Riri tampak sedang mematut dirinya di depan kaca besar yang ada di ruang tengah. Hari ini, sesuai janjinya dengan James, ia dan Eve akan ke kantornya.
"Eve... cepetan!" teriak Riri tak sabar. Sudah setengah jam Riri menunggu Eve berdandan.
"Sabar, dong! Eke harus cantik di depan mami. Siapa tau ... ntar dikasih oleh-oleh," kata Eve dengan tampang tak berdosa.
"Udah belum, Eve?" Riri mendelik kesal.
"Udin ... yuk, ah, capcus." Eve menarik lengan Riri.
Sekitar setengah jam Eve dan Riri sudah sampai di kantor James. Kali ini, seperti biasa mereka langsung ke ruangan James.
"Katanya mami sudah nyampe, ya?" tanya Eve senang.
Riri mengangguk sambil sibuk dengan ponselnya. Eve terus berjalan mendahului Riri tanpa memedulikan sekeliling.
"Eh ... eh!" teriakan itu menghentikan langkah Eve.
"Iya? ada apa?" tanya Eve.
Naina berkacak pinggang."Ada apa? Siapa kamu? main masuk aja ke ruangan Bos saya."
Eve memerhatikan Naina dari atas ke bawah."Kamu siapa?"
"Saya sekretaris barunya Pak James," kata Naina.
Eve tertawa gelj dengan gaya nyentriknya."Oh... sekretaris baru. Pantes, enggak kenal saya."
"Kenapa saya harus kenal dengan banci seperti kamu ini?" Naina tersenyum mengejek.
"Heh! pere! jaga itu mulut, ya!" Eve mendadak emosi.
"Eve, kenapa, sih?" Riri datang menengahi. ia baru sadar Eve sudah jauh di depannya karena sedari tadi ia sibuk membalas pesan dari Damar.
"Jadi... kalian ini temenan? Duh... pantes sama-sama kelihatan enggak beres." Naina memandang Eve dan Riri dengan jijik.
"Maksud yey?" Eve menyipitkan matanya ke arah Naina.
"Kamu ini ... sejenis mucikari ya? Ngejual si embaknya ke Pak James!" Tuduh Naina sarkatis.
"Wow... wow... wow... hebat banget sekretaris James satu ini,ya. Masih anak baru... mulutnya udah tajem," kata Eve. Tangannya terlipat di d**a lalu mengitari Naina.
"Udah, ah, Eve... enggak penting. Yuk,masuk!" Riri memanggil Eve.
"Hei, enak saja langsung masuk. Pak James sedang tidak bisa diganggu. Ada bos besar datang." Naina menarik lengan Riri yang sudah hampir membuka pintu.
"Ya ampun... ini apa-apaan, sih. Berani banget kamu narik Riri." Eve melepaskan tangan Naina dari lengan Riri.
"Kalian ini enggak tau sopan santun. Tidak tau adab bertamu. Ini kantor! bukan rumah kalian," hardik Naina.
"Sudah,Eve... tenang." Riri menarik Eve supaya tidak emosi."Kita duduk dulu."
Setelah suasana sedikit tenang, Riri mendekati Naina."Mbak, kami berdua ingin bertemu Pak James. Kami sudah ada janji."
Naina melirik Riri sekilas."Nanti saya sampaikan. Soalnya tadi Pak Jamea bilang,ia sedang tidak bisa diganggu karena orangtuanya sedang berkunjung."
"Baiklah. Kami akan menunggu." Riri kembali duduk dengan tenang.
"Apa-apaan, sih, Ri... ini tuh enggak bisa kayak gini," protes Eve.
Riri menutup mulut Eve dengan jari tepunjuknya."Udah... enggak apa-apa."
Eve memutar bola matanya dengan kesal. Ponsel Riri berbunyi, dari James.
"Sayang... kamu dimana? Kenapa lama sekali?" tanya James panik.
"Kami sudah di depan." Riri melirik Naina.
James menaikkan alisnya sebelah."Di depan mana."
"Depan ruangan kamu," kata Riri akhirnya membuat Eve mendesah lega, lalu melirik Naina dengan puas.
Tanpa menjawab ucapan Riri, James langsung berjalan cepat, membuka pintu. Ia menemukan Eve dan Riri duduk di ruang tunggu tamu. James menatap Naina dengan murka.
"Riri." Suara lembut yang dirindukan Riri terdengar begitu hangat. Seorang wanita yang sudah terlihat tua namun tetap terlihat bersahaja berjalan pelan menghampiri Riri.
"Mama." Riri berjalan cepat menghampiri Mama James lalu memeluknya.
"Mami!" Eve ikut memeluk.
"Kalian... anak-anakku. Kenapa tidak masuk? Kami sudah menunggu lama."
"Ehmm... iya, nih... ada orang rese... kami enggak boleh masuk," kata Eve sambil melirik naina.
"Iya,Ma, Naina belum paham betul apa tugasnya," kata James.
"Ayo, Mam,kita masuk aja." Eve memeluk lengan Mama James membawanya masuk ke dalam.
