Dreet dreet dreet!!
Ponsel Tania berdering, ia membuka matanya perlahan lalu mulai meraba-raba meja nakas yang berada tepat di sebelahnya. Ia sesekali melirik Desi yang tengah asik tertidur pulas.
Nomor tidak dikenal mengganggu dirinya di pagi pagi buta. Tania bahkan tidak berniat mengangkat telepon itu karena khawatir itu hanya telepon iseng saja.
Tetapi saat ia coba untuk mengabaikan telepon itu, ia justru terus diganggu dengan terus-menerus menelepon. Tania merasa sangat kesal dan dengan terpaksa ia mengangkat telepon itu untuk rau siapa yang mengganggunya di pagi-pagi buta seperti ini.
"Halo?"
["Halo non Tania, ini asisten pribadi pak Reynard."] timpal seorang pria dari balik sambungan telepon.
"Oh bapak, iya kenapa pak?"
["Maaf kalau saya mengganggu di jam seperti ini non, tapi sejak tadi Pak Reynard terus-terusan manggil nama non Tania. Pak Reynard kayaknya lagi banyak pikiran sampe mabuk-mabukan non."]
"Siapa?" tanya Desi. Tania menoleh ke arahnya.
"Asisten pribadi Reynard, dia nelepon aku kalau Reynard lagi mabuk-mabukan. Aku harus gimana?" jawab Tania. Ia masih bimbang.
"Sini biar gue yang bicara." Desi menarik ponsel itu dari tangan Tania.
["Non?"]
"Pak, maaf banget ya. Temen saya udah ga ada urusan lagi sama Reynard jadi kalau dia mabuk-mabukan mending lapor ke polisi aja, jangan ganggu temen saya. Ini jam 2 pagi loh pak, besok dia mau berangkat kerja. Jadi tolong hadapi sendiri aja tingkah bos bapak itu!"
Setelah mengatakan hal itu, Desi langsung mengakhiri sambungan telepon. Ia mematikan ponsel Tania lalu memberikannya kembali. Tania hanya menatap Desi dengan tatapan bingung dan tidak menduga apa yang telah Desi lakukan.
"Kamu.."
"Tania, jangan bilang kalau lo simpatik. Please deh, jangan lakuin itu atau lo bisa buat gue gila. Gimana enggak lo pikirin terus dianya coba kalau lo itu selalu aja mau terlibat urusan sama dia, coba deh sesekali gausah peduli gitu. Bisa 'kan? Lo ga denger tadi gimana tingkahnya dia? Dia mabuk-mabukan setelah dia mutusin hubungan kalian, bener-bener gila kan?"
"Tapi... Dia manggil-manggil nama aku."
"Terus? Lo mau kesana gitu? Liat kondisi dia yang mabuk-mabukan?" balas Desi.
Desi kembali merebahkan tubuhnya dan kembali menutup matanya. Ia kembali tidur sementara Tania hanya diam dan larut dalam pikirannya sendiri. Ia cemas dan khawatir, Reynard jika sudah mabuk-mabukan itu berarti pikirannya benar-benar sedang kacau balau. Tapi Tania hanya diam disini tanpa tau harus berbuat apa.
"Kenapa untuk sekedar pura-pura ga peduli sama kamu aku ga bisa? Kamu kenapa kayak gini sih? Kamu kenapa buat semua orang susah Rey?" gumam Tania.
Ia tidak bisa melakukan hal yang banyak, ia hanya bisa berharap semoga Reynard baik-baik saja.