Bab 14

1075 Words
James berpikir sejenak."Sebentar, ya, Eve." James keluar dari ruangannya dan menuju ruangan Damar. Sesampai di sana ia masuk ke ruangan Damar, tapi sayangnya kosong. "Pak, cari siapa?" tanya Bayu. "Damar mana?" "Tidak masuk, Pak. orangtuanya masuk rumah sakit," jelas Bayu. James mendesah."Kamu tau rumah sakitnya dimana?" "Saya tidak tanya,Pak. Tapi bisa saya tanyakan sama Damar," jawab Bayu bingung. Untuk apa James sibuk mencari Damar, apalagi sampai datang ke ruangan Damar langsung. "Tolong kamu tanya, kirimkan alamatnya ke saya sekarang. Saya tunggu!" James meninggalkan ruangan Damar dengan gusar. "Eve... aku mau cari Riri," kata James. "Kemana?" tanya Eve. "Ada ke suatu tempat, kamu gimana? Kamu pulang aja, ya,biar aku cari Riri. Siapa tau orang butik butuh kamu," saran james. "Iya, James,  segera kabari ya kalau udah ketemu sama Riri," pesan Eve. James mengangguk dan berjalan ke luar. Ponselnya berbunyi, pesan masuk dari Bayu yang memberikan alamat rumah sakit dimana Ibunya Damar dirawat. James bergerak cepat, ia hanya ingin memastikan Riri benar-benar dalan keadaan baik-baik saja meskipun hanya dilihat dari kejauhan. James sampai di rumah sakit,mencari ruangan sesuai dengan nama ruangan yang diberikan Bayu. James bengong ketika ruangan itu justru sedang kosong. "Permisi, Pak, saya mau masuk." James mengangguk dan menggeser badannya dari pintu. Diperhatikannya wanita itu sedang mengambil sesuatu dari lemari. Seperti sesuatu yang tertinggal. "Mbak?" panggil James ragu. "Iya?" "Bukannya di ruangan ini ada pasien, ya, mbak? Ibunya temen saya, Damar," ucap James. "Oh, kamu temennya Damar. Saya kakaknya. Ibu kami masuk rumah sakit, tapi ini sudah pulang. Saya ambil barang yang ketinggalan," jelas Devi. "Oh... iya sudah,Mbak. Terima kasih. Oh ya, mbak, kenal dengan Riri?" "Riri pacarnya Damar?" "Iya, Mbak," jawab James lega karena wanita itu mengenal Riri. "Kemarin dia di sini, tapi sudah pulang kemarin," jawab Devi."Oh, ya, Mas... saya lagi buru-buru, sudah ditunggu soalnya. James mengangguk, pikirannya berkecamuk."Ri... kamu kemana? Kamu ngilang lagi, Ri? Kenapa? Dan berapa lama?" James terdiam sejenak, berpikir bagaimana cara ia menemukan Riri. Jika Riri sudah menghilang, tak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya. Jika ingin bertemu, Riri hanya akan datang jika memang itu sudah kemauannya sendiri. Riri memandang Damar dan keluarganya yang tengah sibuk membawa Ibu Damar ke dalam mobil. Perlahan ia mengikuti mobil Damar sampai ke sebuah rumah yang Riri sendiri tidak tau itu rumah siapa. Riri sengaja menyewa mobil dan melakukan penyamaran untuk mengikuti Damar. Tapi, Damar sendiri tidak tahu bahwa Riri sedang mengintainya. Riri mengambil teropong untuk melihat rumah siapakah ini. Tapi sayangnya karena mereka langsung masuk ke dalam gerbang,Riri tak mendapatkan informasi yang pasti saat ini. Satu-satunya cara adalah dengan masuk ke rumah ini. "Damar...." Riri merenung sejenak, mencoba menghubungi Damar dengan nomor barunya. "Halo?" jawab suara di sana. "Mar, ini aku, Riri," kata Riri dengan suara tertahan. "Sayang... maaf aku belum hubungin kamu. Kamu baik-baik aja, kan?" "Tidak, Mar. Hati aku sakit. aku sedang tidak baik-baik aja." Air mata Riri.mengalir. "Iya,sayang. Aku bisa rasain itu. Kamu dimana, sayang?" Suara Damar terdengar seperti orang yang memang benar-benar terluka. "Aku di depan rumah yang baru saja kamu masukin, Mar. Aku ngikutin kamu." "Kamu ngikutin aku? Iya, sayang... sebentar, ya, sebentar lagi aku ke situ. Kamu sabar, ya," kata Damar dengan suara sendu. Hati mereka sama-sama sakit. Rasa sakit, sayang dan rindu bercampur menjadi satu. "Iya, aku tunggu kamu," ucap Riri. Ia ingin segera bertemu Damar, memeluknya, menciumnya, dan membawanya kemana pun yang ia mau. Agar tak satu pun orang dapat merebut Lelakinya itu. "Iya,tunggu di sana. Mungkin sekitar 10 menit lagi. Aku tutup ya, sayang." Damar pun memutuskan sambungan teleponnya lalu mencari cara agar ia bisa keluar tanpa sepengetahuan sang ibu. Damar berhasil keluar dari rumah itu ketika Ibunya sedang tertidur. Devi dan sang Bapak juga tengah istirahat karena kecapekan. Damar mendapati sebuah mobil sedan berwarna hitam parkir di bawah pohon. Tak ada mobil lain, hingga ia memastikan bahwa itu Riri. Damar menghampiri. Riri membuka kaca jendela. "Masuk!" perintah Riri. Damar melihat ke sekeliling, kemudian masuk. Riri memeluk Damar dengan erat. "Hmmm ... sayang." Damar mengusap punggung Riri. Damar tersenyum saat melihat penampilan Riri yang berbeda dari biasanya. Kali ini Riri mengenakan topi dan kacamata hitam. Kaos ketat bewarna merah dan celana jeans selutut. Itu membuatnya semakin terlihat seksi. "Kita harus pergi dari sini." Riri melepaskan pelukannya lalu mengemudi dengan cepat. "Mau ke mana, Sayang?" tanya Damar. "Ke tempat dimana hanya kamu, aku dan Tuhan yang tau," jawab Riri sambil mengerlingkan matanya. Damar memgangguk pasrah."Hati-hati bawa mobilnya." Riri membawa Damar ke sebuah hotel bintang lima yang ia tempati sejak beberapa jam yang lalu. Damar hanya nurut ketika Riri membawanya masuk. Ia hanya diam dan memerhatikan saat Riri mengambil kunci di resepsionist. Riri memeluk Damar dengan erat saat mereka tiba di kamar. Tangisnya pecah. Damar menghirup aroma tubuh Riri. "Sayang,sudah. Aku di sini.Jangan menangis. Semuanya pasti bisa terlewati," bisik Damar. "Aku enggak mau kehilangan kamu," isak Riri. Pelukannya semakin erat. Damar mengangguk."Iya... aku juga enggak mau. Aku sayang kamu." "Jangan nikahi wanita itu!" Riri memberi tatapan memohon. Damar mengusap air mata Riri, mengecup keningny cukup lama. Kemudian, membawa Riri ke tempat tidur ; merebahkan Riri. "Aku sayang kamu, Ri." Dikecupnya setiap lekuk wajah Riri, tak peduli Riri sedang terisak. kecupan berubah menjadi ciuman. Awalnya hanya selesar namun kini berubah menjadi menuntut. Riri melingkarkan kedua tangannya di leher Damar. Kini mereka salimg memagut mesra, meluapkan segala kerinduan setelah beberapa hari tak bercinta. Kesedihan itu sesaat sirna. "Aku ingin memilikimu,Ri. Di sini... Di sini," ucap Damar sambil terus menciumi tubuh Riri. Perlahan ia melucuti Riri hingga tak memakai sehelai benang pun. Hari ini ia benar-benar memuja Riri. Menyentuhnya dengan sentuhan panas dan menggairahkan. "S... sayang,"  "Iya...?" "Aku mencintaimu," bisik Riri tepat di telinga Damar. ucapan itu terdengar erotis di telinga Damar. Nafsunya semakin memuncak. "Aku juga mencintaimu, sayang. Aku ingin memilikimu!"  Damar bergerak dengan perlahan tapi pasti, membiarkan Riri merasakan miliknya dengan penuh cinta. "Jangan sedih, sayang. Kamu milikku!" Gerakan-gerakan indah itu kini menjadi sangat panas. Keduanya seakan sedang dialiri listrik bertegangan tinggi. Damar mengecup wajah Riri terus menerus. Seakan tiada bosannya."Biarkan aku terus di dalammu." Riri mengangguk,memeluk Damar erat."Aku milikmu, Damar." Seharian mereka menghabiskan waktu bersama. Bahkan Damar tak ingin kembali pulang. Ia ingin memiliki Riri sekarang. Ia tak peduli jika Ibunya sudah merencanakan pernikahannya dengan wanita lain. Yang ia inginkan hanyalah Riri. Pikiran Damar melayang, saat ini Riri tengah tertidur pulas di pelukannya. Riri memeluk Damar dengan erat, seolah ia takut ditinggalkan. Damar tak ingin dijodohkan, tapi bagaimana cata mengatakannya. Kini ia berpikir keras, ia ingin semuanya berjalan lancar tanpa harus ada yang tersakiti.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD