Pagi-pagi sekali Riri sudah bangun. Dilihatnya Damar yang masih terlelap. Riri bergegas mandi. Setelah itu, ia menyiapkan pakaian kerja Damar dan membuat sarapan.
"Sayang, bangun!" Riri membangunkan Damar.
Damar menggeliat, ia membuka matanya."Hei..., kamu udah bangun."
Riri mengangguk."Iya, sudah jam enam. Kamu mau kerja, kan?"
Damar mengangguk, kemudian bangkit dan bergegas mandi. Tak banyak yang ia lakukan, karena ia harus cepat sampai ke kantor sebelum Jason menagih banyak hal.
Kepergian Damar kembali membuat Riri kesepian, diliriknya ponselnya. Riri mengaktifkan kembali nomor pribadi dan data internetnya. Setelah aktif beberapa saat, suara notifikasi masuk sampai ratusan kali. Riri mendesah panjang, sepertinya ia harus kerja keras untuk membukanya satu persatu. Setelah menunggu beberapa saat dan yakin ponselnya tak akan berbunyi lagi, Riri kulai membaca chat yang masuk.
Chat yang sudah berhari-hari itu adalah chat yang kebanyakan berasal dari Evelyn. Riri membaca chat Evelyn perlahan. Mulai dari evelyn yang menanyakan keberadaan, kabar, kerinduan, kesepian, temennya yang nginap di apartemen, masalah butik, dan masalah James yang mencarinya. Riri kebingungan saat ia tak mendapatkan pesan atau chat dari James. Bukankah Eve bilang, James sibuk mencarinya.
Riri membalas chat dari Eve, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan akan segera pulang dalam waktu dekat. Setelah itu membalas chat lain yang kebanyakan dari Ibu-Ibu pelanggan butiknya. Semua rampung dan Riri memutuskan untuk mandi, ia akan menemui James.
Seperti biasa, Riri langsung menuju ruangan James. Tapi, ada yang berbeda, tidak ada sekretaris yang biasa membuatnya sulit untuk masuk. Kalu ini meja itu kosong. Riri menggelengkan kepalanya, membuka pintu ruangan.
Langkah Riri terhenti kala mencium aroma parfum yang berbeda. Diperhatikannya baik-baik wajah yang tersembunyi di balik layar laptop.
"James?"
Jason memiringkan kepalanya, melihat sumber suara."Ri?"
Riri kaget melihat Jason di sana."Jason?"
Jason menghampiri Riri dan memberikan pelukan hangat."Apa kabar, Ri?"
"I... iya, aku... baik. Kamu... di sini?" Riri masih kaget.
"Iya,aku di sini." Jason merentangkan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Dimana James?" tanya Riri.
"Kami... bertukar tempat. James sudah pergi ke London," jawab jason.
"London? Berapa lama? Tega sekali dia tidak memberi tahuku," kata Riri kesal.
"Lebih tega mana sama kamu yang enggak ngasih kabar berhari-hari?" sindir Jason. Jason memang suka bicara apa adanya, langsung pada intinya. Tak peduli jika orang tersebut sakit hati.
"Ta... tapi, dia enggak ada bilang apa-apa, Jas. Berapa lama James di sana?"
"Enggak tau, sih, sampai dia menemukan calon isteri di sana mungkin," jawab Jason asal.
Riri termenung."Calon isteri?"
"Eh... ayo duduk, dong!" Jason menarik Riri agar duduk.
"Thanks."
"Kata James, pacar kamu ... kerja di sini, ya?" tanya Jason kepo.
"Iya. Namanya Damar," balas Riri.
"Oh... Damar."
"Memangnya kerjaan lagi banyak banget, ya,Jas? Kok pulangnya sampe malam banget?"
"Ya, kan, Emang kerjaan dia belum beres. Apalagi kemarin dia cuti tanpa keterangan."
"Orangtua nya sakit, Jason." Riri berusaha membela Damar.
"Apapun itu, dia harus tetap izin, Ri. Oh... ya, kamu enggak kangen aku?"
Riri menggeleng."Enggak. Nyebelin gitu."
Jason duduk di sebelah Riri."Masa..., sih? Padahal asli aku jauh lebih ganteng dari James."
Riri menoleh ke arah Jason. Memang benar,Jason itu lebih tampan dari James, tapi memangnya apa urusannya."Terus? aku harus bagaimana kalau kamu ganteng?"
"Cium, dong!" Jason memainkan alisnya.
"m***m!" omel Riri.
"Lebih m***m kamu sama James, dong! Mendingan kalian kawin aja sana. Bikin anak beneran." Lagi-lagi Jason menggoda Riri. Kali ini Riri ingin sekali menenggelamkan Jason ke dalam bak mandi.
"Jason... enggak usah bahas itu, udah lewat," jawab Riri.
Pintu ruangan diketuk.
"Masuk!" kata Jason sedikit keras.
Orang kepercayaan Jason datang."Permisi, Pak, saya ingin memberitahukan telah terjadi kecelakaan kerja."
Jason berdiri dan menghampiri Pria itu."Dimana? Siapa korbannya?"
"Manager pemasaran kita,Pak Damar," jawabnya.
Riri langsung tersentak."M... maksudnya Damar?" ya sudah... gimana keadaannya?"
"Sudah dibawa ke rumah sakit terdekat, pak."
Jason mengangguk."Terima kasih, Pak."
"Jas, aku mau lihat dia. Anterin aku!" Riri menarik Jason sembarangan sampai-sampai Jason terhuyung-huyung.
"Kok bisa, sih, memangnya kantor kalian enggak pakai safety?" tanya Riri di perjalanan.
"Pakai, lah! Ya kali aja, Damar yang melanggar aturan!" Jawab jason sambil terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang sudah bekerja sama dengan perusahaannya.
Sesampai di rumah sakit, Jason langsung ngobrol dengan seseorang yang mungkin juga merupakan karyawannya. Riri belum bisa bertemu dengan Damar karena masih menjalani pemeriksaan. Jason menghampiri Riri.
"Damar tertimpa barang yang mau diangkut ke kontainer. Ya... kebetulan Damar sedang memantau kesana, dan sedang lewat sewaktu barangnya jatuh," jelas Jason.
"Luka parah?" Tanya Riri khawatir.
Jason menggeleng."Enggak! Tapi, langsung pingsan. Makanya, sekarang dokter lagi meriksa keseluruhan. Siapa tau ada luka dalam."
Riri mengangguk."Ya sudah."
"Ri, aku harus balik ke kantor!" Kata Jason.
"Damar gimana?"
"Kan sudah ada orang yang urus. Lagipula masa iya aku urus beginian," balas Jason.
Riri mengangguk."Ya sudah, terima kasih sudah anterin aku, ya."
"Everything for you. Aku balik dulu. Kalau butuh apa-apa, hubungi saja aku." Jason memeluk Riri.
Riri mengangguk."Hati-hati."
Jason melambaikan tangannya. Riri mengambil ponsel dan mengubungi Devi untuk memberi tahukan tentang Damar.
Sekitar setengah jam kemudian Devi datang seorang diri.
"Kakak." Riri memeluk Devi.
"Iya... sabar, Ri. Barusan kakak ketemu dokternya, kok. Dokter bilang enggak apa-apa. Ada benturan di kepalanya. Saat ini Damar masih belum sadar."
"Iya, Kak."
"Kamu pulang aja, Ri. Nanti kalau Damar sudah sadar, kakak telepon kamu. Biar kakak jaga Damar." Devi mulai khawatir dengan keadaan Riri. Ditambah lagi beberapa hari yang lalu ia mengalami hal yang tidak enak dengan orang tuanya.
"Ya sudah, Kak, Riri pulang. Secepatnya aku ke sini."Riri memutuskan untuk pulang karena Eve membutuhkannya. Ada beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani langsung terkait kerja sama dengan salah satu majalah fashion.
Devi mengangguk."Kakak pasri kabarin kalau Damar sadar.
Dengan berat hati Riri pulang ke apartemennya.
"Riri!" Pekik Eve saat Riri membuka pintu. Eve memeluknya erat.
"Kemana aja, say... kita nyariin."
"Di rumah Damar, sama keluarganya juga kok," balas Riri.
"Ehmm... kamu kurus banget,sih." Eve memegang pergelangan tangan Riri.
"Damar masuk rumah sakit," kata Riri sedih.
"Oh...,God! Kenapa?"
"Ada insiden di kantornya. Kepalanya kena benturan, jadi... sekarang dia belum sadar."
Eve mengusap punggung tangan Riri."Sabar ya, Ri. Oh iya... maaf, tapi... kamu harus segera tanda tangan ini. Kasihan mereka udah nunggu berhari-hari."
Riri melirik berkas yang disodorkan Eve. Ia percaya pada Eve dan langsung menandatanganinya."Kepalaku pusing, Eve..., aku istirahat sebentar. Satu jam lagi banguni aku,ya!"
"Iya..., istirahat, deh. Ntar kalau udah enakan baru jenguk Damar lagi."
Riri mengangguk dengan kepala berat. Dalam sekejap ia sudah terbaring di tempat tidur dan tertidur pulas.