Bab 3 - Hari Membosankan di Asrama

984 Words
Dua hari ini rasanya cukup membuat tak tenang. Pasalnya Lisy tengah menunggu keputusan dari si pemilik salon. Berharap masih terus memperkerjakannya di sana. Mengingat batas masa tinggal yang makin memendek. Hanya tersisa 15 hari untuk dapat menemukan sponsor surat izin tinggal di Albania. Jika Alexandra tidak mempertahankannya, maka ia harus segera mencari pekerjaan lain yang dapat memberi izin tinggal. Kemungkinan paling buruk adalah terpaksa harus kembali ke Macedonia. Meski saat ini bukanlah waktu yang tepat. 'tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus menemukan jalan ke Kota Vlore untuk menemukan jejak keluargaku. Semoga Alexandra tetap memperkerjakanku di sana dan segera mengurus surat izin tinggal di bawah sponsor perusahaannya.' Dalam pejam yang khusyu, Lisy merapalkan doa-doa. "Hei, Macedon! Siapa yang menyuruhmu menaruh keranjang baju kotor di sini?" Terdengar teriakan dari luar diiringi ketukan yang sangat keras. Lisy terlonjak, seketika membuka pejamnya saat mendengar suara tak asing. Itu pasti Manjola, penghuni kamar sebelah di perumahan yang sama. Lisy tinggal di sebuah asrama bersama beberapa karyawan dan mahasiswa. Tempat berteduh selama tinggal di Tirana. Sebagai satu-satunya penghuni dari Macedonia, ia selalu mendapat perlakuan tidak sehat dari lingkungannya berada sekarang. Terkadang Lisy merasa sangat muak dengan perlakuan sinis mereka, tetapi tidak ada tempat lain yang harga sewanya lebih rendah atau paling tidak sama dengan asrama ini. Hal lain yang masih membuatnya bertahan, karena teman sekamar--Eralda--yang tak banyak bicara meski dari raut wajah dan sikapnya menunjukkan rasa tak suka pada Lisy. Namun, gadis itu tak ambil pusing selama tak membuat keributan. "Iya, Manjo, aku bermaskud mencuci baju-bajuku." Lisy membuka pintu, menemukan Manjola dengan tatap memuakan. "Lekaslah, jangan kau simpan lama-lama di sana. Itu menimbulkan bau tak sedap!" bentaknya, kemudian berlalu kembali ke kamar. "Dasar pemalas!" Masih terdengar rutukan Manjola seraya membanting pintu. Gontai, langkah Lisy menuju ruang cuci. Bersyukur ia menemukan satu mesin cuci sedang tak digunakan, jadi bisa langsung mengeksekusi baju-baju itu. Biasanya harus antre dengan teman satu asrama. "Heh, Macedon. Aku minta tolong cucikan bajuku sekalian, ya. Ku beri kau 5 Lek sebagai upahnya." Seseorang dengan suara yang sedikit sopan menghampiri Lisy. Namun, perlakunnya tak jauh beda dengan teman-teman lain di asrama ini. Dia adalah Ermal, gadis berambut cokelat gelap yang menghuni kamar di blok lain. "Baiklah." Lisy tak menolak, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat. Lagipula ia butuh tambahan uang saku. "Bagus. Hati-hati, jangan sampai ada yang rusak." Ermal mengulurkan satu lembar 5 Lek kemudian berlalu dari ruang cuci. "Jadi, kau bisa digunakan sebagai buruh cuci juga, rupanya?" Itu suara Manjola yang tiba-tiba datang dari arah pintu ruang cuci, semenit setelah Ermal berlalu. Lisy terkesiap tetapi tidak membantah. Apa yang dilihat Manjola tak bisa ia pungkiri. Lelah menghadapi gadis jangkung bersambut pendek itu, Lisy melanjutkan pekerjaan dan tak menghiraukan ocehan tetangga kamarnya. "Nih, sekalian baju-bajuku kau cuci!" Manjola kembali ke ruang cuci dengan membawa dua ember baju kotor yang menggunung. "Ta-tapi, Manjo aku--" Belum sempat Lisy melanjutkan, Manjola segera memotong. "Kuberi kau 10 Lek. Kuyakin kau sedang membutuhkan uang, kan?" Tak peduli keadaan gadis di depannya, Manjola berlalu setelah melemparkan dua lembar 5 Lek ke hadapan Lisy. Gadis pirang itu hanya menghela napas dongkol. Hari ini ia berencana ke Taman Skanderberg di pusat Kota Tirana sebelum petang. Ada beberapa hal penting yang ingin ia dapatkan di pusat infomasi kota. Mungkin saja ada sedikit pencerahan tentang keluarga Allajbeu, dengan mengantongi berkas yang dibawa dari Macedonia. Setelah sebelumnya, dalam satu bulan terakhir ini tak membuang waktu untuk bersantai meski lelah bekerja. Gadis itu terus mencari informasi. Terdengar mustahil dan konyol tetapi keyakinannya tak meruntuhkan niat yang sudah bulat. Mesin cuci masih menderu, memutar rombongan baju-baju kotor yang tengah dibersihkan. Lisy menunggu di kamar hingga baju-baju itu selesai melalui mesin pengering. Musim dingin seperti ini, mesin pengering bekerja lebih banyak dari musim lainnya. Gadis pirang itu melonjak gembira saat ponslenya berdering dan tampak nomor Alexandra di layar. "Halo, Madam Alexa." Lisy menyambut antusias. "Hai, Lisy. Bagaimana kabarmu?" "Aku sangat bosan tanpa bekerja dua hari ini, Madam Alexa." Lisy mengutarakan keluhannya. "Ya, aku mengerti. Ada yang ingin aku bicarakan mengenai kelanjutan pekerjaanmu. Segeralah ke salon. Aku tunggu, ya." Alexandra menutup percakapan. Berdegup jantung Lisy mendengarnya. Entah keputusan apa yang akan ia terima. Berharap masih ada kesempatan. "Ah, s**l! Kenapa harus menangani si Guterez itu." Lisy mengembuskan napas pendek dan kasar. Bergegas menyelesaikan tugas mencuci yang belum tuntas, kemudian segera memakai jaket dan topi rajut khas serta meraih tas punggung kecilnya. Berlari memburu jalan utama, mungkin masih bisa mengejar bis kota yang melintas sesuai jadwal di halte seberang asrama. *** Dering panggilan berbunyi dari ponsel Nyonya Guterez. "Halo, Nyonya Guterez di sini." "Hai, Nyonya. Selamat pagi." Terdengar suara khas pemuda Asia, putra rekan bisnis terbaiknya. "Selamat pagi, Luby. Apa kabar?" "Baik, Nyonya. Langsung saja, apakah sudah beres dengan gadis itu?" "Jangan khawatir, Sayang. Jangan panggil Saya Nyonya Guterez kalau tidak bisa membuat orang-orang tunduk padaku." Sang Nyonya terdengar terkekeh. "Bagus, Nyonya. Saya percaya pada anda. Saya mau izin tinggalnya tidak diperpanjang di Albania." "Ta- tapi, Luby. Kenapa harus begitu?" "Selebihnya Saya akan urus rubah kecil itu. Terima kasih, Nyonya." "Baiklah." "Satu lagi, Saya minta pada anda Nyonya Guterez untuk berhenti memberikan informasi apa pun tentang saya pada papa saya." "Itu tidak mungkin Luby. Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu suka, termasuk berganti-ganti wanita sebagai mainanmu. Tapi tetap urusan kuliahmu dan keberadaanmu di wilayah Balkan akan tetap saya laporkan pada Tuan Argan. Kami bermitra sudah lama, Luby. Sebagai orang tua, aku pun akan melakukan hal serupa seperti ayahmu. Kamu dengar itu, Nak?" Nyonya Guterez menekankan. Gantian Luby yang terkekeh. "Baiklah, Nyonya. Asal tidak tentang gadis Balkan yang satu itu. Anda boleh melaporkan apa pun pada keluargaku di Indonesia." "Maksudmu, kamu benar-benar tertarik pada gadis itu?" "Not really, tapi akan kubuat dia yang tergila-gila padaku." Sambungan telepon pun terputus. Nyonya Guterez masih terbengong di tempatnya, tapi ia sangat mengenal sifat putra rekan bisnisnya itu. "Semoga tidak melampaui batas." Nyonya Guterez lanjut menikmati sarapan paginya, sambil menunggu informasi selanjutnya dari Alexandra. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD