Keputusan

1053 Words
Aku kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Bingung dan seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar dari bibir Reynard. Ia akan melakukannya, dan itu berarti aku tidak perlu khawatir, 'kan? Ku harap semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan kami, ku harap papah tidak akan melayangkan pertanyaan yang bisa membuat Reynard merasa tidak nyaman. Akhirnya, setelah 5 tahun terakhir menjalin hubungan Reynard berhasil keluar dari zona nyaman itu dan memberanikan diri untuk menemui Papah. "Kamu udh pulang?" Ibu menyambutku, ia tampak tersenyum ke arahku. "Iya, Mah." "Kamu udah ketemu sama laki-laki itu? Dia mau kan ketemu sama mamah dan papah?" tanya Mamah. Aku mengangguk mengiyakan, "iya, Mah. Reynard mau kok." "Yaudah berarti sekarang semuanya udah aman dong, kamu ga perlu takut untuk apapun lagi. Laki-laki itu dateng, itu berarti dia bener-bener tulus sama kamu sayang." "Iya, Mah. Yaudah Tania masuk kamar dulu ya, mau bersih-bersih soalnya abis dari luar." Aku melangkahkan kakiku menuju ke arah tangga. Satu persatu aku menaiki anak tangga dengan senyum yang terus merekah di wajahku. Setidaknya untuk saat ini aku bisa bernafas lega, Reynard akhirnya mau. Aku tidak perlu merasa cemas lagi akan hubungan kami. Segera ku hubungi sahabatku untuk menceritakan segalanya. ["Apa? Lo serius?"] teriak Desi dari balik sambungan telepon. "Iya, aku tadi ketemu sama Reynard, dan dia mau." ["Wah gila, diluar dugaan banget. Gua bener-bener ga nyangka Reynard seberani itu. Sekarang gimana?"] "Ya ga gimana-gimana sih. Sekarang itu tergantung omongan Papah aku sama Reyn, tapi jujurly aku takut banget." Aku mulai menceritakan semua perasaanku pada Desi, aku menjelaskan betapa takut dan khawatirnya diriku padanya. Aku benar-benar tidak menyangka dan menduganya. ["Ya wajar aja sih kalau lo cemas gitu, gimana enggak coba setelah 5 tahun kalian pacaran baru kali ini Reynard mau ketemu orang tua lo, gua aja ga nyangka banget, Tan."] "Iya sih, tapi tetep aja aku takut. Semoga aja semuanya berjalan lancar, dan papah aku bisa nerima Reynard," timpalku. Kami akhirnya mengakhiri telepon usai berbicara panjang dan lebar. Desi mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan semoga itu memang benar. Jam menunjukkan pukul 7 malam, aku sedang mondar-mandir di kamar sembari terus menunggu kabar dari Reynard. Entah jam berapa ia akan datang ke rumah, firasatku mulai tidak enak. Aku takut dan gugup ia tidak akan datang. Aku mengiriminya pesan untuk menanyakan kapan ia akan datang. [15 menit lagi aku sampe, gausah panik kayak gitu.] Tulisnya melalui pesan singkat yang langsung mampu membuatku merasa jauh lebih baik. Aku telah bersiap, lalu segera turun ke bawah tentunya untuk menemui Papah dan Mamah yang tengah asik menonton TV. Tampaknya Mamah juga sudah tidak sabar. Saat hendak melewati Papah dan Mamah yang tengah asik mengobrol, Papah melirikku. "Laki-laki itu mau dateng?" Aku mengangguk mengiyakan. Tatapan Papah berubah, ia kemudian kembali menatap layar TV yang berada di depannya. Aku menghela nafas dalam-dalam lalu kembali berjalan menuju pintu dan keluar. Aku duduk di kursi taman sembari menunggu Reynard. Ia akan tiba sebentar lagi dan aku benar-benar sudah tidak sabar. Suara mobil yang sangat ku kenali akhirnya terdengar. Aku bangkit dari kursi taman, menatap ke arah gerbang yang dibuka oleh satpam, terlihat mobil Reynard yang mulai memasuki area halaman rumahku. "Dia bener-bener dateng," gumamku dalam hati. Pintu mobilnya terbuka, ia turun lalu menatapku. "Aku dateng," ujarnya. Aku tersenyum ke arahnya, lalu perlahan langkah demi langkah menuju ke arahnya. "Ayo masuk." Aku hendak memegang tangan Reynard tapi ia berhenti, aku menoleh lalu menatapnya dengan tatapan yang bingung. "Kenapa?" tanyaku. "Kamu udah siap kan dengan kemungkinan terburuk yang bakalan kita hadapi malam ini? Aku ga berharap banyak sama hubungan kita apalagi kamu bersikeras supaya aku ketemu Papah kamu, dan itu berarti kamu udah siap jika sewaktu-waktu aku harus pergi 'kan?" timpal Reynard. Ucapannya mampu membuatku bungkam. Bibirku tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun sekarang. Aku bahkan belum berpikir ke arah sana. Aku menggeleng, "kita percayakan ini aja semua sama Tuhan. Aku yakin Tuhan udah ngatur jalan yang baik buat kita, Reyn." "Setidaknya aku udah berusaha untuk siap." "Ayo masuk, Papah sama Mamah aku udh nunggu kamu dari tadi," ucapku untuk mengalihkan pembicaraan. Kami masuk, Mamah menyambut Reynard dengan sangat baik sementara Papah, dia udah siap untuk ngobrol sama Reynard. Aku dan Reynard duduk berdampingan di kursi sementara Papah duduk tepat di hadapan kami berdua. "Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Papah sembari terus menatap Reynard. "Kurang lebih 5 tahun om." "Lama ya. Tapi kamu baru berani muncul sekarang?" "Enggak, Pah. Setiap kali Reynard mau ketemu Mamah sama Papah, Tania selalu nolak dan bilang enggak," potongku langsung untuk membela Reynard. Papah kini melirikku sekilas, "apa pekerjaan kamu?" "Chief Executive Officer, di perusahaan milik keluarga saya, om." "Oke, kita langsung ke intinya aja ya. Kamu serius 'kan sama anak saya? Kalau gitu cepat pinang dia. Kamu bisa?" Deg, kalimat yang papah lontarkan barusan bener-bener diluar dugaanku. Dengan semudah itu? "Saya belum bisa om," timpal Reynard, aku menoleh ke arahnya. "Perlu untuk om dan tante ketahui bahwa saya orang yang berbeda dengan anak kalian. Kayakinan kami berbeda." "Maksudnya kamu non muslim?" Kini Mamah yang mulai bicara. Ia tampak terkejut dengan ucapan Reynard. "Iya, saya non muslim. Itulah alasan utama kenapa saya selalu nolak buat ketemu kalian. Saya udah ngomong jujur terkait pekerjaan saya dan juga kepercayaan saya. Sekarang semua bener-bener ada di tangan kalian." "Kalau gitu kamu udah tau jawabannya. Jauhi anak saya. Kami gak bisa nerima orang yang berbeda keyakinan dengan kami, jadi mending dari sekarang kalian mulai untuk terbiasa ga bareng-bareng. Jujur saya saya bener-bener menghargai keberanian kamu untuk datang kesini dan juga untuk nemuin saya. "Saya bisa ngerti om. Sebelum saya kesini pun saya udah persiapin diri." Reynard menoleh ke arahku yang hanya bisa diam sembari menatap ke arah depan tentunya dengan tatapan kosong. "Saya juga udah siap kehilangan Tania." Deg!!! Ucapan Reynard menghancurkan dinding pertahananku. Tak terasa satu demi satu bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Aku bahkan sudah tidak berani untuk menatap Reynard. Ini benar-benar terjadi tanpa ada persiapan dariku. "Kamu tau kan anak saya teramat sangat mencintai kamu, tapi kami pun ga bisa berbuat apa-apa sekalipun kamu mau ninggalin kepercayaan kamu kami tetap ga bisa nerima kamu. Maaf kalau ini menyakiti perasaan atau hati kamu, nak. Tapi inilah yang sebenarnya. Kami enggak bisa." "Kenapa, Mah?" Aku kini bersuara menatap ke arah Mamah. "Kita bicara nanti, sayang." Aku menunduk, rasanya sangat sakit. Aku kehilangan Reynard untuk selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD