Bab 4 - Sebuah Keputusan

1036 Words
"Hai, Lisy. Bagaimana harimu?" Dime Posh menyambut ramah saat dilihatnya gadis pirang dengan topi rajut itu memasuki ruang tata rambut. Lisy tersenyum lebar melihat Dime dan Debby masih bersikap hangat padanya. "Jujur saja sangat membosankan, Dime." Lisy menatap Dime dan Debby bergantian. Belum lagi perlakuan teman-teman di asrama. Ingin rasanya Lisy bercerita pada Dime dan Debby, tetapi ia memilih memendam sendiri hal tersebut. "Hari ini kau masuk, kan?" Debby menatap ke arah netra cokelat terang itu. Lisy hanya menggeleng. "Belum. Madam Alexa menelpon untuk membicarakan hal itu sekarang." Lisy terdengar putus asa. "Jangan khawatir, Sy. Alexa orang baik, dia pasti mempertahankanmu." Dime mengguncang bahu Lisy untuk menguatkan. "Itu Madam Alexa sudah datang." Debby berbisik, mengisyaratkan dengan tangannya pada Dime untuk kembali pada pekerjaan. Menyuruh Lisy kembali ke ruang tunggu. Seseorang keluar dari Skoda merah metalik yang terparkir tepat di depan salon. Blazer Burberry marun membalut tubuh semampai, sepatu boots cokelat gelap berbahan suede menghiasi kaki jenjang si cantik Alexa. Rambut ikal berwarna keemasan dibiarkan menggantung tanpa pengikat. Sehingga saat berjalan tampak berayun mengikuti ritme langkahnya. "Hai, semua!" sapa Alexa saat memasuki pintu utama. "Hai!" Hampir semua menyambut bersamaan. "Alex, Lisy--" Dime tak meneruskan saat Alexa memberikan isyarat dengan tangannya tanda mengerti. Gegas sang pemilik salon menuju ruangannya. "Hai, Lisy." "Halo, Madam Alexa." "Duduklah." Lisy menelan ludah berat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelum Alexa datang. Ranting-ranting harapan ia kuatkan dalam bisikan doa dalam hati. Isi kepalanya sudah tak sanggup berpikir. Setelah membenahi diri, Alexa duduk bersisian dengan Lisy di sofa yang sisi kiri kanannya dipercantik nakas kecil. Tempat display kuku-kuku palsu beserta alat-alat menicure pedicure. "Lisy, aku sangat senang kau bisa bekerja dengan baik dan juga berkolaborasi dengan teman-teman di sini. Kejadian kemarin, sungguh di luar dugaanku. Tak ada yang bermaskud jahat padamu. Percayalah." Alexa menjeda ucapannya. Menarik napas dalam. "Tapi keputusan ini harus kuambil. Dengan sangat menyesal aku tak dapat melanjutkan pekerjaan untukmu di sini. Surat pengajuan kontrak, sudah dibatalkan. Aku minta maaf harus mengatakan ini Lisy." Dengan napas tertahan Alexa mengakhiri ucapannya. Sesaat Lisy hanya tertunduk, pikirannya terjeda. Doa-doa itu tak cukup mengabulkan harapan saat ini. Ada rasa kecewa, tetapi ia berusaha menjaga kewarasan. "Aku hargai keputusanmu, Madam Alexa. Aku yakin tak mudah bagimu membuat keputusan ini. Terima kasih telah memberiku kesempatan sebulan terakhir. Aku pamit." Lisy tak ingin berlama-lama menyembunyikan rasa kecewa di hadapan Alexandra. Ia ingin segera berteriak di tempat lain. Sungguh menyesali pertemuannya dengan Guterez siang itu. "Tunggu, Lisy!" Alexa menahan langkah gadis mungil itu. "Ini tunjanganmu selama satu bulan. Sekali lagi aku minta maaf." Alexa mengeluarkan amplop cokelat panjang yang berisi beberapa lembar Lek Albanian sebagai gaji pertama dan terakhir Lisy. Gadis dengan topi rajut itu menerima pasrah kemudian undur dari ruangan Alexandra. 'maafkan aku, Lisy. Aku terpaksa menuruti perintah Nyonya Guterez. Jika tidak, salonku tidak akan berumur panjang. Sementara banyak yang menggantungkan hidup dari salonku ini. Selain pekerja di sini, juga anak-anak yayasan yang kurawat.' Alexa menghela napas dalam dan berat. Ia mengerti kegelisahan gadis Macedonia yang baru sebulan bekerja di tempatnya. "Aku bersumpah, jika bukan Nyonya Guterez, aku akan mempertahankanmu Lisy." Alexa bergumam sendiri seraya membuka pekerjaan hari ini, di mulai dengan memeriksa beberapa email dan reservasi online. "Dime, Debby, terima kasih sudah menjadi teman baik di sini." Lisy menyela ke ruang tata rambut, saat dilihatnya Dime dan Debby sedang tak melayani tamu. "Maksudmu?" Debby melepas beberapa alat cat rambut yang tengah ia bersihkan. Dime Posh pun menghampiri, agar percakapan mereka sedikit privasi. "Yah, aku harus pergi sekarang dan tidak bekerja lagi." Lisy berusaha menahan cairan bening yang hampir saja meluruh di sudut pelupuk. "Oh, aku turut menyesal. Sebetulnya itu hanyalah hal kecil tapi sialnya yang kau hadapi itu nyonya besar di Albania." Dime menggerak-gerakan tangannya lincah. Menunjukkan kegeraman. "Hal itu dilakukan Alexa, mungkin karena dorongan Guterez." Debby melirik ke arah Dime dan Lisy. Ketiganya lantas mengangkat bahu. "Lalu apa rencanamu selanjutnya, Sy?" Dime menatap seksama gadis malang itu. "Entahlah, Dime. Aku masih bingung. Jika tidak mendapat pekerjaan baru yang memberiku sponsor izin tinggal, kemungkinan besar aku harus kembali ke Macedonia." "Lantas bagaimana dengan rencana pencarianmu?" Dime yang sejak awal mendapat kepercayaan penuh dari Lisy sebagai tempat bercerita, merasa peduli dengan perjuangan gadis itu. "Aku akan berusaha mendapatkan izin tinggal sebelum benar-benar menyerah. Besok aku akan kembali ke pusat informasi kota sambil mencari pekerjaan baru. Sementara itu yang bisa kulakukan." Lisy tetap masih ingin berjuang. "Sepertinya kau harus sedikit menjauh dari Tirana, Lisy. Jika benar Guterez yang membuat Alexa mengambil keputusan seperti itu, kemungkinan akan sulit bagimu mendapat pekerjaan di sini." Ucapan Dime ada benarnya mengingat pengaruh Guterez yang besar. Lisy terlihat bingung, sementara ia belum menjejak ke tempat tujuannya, Kota Vlore. *** "Bagaimana, Pak Besmir? Apakah sudah ada kabar tentang data keluarga yang aku masukan dua minggu lalu?" Lisy kembali ke pusat informasi di bagian kantor kependudukan. Seseorang tinggi tegap berbalut celana panjang dan jas hitam, tampak membolak balik berkas yang Lisy ajukan. "Begini, Nona. Mengingat data ini sudah terlalu lama dan kau pun tidak tinggal di sini sebagai warga negara, akan sedikit rumit prosesnya. Kau harus membuat laporan ke kantor kedutaan besar Macedonia di sini. Baru kemudian, ajukan ke department kementrian luar negeri dan hukum dan ham. Untuk selanjutnya laporan tersebut bisa dibawa ke dinas kependudukan di Kota Vlore. Kepastian ditemukan atau tidaknya data tersebut, pihak terkait di Vlore yang akan memberi kabar." Begitu penjelasan dari petugas di kantor kependudukan pusat. "Kira-kira berapa lama proses itu berjalan, Pak Besmir?" Hati Lisy berdesir hangat. Setidaknya ia menemukan jalan dari informasi yang baru saja dijelaskan oleh Pak Besmir. Meski masih mengantungi kekhawatiran, mengingat dokumen izin tinggalnya hampir habis. "Saya tidak bisa memastikan jangka waktunya, Nona. Sebab tidak mudah menembus ke kepala bagian di masing-masing departmen pemerintahan." Pak Besmir berusaha memberikan pengertian. Lisy mengangguk paham. "Apakah tidak bisa jika bertanya langsung ke dinas kependudukan di Kota Vlore, Pak Besmir?" "Saya tidak yakin, karena proses awalnya tetap harus melakukan pelaporan terlebih dahulu ke departmen terkait. Kalau mau dicoba, saya tidak akan menghalangi. Saya akan berikan alamat kantornya. Tapi kalau kau mau mengikuti saran saya membuat laporan, saya bisa bantu kau untuk menemui seseorang." Besmir memberikan pilihan. Lisy semakin bingung, pikirannya berputar seperti dadu yang diacak di dalam kotak. Lalu harus memilih salah satu keputusan yang terpilih untuk segera dieksekusi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD