"Jadi gegara tuh, cewek lo telat waktu itu?" Oga masih ingin memastikan tebakannya.
"Gak sengaja, gue kasian liat tuh cewek dikejar bangsater di sini." Luby mencoba menjelaskan.
"Serius, lo?" Oga setengah tak percaya.
"Seriusan. Apa gue terlihat sedang berbohong? Makanya gue ketiban s**l mulu. Tidak ada terima kasih, keras kepala pula. Jadi pantas kalo gue akan jadikan rubah kecil itu mainan baru," ucap Luby asal seraya menyunggingkan bibirnya sebelah.
"Heh! Sembarangan, lo. Bener kata, tuh, cewek, gunakan otakmu." Oga terbahak mengulang kata-kata terakhir Lisy untuk Luby.
"s****n, lu!"
"Lagian, lo calon professor masa' percaya ma sugesti begituan." Oga masih terdengar meledek Luby. "Terus dompet lo gimana?" lanjut Oga heran kenapa Luby tak merasa panik. Sementara Oga tahu benar kartu-kartu penting yang Luby miliki.
"Gue udah minta bantuan kenalan Papa untuk ngurus semuanya. Lagian siapa juga yang doyan kartu. Paling duitnya doang diambil." Luby menjawab enteng. Oga hanya menggeleng.
"Eh, terus lo ajak kenalan, dong, tuh, cewek. Namanya siapa?"
"Entah!" Luby melengos seraya mengedikkan bahu.
"Hmmm, payah!" Oga masih terus menggoda Luby.
"Iya, gue tanya tapi dicuekin." Luby menjawab ketus. Oga kembali terbahak.
"Pantesan lu marah-marah. Bukan karena dikejar anjing, kan? Tapi gegara dicuekin tuh cewek." Oga masih terus terkekeh.
"Ngeselin, lu." Luby betul-betul dibuat keki oleh Oga.
"Eh, betewe tuh cewek manis, loh. Rambutnya pirang, bibirnya mungil kek dipilem kartun. Makanya lu geger otak lu, kan?" tutur Oga makin terbahak.
"Bibirnya mungil kek dipilem kartun." Luby menirukan kata-kata Oga seraya mencebik. "Liat aja ntar, gak bisa lari dari gue."
Oga terdiam mendengar ucapan terakhir Luby.
"Jangan macem-macem, ah." Oga segera menetralkan kekonyolan yang ada di otak lawannya itu.
"Gue laper, makan di Singapore Deli, yuk, ah. Pengen sayur asem." Luby mengalihkan pembicaraan.
"Emang Singapore Deli ada juga di Albania?" Oga mengingat-ingat warung makan Indonesia bernama Singapore Deli itu hanya ada di Timur Tengah. Luby tak menjawab, ia terus melangkah penuh percaya diri. Oga mengikuti dengan lekas.
"Di mana?" Oga terus mendesak Luby.
"Ya, di Karama," jawab Luby santai. Oga semakin dibuat bingung.
"Karama?"
"Iya. di Karama Dubai lah. Emang gue jawab ada di sini. Gue, kan cuma bilang pengen makan sayur asem." Luby tampak puas melihat mimik Oga.
Seketika ponsel Luby berdering, ia tersenyum lebar melihat nama di layar. Keduanya kini tengah duduk di sebuah cafe di luar alun-alun skanderberg.
"Halo, Nyonya Guterez."
"Hai, Luby. Saya sudah melanjutkan laporan ke bagian terkait mengenai akses kartu kreditmu. Surat kehilangan besok baru bisa saya kirim sekalian dengan surat perjalanan mu. Semoga penelitianmu lancar, ya."
"Baik, Nyonya. You're the best. Terima kasih banyak."
"Sebelum kembali ke Budapest mampirlah dulu ke restoran saya. Salam dari papa dan mamamu di Indonesia, barusan kami menelepon membahas kontrak kerjasama." Nyonya Guterez bersemangat.
Luby memutar bola matanya malas. Hal-hal yang berkaitan dengan papanya, Luby tak menaruh ketertarikan sedikitpun. Kecuali uangnya. Iya akses tanpa batas yang diberikan Tuan Argan hanya untuk meminta perhatian Luby agar menuruti pintanya, tepatnya perintah.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan cari waktu yang tepat untuk memenuhi undangan anda."
"Jadi makan gak?" Oga kembali mengingatkan.
"Let's go!"
***
Lisy mengayun langkah cepat dengan kedua tangan menyusup di antara saku blazer. Bercak-bercak salju meninggalkan bekas di pepohonan yang ia lalui di sepanjang trotoar di depan gedung pusat pemerintahan. Setiap sisi jalan masih tampak penuh gundukan putih.
Setelah berseteru dengan pikirannya, Lisy memutuskan menghubungi Pak Besmir untuk dibuatkan janji dengan seseorang bernama Ledio.
"Hai, Nona apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?" Seorang dibalik meja setinggi d**a orang dewasa menyambut saat Lisy memasuki gedung tinggi bergaya arsitek renaissance classic.
"Iya, atas nama Lisy." Gadis itu melonggarkan sedikit kain syal yang melilit di leher.
"Maaf, tapi tidak ada perjanjian atas nama Lisy di daftar hari ini, Nona."
"Aku membuatnya melalui seseorang bernama Besmirch Behrami." Lisy mengeja nama Pak Besmir dengan lengkap.
"Ah, iya. Baik, Nona. Silakan menunggu di ruang tunggu. Pak Ledio tengah ada pertemuan dengan tamunya terlebih dahulu." Sang resepsionis menunjuk ruangan dengan lengan kanannya. Lisy pun berlalu ke ruangan yang dimaksud.
Duduk di sofa dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Menanggalkan ransel dan menyimpan di atas pangkuan. Jemarinya menggertak membunyikan irama seperti ketukan di atas ransel, membuang grogi. Ruang tunggu tampak sepi, hanya ada beberapa orang menunggu di sana.
Di depan Lisy mendudukkan diri, terlihat beberapa ruangan dengan pintu tertutup. Di masing-masing pintu terdapat papan nama. Ruangan Pak Ledio berada paling ujung, dekat dengan jendela kaca raksasa.
Setengah jam berlalu, pintu ruangan paling ujung terbuka. Lisy menghela napas lega, berharap mendapat giliran masuk berikutnya.
Tawa seorang perempuan renyah terdengar saat keluar dari ruangan Pak Ledio. Suara itu seperti tak asing di pendengaran Lisy. Ia melihat dengan jelas pantulan bayangan sosok dengan celana panjang suede navy, blazer tosca dengan logo Bvlgari di bagian belakang, rambut merah anggur dan mata kuning emas. Seketika gadis itu tersentak dan sontak berdiri membelakangi mereka yang masih berdiri di depan pintu.
"Terima kasih Ledio, atas bantuannya," ucap perempuan dengan blazer tosca itu riang sebelum berlalu.
"Dengan senang hati, Nyonya Guterez."
Lisy menahan napas, reflek tubuhnya berputar menghadap tembok saat jejak sepatu dengan bunyi tegas itu melintas.
"Ada undangan dari Pak Besmir di sini?" Seseorang yang lain keluar dari ruangan. Dia bukan Ledio. Sepertinya asisten pribadi.
Lisy menghampiri tanpa bersuara, entakan sepatu Guterez masih terdengar meski sedikit samar. Seseorang dengan manik biru cerah itu mempersilahkan Lisy memasuki ruangan Ledio.
"Permisi, Pak." Lisy melangkah masuk. Ledio tampak mengangguk dan tersenyum. Tangannya mengisyaratkan untuk menempati kursi di depan meja besar berlapis kaca.
Lisy mulai mengutarakan maksudnya. Ledio sudah paham apa yang harus dilakukan. Setiap orang yang datang kepadanya, pasti berurusan dengan birokrasi. Lincah tangannya mengetikkan sesuatu di atas tombol laptop. Detik kemudian suara mesin pencetak berbunyi. Beberapa lembar kertas berhamburan dari lubang pipih mesin tersebut.
Ledio mengambil dan menyusun sesuai halaman, kemudian membubuhkan tanda tangan pada kertas lembar terakhir.
"Dokumen ini, kau bawa ke kantor kedutaan besar Macedonia untuk dilegalisir. Selanjutnya bawa ke dua kantor yang sudah saya catat di bagian terakhir. Sama, untuk dilegalisir juga. Baru setelah itu kau bisa mendatangi dinas kependudukan di Kota Vlore. Semoga berhasil." Ledio tersenyum ramah seraya menyodorkan map cokelat bertuliskan dokumen rahasia. Kelegaan menerbitkan lengkung lebar di kedua sudut bibirnya.
Langkahnya terasa ringan saat keluar dari gedung besar itu. Ia segera menuju halte untuk menunggu kedatangan bus yang menuju gedung kedutaan.
***