Bab 10

1246 Words
Senyumnya mengembang ketika melihat seorang pria bercelana pendek sepaha, mengenakan kaos oblong bewarna hitam sedang memasak. "Ehem." Riri berdehem sambil menghampiri Damar. Damar menoleh."Hai, sayang, sudah bangun. Sebentar,ya, aku masak dulu." Riri mengangguk, tak ingin mengganggu Damar. Lalu ia duduk di meja makan mini yang tak jauh dari posisi Damar memasak sekarang. "Kamu mandi aja," saran Damar. "Oh, iya. Aku belum mandi." Riri mengambil tasnya di sofa, lalu membongkarnya di kamar. setelah menemukan barang yang ia butuhkan, Riri bergegas mandi. sekitar 15 menit, Riri keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah handuk, handuk melilit di kepalanya. Damar tampak sudah selesai, makanan sudah tertata rapi di atas meja. "Sudah selesai, ya. Aku pakai baju dulu," kata Riri lalu menuju kamar. Tak lama kemudian Riri keluar dengan mengenakan hot pants dan kaos berwarna putih, kepalanya masuh terlilit handuk. "Ayo, makan. Udah lapar," kata Damar. "Kamu bisa masak. Aku enggak nyangka." Riri terkekeh begitu melihat Cumi asam manis, tumis kangkung dan nasi. Sederhana tapi terlihat menggiurkan. "Iya. Aku calon suami idaman, kan?" kata Damar dengan pedenya. Riri mengangguk-angguk."Iya... iya... harus kuakui masakan kamu enak," ucapnya kala mencicipi sedikit cumi asam manis buatan Damar. Damar menyendokkan nasi ke piring Riri."Sekarang... makan yang banyak, karena aku mau bikin kamu lemas tak berdaya malam ini." Riri tersenyum."Oh, ya?" Damar mengangkat kedua alisnya."Iya." Lalu keduanya tertawa bersamaan. Di kantor, James merapikan barang-barangnya yang ia buat berantakan sore ini. Setelah memastikan semua barang pribadinya masuk ke dalam tas, James mematikan laptopnya. "Pak!" Suara itu mengagetkan James, sebab sedari tadi tidak ada ketukan atau ucapan permisi untuk masuk. "Naina!" James terlihat marah. "Iya,Pak?" Naina tersenyum tak bersalah. "Ngapain kamu di sini? Enggak permisi lagi masuknya." James menatap Naina dengan tatapan membunuh. "Kan sudah di luar jam kantor, Pak... jadi enggak apa-apa donk," jawab Naina centil. "Saya sudah mau pulang. Silahkan keluar," usir James. "Saya enggak mau." James mengernyit."Kamu ini sadar tidak posisi kamu? Kamu ini sekretaris saya dan saya ini bos kamu. Apa pantas kamu bersikap seperti ini." "Kan kita pacaran, pak," kata Naina pede. "Enggak! Enggak usah ngaku-ngaku. Kamu mau saya berhentikan sekarang juga?" Emosi James memuncak. Naina mendekati James, seperti biasa dengan gerakan erotisnya ia sengaja menempelkan tubuhnya pada James. James menjauhkan dirinya ."Saya mau pulang." "Memangnya Bapak enggak rindu sama saya?" Tanya naina dengan suara yang dibuat seseksi mungkin. "Enggak!" "Ayolah. Jangan bohong, aku tau kamu rindu ingin memasuki aku," bisik naina di telinga James. James memejamkan matanya, tapi malah wajah Riri terbayang. Entah kenapa ia justru terbayang saat ia meniduri Riri. Teringat tentang Riri justru membuat miliknya mengeras, memberontak ingin dipuaskan. James mendecih kesal, kenapa ia harus ada di posisi ini. Menginginkan Riri terus dan terus. Jelas-jelas saat ini Riri sudah bersama orang lain. Naina membuka blazernya, terlihat dadanya yang mencuat karena tanktopnya rendah. James terdiam, melirik sambil meneguk salivanya. "Sial," umpatnya dalam hati. Bukan masalah Naina yang seksi di depannya, tapi ia justru membayangkan Riri ada di hadapannya dengan tampikan seperti ini. Naina mendekat, mengarahkan tangan James ke dadanya. Awalnya James tak bereaksi apa-apa. Tapi Naina meremas tangan james hingga James ikut meremas d**a Naina. Lagi-lagi di otak James hanyalah Riri. Ia membayangkan tengah meremas d**a Riri dan ia akab berteriak memanggil namanya. Memohon untuk dipuaskan. Pertahanan James mulau runtuh,kini tangan satunya mulai ikut meremas d**a Naina. Naina menggelinjang nikmat. Cukup lama James bermain di sana seolah-olah ia sedang bersama Riri. Bagian yang paling disukai Riri saat bercinta. Dengan sigap, Naina menangkup wajah James, lalu melumat bibirnya. Mau tak mau James membalas, sebab dirinya sudah dilingkupi oleh nafsu. Tangannya mulai bergerilya di setiap inchi tubuh Naina. James membuka tank top naina, beserta branya. Kini d**a Naina terekspos dengan sempurna. Baru saja James hendak membuka rok Naina juga,ponselnya berbunyi. James langsung mengangkatnya berhubung nada telepon itu adalah nada khusus. Telepon