Jam menunjukkan pukul 1 siang, waktunya untuk istirahat. Tania sedang sibuk merapikan meja kerjanya tiba-tiba saja Desi masuk dengan tergesa-gesa tanpa mengetuk pintu.
"Tan.."
Tania menoleh ke arahnya seraya menatapnya dengan tatapan yang bingung.
"Kenapa? Kamu kayak abis di kejar hantu," timpal Tania.
"Jadi traktir gue makan 'kan? Gue udh laper banget. Kita makan di warung Pak Muh aja yuk, baksonya enak banget," cerocos Desi.
"Kamu ga sabaran banget sih Des, bentar aku beres-beres dulu." Tania kembali mengarahkan pandangannya ke arah meja kerjanya yang berantakan.
"Oh iya, tadi gue ketemu Mawar, yang jaga kamar VIP," celetuk Desi. Tania tidak menggubris ia masih sibuk dengan kegiatannya.
"Katanya ada cowo yang dirawat disana terus cowo itu bilang kalau lo itu dokter pribadinya."
Tania berhenti, ia melirik Desi.
"Itu Reynard 'kan? Dia dirawat disini gara-gara mabuk-mabukan semalem? Kok lo ga cerita sih sama gue?"
"Aku bukannya gamau cerita tapi aku lupa aja. Lagian mau dia dirawat disini atau enggak ya urusan dia lah." Tania mencoba untuk terlihat tidak peduli.
"Bukannya urusan lo juga? Lo kan dokter pribadinya. Rawat dia dengan baik, sebelum dia keluar dari sini setelah dia keluar lo pasti ga punya alesan lagi buat cari tau kabar dan kondisinya dia," imbuh Desi.
Tania menghela nafas pelan, "udah yuk katanya kamu mau di traktir." Tania mengambil tasnya lalu segera berjalan menuju pintu.
"Tania, gue tau gimana perasaan lo. Lo ga perlu nutupin itu dari gue karena gue tau banget. Lo pasti khawatir banget sama Rey, lo gausah pura-pura di depan gue."
"Des, aku gamau bahas ini lagi ya. Biarin semuanya berjalan sesuai alur, aku gamau ambil pusing masalah ini. Udah ya?" Tania menatap lekat-lekat manik mata sahabatnya yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Desi mengangguk mengiyakan, "yaudah, sorry. Gue serahin semuanya sama lo. Inget, gue bakalan selalu ada di belakang lo buat support apapun jalan yang lo pilih. Jangan ngerasa sendiri, gua ada disini."
"Iya, thank you."
Tania dan Desi pun pergi bersama ke warung pak Muh seperti yang Desi minta. Warung ini cukup terkenal karena rasanya sangat enak.
Saat Tania tengah asik menyeruput secangkir teh manis yang berada di hadapannya, ia terkejut ketika mendapat pesan dari ayahnya.
[Kalau bisa hari ini kamu pulang cepet, Papah ada tamu yang katanya pengen kenalan sama kamu] tulis Ayahnya melalui pesan singkat.
Tania bingung, tamu siapa yang ayahnya maksud. Ini baru pertama kalinya ayahnya memintanya untuk pulang lebih awal.
"Kenapa?" tanya Desi yang sepertinya tau ada sesuatu yang mengganggu pikiran sahabatnya.
"Enggak, bukan apa-apa. Papah cuma pengen aku pulang cepet aja. Dia khawatir kali," balas Tania.
"Iya, wajar sih. Secara lo akan anak satu-satunya. Eh btw, baksonya enak banget 'kan? Gak rugi gue nahan laper dari tadi pagi."
Tania hanya tersenyum melihat tingkah absurd sahabatnya ini. Disisi lain Tania kembali memikirkan Reynard, entah bagaimana kondisinya saat ini.
***
Jam menunjukkan pukul 17.15 WIB. Hari ini hari yang cukup melelahkan bagi Tania. Banyak pasien yang harus ia tangani hari ini, tapi semuanya berjalan sesuai dengan keinginan. Tania mulai merapikan barang-barangnya untuk bersiap pulang ke rumah.
Sebelum beranjak, Tania menelpon Mawar untuk menanyakan bagaimana kondisi Reynard.
"Gimana kondisinya pasien atas nama Reynard, sus?"
"Baik kok dok, udah mulai membaik."
"Yaudah, tolong handle ya. Besok saya bakalan pantau perkembangannya. Kalau gitu saya tutup dulu teleponnya soalnya buru-buru ada yang perlu di kerjain."
"Iya dok, selamat istirahat dan selamat beraktifitas."
Tut tut tut!!!