Bab 12

1032 Words
"Damar!" panggil Devi tak sabar, pasalnya perutnya sudah keroncongan. Biasanya jam segini, ia sudah sarapan. "Sabar, toh, Kak." Damar merapikan kemejanya. Riri tersenyum melihat Damar memakai kemeja yang santai, tak seperti biasanya yang ia lihat selalu memakai kemeja kantor. "Ibu udah nungguin tuh," omel Devi. "Ibu nungguin... atau kakak kelaparan?" sindir Damar. "Ayo, ah!" Devi berjalan duluan karena tak sabar. "Ayo, sayang!" Damar mengambil kunci mobil dan menggandeng Riri keluar. Mereka tiba di sebuah hotel, tempat dimana Ayah dan Ibu Damar menginap. "kamar nomor berapa?" tanya Damar begitu mereka keluar dari mobil. "Enggak tau. Katanya sih ketemu di ruang makan aja. Lagi pada sarapan tuh." Devi berjalan duluan, ia sudah tak sabar mau makan. Riri dan Damar memasuki ruang makan. Damar langsung mendapati meja dimana Bapak dan Ibunya makan. Sementara Devi sudah sibuk mengambil makanan. "Bapak... Bu." Damar mencium tangan mereka. Riri pun mengikutinya. "Ini... siapa?" tanya Ibu Damar. "Oh ya, Pak, Bu... ini Riana, pacar Damar." Damar memperkenalkan Riri. "Oh... pacar kamu," ucap Ibu Damar. Nada bicaranya sulit diartikan. Mendadak perasaan Riri tak enak. "Ayo makan," kata Bapak Damar pada Riri. Riri tersenyum kikuk."Iya, Pak." Sepanjang sarapan mereka berbicara banyak dan panjang lebar. Sebenarnya yang bercerita hanya Damar, Devi, Ibu dan Bapak saja. Riri hanya terdiam seperti obat nyamuk. "Abis ini... kita ke kamar ya. Ada yang ingin Ibu bicarakan." Ucapan Ibu Damar langsung membuat Damar terdiam. Hal-hal seperti ini biasanya adalah pembicaraan yang tidak disukai oleh Damar. Damar dan Devi bertukar pandang. Devi mengangkat kedua bahunya seolah menyuruh Damar mendengar dulu apa yang ingin dibicarakan Ibu mereka. Devi dan Riri duduk di ruang tamu yang ada di dalam kamar. Kamar ini cukup besar. Kebetulan ada sedikit pembatas antara ruang tamu dengan area tempat tidur. Devi sibuk mengotak-atik ponsel Riri, melihat koleksi terbaru di butik Rila. Sesekali ia bertanya pada Riri mengenai baju yang tertera di gambar. Di dalam sana ada Ibu, Bapak, dan Damar. Suara mereka pelan namun samar-samar bisa didengar oelh Riri. "Kamu itu, ya, Mar ... sudah tiga puluh dua tahun. Belum menikah." Ibu memulai pembicaraan. "Iya,Bu. Segera, makanya saya kenalkan calon isteri saya, Bu," jelas Damar membuat Riri deg-degan. "Nah, itu! Kenapa kamu enggak pernah bilang sudah ada calon isteri?" tanya Bapak. "Iya... karena belum sempat aja, Pak. Damar baru saja mau ngenalin ke Bapak sama Ibu, tapi Bapak dama Ibu sudah ke sini duluan." "Begini... masalahnya, kami sudah menjodohkanmu, Mar ..  dengan Ayu," ucap Ibu pelan. Suara itu pelan, tapi bisa didengar jelas oleh Riri. Hatinya hancur, sakit, teramat sakit mendengar kenyataan itu. "Bu, Damar sudah ada calon sendiri. Enggak perlu dijodohin." Damar menolak. "Mar ... kami sudah mengatur tanggal, semua sudah disetujui. Tinggal menunggu hari saja. Pernikahan dilaksanakan minggu depan." Ucapan Ibunya ini membuat Damar marah. "Bu..  kenapa enggak diskusikan dulu dengan Damar. Damar enggak cinta sama Ayu, Bu. Damar cintanya sama Riri." Suara keras Damar membuat Devi sadar, ia meletakkan ponsel Riri di meja lalu menghampiri Keributan di dalam sana. Riri yang sedari tadi memang berniat sekali menguping sudah banjir air mata. Hatinya sakit, iya, baru kali ini hatinya merasa sakit seperti ini. Hati yang selama ini keras dan dingin seperti es, ia serahkan pada Damar. Namun, ia malah harus menerima kenyataan pahit ini. "Waktu itu, kan, ditelepon Ibu sudah pernah singgung masalah perjodohan, Mar." "Tapi... Damar sudah bilang enggak, bu. Damar enggak mau." Damar menjadi geram dengan Ibunya sendiri. "Lagian, kan, kamu sudah kenal baik dengan Ayu Kita sudah kenal baik dengan keluarganya. Ayu juga anak baik dan sopan, pendidikannya tinggi. Memangnya kamu sudah kenal betul dengan pacar kamu itu?" Ucapan ibu Damar benar-benar menyayat hati Riri. Mengoyaknya hingga ke dalam. riri merasa sedang dibandingkan. Riri tersenyum lirih, ia memang bukanlah anak baik-baik, bahkan ia juga tidak tau darimana ia berasal. Siapa orangtua kandungnya dan siapa keluarga besarnya. Setiap ditanya orang dimana orangtuanya, Riri selalu menjawabnya keduanya sudah meninggal. Karena memang ia tak pernah merasakan kasih sayang orangtua. Ia hidup dan besar di panti asuhan. Persahabatannya dengan James lah yang membawanya pada kesuksesan. "Maaf,Bu... Damar enggak mau." damar tetap menolak keinginan kedua orangtuanya. "Kita sudah sebar undangan, Mar. jangan bikin malu kamu!" Bapak Damar menambahkan. Hal itu membuat Damar semakin pusing. "Damar enggak mau. Titik!" "Damar... kamu mau bikin malu Bapak sama Ibu? Demi perempuan itu?" Suara ibu Damar terdengar tinggi sekali. Riri terbelalak, sambil memegang dadanya. "Bu..  namanya Riri." "Siapapun dia, Ibu tidak menyetujui kanu sama dia. Dia tidak seperti perempuan baik-baik. Dia akan membawa pengaruh buruk di keluarga kita. Dia akan merusak tradisi keluarga!" Amarah ibu Damar memuncak. Riri tak sanggup mendengarkan apapun lagi. Diraih tasnya,ia berjalan pelan."Pak, Bu... Kak, Saya permisi pulang." "Loh, Ri."Devi menghampiri Riri. "Enggak apa-apa, Kak." Riri berjalan cepat meninggalkan kamar itu. Damar mengejar Riri, tak peduli dengan Ibu dan Bapaknya yang memanggil. "Sayang...." panggil Damar berusaha mensejajarkan dirinya dengan Riri. "Sudah, Mar... enggak ada gunanya aku di sini. Mereka enggak menginginkan aku," isak Riri. Damar meraih Riri dan memeluknya."Sayang... ini belum berakhir. Aku pasti bisa bujuk Ibu buat ngebatalin semuanya. Aku sayang kamu. Aku milih kamu. Kamu percaya aku,kan?" Riri mengangguk dalam pelukan Damar. "Damar!" teriak Devi dari pintu kamar. Damar dan Riri memang masih berada di lorong. "Ibu, Mar!" teriak Devi lagi. Damar melepaskan pelukannya,berlari menuju kamar. Riri mengikuti dan ternyata Ibu Damar pingsan. Dengan cekatan Damar menggendong Ibunya dan membawa ke rumah sakit terdekat. Riri ikut menunggu hasil pemeriksaan meskipun hatinya masih terasa sakit. Ponselnya berbunyi. "James?" "Ri... are you okay?" tanya James begitu mendengar suara sendu Riri. "Yeah, Im okay, James. What Happen?" "Nothing. Really missing you. Aku merasa kamu ada apa-apa di sana, Ri. Sudah dua hari kamu tidak ada kabar. eve juga mengatakan kalau kamu belum pulang ke apartemen." "Aku ada, James... aku tidak menghilang. aku ada bersama Damar dan keluarganya." "Syukurlah kalau begitu. Jangan lupa... kalau urusanmu sudah selesai,datanglah ke rumah. Kami merindukanmu." Riri mengangguk."Iya,James." James memutuskan sambungan teleponnya. Di seberang sana ia mengembuskan napas berat. Saat ini hatinya tidak tenang. Seakan ia bisa merasakan apa yang Riri rasakan. "Riri dimana, James?" Tanya Mama James. "Ada, Ma. Di rumahnya. Ia lagi banyak urusan," kata James berbohong. "Oh... kalau sudah selesai urusannya suruh ke sini," kata Mama lagi. James mengangguk."Sudah, Ma. Nanti pasti Riri ke sini. Dia kan anak perempuan Mama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD