"Damar!" suara teriakan yang menggelegar bak petir di siang bolong itu pun membangunkan Damar dan Riri yang masih tertidur pulas.
Seorang wanita cantik dengan beberapa paper bag ditangannya berdiri di depan pintu. Shock melihat Damar sedang tidur bersama seorang wanita.
Damar mengucek matanya, berusaha menormalkan pandangan.
"Kakak?"
Riri pun tersentak, ia mencoba menyingkir dari pelukan Damar.
"Kakak! bikin kaget aja," kata Damar santai. Damar menghampiri kakaknya lalu mencium tangannya.
"Kamu, sih, penyambutannya bikin kaget." kakak Damar tertawa centil kemudian memandang Riri."Itu yang kamu ceritakan kemarin?"
Damar mengangguk."Sayang... sini."
Riri melangkah dengan ragu, takut kena semprot kakaknya Damar.
"Ini kak Devi, kakak aku. Kak, ini Riri... calon isteri aku." Damar saling memperkenalkan keduanya.
Disebut sebagai calon isteri, wajah Riri langsung merona.
"Halo, Riri. Kamu... manis banget, lebih manis dari yang Damar ceritain." Devi terkikik.
Riri terkejut dengan ucapan Devi, kakaknya Damar ini tidak marah melihat Damar tidur dengan cewek."I...iya, kak."
"Duh... kenapa gugup gitu. Eh ayo sikat gigi. Kakak bawain sarapan... ayo cepat!" Devi mendorong Damar dan Riri ke kamar mandi.
"Kakakku asyik,kan?" Damar kenyenggol lengan Riri yang tengah kebingungan.
Riri tersenyum lebar dan memukul lengan Damar. Usai sikat gigi keduanya duduk dengan rapi di meja makan. persis seperti dua orang anak kecil yang sedang menunggu Ibunya menyiapkan makanan.
"Ini... kakak bawa bubur ayam, beli di depan rumah. Semoga masih hangat."Devi meletakkan empat kotak makanan di meja.
"Yakin, deh, pasti beli. Banyak banget empat, Kak?" tanya Damar.
"Tadinya, sih, kakak pikir Ibu sama Bapak nyampenya pagi, ternyata sore. Udah keburu dibeli. Tapi, kan, ada Riri... ayo kita makan." Devi menyuapkan bubur ke mulutnya.
"Aku mau minum teh." Damar bicara sendiri dan hendak bangkit.
"A... aku aja yang buat."Riri mencegah Damar.
Damar mengangguk, lalu kembali duduk.
"Buatin kakak juga, ya," pesan Devi dengan nada bicara seolah-olah mereka sudah kenal lama. Tapi, hal itu justru membuat Riri nyaman. Kakaknya ternyata menyenangkan. Tinggal beremu dengan orangtua Damar. Mengingat itu, perutnya mendadak mules.
"Kapan Ibu nyampe, Kak?"
"Sore ini. Tapi, ya, kalian baru ketemu besok,sih. Enggak tau tuh, Bapak katanya ada bawa kejutan buat kamu." Devi kembali mengunyah.
Riri datang membawa satu teko teh, dan tiga cangkir. Setelah menuangkan di ketiga gelas, Riri duduk dan makan.
"Memangnya dalam rangka apa dikasih kejutan?"
Devi menggeleng."Entah. Eh... yang bikin Ibu sama Bapak ke sini itu apa?"
"Bapak sama Ibu nanya kapan aku nikah. Terus mau ke sini secepatnya. ya udah... sekalian aja ntar aku kenalin Riri."
Devi merenung sejenak."Kok aneh, ya. Cuma nanya kapan nikah... terus mau ke sini. Memangnya mau dinikahin di sini gitu."
"Ya mungkin aja mau nyuruh kakak nikah lagi," ejek Damar.
"Kakak sudah menikah?" Entah setan apa yang ada di tubuh Riri, mendadak pertanyaan itu terlontar.
"Iya, sudah. Tapi ... sudah cerai," jawab Devi sambil senyum-senyum.
"Oh... maaf,Kak," Riri jadi enggak enak hati.
Devi mengangkat tangannya."ih... gak apa-apa. Nyantai...."
Ponsel Riri berbunyi di kamar."Sebentar ya, kak."
Riri tampak bicara di telepon, lalu menuju pintu. Ada orang di depan sana. Damar penasaran, ia menyusul Riri.
"Siapa, sayang?"
"Kurir. Nganterin pakaian aku." Riri mengangkat dua paper bag khas Butiknya.
Damar memgangguk, menutup pintu dan kembali ke meja makan.
Devi tercengang begitu melihat paper bag di tangan Riri.
"Kamu pakai productnya Rila juga, ya?"
Riri tersenyum."Kakak pakai juga?"
Devi mengangguk."Iya, tapi... jarang ke sana soalnya, harganya kan lumayan. Tapi.. kece-kece banget. Kamu beli apa, coba lihat?"
Riri menyerahkan dua paper bag itu pada Devi,sebenarnya Devi sedikit merebutnya,sih.
"Ri... ini banyak banget. Kamu beli sebanyak ini...? Buat apa?" Devi mengeluarkan satu persatu.
Riri mengusap tengkuknya, bingung harus menjelaskan apa. Sebenarnya itu semua baju pilihan Eve. Riri menyuruh mengirim semuanya karena ingin mencobanya langsung supaya puas. Nanti tinggal pilih mana yang mau dipakai.
"Kamu punya temen di sana yang kasih diskonan ya?" tebak Devi.
Riri cengengesan. Damar melihat Riri menjadi geli sendiri.
"Rila itu butiknya Riri, kak," jelas Damar.
Riri menoleh cepat."Tau darimana? Kayaknya aku enggak pernah cerita."
"What!!" Devi berteriak membuat Riri dan Damar kaget.
Riri mengusap dadanya."Hadeh... kaget."
"Siapa, sih... yang enggak kenal kamu? anak-anak club kemarin juga tau banget tentang kamu." Damar tersenyum.
"Hei, malah asik ngobrol. jawab pertanyaan aku." Devi ngambek.
"Eh... iya,Kak. Rila itu butik aku," jawab Riri.
"Wah... wah.. wah, hebat bener kamu,Mar ngedapetin Riri. Pasti kamu pelet Riri, ya?" Devi menyipitkan matanya.
"Ya enggak donk. Kakak tau sendiri, pesona adik kakak ini... enggak ada yang bisa nolak," kata Damar narsis.
"Ya ampun, jadi... calon adik ipar aku ini pemilik butik Rila. What... bisa heboh temen-temen gue," pekik Devi.
"Memangnya kenapa, Kak?" tanya Riri bingung.
"Duh, kamu enggak tau, ya kalau kami ya... terutama kakakmu yang super cantik ini tergila-gila sama product Rila. Pokoknya kalau liat orang pake dari butik Rila, udah, deh... pasti sosialita.," celoteh Devi panjang lebar.
"Wah, kakak bisa aja. Product Rila enggak semuanya mahal kok, kak. Ada yang masih terjangkau harganya." Riri malu sendiri karena merasa itu pujian untuknya, eh bukan tertuju pada Eve karena dia desainernya.
"Jadi... sebanyak ini buat apa? Boleh gratisin satu enggak? Dua juga boleh." Devi mengedipkan matanya.
"Kakak... jangan malu-maluin, deh." Damar yang sedari tadi hanya menjadi pendengar budiman ikut angkat bicara.
"Iya, kak, boleh. Ntar abis Riri mandi kita cobain satu-satu. Rencananya mau aku pake untuk ketemu Ibu sama Bapak, sih," jawab Riri malu-malu.
"Oh.. persiapan ketemu calon mertua. Ayo, lah... nanti kubantu pilih." Devi terlihat berapi-api. Tentu saja, sebentar lagi ia mendapat baju gratis dari Butik ternama.
Seharian ini Devi dan Riri sibuk mencoba baju. Mereka berdua langsung akrab. Sementara Damar sibuk dengan laptopnya. Meskipun weekend, tetap saja ia harus mengontrol anggotanya dari jauh.
Malam itu Devi menginap di sana, tetapi ia memilih tidur sendiri di depan Tv. Devi beralasan ingin tidur sambil nonton. Padahal aslinya ia pengen bebas chattingan dengan teman-temannya cekikikan. Memamerkan tiga baju yang berhasil ia minta dari Riri.
Riri dan Damar tidur berduaan lagi. Mesra-mesraan di kamar.
"Kamu enggak apa-apa ngasih kak Devi baju segitu banyak? Atau mau aku ganti aja ya," tanya Damar tak enak hati. Biar pun ia lelaki, ia bisa tahu berapa harga tiga baju itu.
Riri menggeleng. "Enggak usah, sayang. Itu aku kasih buat Kak Devi."
"Ngambil hati kakak aku, ya?" Damar menempelkan hidungnya ke pipi Riri.
"Enggak juga, temen-temen kamu di kantor juga kadang aku gratisin kok. Yang beruntung." Riri tersenyum.
"Oh, ya? Aku enggak digratisin gitu?"
Riri melirik dengan geli."Kamu mau pakai baju cewek? Biar kayak Eve gitu."
"Enggak donk. Aku kan pria sejati." Damar membanggakan diri.
"Oh, ya? Iya... iya, aku sudah pernah merasakannya." Jawaban Riri membuat Damar gemas, lalu memeluk Riri dengan erat menciumnya kuat.
"Sudah siap ketemu ibu besok, kan?" tanya Damar.
Riri mengangguk."Sudah."
Damar mengecup wajah Riri, rasa sayangnya semakin dalam. Dan ia pun merasa yakin untuk mengenalkan Riri pada orangtuaSuda