"Sempurna!" Lelaki bermata oriental dengan balutan kaus turtle neck dan dilengkapi jaket tebal, tersenyum puas melihat hasil jepretan kamera barunya. Ia tengah melakukan pengamatan di museum terbesar Tirana.
"Bro, kita gak punya banyak waktu. Lusa harus balik ke Budapest, jadi kalo bisa hari ini atau besok kita harus menuju Kota Vlore." Itu adalah Oga.
Nama lengkapnya Prayoga Hermawan. Lelaki itu telah menjadi teman baik Luby di Budapest, Hungaria. Keduanya dipertemukan pertama kali oleh semesta di bawah langit Istanbul, Turki. Mereka mempunyai hobi yang sama, berpetualang. Terutama ke kota kuno dengan sejarah peradaban yang unik di beberapa negara. Salah satunya Albania ini.
Lelaki berkacamata dengan rambut ala Oppa Korea itu sangat menyukai sejarah dan makanan tradisional setiap tempat yang ia kinjungi. Di sela waktu kuliah, ia bekerja paruh waktu demi bisa mencapai tujuannya. Itulah yang terlihat sejak berteman dengan Luby. Oga sangat jarang bercerita tentang keluarganya.
Berbeda dengan Luby yang berasal dari keluarga berkelimpahan. Ia bisa kapan saja melakukan perjalanan yang disuka tanpa memikirkan bagaimana mendapatkan uang. Setiap bulan uang saku dari Indonesia selalu lancar. Sang papa tidak perlu repot transfer sana sini, ia hanya tinggal upgrade saja kartu kredit yang dipegang Luby.
Meski sejak kecil ia tak tinggal dengan orang tua kandungnya, tetapi sang papa tetap memberikan perhatian berlimpah kepada anak lelaki satu-satunya. Selama ini Luby tinggal dan dibesarkan bersama keluarga kakak dari papanya--Thalia. Luby memanggilnya Mami Tata.
Setelah kejadian besar menimpa orang tuanya di Bandung. Argan, melepas Luby pada sang kakak dan ikut bersama ke Banjarmasin. Beberapa kali Mami Tata dan Daddy Sonny mengirim Luby kecil ke asrama karena kekhawatirannya tentang dunia remaja yang makin menggila. Namun, sifat rebel yang sudah menempel sulit dihilangkan dari kepribadian Luby.
Pemuda dengan jaket tebal hitam itu masih asyik dengan hasil jepretannya. Memiringkan kamera ke setiap sisi, mencari sudut yang bagus untuk mengambil gambar.
"Okay." Hanya itu yang keluar dari mulut Luby.
"Jadi, besok atau lusa?" Oga kembali mengulang.
"Gue ngikutin lu aja, Ga." Mereka berjalan saling mengimbangi sambil meneliti beberapa peninggalan bersejarah beserta kisah perjuangan Negara Albania yang rumit di masa lalu.
Negara ini merupakan jajahan kekuasaan Kekaisaran Ottoman di masa lampau. Luby sangat tertarik melakukan penelitian tidak hanya di satu tempat untuk bahan disertasinya yang berhubungan erat dengan sistem bernegara dan sejarah Islam.
"Kok, ngikutin, Gue? Kan, elu yang lagi penelitian." Oga menggeleng sambil terus mengikuti langkah Luby menuju arca dengan kostum pahlawan Albania.
"Tapi inget, jangan telat lagi. Tar ketinggalan lagi kek waktu itu." Oga mengingatkan ketika mereka berusaha mengejar jadwal tramp.
"Siap, Komandan." Luby mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Betewe kenapa lu bisa telat waktu itu? di telepon gak dijawab." Oga masih meminta penjelasan yang belum sempat Luby jawab waktu itu.
"Tar gue ceritain. Yok, cabut." Luby merangkul karibnya menuju pintu keluar museum. Ketika dilihatnya waktu buka museum hampir habis.
***
Berlalu dari Taman Nasional Gunung Dajti, Lisy kembali ke Taman kota Skanderberg, menepi ke teras museum yang berhadapan dengan patung pahlawan berkuda. Hujan mulai menerjunkan rintik yang kian merapat. Matahari sudah tak tampak meski waktu masih menunjuk angka tiga tigapuluh siang ini.
Gadis itu menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Kelegaan benar-benar menyegarkan kembali rongga d**a yang terasa meyempit beberapa hari ini, setelah menelpon Pak Besmir. Penjelasannya tempo hari membuat Lisy memutuskan mengurus surat pelaporan untuk segera menuju Kota Vlore dalam waktunya yang tersisa.
Brak!
Seseorang menabrak gadis dengan tas ransel dan beberapa map di tangannya yang kini telah tertumpah ke lantai.
"Eh, maaf. Tidak sengaja." Suara berat itu terdengar menyesal.
Sementara si gadis masih khusyu memunguti barangnya yang terjatuh.
"Kau?" Saat Lisy kembali berdiri dan berhasil menangkap sosok yang menabraknya barusan. Pandangan keduanya beradu dengan tatap penuh keterkejutan.
"Kamu, lagi? Kali ini aku tidak membuntutimu. Tapi sepertinya semesta memang akan terus mempertemukan kita." Suara berat yang rasanya tak asing di telinga Lisy, persis seperti yang ia dengar pertama Kali di Tirana dan saat terakhir Kali di Gunung Dajti beberapa jam lalu. Sementara kebingungan Oga tak mereka hiraukan.
"Jangan lu bilang, lu telat karena lu buntutin nih cewek, By." Oga mencoba merangkum kebingungannya.
Lisy memalingkan wajah ke arah lain seraya mengusap kepalanya kasar.
"Apa kau bilang? Jadi kau membuntutiku?" Netra Lisy memicing dengan tatapan tajam.
"Iya. Setelah aku menolongmu sore itu, seharusnya kau berterima kasih padaku, bukan menghindariku. Kau pikir semua bisa didapat secara gratis, Nona?"
"Kau. Sama saja dengan berandalan itu."
"Dan asal kau tau, setelah menolongmu, aku jadi mendadak ketiban s**l. Mulai dari dikejar anjing, dompet hilang, sampai ketinggalan tramp. Itu semua gara-gara kau rubah kecil." Luby bersungut menumpahkan kekesalan, seolah semua yang terjadi padanya hari itu adalah kesalahan Lisy. Sehingga sangat wajar jika gadis itu mendapat omelan sekarang.
"Heh, tidak ada yang menyuruhmu menolongku waktu itu. Apa pun yang terjadi padamu, tidak ada kaitannya denganku. Gunakan otakmu!" Lisy makin tak dapat membendung emosi, sehingga meninggikan intonasi suaranya.
Luby malah terbahak mendengar u*****n gadis mungil yang matanya berkilat kemarahan.
Setelah menghadapi harinya yang melelahkan, masih juga menemukan hal tak terduga seperti ini. Lisy mendengkus kesal.
"Berani juga kau, ya. Kalo tidak kutolong, udah mampus kau disergap para pemabuk itu. Gadis ceroboh! Semua gara-gara kau mengacak-acak pikiranku. Biar kuperjelas, kau tidak akan bisa lepas dariku. Sekali kita bertemu, akan bertemu terus." Luby mengibaskan jaketnya, kemudian berlalu dengan langkah memburu seraya menarik lengan Oga.
"Dasar aneh. Kalo gitu, aku yang kena s**l berjumpa dengamu!" Lisy tak mau kalah.
"Nona, di mana temanmu tadi?" Seseorang dengan seragam khas Museum Tirana menghampiri Lisy yang masih berdiri di teras.
"Temanku?" ulangnya dengan dahi mengerut.
"Iya, yang bicara padamu beberapa detik lalu." Si petugas itu memperjelas.
"Lelaki aneh itu, maksudmu?"
Si petugas hanya merespon dengan anggukan.
"Dia itu--" Ucapan Lisy terpotong saat seseorang berseru.
"Elijah, segeralah melakukan pembersihan. Sebentar lagi museum akan tutup!" seru lelaki dengan perut sedikit menonjol karena menimbun lemak berlebih.
"Iya, baik, Tuan. Ini tolong berikan kepada temanmu. Dia lupa mengambilnya. Sudah, ya, aku buru-buru." Perempuan bernama Elijah menempelkan sebuah kartu di telapak tangan Lisy dengan tergesa. Belum sempat meneliti kartu apa itu, Elijah telah memburu pintu masuk museum dan menguncinya dari dalam.
"Oh Tuhan, benar sekali. Akulah rupanya yang terkena s**l gara-gara bertemu lelaki aneh itu lagi. Kartu apa, sih, ini?" Lisy membuka genggamannya. Bola mata itu membelalak sempurna, tatkala dilihatnya sebuah kartu nama.
Kartu dengan nama pemilik Luby Kartasasmita, kewarganegaraan Indonesia. Lisy menepuk-nepuk jidatnya.
Belum lagi pikirannya tuntas mengejar waktu ke Kota Vlore, sudah ditambah dengan masalah baru. Bagaimana ia mengembalikan kartu itu sekarang?
***