James memasuki ruangannya dengan gusar karena tak dapat menemukan Riri. Di tengah kekesalannya, Ia justru mendapati Naina tengah berada di ruangannya, padahal ia sedang keluar.
"Sedang apa kamu di sini?" James menatap Naina dengan mata tajam.
"Nungguin kamu," jawab Naina dengan wajah yang ceria.
"Keluar!" James setengah berteriak, tentunya dengan sedikit nada kemarahan.
"James... kamu kenapa, sih, sejak... kamu bertemu dengan Riri... kamu berubah," ucap Naina tak terima. Hatinya sakit sekali diperlakukan semenea-mena seperti ini.
"Jangan bawa-bawa Riri. Dia tak pernah sedikit pun mengusik hidupmu." James memberikan peringatan pada Naina.
"Itu memang benat, James. Di awal perjumpaan kita,kamu begitu romantis sama aku... dan aku pikir kita bisa menjadi sepasang kekasih." Suara Naina terdwngar begitu pilu.
James memejamkan matanya perlahan; Mengeluarkan napas dengan berat."Iya! Dulu ... awalnya aku memang tertarik padamu, Nai. Hanya tertarik! Tapi, sejak aku tau kau hanya menginginkan hartaku... aku muak setiap kali melihatmu. Jika kau ingin kaya,bekerjalah,bukan dengan mencari pria kaya!"
Ucapan James menjadi tamparan keras untuk Naina. Bagaimana bisa James mendengar pembicaraannya dengan teman-temannya. Kini Naina merutuki kebodohannya.
"Lalu... apa bedanya aku dengan Riri. Dia juga menginginkan hartamu, kan?" Naina memandang james tajam.
"Jangan menuduh orang sembarangan! Kau tidak mengenalnya, Nai," ucap James tak suka.
"Aku memang tak mengenalnya, James. Tapi setiap orang bisa menilai. Dia itu wanita yang buruk!"
"Keluar!" ucap James dengan suara lebih keras.
"James!"
"Kamu dipecat!" James menarik Naina keluar dari ruangannya.
"Aku salah apa?!" tanya Naina tak terima.
"Kau sudah kelewatan. Kau melewati batasmu!" James menutup ruangan dan segera menguncinya. sekretarisnya itu benar-benar keterlaluan. Bukannya meringankan, Kehadiran Naina justru membuat pekerjaannya semakin ribet.
"James!" Naina menggedor pintu ruangan dengan keras. Di dalam sama James tak peduli, bahkan ia menghubungi satpam untuk mengusir Naina.
"James, kamu pasti nyesel udah lakuin ini ke aku," umpat Naina.
"Ri... kamu dimana, sayang? kamu bersama Damar, kah? Beri aku kabar, sayang... jangan seperti ini."James frustasi. Ia sangat mencintai Riri tapi Riri mencintai Damar. Namun, apapun itu ia tetap tak ingin terjadi apa-apa pada wanita yang dicintainya itu. Ia rela tersakiti asalkan ia bahagia. Jika pada akhirnya Riri dan Damar menikah, James sendiri bingung apakah ia bahagia atau malah harus bersedih.
Pernah suatu kali ia berkhayal, tentang bagaimana jika ia dan Riri menikah. James akan membawa Riri ke London. Mereka akan tinggal bersama di sana membina rumah tangga. Memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Sering ia membayangkan Riri tengah mengandung anaknya. Ia akan mengusap perut buncit Riri sepanjang malam. Memberikannya kenyamanan setiap waktu.
Apakah ia bodoh mencintai wanita yang mencintai pria lain? Entahlah, sejak dulu sampai sekarang, siapapun pasangan Riri, kasih sayang dan cintanya tak pernah pudar. Ia selalu ada untuk Riri. James mengambil sebuah frame di laci mejanya. Di dalam frame itu ada foto mereka berdua sedang berpelukan mesra. Foto yang diambil sekitar setahun yang lalu, saat mereka berada di sebuah pesta dan dinobatkan sebagai pasangan serasi.
James tersenyum lirih."Honey...."
**
James tengah menikmati teh hangatnya di kamar. Ia menatap keluar jendela dengan sedih. Hah, dia pria yang lemah. Suara ketukan sepatu membuatnya mengalihkan pandangan.
"Jason!"
Adik James itu tersenyum dengan coolnya. Jason yang terkenal dengan pemikat wanita itu langsung memeluk James.
"Galau, eh? Sampai tidak tau adeknya datang?" Protes Jason.
"Siapa suruh tidak kasih kabar terlebih dahulu. Kapan sampe?" tanya James saat membalas pelukan Jason.
"Sekitar setengah jam yang lalu. Barusan ngobrol sama Mama." Jason memerhatikan wajah James yang tak memiliki gairah hidup.
"Kayak perempuan aja, ngurung di kamar," ejek Jason.
James hanya melirik sekilas dan kembali membuang pandangannya."Lagi pengen menyendiri."
Jason terkekeh."Oh, ya? Yakin? Bukan karena sesuatu?"
"enggak!" jawab james singkat, malas memperpanjang urusan dengan Jason.
Jason merebahkan diri ke tempat tidur James."Kalau cinta itu... diperjuangin. Kejar sampe dapat. Bukan direnungin gitu."
James tersindir dngan ucapan adiknya itu."Kalau gak tau apa apa gak usah ngomong, deh, jas."
Jason tertawa, masih dengan posisinya yang telentang,"jadi maksud kakak... aku enggak tau bahwa sampai sekarang kakak masih cinta sama Riri? Hei... hei... aku seperti anak kemarin sore saja. Bahkan...aku tau kakak adalah laki-laki pertamanya."
James melirik sekilas, ia tetap santai. Ucapan vulgar seperti itu sudah biasa ia dengar dari mulut Jason. "Iya... terserah dengan pemikiranmu. Tapi sekarang ...Riri sudah bersama pria lain. Mereka segera menikah."
"Jadi... seorang James, menyerah?" Jason bangkit dari posisinya dan menatap James dengan lucu."James Julian Morinho,menyerah?"
Jason tertawa terbahak-bahak sampai James kesal dan melemparkan sepatunya.
"Ini... sangat lucu, kak. Seandainya saat ini aku ada di London, aku akan sebarkan berita...seorang James menyerah tanpa berbuat apa-apa. Ck... payah!"
"Terus menurutmu? Aku harus bagaimana?" James melotot kesal pada Jason.
"Cinta memang bikin bodoh! penakluk wanita pun bisa i***t kalau sudah jatuh cinta. Untung adik kakak yang super tampan ini datang. Belajarlah dari adik kakak ini, sang pemikat wanita." Jason berucap bangga.
James tersenyum sinis."Pemikat wanita? Tapi, sampai sekarang masih sendiri. Kasihan!"
"Oh...oh...oh... kakak enggak tau bahwa aku ini pemilih. Jadi, sekarang... belum ada wanita beruntung yang kupilih. Ketampanan... kakak tau sendiri, aku lebih tampan dari kakak. Kesuksesan... ya, lumayanlah." Lagi-lagi Jason membanggakan dirinya sendiri.
"Intinya... kamu tetaplah masih sendiri. Sesama single itu enggak usah saling menjatuhkan!" James meninju d**a Jason pelan, lalu keluar dari kamarnya.
Jason mengejar James yang ternyata pergi ke ruang keluarga, ikut bergabung dengan Mama dan Papa mereka.
"Ah, anak payah!" gerutu Jason saat ia sudah di ruang keluarga.
"Siapa?"
"Kakak!"
"Memang!" Mama mengiyakan.
Jason tertawa puas karena Mama mendukungnya. Jason menatap James dengan senyum kemenangan.
"Jadi,Mama nyuruh anak kesayangan Mama ini datang buat ngejekin James?"
"Hei... aku datang untuk membantumu, Brother. Memberi solusi masalah percintaan. Kakak... saat ini bodoh, jadi... dengarkan dan turuti apa perkataanku." Jason terkekeh setelah kata terakhirnya.
"Ngikutin saran dari seseorang yang juga bodoh?kata James tak mau kalah.
"Sama-sama bodoh, lah. Saling bantu aja." Ucapan papa membuat Jason dan James menepuk jidat bersamaan.
James menatap Mama, Papa, dan Jason, ia merasa ada yang kurang di sini. Pikirannya mulai melayang.
Flash back
"James..., bantuin aku,dong!" teriakan dari dapur membuat seluruh anggota keluarga menoleh.
"Kak, dipanggil tuh sama Tuan Puteri," kata Jason setengah mengejek.
"Kok aku, sih, kamu aja sana!" James menyuruh Jason.
"Yakin?" Jason mengerlingkan matanya menggoda James yang sudah beberapa hari ini selalu panas dingin sejak kehadiran Riri di rumah mereka. Riri datang ke London untuk liburan. Mereka khusus mengundang Riri karena sudah lama tidak bertemu. Riri sendiri sudah seperti anggota keluarga Morinho.
"James,cepat tolongin. Udah 7 tahun enggak ketemu kok, sekarang malah dicuekin." Mama mendorong tubuh James.
James menuruti Mamanya meskipun ia gemetaran, sementara Jason terkekeh.
James berjalan ke dapur, melihat apa yang sebenarnya dilakukan Riri sampai ia harus berteriak memanggil namanya.
"Riri," panggil James saat ia sudah di dapur namun tak menemukan keberadaan Riri.
"James." Riri muncul dari balik pintu.
"Kamu ngapain di luar?" James berjalan ke arah pintu keluar di dapur.
"Sini!" Riri memanggilnya.
James penasaran dan akhirnya ia menemukan pemandangan yang aneh. Taman di belakang terlihat berantakan.
"Kamu ngapain?"
"Aku... tadi mau ambil anak kucing di atas, tapi kepleset, jatuh, dan potnya kesenggol dan berantakan deh." Riri tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Mama bisa marah, tuh, rapiin." James melipat tangannya.
Bibir Riri mengerucut."Bantuin."
James mengangguk dan melirik baju riri yang belepotan."Kamu kotor, tuh."
"Enggak apa-apa, abis beresin ini... aku ganti," jawab Riri.
"Suit...suit... mesranya...." Jason muncul di balik pintu.
James melirik tajam, mengancam Jason agar ia tak melakukan hal barusan lagi.
"Hehe... pada mau ikutan enggak?"
"Kemana?"
"Ke Mall, sama papa sama Mama," jawab Jason.
Riri terdiam sejenak." Enggak,deh, lagi beresin ini. Eh, tapi jangan bilang-bilang Mama, ya!"
Jason tertawa."Oke... jangan khawatir. Kami pergi dulu! Selamat pacaran!"
Ucapan Jason barusan membuat Wajah James merona. Keduanya sibuk merapikan pot yang sebagian tanahnya terhambur keluar.
"Sudah, tinggal bersihin sisa tanah yang berserakan di lantai. Di siram aja,soalnya enggak bisa diambil," kata James.
"Selangnya dimana?" tanya Riri.
"Itu," tunjuk James ke arah sudut taman.
Riri mengambil selang, menyalakannya berkali-kali tapi airnya tidak keluar."James, enggak bisa."
"Masa, sih?" James mengambil selang dari tangan Riri, memerhatikannya sebentar."Pegang sebentar. Aku cek dulu."
Riri menurut,mengintip lubang selang."Aaaa!"
James menoleh cepat dan tertawa geli begitu melihat Riri kena semprot air.
"James," ucap Riri kesal.
James mendekati Riri, menangkup wajah Riri yang basah. Mengusapnya dengan tangannya."Kamu ... kenapa diarahin ke wajah kamu."
Riri tersadar dengan tindakan James, ia memandang James dengan takjub. Begitu juga dengan James yang kini menyadari Riri tengah menatapnya.
"Eh, airnya." James mengambil selang yang tadi terlepas di lantai. Pandangannya terhenti saat ia hendak menyerahkan selang pada Riri. Baju Riri basah. Bukan masalah bajunya itu, tapi mendadak pikirannya kotor sebab isi di dalamnya terlihat dari luar.