Butiran salju berubah menjadi rintik air. Tidak deras, tetapi cukup membekukan kulit t*******g. Melintasi area pertokoan yang mulai menyalakan lampu tatkala Lisy menjejakkan kaki di sepanjang koridor, demi melindungi diri dari rintik yang menusuk. Hampir di setiap toko dan perumahan yang dilalui masih memajang ornamen hiasan natal. Mereka tidak akan melepasnya hingga perayaan Valentin tiba. Meski tidak semua penduduk Albania merayakan natal, sebagaimana tercatat Albania adalah salah satu negara Eropa Timur yang sebagian besar penduduknya Muslim.
Lisy dan Jusuf memiliki cafe dengan spot yang kebanyakan orang cari di Kota Debar. Kota yang terletak di bagian barat Macedonia ini berbatasan langsung dengan Albania dan penduduknya pun sebagian besar dari etnis Albanian. Meski di cafe mereka tidak menjual minuman beralkohol, tetapi tidak mengurangi tingkat kedatangan tamu. Musim dingin biasanya waktu paling sibuk di cafe.
Menjalani hari diperayaan natal kali ini, Lisy teringat kenyataan tentang keluarga besarnya sebagai penganut Katolik ortodok. Disebagian tempat di Eropa dan Rusia, orang-orang Katolik ortodok merayakan natal pada tanggal 7 Januari. Ia membayangkan saat ini berada ditengah kehangatan keluarga tercinta. Menghabiskan waktu kebersamaan yang istimewa.
Kenyataannya, di Macedonia Lisy dan Jusuf tidak pernah merayakan hari kebesaran itu, karena sejak dirawat Jusuf ia menemukan dirinya sebagai seorang Muslim. Apakah betul Jusuf bagian dari keluarga besarnya? Ia semakin tak yakin jika lelaki itu adalah ayah kandungannya. Ingatan itu kembali menguatkan niat untuk segera menemukan keluarganya.
Pikirannya kembali tertuju pada pertemuan di kantor kedutaan besar Macedonia tadi. Ia belum bisa menyerahkan dokumen untuk dilegalisir, karena sang duta besar tengah tak berada di tempat dalam dua pekan ke depan. Kegalauan kembali meremas-remas hati gadis pirang. Ia benar-benar hampir menyerah.
Mendadak Lisy menghentikan langkah, tepat di depan sebuah restoran mewah saat kedua matanya menangkap sosok tak asing berjalan menujunya dari arah berlawanan. Seperti bayangan yang menghantui, entah harus berapa kali ia bertemu Guterez di setiap tempat yang ia lalui. Betul ucapan Dime tempo hari, Guterez sepertinya memiliki pengaruh besar di Albania. Demi menghindari tatap muka dengan nyonya besar itu, Lisy menyelinap perlahan memasuki restoran.
Seseorang dalam balutan hitam putih menyambut dengan ramah. Lisy mencoba menenangkan diri sebelum hanyut pada kebingungan, karena tak bermaskud untuk menyantap makanan di sini. Jelas saja, semua menu dipatok dengan harga minimal 25 dolar atau sekitar 2500 Lek.
"Hai, Nona. Apakah anda kandidat yang mau mengikuti wawancara pekerjaan hari ini?" Tiba-tiba suara bariton membangunkan alam bawah sadar Lisy yang sekian detik melayang.
Ia membeliak kaget ke arah pria berambut ikal dengan tatapan yang sepertinya tepat, bahwa penampilan Lisy bukanlah datang sebagai tamu. Ia lantas menunjuk diri dengan telunjuknya sekadar untuk meyakinkan seseorang itu bicara kepadanya.
"Ya, anda. Jika anda salah satu kandidat, bisa langsung menemui Chef di rungan luar melalui pintu belakang." Seorang berpakaian rapi itu menunjuk arah yang dimaksud.
Masih dalam kebingungannya tetapi dengan kesadaran penuh, gadis itu melangkah mantap ke tempat yang ditunjuk. Senyuman tergurat jelas di raut yang semula kusut. Anggap saja ini adalah putaran roda keberuntungan. Siapa tahu mendapat lucky draw dengan menemukan pekerjaan sesuai passion yang dikerjakan selama mengurus cafe-nya.
***
Setelah mengantongi surat perjalanan yang Nyonya Guterez kirim via email pribadinya, Luby dan Oga bersiap menuju Kota Vlore. Tujuan utama mereka adalah museum yang sangat melegenda, Muzeu Historic.
"Kenapa Vlore?" tanya Oga saat menunggu transportasi.
"Kota lain masih banyak museum yang keren di sini seperti museum sejarah di Shkoder, museum arkeologi di Pojan dan Durres, atau museum etnograpi di Kruja." Oga menyebut satu per satu museum yang ada di Albania.
"Ada dua museum sejarah di Vlore, salah satunya Muzeu Historic. Di museum itu ada jejak peninggalan pahlawan Nasional Albania, Avni Rustemi sebagai salah satu hal yang menarik dari museum itu." Luby menerangkan.
"Avni Rustemi?" Oga mengulang nama sang patriot dengan nada tanya.
"Iya, nanti gue ceritain lengkapnya di sana, deh. Lu, pasti suka."
"Setelah ini, apa masih ada tempat lain yang perlu dijadikan objek penelitian, By?"
"Sepertinya begitu."
"Berapa banyak, Bro? Emang gak cukup dengan beberapa tempat sebelumnya?" Oga berdecak kagum dengan kegigihan Luby dalam menyelesaikan sesuatu. Detail dan terarah. Bukan tanpa alasan ia mengulur masa kuliahnya.
"Masih kurang banyak. Meneliti museum itu menyenangkan, Ga. Salah satunya Albania memiliki sejarah Islam yang unik saat dibawah penjajahan Ottoman Empire." Luby si penyuka sejarah, bahkan ingin mengunjungi semua museum di berbagai negara. Tidak hanya sejarah Islam saja, ada berbagai catatan sejarah Dunia dalam binder pentingnya.
Sayangnya, hal tersebut tidak menarik bagi sang papa. Argan lebih menginginkan Luby menjadi pengusaha seperti dirinya. Lelaki Bandung itu meyakini jika perusahaan terus berlanjut, maka roda kehidupan akan tetap stabil. Hobi dan minat, tidak terlalu penting bagi Argan. Karena manusia hidup, ya butuh uang. That's it!
"Kesukaanmu yang mana yang tidak bisa dibeli jika kau punya yang dan kuasa, Luby." Kata-kata Argan seolah menusukkan doktrin bahwa kebahagiaan adalah mutlak hanya dengan uang. Sebab itu, Luby memanfaatkan semua fasilitas yang diberikan Argan hanya untuk membuktikan ucapan papanya.
"Satu atau dua negara yang gue jadiin objek penelitian kurang cukup membuktikan bahwa jejak Kerajaan Ottoman itu pernah ada. Harus menuju ke beberapa negara lain yang pernah jadi jajahannya. Kalo Turki sendiri mengakui itu, karena akar kekuasan Ottoman emang dari sana." Luby menambahkan.
"Kalo gak salah, area jajahannya sampai ke perbatasan Semenanjung Krimea," tutur Oga yang diiringi anggukan Luby. "Tapi bolehkah gue heran sedikit?" Pertanyaan Oga membuat Luby berhenti memotret.
"Tentang?" Luby mengernyit.
"Tentang elu. Gue kagum dengan penelitian lu, tapi ada yang beda dari kelakuan lu yang agak laen soal perempuan. Seperti...." Oga tak melanjutkan kata-katanya, ia hanya memeragakan adegan berciuman dengan gerak jemarinya.
Luby terbahak lepas. "Gue paham maksud lu, Ga." Lalu kembali melanjutkan membidik kamera ke titik cantik sudut Vlore yang mulai tampak dari balik jendela mobil.
Sebuah kendaraan pribadi yang membawa mereka menuju Kota Vlore sudah tiba di pusat kota. Keduanya bergegas meloncat turun. Luby terus membidikkan kamera ke setiap sudut.
"Saya sudah pesankan kamar untukmu di sebuah penginapan. pesan apa pun yang kau butuhkan, tunggu panggilanku selanjutnya untuk mengunjungi tempat lain." Luby memberitahu sang sopir seraya mengirimkan bukti reservasi melalui pesan online.
"Baik, Tuan. Terima kasih." Pria berompi abu pun segera berlalu.
Luby mulai fokus dengan targetnya. Sampai kedua matanya menangkap sosok mungil yang sebulan ini mengacak-acak mood dan pikirannya.
"Kok, bisa daya acaknya luar biasa rubah kecil itu." Luby mengalihkan fokusnya ke sudut bangunan tua dengan papan bertuliskan "Kantor Wilayah Walikota".
"Maksud lo?" Oga mengikuti kemana arah pandangan Luby.
secepat kilat Oga tak lagi melihat Luby di tempatnya.
***