Masuk Rumah Sakit

1054 Words
Pagi ini Tania bangun lebih awal setelah ia harus memaksa dirinya tidur semalam. Ia membuka tirai jendela kemudian membuka lebar-lebar jendela kamarnya, ia membiarkan udara di pagi hari memenuhi kamarnya. Ia melirik Desi yang masih asik tidur di bawah selimut tebal. Tania kini bergegas menuju kamar mandi, tentunya untuk mandi dan bersih-bersih. Tepat saat ia keluar dari kamar mandi, rupanya Desi juga sudah bangun. Ia terlihat sibuk mengecek ponselnya sembari bersandar di tepi ranjang. "Lo bangunnya pagi pagi banget," celetuk Desi yang masih asik menatap layar ponselnya. "Iya nih, kebangun aja tiba-tiba. Kamu ga mau mandi dulu gitu?" usul Tania. "Gue pengen mandi sih, udah gerah banget ni badan." "Yaudah mandi dulu aja, terus kamu pakai bajuku dulu. Ntar biar barengan ke Rumah Sakit sekalian mampir ke rumah kamu dulu," ujar Tania. "Iya, lo bener juga. Gue mandi ya!" Ia meletakkan ponselnya di atas meja nakas lalu bergegas berjalan masuk ke dalam kamar mandi sementara Tania ia mulai mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hairdryer. Ia terlihat lebih segar hari ini tentunya karena ia keramas. Wajahnya juga tampak bersinar. Usai mengeringkan rambutnya, Tania kemudian mengikat rambutnya lalu mulai memoles wajahnya tipis-tipis. Ia hanya memakai sunscreen, cream wajah, powder, eyeliner, blush on, kemudian lipcream. Hari ini Tania menggunakan celana kulot hitam dengan baju style kimono berwarna maroon lalu tidak lupa ia memakai kartu tanda pengenal di lehernya. Untuk jas dokter, ia tidak memakainya ia hanya memasukkannya ke dalam tas. Setelah siap-siap Tania dan Desi segera turun dari kamar, saat menuruni anak tangga mereka berdua terkejut karena sepagi ini Ibunya Tania belum keluar dari kamar, sedangkan ayahnya tengah asik membaca koran dengan kopi yang berada di meja. Mereka berdua memutuskan untuk bergegas berangkat ke rumah sakit. Hari ini Tania dan Desi tidak sarapan di rumah. Mereka memutuskan untuk sarapan di rumah sakit saja, terlebih lagi situasi di rumah Tania saat ini masih campur aduk, Desi juga tidak mau membuat suasana canggung diantara keluarga Tania. "Kita makan di kantor aja kan?" tanya Tania untuk memastikan. "Iya." "Kamu ga laper-laper banget 'kan? Sorry banget ya, nyokap aku belum sempat masak tadi." "Gapapa kali. Lo tuh ya kek sama siapa aja tau, gue jadi bingung liat cara lo memperlakukan gue," balas Desi. "Ya aku ga enak aja. Masa kamu nginep di rumah tapi ga dikasih makan." "Gini aja, ntar lo traktir gue makan ya buat lunch. Kalau sarapan biar gua yang handle, tapi kalau lunch lo ya!!" Desi mulai membuat kesepakatan yang langsung mendapat anggukan dari Tania. "Okay deh, itu bisa di atur. Tenang aja." Tania menghela nafas pelan, sejak semalam seusai menerima telepon dari asisten pribadi Reynard, Tania tak kunjung mengaktifkan ponselnya. Rasanya benar-benar aneh, banyak perubahan yang terjadi padahal mereka baru saja mengakhiri hubungannya tapi kekosongan dan kehampaan itu mulai terasa nyata. Desi melirik Tania yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Desi tau ini menyangkut Reynard. "Lo ga mau nanyain gimana kabarnya Rey, Tan?" Tania menggeleng, ia menolak. "Gue tau sekarang lo lagi mikirin Reynard 'kan? Lo gausah nutupin itu dari gue. Gue tau lo pasti khawatir banget karena Rey sampe mabuk-mabukan gitu. Gausah malu sama gue, gue bisa ngerti gimana perasaan lo sekarang," imbuh Desi. "Enggak, aku bukan mikirin dia. Aku lagi mikirin soal kerjaan dan tanggung jawab aku yang ga terhandle kemaren gara-gara aku cuti. Pasti banyak yang kewalahan." Tania terus mengelak, tapi Desi tidak mudah percaya. Ia tau seperti apa sahabatnya itu. "Yaudah kalau lo masih bersikeras buat nutupin hal ini dari gue, its okay. Tapi gue yakin ntar kalau udah sampe lo pasti bakalan langsung telepon dia, iya kan?" Desi mulai menggoda Tania, ia cekikikan melihat tingkah sahabatnya yang seperti malu-malu kucing itu. Tania tidak menggubris, ia tetap fokus mengemudi. Sesampainya di parkiran, Tania dan Desi pun turun. Mereka berdua berjalan beriringan untuk melakukan cek lock, setelah itu Tania berjalan menuju ruangannya, sementara Desi menuju ke area tempat istirahat para perawat untuk mulai bersiap-siap. Ketika Tania hendak membuka pintu ruangannya, tiba-tiba datang seorang perawat menghampiri dirinya dengan begitu tergesa-gesa. "Selamat pagi dokter," sapa perawat itu. "Iya, pagi. Kenapa Mawar, kok kayak buru-buru gitu?" tanya Tania. "Ada pasien dok, di kamar VIP katanya dia itu pasien rawat jalannya dokter Tania, makanya dia mau diperiksa sama dokter gamau sama dokter yang lain." "Atas nama siapa?" "Tuan Reynard," imbuh perawat. "Rey? Dia masuk RS? Dia kapan datang kesini?" tanya Tania yang mulai penasaran. "Semalam dokter, beliau dalam kondisi tidak sadarkan diri." Tania menghela nafas pelan, "yaudah kamu tunggu disini nanti kita ke ruangannya barengan, ya?" "Iya, dokter." Tania segera masuk ke dalam ruangannya, ia memakai jas dokter miliknya, lalu memakai stetoskop. Kemudian segera keluar untuk menemui perawat tersebut. "Ayo." Mereka segera menuju ke lift untuk membawanya ke kamar rawat inap VIP yang berada di lantai 7. Saat pintu lift terbuka, Tania mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia kemudian melirik perawat yang datang bersamanya. "Di kamar A4 dok." Tania mengangguk, ia kemudian berjalan ke arah kamar yang dimaksud sementara perawat tersebut menuju ke arah receptionist untuk mengambil beberapa alat-alat medis. Tania mengetuk pintu, lalu seseorang membukanya. Ia terlibat seperti pengawal pribadi. "Silakan masuk," ucap pria tinggi dengan setelan rapih berwarna hitam. Tania masuk, Rey terlihat terbaring di kasur menatap ke arah jendela dengan tatapan yang kosong. "Reynard," panggil Tania. Reynard yang tampaknya sedang melamun itu menatap Tania, ia seperti tidak menyangka kalau Tania kini berada di depannya. Ia kemudian menarik tangan Tania lebih dekat lalu memeluknya. Reynard menghirup aroma tubuh Tania yang setiap kali membuatnya merasa candu. "Aku kangen banget sama kamu, aku gamau kehilangan kamu." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibirnya Reynard. Tania tidak menggubris, ia tampaknya bingung harus bereaksi seperti apa. Tania meminta Rey untuk tetap menjaga batasan disini karena mereka berada di rumah sakit, Tania tidak ingin orang-orang akan berpikir aneh tentang mereka berdua. "Aku bakalan cek kondisi kamu. Cairan infus udah masuk berapa kantong?" tanya Tania untuk mengalihkan pembicaraan. "Ini kantong yang ketiga," jawab Reynard. Tania melirik cairan infusnya, ia kemudian mengubah kelancaran infus agar lebih lambat. "Kamu harus banyak-banyak minum air putih terus makan buah juga. Untuk sekarang dan nantinya, jangan coba-coba buat minum minuman soda dan yang beralkohol." "Kenapa aku ga liat tanda tanda kamu khawatir?" tanya Reynard. "Untuk obat dan yang lainnya akan di urus sama Mawar, aku bakalan sering-sering datang ngecek kondisi kamu," balas Tania. Reynard hanya mengangguk mengiyakan saja kemudian Tania berlalu meninggalkannya di susul oleh perawat tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD