James dan Jason ke kantor bersama. Kali ini Jason melakukan kunjungan yang tidak diketahui oleh seluruh karyawan. Posisi Jason sendiri adalah sebagai CEO.
"Kantornya terasa nggak bewarna, sama kayak direkturnya," ucap Jason tanpa memedulikan tatapan tajam dari James.
"Yang penting semua lancar. Masalah bewarna atau enggaknya... nanti bisa diwarnai," jawab James kesal.
Jason tertawa melihat tingkah lucu James kala sedang tidak mood. Mereka berdua terus berjalan menuju ruang rapat. Sementara itu beberapa karyawan yang mengetahui kedatangan mereka langsung sibuk berbenah.
"Mati!" Bayu menepuk jidatnya sambil berlari menghampiri meja Reza.
"Apaan, sih?" tanya Reza.
"Pak JJ," kata Bayu melewati meja Reza, kemudian merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja.
"Pak JJ?" Reza berpikir keras.
"Jason dan James!" Teriak Bayu sambil melotot.
Reza melompat dari kursinya kemudian sibuk seperti Bayu.
"Panggil semua manager!" perintah Jason.
Orang kepercayaan keluarga Morinho mengangguk, tak lama kemudian ia datang bersama beberapa orang.
"Silahkan duduk!" kata Jason.
Mereka duduk dengan tegang. Jason dan James memandang mereka satu persatu.
"Dimana Pak Damar?" tanya James membuat Bayu dan Reza bertukar pandang.
"Terakhir, saya mendengar berita orangtuanya sakit, Pak." Bayu menjawab.
"Sudah sembuh. Saya sudah ke sana," balas James.
"Maaf,Pak... saya kurang tau Pak Damar ada dimana," jawab Bayu lagi.
James mengangguk mengerti, sepertinya menghilangnya Riri bersamaan dengan tidak masuknya Damar."Mungkin saja mereka masih ada acara," pikir James.
"Ada surat izin cutinya? Bisa saya lihat?" tanya Jason.
Reza menggeleng."Tidak ada,Pak. Hanya ada keterangan by phone."
Jason menggelengkan kepalanya."Ya sudah... saya mau setengah jam lagi kalian kasih laporan ke saya. Setengah jam itu... untuk kalian ngumpulin file-file nya. Saya tunggu!"
Mereka semua mengangguk lalu permsi untuk menyiapkan permintaan Jason.
"Damara Santono,Aku kasih peringatan ke dia,Kak,Kakak tidak tegas!" Omel Jason.
"Dia... pacarnya Riri, Jas," kata James.
"What?! Ck... lemah! Jadi karena dia pacarnya Riri, Kakak enggak bisa bertindak tegas?" Jason melotot.
James mengangkat kedua bahunya. Mungkin memang benar, cinta telah melemahkannya.
"Bisa hancur kalau kakak gini terus. Ya sudah...lebih baik kakak enggak usah ngantor dulu. Biar aku yang urus," kata Jason.
James melirik Jason sekilas, memikirkan ucapan Jason yang mungkin ada benarnya juga."Terus... aku ngapain?"
"Gantiin aku di London! Sampai kakak waras!"
James mengangguk."Izin Mama sama Papa dulu."
"Deal," kata Jason puas.
Seharian seisi kantor dibuat kalang kabut oleh Jason. Sementara James hanya bersantai menerima hasil sidak dari Jason. Jam istirahat terlewat begitu saja,bahkan James terpaksa memesan makanan dari luar karena Jason belum ingin menghentikan sidaknya.
"James!" Suara centil itu datang.
"Eve?" James terperangah.
"Iya... kenapa, sih, kayak kaget gitu?Aku cantik, kan?" Eve berputar.
"Enggak ... silahkan duduk, Eve." James mempersilahkan.
"Halo, Evan!!" teriak Jason yang baru keluar dari toilet.
"Jason!!" Eve memekik histeris lalu memeluk Jason.
"Dih, enggak usah pake nafsu gitu meluknya. Aku masih suka cewek." Jason menyudahi pelukan mereka.
"Ih... kapan dateng. By the way, makin cakep aja... kalah tuh James," celetuk Eve.
"Di lihat dari sisi mana pun, aku tetap lebih tampan dari Kak James." Jason tertawa.
Eve menatap keduanya bergantian."Tapi, tetap ya... James lebih terlihat 'hot' makanya bisa menaklukan Riri."
"Dia memang penakluk wanita ... sedangkan aku pemikat wanita," balas Jason tak mau kalah.
"Riri sudah pulang?" tanya James.
"Belum. Nah... aku ke sini itu mau nanya, kemarin ketemu enggak sama Riri? Kok enggak ada ngabarin aku, sih, gimana pencarian kamu kemarin."
James menggeleng."Enggak! Lagian enggak usah khawatir, Lah. Riri lagi sama calon suaminya, kok."
"Duh.. duh... duh..., Pasti Terluka banget ngomong gitu." Jason menatap kakaknya yang tengah terluka. Itu bisa dilihat dari matanya.
"Hmmm... kamu, James, pasrah banget, sih. Diungkapin, dong! Riri itu kan enggak tau kalau kamu itu sayang sama dia," kata Eve gemas.
"Aku sudah pernah bilang,Eve," jawab James.
"Halah! palingan kamu bilangnya sambil nidurin dia," celoteh Eve santai.
"Hmm... memangnya salah?" Tanya James.
"Kok lu tau,Van?" tanya Jason.
"Heh! Jangan berani-beranian manggil eke Evan! Evelyn," semprot Eve pada Jason.
"Memang namamu Evan! Enggak usah sok cantik!" Balas Jason.
Terjadi pertengkaran mulut antara Jason dan Eve yang membuat James kesal.
"Kalau kalian masih bertengkar, aku kawinkan kalian!"
Jason langsung berlari menjauhi Evelyn.
"Amit-amit, deh."
Eve merengut."Jadi, Riri belum mau pulang kelihatannya."
"Kamu, kan, tau sendiri gimana wataknya. Dia bakalan pulang, kalau memang dia yang menginginkannya," kata James.
"Sabar, Kak." Jason menepuk pundak James."Ya sudah, Kak. Ikuti saja saranku. Selama aku memimpin di sini, kakak gantiin aku di London. Cuma satu minggu kok!"
James terdiam.
Damar terburu-buru pergi ke kantor pagi ini, sampai-sampai ia tak sempat membangunkan Riri. Ia hanya membuat pesan di secarik kertas. Kabar dari Reza sungguh membuatnya panik.
"Mar, kemana aja sih?" Tanya Reza begitu Damar sampai.
"Pagj-pagi begini sudah ramai? Ada apa sih?" Tanya Damar heran.
"CEO perusahaan kita ini datang dan memeriksa kinerja kita selama ini. Mending lu selesaikan semua kerjaan, sebelum dia datang." Bayu mendorong Damar.
Damar kebingungan, banyak sekali pekerjaan yang belum ia selesaikan sampai-sampai harus mengumpulkan semua supervisornya. Menit hingga menit berlalu begitu cepat, Damar tak menyadari bahwa dua jam sudah, ia sibuk menyiapkan segalanya.
"Bapak Damara Santono!" Suara dingin itu tiba-tiba hadir di sebelah Damar.
Damar langsung berdiri."Selamat Pagi, Pak Jason."
Jason mengangguk."Selamat pagi. Saya tunggu laporannya di ruang meeting setengah jam lagi."
"Iya, Pak." Damar mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya setelah Jason pergi memeriksa karyawan yang lainnya. Damar kalang kabut, banyak laporan yang harus ia bereskan.
**
Riri mondar-mandir di apartemen Damar. Sudah hampir jam enam tetapi Damar belum sampai juga. Riri ingin menghubungi Damar tapi ia takut mengganggu perjalanan Damar. Riri melirik ponselnya, ingin rasanya ia mengaktifkan nomor pribadi dan data internetnya, tapi akhirnya niat itu diurungkan. Karena menunggu terlalu lama, Riri tertidur.
Riri merasa tubuhnya melayang. Ternyata Damar yang membopongnya sampai ke kamar.
"Damar, kamu baru pulang?"
Damar mengangguk."Iya, sayangku ... sekitar setengah jam yang lalu. Maaf, banyak kerjaan di kantor."
Riri mengangguk."Kamu sudah makan?"
"Sudah di kantor. Ayo kita tidur, ini udah malam banget sayang." Damar masuk ke dalam selimut, lalu tidur sambil memeluk Riri.
Riri mengusap kepala Damar dan mengecupnya sesekali.
"Ri..., ayo segera menikah."
Riri mengangguk."Iya, sayang. Kita akan atur itu setelah kerjaan kamu sudah ringan."
"Iya, beberapa hari ini mungkin aku agak sibuk,sayang. Karena cuti beberapa hari kemarin, kerjaan numpuk," kata Damar yang semakin mempererat pelukannya.
"Ya sudah..., tidur ya. Besok kamu harus kerja."
Damar tak menjawab, matanya terpejam. Kini napasnya mengenai leher Riri. Berembus dengan teratur. Riri ikut memejamkan matanya. Kebahagiaan sudah mulai terlihat, ia tak perlu khawatir sebab kini Damar telah bersamanya.