Riri menganga. "Astaga... kalian ini apaapaan, sih? Hubungan itu kayak permainan. Kalau udah enggak suka, diakhiri gitu aja... tapi kalau mau lagi tinggal mainin lagi." "Ri... bukan gitu. Ini hanya tentang perasaan. Kemarin.. waktu itu, kan, aku belum ingat semuanya," bantah Damar. "Meskipun belum ingat semuanya.. enggak seharusnya kamu memperlakukan aku seperti sampah, Mar. Bahkan aku sampai bersimpuh di kaki kamu demi... kamu kembali sama aku." Air mata Riri pun lolos begitu saja. "Ri..., maafin aku," ucap Damar. Riri menggeleng cepat. Ekspresi kesal bercampur marah kini terlihat jelas di wajahnya. "Terus... apa alasan kamu minta kita kembali lagi?" "Karena... aku sayang kamu, Ri. Aku mau menikah sama kamu." Ucapan tulus itu jelas terlihat dari mata Damar. Ia mengucapkan itu da