dari mamanya. "Halo." "...." "Masih di kantor, Ma." "...." "Iya,ma, ini udah mau pulang kok." "...." "Iya,Ma. James berangkat sekarang." James menutup ponselnya. Mengatur napas kemudian mengambil tasnya. "Loh... kok pergi," protes Naina yang kini sudah setengah telanjang. "Ya kamu lanjutin aja sendiri. Saya ada urusan." James berlalu begitu saja meninggalkan Naina. Naina menghentakkan kakinya dengan kesal, usahanya kali ini gagal. Naina memakai pakaiannya satu persatu sambil merutuk dalan hati. Pintu terdengar dibuka. Mata Naina berbinar, ia berbalik arah dan pria yang ada di hadapannya kini hanya bisa melotot. Menganga tak bergerak. Naina kaget setengah mati. "Aaa... pergi kamu, Paijo!" Naina bersembunyi di balik meja sambil terus membenahi pakaiannya. Paijo,office boy di kantor ini masuh melongo. Sepertinya ia shock mendapatkan berkah di sore hari ini. "Kalau kamu masih di situ, saya Laporin ke pak James. Keluar!" Teriak Naina. Paijo tersadar, mengangguk."i... iya,Bu." Paijo menutup pintu. Tapi di balik pintu ia malah senyum-senyum sendiri, membayangkan d**a Naina yang ia lihat tanpa penghalang apapun. Lalu paijo pun berandai-andai, ia pun mendapat ide, mengintip naina dari celah pintu. ** Usai makan malam, Riri mencuci piring serta merapikan dapur, sementara Damar merapikan kamarnya. Riri menyusul ke kamar setelah pekerjaannya beres. "kan, enggak kotor. kenapa dibersihkan?" tanya Riri. "Walaupun enggak kotor... tetap aja harus dibersihkan,pasti ada debu yang nempel." Damar terus melakukan aksi pembersihannya. Riri mengangguk-angguk, lalu pergi ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya. Riri tersenyum begitu membuka ponselnya, puluhan chat dari Eve masuk. Eve mengirimkan foto-fotonya di rumah James. Makan di restoran mewah dan berbelanja . Riri terkekeh dan kini ia sibuk membalas chat Eve. Riri tak menyadari bahwa sedari tadi Damar ikut membaca chat Riri dan Eve. "sayang." Riri hampir melompat saking kagetnya. Suara Damar tepat di telinganya. Riri mengusap-usap telinga sambil menatap Damar yang sedang berkacak pinggang.  "Dih, ini asisten aku, Eve," jawab Riri. "Eve? jangan bohong, itu fotonya cowok," kata Damar lagi. Riri mendecak."Eve itu memang cowok, sayang. Cowok setengah cewek." "Banci?" kata Damar sekenanya. "Ih... jangan sebut gitu. Sebut saja pria gemulai, bagaimana?" Damar membuang wajahnya kesal. Ia tak tau bahwa selama ini asisten Riri itu cowok. meskipun gemulai, ah tetap saja ia tak suka. "Damar ....?" Riri menangkup wajah Damar. Damar tak mau menatap wajah Riri. Sementara Riri berusaha membujuknya. "Maaf...." Kata Riri lagi. Damar tak menjawab, kini ia mengabaikan Riri. Damar berjalan menuju kulkas, mengambil minuman dingin dan menenggaknya dengan santai. Riri mengerutkan dahi, sedikit kesal karena merasa diabaikan. Akhirnya ia memilih untuk menonton tv. Damar yang tadinya merasa menang karena Riri tak berhasil membujuknya, kini menjadi kesal. Iya, kesal karena Riri tak membujuknya lagi. Malah sekarang memilih menonton tv dengan santai, bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal pula. "Sayang!" panggil Damar. Riri menoleh,karena suara Damar cukup keras."Iya?" "Aku lagi ngambek, masa didiemin," protes Damar. Riri terkekeh, lalu menghampiri Damar."Tadi, kan, aku sudah bujuk. Kamu nya aja yang enggak mau. Ya udah... ngapain aku paksain." "Dih, harusnya tetep dibujuk. Dicium gitu." Damar mulai ngambek lagi, ia membuang wajahnya. Riri tertawa, ia pun memeluk Damar dengan geli. "Ya sudah, sayang, aku minta maaf, ya?" Damar mengangguk." Iya... jangan gitu lagi " "Aduh... manjanya pacarku ini." Riri mengusap rambut Damar. "Ayo kita tidur," ajak Damar. "Ya sudah... aku matikan tv nya dulu." Riri mematikan tv, mengambil ponselnya, lalu menyusul Damar di kamar. "Sini, sayang." Damar menepuk sisi tempat tidur yang kosong. Riri mengangguk dan langsung naik. "Katanya mau tidur, kok masih megang hape, sih?" protes Riri. Damar nyengir."Sebentar, ya, sayang. Aku ada mau chatting sama temen-temen aku dulu." Riri mengangguk saja, ia memilih untuk berbaring karena punggungnya sedikit sakit. Entah berapa lama Damar sibuk dengan ponselnya akhirnya Riri tertidur. Damar menyadari suasana sudah senyap, ia melirik ke arah  Riri. Ia langsung mengakhiri chattingnya, lalu memeluk Riri dari belakang hingga akhirnya ia ikut tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD