotot. Rendy adalah pria yang tampan dan percaya diri di mataku. Dia adalah partner hidup yang selama ini selalu aku andalkan.
Kami memulai hubungan kami sepuluh tahun yang lalu, diawali dengan pertemanan yang lambat laun berubah menjadi cinta. Pernikahan kami lima tahun setelahnya terasa seperti langkah yang paling natural di dunia. Awal kehidupan pernikahan kami dipenuhi dengan tawa, petualangan, dan hasrat yang membara. Rendy adalah suami yang penuh perhatian dan romantis. Dia tidak pernah lupa untuk membawakan bunga atau mencatat hari-hari penting dalam hidup kami. Dalam hal bercinta, kami sangat kompak. Gairah kami seimbang, dan kami selalu terbuka untuk mencoba hal-hal baru yang bisa meningkatkan keintiman, tentu saja hal-hal yang wajar dan dilakukan berdua.
Kehadiran Kayla tentu saja mengubah dinamika kami, seperti halnya pada semua pasangan. Fokus kami sedikit banyak teralihkan, energi terkuras oleh tangisan di malam hari dan jadwal yang sibuk. Tapi kami melalui itu semua dengan komitmen yang sama. Kami adalah tim.
Namun, belakangan ini, mungkin dalam setahun terakhir, aku mulai merasakan suatu pergeseran. Bukan pergeseran besar yang dramatis, melainkan hal-hal kecil yang hampir tak terlihat. Kegiatan rutin kami terasa... datar. Rendy lebih sering diam, pikirannya sering melayang entah ke mana bahkan ketika kami sedang menonton film bersama. Gairah seksualnya, yang dulu begitu membara, mulai terasa menurun. Aku mengira itu semua adalah efek samping dari kesibukan kerja dan tekanan sebagai kepala keluarga. Dia terlihat lelah, dan aku berusaha memahami.
Aku mencoba berbagai cara. Memasak makanan favoritnya, mengajaknya berlibur akhir pekan, atau sekedar memakai baju tidur yang aku tahu disukainya. Hasilnya selalu sama: sebuah senyuman lemah, ucapan terima kasih, atau pelukan hangat yang cepat berakhir. Dia seolah tenggelam dalam dunianya sendiri.
Hingga pada suatu malam, setelah Kayla tertidur pulas, kami berbaring di tempat tidur. Suasana hening, hanya diterangi oleh lampu tidur temaram. Rendy membalikkan badannya menghadapku, matanya menatapku dengan intens yang membuatku sedikit nervous.
“Dee,” katanya, suaranya rendah dan serius. “Aku harus bicara sesuatu padamu. Sesuatu yang sudah lama aku pendam.”
Jantungku berdebar kencang. Pikiran terburuk langsung melintas: apakah dia sakit? Ada masalah keuangan? Atau... apakah ada wanita lain?
“Apa itu, Ren? Kamu membuatku khawatir,” jawabku, berusaha menenangkan diri.
Dia menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian. “Ini bukan hal yang mudah untuk diucapkan. Aku takut kau akan menjudgeku, atau mengira aku sudah gila.”
“Katakan saja. Kita suami istri, tidak ada yang tidak bisa kita bicarakan,” bujukku, meski rasa cemasku semakin menjadi.
Dia diam sebentar, lalu akhirnya membuka mulutnya. “Aku... aku punya sebuah keinginan, Dee. Sebuah fantasi. Dan ini... aneh. Sangat aneh. Aku sendiri bingung darimana ini datang.”
Itulah momen pertama kalinya dia menyebut-nyebut tentang "fantasi" anehnya. Saat itu, aku belum tahu bahwa satu pembicaraan itu akan mengubah seluruh dinamika hubungan dan pengertianku tentang cinta, kesetiaan, dan batasan-batasannya.