"Pak," panggil Naina sebelum James benar-benar masuk ke ruangannya.
"Sudah kuberi tahu, Naina. Jika Riri datang ... langsung beritahu aku. Jika sedang tidak ada tamu, biarkan dia masuk. Dia adalah orang penting dalan hidup saya." Ucapan James membuat hati Naina tertusuk. Lagi-lagi James mengeluarkan kata-kata yang tak menyenangkan dirinya.
"Saya enggak penting, Pak?" Tanya Naina kelu.
"Kamu penting. Karena kamu sekretaris saya," jawab James tegas.
"Tapi... kita sudah tidur bareng, Pak," kata Naina ikut menegaskan.
"Kalau begitu... berhentilah menjadi penggoda. Maka itu tidak akan terjadi lagi." James membuka pintu dan masuk ke ruangannya tanpa menunggi jawaban dari Naina. Hati Naina hancur berkeping-keping. Ia benar-benar jatuh cinta pada James sejak pertama kali ia melamar kerja di kantor ini. Sejak itu ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha mendapatkan hati James, meskipun dengan cara menawarkan dirinya pada James.
Eve berteriak histeris ketika mendapat oleh-oleh dari Mama James.
"Eve... jangan teriak, ih," kata Riri.
"Lagi seneng, Cin... mami memang tau banget selera eke."Eve memeluk mama James dengan erat.
"Mama pasti tau dong, selera kalian bagaimana..., oh ya ... Ri malam ini nginap di rumah dong," kata Mama James.
Riri melirik James yang sibuk di depan laptopnya."Riri enggak janji, Ma, soalnya lagi banyak kerjaan."
"Kerjaan apa, sih, Ri? Jangan di forsir terus tenaganya." Papa James ikut menimpali.
"Bener... Papi, Riri ini masih suka ke sana ke mari urus butik. Udah jelas... di sana ada yang urus," adu Eve yang kemudian mendapat pelototan dari Riri.
"Ri... kamu ini, udah... jangan macem-macem. Di rumah aja," kata Mama James khawatir.
"Riri juga masih suka ngilang tuh, Ma." Kali ini James yang mengadu
"Nah, rasain... ada yang ngadu," ejek eve.
"Kamu ke rumah, ya? Mumpung kita di sini," ucap Papa James.
"Memangnya mama sama papa berapa lama di sini?" Tanya Riri memastikan.
"Lumayan lama. Dua bulan."
Riri mengangguk."Riri pasti nginap di rumah kok, Ma, pa... tapi enggak bisa malam ini. Riri ada urusan."
"Ngeles!" Gumam Eve tapi masih mampu didengar James dan Riri.
"Iya... janji,Ma, Pa... Riri pasti nginap di rumah." Riri bersandar di lengan Mama James.
"Kalau itu enggak terjadi gimana?" Tanya James membuat Riri mati gaya. Sementara Eve hanya bisa terkekeh geli.
"Pasti. Tapi nanti-nanti, James," balas Riri sambil cemberut.
"Ya sudah... Riri pasti nepatin janjinya. Iya, kan, Ri. Kalau enggak ditepatin, seret dia ke KUA, James," kata Papa James sambil tertawa.
"Nah, itu ... cucok!" Ucapan Eve membuat semuanya tertawa. Hanya Riri yang memasang wajah cemberut, memandang James dengan tatapan ngambek. Membuat James gemas dan ingin segera menerkamnya.
James, Riri, Eve, dan kedua orangtua James makan siang bersama di sebuah restoran. Usai makan siang, Eve dan kedua orangtua James pulang ke rumah James.
"Eve... jagain mama sama papa di rumah, ya, sampai aku pulang," pesan james sebelum mobil yang membawa Eve dan kedua orangtuanya melaju.
"Siap, James. Aku nitip itu, ya... temenku yang suka ngilang itu. Jagain... jangan sampai lari." Eve terkekeh kemudian kaca mobil tertutup dan mobil melaju.
"So ... sekarang apa?" James menatap Riri.
"Apanya?" Riri balik bertanya.
"Apa kegiatan kamu setelah ini?" tanya James.
Riri menggeleng."Tidak ada."
"Oh,ya?" James menyipitkan matanya.
"Jangan ngeliatin aku kayak gitu,James." Riri membuang wajahnya, tak ingin james melihat matanya.
"Hmmm... aku tau kamu bohong. Kamu mau kemana? Sampai-sampai ... bisa menolak permintaan Mama." James menyelipkan anak rambu ke belakang telinga Riri.
Riri merengut."James... udah enggak usah ditanya."
James tertawa."Sejak kapan...seorang Riri suka ngambek begini? suka cemberut, terus ... sok rahasia-rahasiaan."
Riri terdiam, melipat tangannya di dada."Aku ada janji."
"Dengan Damar?" tebak James.
"Iya, betul sekali," jawab Riri dengan ceria.
"Dasar kamu. Ayo balik ke kantor." James memeluk pundak Riri, membawanya ke mobil.