Tania menundukkan kepalanya, apa yang terjadi hari ini benar-benar diluar kendali. Ia tidak menduga akan segampang itu ia harus kehilangan Reynard.
Tania melirik ibunya sekilas yang sedari tadi seperti menunggu penjelasan langsung darinya.
"Kamu mau bahas soal ini sekarang sama Mamah atau nanti? Mamah punya banyak pertanyaan buat kamu, dan kamu wajib buat cerita semuanya ke Mamah," ujar Ibu Tania dengan tegas.
"Iya, Mah. Tania tau, Tania ngutang penjelasan sama Mamah," balas Tania.
"Kenapa harus laki-laki seperti dia? Kalian jalin hubungan ini selama 5 tahun? Kamu udah gila apa nak? Gimana mungkin kamu bisa jalin hubungan sama orang seperti dia tanpa sepengetahuan Mamah sama Papah?! Mamah bener-bener ga nyangka banget."
"Maafin Tania, Mah."
"Mamah udah ngomong hal ini entah kesekian kalinya. Di keluarga kita dilarang keras buat jalin hubungan sama orang yang berbeda keyakinan, tapi kamu justru bersikeras dan bahkan nutupin hal sebesar ini dari kami? Apa kamu ga mikir dulu apa?" Ibu Tania terlihat marah besar, dari raut wajah dan nada bicaranya yang seakan-akan mengintimidasi.
"Tania juga gatau kalau bakal jadi kayak gini. Tapi asal Mamah tau, Reynard itu baik banget sama Tania, Mah. Dia juga sayang banget sama Tania," ucap Tania membela diri.
"Percuma. Kita ga perlu soal sayang dan cinta itu. Itu ga berguna, kalian itu beda. Harusnya dari awal kamu mikir kalau hubungan kalian sampai kapanpun ga bakal pernah berhasil. Kalau dari awal kamu cerita ke Mamah atau Papah, kita ga mungkin hadapin hal ini hari ini."
"Liat, Mah. Aku pikir, ketika Papah ga bakalan dukung ini Mamah ya bakalan berdiri di barisan depan untuk dukung aku, tapi ternyata aku salah. Aku terlalu berharap lebih sama Mamah. Ga bakalan ada yang peduli soal perasaan Tania, Mamah ga peduli gimana besarnya perasaan Tania 'kan? Cepat atau enggaknya Tania cerita juga ga bakal ngerubah apapun 'kan?" Setelah mengatakan itu Tania bangkit dari kursinya lalu segera berlari menaiki anak tangga, mengunci diri di kamar.
Tania langsung mencari hpnya, ia segera menghubungi Reynard. Tapi sayangnya ponsel Reynard tidak bisa di hubungi. Tania benar-benar frustasi. Satu orang yang satu ini terbersit di otaknya, dia hanyalah Desi.
"Desii!"
["Halo? Kenapa? Ada berita apa? Lo kayaknya excited deh. Ayo cerita!!"]
"Des, aku hancur banget!!".
["Hah? Lo kenapa Tan? Kenapa lo nangis? Lo gapapa kan? Gue kerumah lo sekarang, tungguin gue!"]
Tut tut tut!!
Desi mematikan ponselnya secara sepihak, tapi setidaknya itu lebih baik kan daripada Tania harus sendirian menghadapinya.
Tania membuka galeri hpnya, disana banyak sekali foto-fotonya bersama Reynard di galeri. Foto-foto yang selalu ia simpan sejak 5 tahun terakhir.
Desi tanpa fikir panjang langsung datang ke rumah Tania dan menemuinya.
Tok tok tok!!!
Setelah berbincang sebentar dengan ibunya Tania, Desi di persilahkan masuk ke kamar Tania.
"Tan..," panggil Desi. Tania menoleh dengan mata sembabnya. Desi langsung menutup pintu kembali lalu segera menuju ke arah Tania.
"Lo kenapa?" tanya Desi dengan wajah yang cemas.
"Rey ga bisa di hubungi, aku udh coba berkali-kali. Dia bener-bener mau ninggalin aku, Des."
"Kalian berantem?" tanya Desi kembali, ia masih tidak memahami situasi yang terjadi saat ini.
Tania menggeleng, "enggak. Tapi orang tua aku ga setuju Des, mereka minta Rey buat jauhin aku dan jangan temuin aku lagi. Mereka bener-bener egois dan ga mikirin perasaan aku sama sekali. Aku gatau lagi harus gimana, perasaan Rey pasti hancur banget sekarang tapi aku ga bisa buat apa-apa." Tania menunduk.
"Gue ga tau harus bereaksi kayak gimana, tapi setidaknya kalian udah nyoba. Seharusnya dari awal lo udah persiapin diri lo buat kehilangan Reynard karena emang dari awal kalian itu ga bisa bareng-bareng. Gue tau banget ini pasti ga mudah buat elo ataupun Reynard, tapi lo mau gimana lagi selain udahin hubungan kalian? Mau kalian nyoba beberapa tahun lagi ya pastinya ga bakal dapet apa-apa, jadi mending dari sekarang kan lo belajar buat ikhlas? Lo cantik, baik, pengertian, siapa lagi yang gak mau sama lo? Banyak banget yang mau sama lo kok Tan, bahkan mungkin aja lebih dari Reynard," ucap Desi menasehati.
"Des, kamutau kan ini ga mudah buat aku? Aku belum bisa."
"Lo harus belajar buat bisa. Sampai kapan lo terus berada di titik ini dan terus menerus merasa terpuruk kek gini si?"
Tania menghela nafas dalam-dalam. Tidak ada toleransi untuk terus sedih dalam kamus Desi, ia akan terus-menerus membuat Tania agar tidak berlarut-larut dalam kesedihannya serta menyalahkan dirinya sendiri.
"Malem ini gue ga pulang, gue bakalan nemenin lo disini, gue ga bakalan ninggalin lo, Tan," ujar Desi.
"Des, kalau aja kamu cowo aku pasti bakalan langsung mau nikah sama kamu. Anyway makasih ya, berkat kamu aku udh ngerasa lebih baik lagi sekarang ya walaupun kata-kata kamu sedikit nyelekit tapi gapapa," balas Tania.
"That's why gue ga punya cowo maybe itu karena elo deh. Huft, gue kayaknya harus buru-buru cari cwo deh."
Tania menarik Desi ke dalam pelukannya, sejak mereka bersahabat hanya Desi-lah yang paling mengerti dirinya, ia merasa lebih baik ketika Desi bersamanya.
"Semoga kamu dapetnya cowo yang bener-bener baik terus seiman sama kamu ya," bisik Tania yang langsung mendapatkan tepukan dari pundaknya oleh Desi.
"Lo ngeledek gue ya? Jahat banget sih."
Malam ini Tania dan Desi habiskan untuk sekedar bercanda bercerita, ya setidaknya Tania bisa merasa lebih baik sekarang. Tapi di lain sisi, Reynard masih berada diantara luka-luka itu.
Ia memasuki sebuah bar, lalu mulai minum alkohol tanpa rasa ampun. Banyak perempuan yang datang menggodanya tapi tak ada satu pun yang berhasil menarik perhatiannya. Ia menghabiskan 5 botol alkohol seorang diri.
"Gue sayang banget sama dia, tapi hari ini gue dipaksa harus ngelepasin dia. Ga adil banget!!"
Reynard kembali meneguk gelasnya hingga tandas.
"Apa gua bisa buat lupain dia ya?"
"Apa Tania baik-baik aja tanpa gua?"
"Apa dia bakalan dengan cepet gantiin posisi gua di hatinya ya?"
Pertanyaan-pertanyaan ini terus menari-nari di otaknya. Ia takut jika Tania akan melupakan dirinya dengan mudah. Tapi tampaknya ia tidak bisa melakukan apapun selain pasrah dengan keadaan. Ia tau semua pasti akan seperti ini, jadi harusnya ia sudah mempersiapkan dirinya sendiri kan?
"1 botol lagi!!" teriak Reynard dengan wajahnya yang merah, ia benar-benar sudah mabuk sekarang. Belum sempat ia meminum botol yang terakhir, seorang pria paruh baya langsung datang dengan sigap menarik dirinya dan membawanya keluar dari bar. Dia adalah asisten pribadi Reynard.