"Kamu, kan, mau kerja, James... masa sih aku ngikut ke kantor," protes Riri di perjalanan.
"Daripada ntar kamu ngilang... susah nyarinya." James menjawab dengan santai.
"Sejauh apa hubungan kamu sama Damar? Aku enggak pernah lihat kamu seserius ini." James memulai pertanyaan yang beberapa hari ini bergelayut di otaknya.
"Hmm ... mungkin kali ini aku serius padanya, James," jawab Riri perlahan sembari melirik James.
James mengangguk-angguk."Itu bagus..., biar kamu enggak ke sana ke sini... enggak jelas."
"Aku cari duit, James. Halal ... masa dibilang ke sana ke sini enggak jelas." Lagi-lagi Riri merengut.
"Ya ... itu, lah. Sama saja."
"Besok dia mau ngenalin aku ke orangtuanya, James," kata Riri dengan nada bicara yang tak biasa. Nada bicara bahagia yang membuat James tersenyum lirih. James bahagia kalau Riri bahagia, tapi di sisi lain ada bagian hatinya yang tertoreh luka.."
Riri memeluk lengan James sebagai bentuk kebahagiaannya. James tetap tersenyum seperti biasa dan fokus menyetir.
Sesampai di kantor, James dan Riri berjalan beriringan menuju ruangan James. Naina hanya bisa melirik tanpa bisa protes. Wajah dengan aura kebencian itu pun muncul ketika ia melihat Riri.
"James, ini cocok enggak?" Riri menunjukkan sebuah dress di tabnya kepada James.
James melirik sekilas."cocok."
"Kayaknya terlalu pendek, warnanya juga norak." Riri menscroll layar tabnya lagi.
"Kalau yang ini?"
"Bagus." James menatap sekilas lalu disibukkan kembali dengan laptopnya.
"Masa, sih, kayaknya ini yang bahannya biasa, deh." Riri bicara sendiri.
"Kamu mau ngapain, sih, milih baju segitunya. Biasanya juga kamu enggak ribet gitu," kata James tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Aku bingung mau pakai baju apa mau ketemu orangtuanya Damar." Ucapan Riri kembali menggores hati James.
James menggelengkan kepala."Kamu, kan, punya ribuan baju di butik kamu. Ngapain, sih, pusing milih baju. Pakai aja yang menurut kamu nyaman dan sopan tentunya."
"Aku minta pendapat Eve aja, deh." Riri kembali disibukkan dengan aktivitasnya mencari baju.
Pintu ruangan diketuk, kemudian terbuka. Naina datang dengan setumpuk dokumen.
"Permisi, Pak."
James melirik sekilas."Iya."
"Ini ada beberapa dokumen yang harus bapak tanda tangani," kata Naina, matanya melirik Riri yang sedang duduk santai di sofa.
"Iya. Letakkan saja. Sebentar lagi saya periksa," jawab James seperlunya.
"Iya, Pak." Naina masih melirik Riri.
"Nai? Nanti saya periksa!" James menatap Naina heran.
"Iya,Pak."
"Kenapa kamu masih ada di sini?" tanya James.
"Oh... iya,Pak. Permisi!" Naina keluar dengan kesal.
Di depan Pintu, Naina berpapasan dengan Damar Sepertinya akan masuk menemui James.
"Saya mau ketemu Pak James," katanya datar.
"Masuk aja!" jawab Naina kesal.
Damar mengernyit bingung, menggelengkan kepala lalu mengetuk ruangan James.
"Masuk!"
Damar membuka pintu ruangan James ketika mendengar perintah masuk. Setelah masuk dan menutup pintu kembali, Damar menyadari di sana ada Riri.
"Pak Damar, silahkan duduk!"
Ucapan James membuat Riri sadar dan melirik."Hai, Damar."
"Loh?"
"Riri sedang ada urusan di sini," kata James pada Damar.
"Eh ... iya, Pak. maaf." Damar mengusap tengkuknya karena malu.
"Tidak apa-apa. Ada apa?"
Damar dan James bicara panjang lebar, sementara Riri cuek dengan apa yang mereka bicarakan. Ia tengah sibuk berdebat dengan Eve masalah baju yang akan ia pakai besok. Sampai-sampai Eve harus membongkar seluruh gambar koleksi butik mereka.
"Ri," panggil James.
Riri menoleh."Iya?"
"Kamu sudah ada janji sama Damar, kan? sekalian keluar bareng damar. Sudah sore...sudah waktunya pulang." James mengingatkan.
Riri tersenyum, merapikan tasnya,lalu berdiri menghampiri Damar."Ya sudah, James..., aku pergi, ya."
"Pak, saya... permisi." Damar pamit.
James hanya mengangguk sambil melambaikan tangan. Senyum lirihnya kembali mengembang kala melihat Riri dan Damar berjalan berdampingan.
Naina yang tengah bersiap-siap pulang menganga ketika Riri dan Damar keluar bersamaan. Ia melirik ruangan James, berniat masuk dan menggoda James seperti biasa.
"Kamu ngapain ada di ruangan Pak James?" tanya Damar menghentikan langkah Riri.
"Ada urusan, sayang. Tadi... juga sama asisten aku. Tapi, dia udah pulang duluan," jawab Riri santai, kemudian merangkul lengan Damar dan mengajaknya berjalan.
"Kamu enggak ada apa-apa, kan sama dia?" tanya Damar dengan nada cemburu.
Riri terkekeh."James tau, kok... kalau kita itu menjalin hubungan. Lagian... James itu memang temen dari kecil."
"Ya sudah kalau gitu." Damar mengecup kening Riri.
"Damar!" Reza memanggil dari kejauhan.
Riri dan Damar menoleh ke belakang secara bersamaan.
"Kenapa?" tanya Damar begitu Reza sudah ada di hadapannya.
Bukannya menjawab, Reza justru memerhatikan Riri."Ini ... Riri bukan?"
Riri mengangguk."Iya, saya Riri."
"Kalian?" Reza bingung sambil menunjuk keduanya bergantian.
"Kenalin, Bro, ini... Riri,pacarku," kata Damar dengan senyuman kemenangan.
Riri terkekeh. “Apaan, sih. Kalau sama Reza udah kenal lama ... iya, kan, Za."
Reza hanya menggaruk-garuk kepalanya."Iya iya... ternyata kalian pacaran. Semoga langgeng kalau gitu."
"Makasih," jawab Riri.
"Oh iya,ada apa, Bro, tadi manggil?"
Reza nyengir sendiri."Ah... enggak. Tadinya mau ajak nongkrong dulu. Tapi, berhubung sepertinya ada kegiatan, lain kali aja."
"Ya sudah kalau gitu, kami pergi, ya." Damar melambaikan tangan le arah Reza lalu menggenggam tangan Riri dan pergi.
"Kita mau kemana?" Tanya Riri saat mereka sudah di dalam mobil.
"Ke apartemen aku aja. Tapi, ya, enggak segede apartemen kamu yang kamu tunjukin itu," kata Damar.
"Ah, kamu ini... yang penting sama kamu aja." Riri tersenyum.
"Manisnya pacarku ini. Cium, donk." Damar mencubit pipi Riri dengan tangan kirinya.
Riri langsung mengecup pipi kiri Damar.
"Makasih, Sayang. Sekarang... kita menuju apartemenku." Damar menambah kecepatan mobilnya agar cepat keluar dari area perkantoran ini.
"Aku nginap di sana?"
"Harus!" Damar menyeringai. Sesuatu tersirat di matanya.
Damar dan Riri tiba di apartemen Damar. Memang benar, apartemen Damar tak seperti apartemen Riri yang eksklusive. meskipun Damar hanya melihatnya dari luar, ia sudah bisa menebak bahwa apartemen itu dihuni oleh orang-orang kaya. Riri masuk, melihat ada satu kamar lumayan besar, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur kecil.
"Kamu liat apa?" Damar memeluk Riri dari belakang.
Riri mengeratkan pelukan Damar."Enggak ada.Jadi .. kapan Mama sama Papa kamu ke sini?"
"Besok, sayang. Kenapa? Enggak sabar pengen ketemu, ya?" Damar menggoda Riri.
Wajah Riri merona."Bukan ... aku nanya aja."
"Ya sudah... silahkan beraktivitas. Anggap aja di rumah sendiri. Aku mandi dulu ya,sayang." Damar mengecup kening Riri lalu pergi ke kamar mandi.
Riri memilih menyalakan tv, menonton acara sore ini sampai ia tertidur di sofa.
Damar yang baru saja selesai mandi tersenyum menatap wanita yang dicintainya tertidur pulas di sofa. Dengan sangat hati-hati, Damar membopong Riri dan menidurkannya di kamar. Setelah ia rasa posisi Riri cukup nyaman, Damar memakai pakaiannya dan pergi ke dapur.
Damar melihat isi kulkasnya, merenung sejenak lalu mengambil beberapa bahan makanan dan mulai mengolahnya.
Riri terbangun kala mendengar suara ribut-ribut di dapur. Suara gesekan kuali dengan pengaduknya begitu keras. Riri mengernyit ketika ia menyadari sedang berada di kamar, lalu ia teringat bahwa ia sedang ada di apartemen Damar. Damar pasti memindahkannya ke kamar mengingat terakhir kali ia berada di sofa. Suara ribut di dapur menyadarkan lamunan Riri. Riri bergegas keluar kamar.