Maukah Kau Melakukannya untukku?
Suamiku memecah keheningan malam dengan sebuah pertanyaan yang menggugah. "Percayakah kau bahwa dalam kehidupan seseorang, disadari atau tidak, dia pasti pernah mempunyai suatu fantasi mengenai kehidupan seksualnya?" ujarnya saat kami sedang berpelukan di tempat tidur.
Aku, yang sedang larut dalam kehangatan, langsung tercenung. "Aku tidak mengerti maksudmu?" jawabku penuh tanda tanya.
Dia pun menerangkan dengan sabar. Begini, baik itu pria atau wanita, yang sudah menikah atau belum, pada suatu titik pasti pernah memiliki bayangan atau imajinasi tertentu tentang keinginan seksual yang mereka idamkan. Setelah kucerna, akhirnya kukatakan, "Ooo.. maksudmu suatu khayalan mengenai keinginan seksual?" "Ya, tepat sekali!" sahutnya. "Mungkin saja ada," kataku ragu, masih tak begitu yakin.
Tak lama, dia balik bertanya, penuh rasa ingin tahu, "Kalau begitu, apabila boleh aku tahu, apa yang menjadi fantasimu?"
Dengan cepat kusanggah, "Ah, aku tidak pernah merasa mempunyai fantasi mengenai itu!"
"Nah, itulah masalahnya," ujarnya, seolah sudah menunggu jawabanku. "Kau bukan tidak mempunyai fantasi, tetapi tidak menyadarinya. Seperti yang kukatakan, fantasi itu ada pada semua orang. Perbedaannya hanya terletak pada apakah seseorang itu menyadarinya atau tidak."
Aku bersikeras, "Tetapi aku memang tidak pernah memikirkannya, apalagi mengkhayalkannya!"
Dia lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berwibawa, menjelaskan bahwa setiap orang bisa berfantasi. Bentuk dan cara mewujudkannya sangatlah personal, tergantung pada kepribadian, status sosial, latar belakang pendidikan, pengalaman, dan lingkungannya. Sebagai contoh paling umum, setiap orang punya idola atau tipe ideal lawan jenis.
"Ah, itu kan biasa, masa remaja saja," sanggahku.
"Itu tidak terbatas pada remaja," tukasnya. Fantasi itu bisa terbawa hingga pernikahan. Misalnya, membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan bintang film pujaan, atau hal-hal sederhana seperti pria yang tergoda pada wanita berambut panjang, atau wanita yang suka jika suaminya memakai kumis.
"Aku jadi tambah bingung. Itu kan wajar-wajar saja?" kataku.
"Memang betul! Itu sangat wajar!" tegasnya. Dia lalu mengutip pendapat Dr. Andrew Stanway, seorang pakar seksualogi, dalam bukunya *The Joy of s****l Fantasy*, yang menyatakan bahwa fantasi seksual adalah hal yang normal dan sehat. Fantasi, menurutnya, adalah mekanisme kompleks yang menjembatani alam sadar dan bawah sadar, berfungsi untuk menyalurkan hasrat yang terpendam ke dalam bentuk yang bisa diterima. Fantasi juga bisa menjadi pemicu gairah seksual yang powerful, memuat informasi tersembunyi tentang kegairahan seseorang. Karena itu, penting untuk menyadari dan memahaminya agar bisa disalurkan dengan tepat, bukan justru berujung pada perilaku yang menyimpang.
"Wah, tiba-tiba jadi ahli psikologi! Kapan belajarnya?" godaku, mencoba meredakan ketegangan.
"Itu tidak penting. Yang penting, maukah kau sekarang mencoba mengingat dan mengungkapkan fantasimu?" desaknya. Aku pun membalikkan keadaan, "Kau saja dulu. Kau kan yang punya fantasi. Ayo, cerita, dengan siapa kau ingin bercinta?"
Dia terdiam sejenak, lalu berkata dengan hati-hati, "Fantasi ku... ini agak ganjil dan luar biasa." Rasa penasaranku langsung terbangun. "Ayo katakan, apa itu?"
"Yah, ini sulit dipahami, tapi... ini berkisar tentang keinginanku untuk menyaksikan *kamu*, istriku, melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain."
Aku terhenyak. "Apa?! Aku harus melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?!"
"Ya, kira-kira begitu," katanya tenang, sementara dunia ku seakan berhenti berputar. Dia membeberkan detailnya: apakah hanya berdua dengan pria itu sementara dia menonton, atau bertiga bersama-sama, atau dia yang bercinta denganku sambil ditonton pria lain. "Siapa prianya?" tanyaku setengah tak percaya. "Siapa saja, asal sehat dan kau senang menerimanya."
"Ah, itu fantasi gila namanya!" seruku.
Dia pun membela diri, mengingatkanku bahwa aku berjanji tidak akan marah. "Bagaimana tidak marah? Ini tidak mungkin! Bayangkan apa kata orang!"
Dia lalu meluncurkan argumentasi layaknya seorang pengacara. Dia membedah definisi "penyelewengan" sebagai pengkhianatan yang dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan pasangan. Karena dalam fantasinya ini, *dia sendiri yang mengizinkan* dan bahkan *menginginkannya*, maka unsur pengkhianatan itu hilang. Ini bukanlah perselingkuhan, melainkan sebuah konsensus.
Aku membantahnya dengan menyodorkan konsekuensi nyata. Bagaimana jika perkawinan kami rusak di kemudian hari? Dia bisa dengan mudah menyalahkanku dan menuduhku berselingkuh, dan tak ada seorang pun yang akan percaya bahwa ini semua adalah idenya. Atau, bagaimana jika pria itu menyebarkan ceritanya? Reputasiku sebagai seorang istri akan hancur berantakan.
Dia bersumpah bahwa niatnya sama sekali bukan untuk memojokkanku. Tujuannya justru sebaliknya: untuk menyuntikkan gairah baru dalam pernikahan kami, agar kami bisa lebih langgeng dan puas. Aku adalah segalanya baginya: ibu anak-anaknya, teman berdiskusi, dan partner seksual. Mengenai risiko pria lain itu bocor, dia yakin akan mudah dilawan karena ceritanya terdengar begitu tidak masuk akal sehingga akan dianggap sebagai fitnah.
Lalu, dia menjelaskan asal-usul fantasi anehnya ini. Dia merasakan rangsangan birahi yang hebat justru ketika melihat ada pria lain melirikku, seperti saat kami di pantai dan aku memakai baju renang. Rasa cemburu awal itu berubah menjadi sebuah imajinasi yang membangkitkan gairah. Bahkan, melihatku berjalan telanjang di kamar sendiri memicu pikirannya: bagaimana jika pria lain melihat ini? Akankah mereka terangsang? Bagaimana rasanya tubuhku dinikmati oleh mereka?
Dia kemudian menggambarkan fantasinya dengan sangat detail dan vulgar: membayangkanku, dalam keadaan bugil, bergumul dengan pria lain yang juga telanjang. Dia bahkan membayangkan alat kelamin pria itu lebih besar darinya, dan aku bergeliat penuh kenikmatan, merespons setiap ayunan, hingga mencapai puncak o*****e bersama. Baginya, bayangan itu justru memberi kenikmatan seksual yang luar biasa.
"Ah, sangat mengerikan sekali fantasimu," bisikku gemetar.
"Tapi ini kan baru fantasi. Kalau jadi kenyataan, mungkin malah mengasyikkan!" jawabnya sambil tertawa ringan.
Aku memukul punggungnya. "Tidak lucu! Kau bilang mau cari istri yang hiperseks dan senang 'main' saja!" kataku kesal dan tersinggung.
Dia membetulkan, itu semua adalah bagian dari imajinasinya. Yang dia inginkan adalah aku menjadi partner yang berpandangan lebih bebas, yang tidak memandang seks dengan orang lain sebagai sebuah pengkhianatan tabu, melainkan sebagai sesuatu yang wajar dan bisa dinikmati bersama atas dasar kesepakatan.
Aku semakin mendongkol dan menyuruhnya mencari saja wanita lain jika itu yang diinginkan. Dengan lembut dia menangkis, "Bukan itu maksudku. Aku tidak mau cari istri lain. Aku ingin *kamulah* yang menjadi istri idamanku itu."
Setelah berde panjang, aku akhirnya bertanya, "Benar-benar kamu tidak akan menyesal?"
"Tidak. Malah sebaliknya. Ini akan menambah semangat dan gairahku padamu," janjinya. Dia kemudian mengaku bahwa fantasi ini justru telah menjadi beban psikologis yang berat baginya. Akhir-akhir ini, dia sering gelisah, lelah secara mental dan fisik, dan gairah seksnya menurun drastis. Dia sering mengalami ejakulasi dini, bahkan sebelum penetrasi sempurna. Berbagai vitamin dan obat tidak ada yang mempan.
Pengakuannya itu menyadarkanku. Aku sendiri sebenarnya juga sering merasa kurang puas. Terkadang, gejolak birahiku muncul di pagi hari setelah malam yang mengecewakan. Diam-diam, aku bahkan sudah menggunakan vibrator yang dibelikannya untuk menyalurkan hasratku sendiri.
Kini aku paham. Fantasi ini bukan sekadar khayalan biasa bagi suamiku, tapi sebuah obsesi yang membebani dan mengancam kesehatan seksual kami. Penolakanku hanya membuatnya stres dan semakin tidak b*******h. Aku mulai khawatir dia akan mengalami impotensi permanen. Di tengah konflik dan ketakutan akan konsekuensinya, akhirnya aku mengalah. Dengan hati berat, aku berjanji akan membantunya mewujudkan fantasi itu—hanya untuk sekali ini saja—demi menyelamatkan pernikahan kami dan membebaskannya dari beban yang selama ini menghantuinya.