Bab 5 - Gadis Senja dan Secangkir Cappuccino

998 Words
Gadis pirang dengan topi rajut itu menghela napas panjang. Merogoh sesuatu dari saku blazer-nya. Manik emas tampak berbinar kala memandangi benda kecil yang baru saja dikeluarkan. Sedetik kemudian, meraih beberapa helai tisu di atas meja. Mencecapkannya pada bagian pipi dan kelopak. Wajah cerah yang muncul beberapa detik lalu berganti mendung. Rahasia yang tertutup rapat selama belasan tahun, akhirnya terungkap. Ada kelegaan sekaligus sesak memuncak. Ia mendudukkan diri di teras cafe kecil miliknya yang menghadap bukit. Spot terbaik untuk menikmati senja, meski salju tampak menutup rapat jingga yang biasanya indah. Sesekali ia menyesap cangkir kopi dengan milkfoam seputih salju. Meninggalkan garis putih di bagian atas bibirnya. Kembali sejurus pada benda yang masih ia genggam. Memandanginya saksama. Kristal bening kembali meluruh dari ujung pelupuk. Keluarga besar yang terlihat bahagia dalam foto itu dengan beberapa cangkir penuh busa s**u tersaji di atas meja. Cangkir kehangatan yang menjadi kesukaannya--cappuccino. Namun, ia tak melihat mereka dalam kehidupan nyata. Kecuali lelaki kurus yang berdiri di sisi paling kiri, yang ia kenal sebagai ayah saat ini. Ada banyak pertanyaan di kepala gadis itu. Siapa sebetulnya lelaki yang ia panggil ayah ini? Dan apa yang terjadi hingga sang ayah berteman dengan kursi pesakitan? Hening. Hanya secangkir cappuccino dan senja yang memenuhi ceruk kosong hatinya. "Ada beberapa hal yang tidak perlu lagi kita ungkit dari masa lalu, Lisy." Jusuf, lelaki yang duduk di kursi roda itu mengeratkan pegangan yang bertumpu pada besi roda. Pandangannya sejurus pada jendela lebar yang masih terbuka, meski cafe kecilnya sudah melewati jam kerja. Sepoi angin yang menerbangkan serbuk-serbuk putih khas musim dingin, membekukan keduanya. Perlahan Lisy mulai menutup semua jendela dan pintu. Tanpa sedikit pun menanggapi ucapan Jusuf. Hatinya ikut beku, entah bagaimana mengekspresikannya. Ia begitu kecewa dengan kebenaran yang baru saja terungkap. "Susah payah aku membangun hidup baru di sini, hanya untuk--" Jusuf tak melanjutkan kata-katanya, saat Lisy memotong. "Untuk lari dari kenyataan dan menutupi kebenaran?" Ketus dan dingin, ucapan Lisy begitu menusuk hati Jusuf. "Tidak ada yang harus ditutupi, Nak." Jusuf memelas. "Tidak! Aku bukan anakmu. Kebenaran adalah kebenaran, akan terungkap dengan menemukan jalannya sendiri. Meskipun kau tutupi bangkai itu, akhirnya tercium juga. Atau kau lupa untuk menghilangkan semua barang bukti?" Lisy tak menghiraukan Jusuf yang telah kehabisan kata-kata. "Aku satu-satunya yang kamu punya, Nak. Begitu juga sebaliknya. Percayalah!" Jusuf hampir kehilangan putri satu-satunya yang ia rawat sejak bayi. "Bisa jelaskan apa hubunganmu dengan keluargaku? Sulit kupercaya kau membohongiku. Bagaimana caramu mengambilku dari keluargaku? Atau jika benar aku anakmu, bisa kau tunjukkan di mana ibuku? Dari dulu tidak pernah kutanyakan, karena aku percaya padamu." Deburan emosi yang tertahan akhirnya tumpah mengalirkan bulir bening di kedua kelopak yang memerah. Pertanyaan Lisy sungguh membuat Jusuf semakin bingung untuk menjelaskan. Kata maaf yang keluar dari mulut lelaki berambut keemesan itu tidak bisa membuat gadisnya mereda. Ia berlalu menuju rumah utama yang terletak di samping cafe, meninggalkan Jusuf yang masih termangu. Jusuf tak cukup mampu menceritakan dari awal tentang apa yang terjadi di masa lalu. Masih terlalu sakit baginya mengingat kehilangan semua disaat yang bersamaan. Bayangan masa lalu yang susah payah ia lupakan, kembali menyambar ingatan. Tidak hanya tentang keluarga yang sangat dicintai, tetapi juga tentang seseorang yang Jusuf tinggalkan karena menyerah pada takdir. Seseorang yang kedudukannya tidak pernah bisa tergantikan di hati Jusuf hingga hari ini. Sekarang, ia hanya menyesali kecerobohannya karena tidak menyimpan rapi dokumen itu di tempat tak terjangkau. 'Mungkin memang sudah saatnya Lisy mengetahui siapa Dia sebenarnya.' Batin Jusuf berbisik. Belum sempat Jusuf mengurai fakta itu, gadisnya telah membuat keputusan untuk pergi ke Albania. Keinginannya begitu kuat untuk menemukan jejak keluarga di sana. Kini, Jusuf terasa bagai orang asing bagi Lisy. *** Lisy, menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan demi melonggarkan sesak yang memenuhi d**a. Mengingat senja terakhir di Macedonia beberapa hari menjelang perayaan natal. Saat dirinya begitu keras melawan Jusuf dengan kata-kata yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya. Kemudian akhirnya memutuskan pergi dan meninggalkan Jusuf sendirian. Ternyata tak mudah melakukan semuanya sendirian. Terlebih ini pertama kali ia menjejak Negeri Garuda hitam. Tanpa satupun yang ia kenal. Memang benar-benar konyol. Di balik ketegarannya, sering kali rasa menyerah menghasut pikiran. Ditambah keadaan yang ia hadapi sungguh di luar perkiraan. 'Mengapa semuanya terasa sangat tak bersahabat di sini? Lihatlah! Aku benar-benar sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa.' 'Ah, benarkah? Sulit kupercaya!' 'Haruskah aku kembali ke Macedonia? mungkin memang di sana lah rumahku.' Lisy menggertakkan gigi, menekan rahang sekuat mungkin. Mendengarkan ocehan dalam dirinya. Kini ia tengah berdiri di puncak Taman Nasional Gunung Dajti, demi melepas segala penat. Menjelajah lebih jauh ke pegunungan yang membentuk batas timur Tirana. Mengikuti jalan setapak yang menghubungkan Gunung Dajti dengan Gunung Tujani. Melempar pandangan ke arah bawah di mana tampak jelas Danau Bovilla dan tebing indah sebagai tempat panjat tebing paling baik di Semenanjung Balkan. "Aku tidak boleh menyerah. Lihat! Albania terlalu indah untuk ditinggalkan. Aku harus bertemu keluargaku." Lisy menguatkan diri. Mengusap kasar air mata yang berhamburan di pipi mulusnya. Merogoh ponsel di saku blazer, untuk menghubungi seseorang. Belum sempat membuka ponselnya, tiba-tiba Lisy dikagetkan seseorang yang menyambar dari belakang. "Butuh teman, Nona? Kulihat dari tadi kau duduk sendiri sambil melamun. Sedang banyak pikiran ya?" Lisy menoleh cepat ke number suara, dilihatnya lelaki Asia yang pernah menolongnya tempo hari saat dikejar berandalan. "Kau? Sedang apa kau di sini? Jangan bilang kau mengikutiku." Tatapan Lisy penuh tuduhan. "Jangan suka menuduh." Luby menyunggingkan senyumnya. Dan itu terlihat sangat menyebalkan bagi Lisy. Tanpa menjawab sepatah kata, Lisy gegas membalikan badan hendak meninggalkan tempat itu. Namun, sebuah genggaman mencengkeram lengan mungilnya. "Apa yang kau mau? Aku tidak punya banyak waktu berurusan dengan orang iseng sepertimu. Banyak yang harus aku urus!" Lisy mengibaskan cekalan Luby. "Well, begitu ya. Jika kau perlu bantuan, aku siap menyelesaikan urusanmu yang banyak itu." Luby berbisik tengil di tpi daun telinga Lisy. "Tidak perlu! Terima kasih!" Lisy gegas berlari meninggalkan Luby yang memandangi langkah seribu gadis mungil itu. Gadis itu segera membuka ponselnya untuk melanjutkan menghubungi seseorang. "Cheers!" Luby mengacungkan cangkir kopinya ke arah Lisy yang kian jauh. "Kau pikir kau bisa lari dariku, Nona Macedon." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD