Bab 13

1072 Words
"Kamu kapan menikah,James?" Papa James ikut nimbrung. Anak sulungnya itu sudah berusia tiga puluh empat tahun, tetapi belum ada tanda-tanda akan menikah. "Enggak tau, Pa," jawab James. "Masalahnya dimana? ayo cerita... siapa tau Mama bisa bantu." "Masalahnya ... yang mau diajak nikah enggak ada." James terkekeh. "Memangnya kamu enggak punya pacar? Begitu banyak wanita di dunia ini... enggak ada yang mau sama kamu?" Mama James menatap James heran. "Bukan, Ma... James mencintai seseorang, tapi ... orang itu sudah menjadi milik orang lain." "Cari yang lain. Masih banyak kok perempuan. Atau... nikahin saja Riri. Sudah jelas kalian kenal dari kecil. Sudah tau wataknya gimana," ucap Papa James santai. "Iya... wanita yang James maksud itu ya Riri, Pa." ucapan James membuat Mama dan Papanya bergerak mendekat. "Serius? Padahal tadi Papa cuma asal sebut." "Mama sebenarnya juga sudah feeling kamu suka sama Riri. Masa iya anak Mama yang ganteng ini enggak bisa suka sama perempuan. Kamu masih normal, kan, James?" "Ih, Mama, James ini normal! Masalahnya Riri enggak mau sama James. Ya... gitu ... Mama tau sendiri,kan, Riri gimana." Mendadak james jadi curhat. Papa James terkekeh."Usaha, dong! jangan kalah sama Jason. Dia jadi rebutan wanita di sana." James memutar bola matanya."Jason, kan, memang tukang tebar pesona. Beda sama anak Papa yang ini." "Papa yakin ... kalau kalian itu berjodoh." James merengut."Ah, papa jangan menaikkan harapan gitu, dong! Masalahnya Riri udah punya pacar. Sekarang lagi ketemuan sama calon mertuanya." "Ya... sabar aja, James." Papa James tertawa. James mendadak kesal karena ditertawakan.  ** Riri berjalan pelan, kepalanya terasa sakit. Pandangannya mulai kabur. Tapi ia yakin ia masih baik-baik saja. Ia masih bisa berjalan sampai di rumah. Teringat perbincangan ia dengan Damar beberapa menit yang lalu. Saat mendadak ibu Damar terkena serangan jantung,dokter meminta agar Damar maupun Devi tidak mengeluarkan kata-kata yang membuatnya shock. "Damar... menikahlah dengan ayu," ucap ibu Damar dengan suara pelan dan terputus-putus. Damar menangis, di sisi lain ia takut kehilangan Ibunya, tapi ia juga tak mau kehilangan Riri. Riri pun menangis, hatinya sakit. Ia tak berdaya, bagaimana mungkin ia harus merusak hubungan antara Ibu dan anak. Pasti rasanya bahagia sekali bisa menuruti apa yang Ibu kita inginkan. Riri bisa tau itu meskipun ia tak dibesarkan oleh ibu kandungnya. Riri keluar dari ruang rawat. "Sayang." Damar memegang pundak Riri, lalu memeluknya."Semua akan baik-baik aja." Riri menggeleng."Mar ... kamu sayang sama aku, tapi pastinya kamu lebih menyayangi Ibu kamu. Dia segalanya,Mar. Turuti apa maunya." Damar menggeleng. "Semuanya masih bisa dibicarakan,Ri,aku yakin. Aku mohon kamu sabar, ya. Jangan langsung ambil kesimpulan begitu. Aku sayang kamu, Ri meskipun hubungan kita baru sebentar." "Aku terlalu munafik kalau aku bilang aku menerima semua ini, Mar. Aku enggak rela jika semuanya jadi begini. Tapi, aku ada di posisi yang enggak enak." Riri masih tetap terisak, tak ada harapan apapun di sini. Ia sudah tak memiliki tempat di hati Ibu Damar."Pergilah ke dalam.Ibu butuh kamu." "Tapi, kita masih baik-baik aja, kan, Ri. Semua ini belum final." Damar terus meyakinkan Riri. Riri berusaha tersenyum meski wajahnya sudah banjir air mata."Aku paham, Mar. Aku pulang dulu, sebelum semuanya semakin memburuk karena kehadiranku." "Ri...." Damar merasa serba salah. Posisi seperti ini sungguh tak mengenakkan. "Tenang, Mar... aku tidak apa-apa. Aku pulang, ya. Salam untuk kak Devi." Riri melangkah pelan. Damar menggapai lengan Riri, memeluknya erat tanpa berkata apa-apa. Cukup lama,menumpahkan segala perasaanya meski tak bersuara. Damar mengecup kening Riri, begitu dalam."Aku hubungin kamu nanti. Kalau semuanya sudah tenang. Enggak akan lama. Aku janji, sayang." Riri mengangguk."Semua baik-baik saja." Riri melambaikan tangan ke arah Damar. Sebenarnya hati itu tak rela,namun semua hanyalah demi kebaikan. Tak ada salahnya ia mengalah. Riri jalan terseok-seok begitu sampai di rumah. Ia tak ingin kembali ke apartemen karena Eve pasti akan langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Apalagi kondisinya saat ini sedang tidak baik, Eve pasti akan langsung memberi tahukan pada James. "Apakah jatuh cinta memang sesakit ini?"  Pikir Riri sambil terus berjalan ke kamarnya. "Aku enggak rela kamu bersama yang lain,Damar. Haruskah aku merebutmu dari wanita itu?" Pikiran-pikiran jahat Riri mulai muncul. Asisten Rumah tangga Riri sempat heran, melihat wajah Riri yang berlinangan air mata. Tapi, ia tak berani bertanya karena ia tak berhak ikut camput.Ia takut Riri akan marah jika ditanya. Riri pergi ke kamar tanpa berkata apa-apa. Saat ini ia hanya ingin tidur. Menghilangkan dan melupakan sejenak masalah yang ada. Eve berjalan menuju ruang James. Sedari tadi ia sibuk mengotak-atik ponselnya mencoba menghubungi Riri. Tapi sejak semalam ponsel Riri tidak aktif. Eve khawatir terjadi apa-apa pada Riri. "Hei, Banci!" Panggilan itu membuat Eve murka. Rasanya ia ingin mencakar wajah Naina sampai tak berbentuk. Namun, berhubung sedang buru-buru Eve mengabaikan amarahnya."James ada, kan? Saya mau ketemu. Sudah ada janji." "Janji apa?" tanya Naina. "Enggak usah kepo. Ini urusan pribadi," jawab Eve ketus. "Kalau urusan pribadi, enggak usah ke kantor. Urusan pribadi di luar sana," balas Naina. Eve menjadi geram, ditahannya emosinya sesaat. Eve langsung membuka pintu ruangan james tanpa peduli Naina mencegahnya. Tapi gerakan Eve lebih cepat, Eve sudah masuk. Naina mendecak kesal dan kembali bekerja. "James!" James menatap Eve bingung."Ada apa, Eve? tumben ke sini sendiri?" "Riri mana?" tanya Eve. "Lagi sama Damar, kan?" Kata James yakin. "Iya, tapi sejak kemarin nomornya itu enggak aktif. Sesibuk apapun, Riri enggak pernah biarin hapenya mati, James. Aku khawatir." James tersenyum."Eve... Riri lagi bahagia. Dia, kan ketemu sama calon mertuanya..., bersama orang dicintai, pasti dia lupa sama hape saking senangnya." "Dih, James! seriusan aku ini panik!" Eve bicara seperti anak kecil yang sedang kesal karena tak diberi uang jajan. "Kemarin aku sempat menghubungi dia,Eve, dia baik-baik aja." James berusaha meyakinkan Eve. Eve menggeleng."Aku tetep khawatir. Aku hubungin aja ke rumahnya, kali ya." James mengangguk."Iya, coba aja." Eve duduk di sofa, sementara James melanjutkan pekerjaannya. "Halg, say. eke panik, nih." "...." "Ya ampun... iya... iya, thanks ya. Daahh." "James!" Eve panik. James meninggalkan pekerjaannya dan duduk di depan Eve."Kenapa sama  Riri, Eve?" "James... bener, kan, feelingku. Pasti Riri ada apa-apa." "Ada apa-apa gimana?" "Si bibik bilang,semalam Riri pulang ke rumah, tapi dalam kondisi kurang bagus. Matanya bengkak, wajahnya sembab, penampilan gak beraturan.Itu bukan Riri banget! Riri kenapa aduh!" Eve panik dengan gaya lentiknya. "Ayo kita ke sana!" James berdiri. "Dia udah pergi, James," kata Eve lagi. James menoleh."Pergi kemana, eve?" "Enggak tau, kata si bibik... pagi tadi sudah enggak ada di kamarnya. Sampai sekarang belum muncul." Eve hampir menangis. "Arrghh..., Ri, kamu dimana." James mengacak rambutnya bingung. "Ini aku hubungin temen-temen yang lain, James. Siapa tau mereka lihat Riri." Eve sibuk dengan ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD