Empat Puluh Dua

227 Words

Alesha sudah biasa mendengar hinaan yang seperti ini, hatinya sakit, tapi ia juga tidak bisa protes karena apa yang Lita katakan memang fakta. Sementara Darel merangkulnya dengan erat. "Ma, hargai keputusan aku, aku cinta sama dia, Ma, aku enggak pernah pandang harta, status sosial atau apa pun itu, jadi please, restui kami. Papa juga pasti setuju." Lita tetap menggeleng. "Jangan sombong kamu, Darel, walaupun kamu sudah bisa hidup mandiri tapi restu kami lebih penting, kamu bisa seperti ini karen orangtua, jangan lupa akan hal itu." Darel datang ke Bandung karena ia menghormati orangtuanya, ingin meminta restu secara langsung kalau cuma mau menikah tanpa mints restu, ia bisa saja menikah secara diam-diam, tetapi ini tidak. "Ya ini, Ma, aku ke sini karena ingin meminta restu, Mama, kala

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD