"Woi, bengong aja. Udah beres, tuh." Deborah, salah seorang rekan kerja membuyarkan lamunan gadis pirang bermata coklat terang itu. Memberinya isyarat bahwa sang stylist sudah selesai memangkas rambut klien. Itu artinya ia harus segera membersihkan serakan rambut yang tercecer di lantai.
Begitulah keseharian Lisy semenjak memutuskan memasuki salon kecantikan sebulan lalu. Mulai bekerja sebagai tenaga bantuan di sana. Tak ada lowongan saat gadis itu menerobos masuk untuk melamar pekerjaan. Sedikit memelas dan memaksa, ia berjanji pada si pemilik salon untuk menyanggupi pekerjaan apapun yang diberikan. Asal bisa bertahan dan melanjutkan hidup di antara gigitan angin musim dingin Kota Tirana.
Sang pemilik pun akhirnya luluh melihat gadis keras kepala di depannya. Bagaimana tak disebut keras kepala, berbagai cara dikerahkan untuk menolak lamaran. Bukannya pergi, gadis itu tetap bergeming di depan pintu salon.
Sesekali menengok ke arah dalam dari pintu kaca yang terbuka oleh klien yang keluar masuk. Melihat tampilan yang mulai lusuh dengan ransel besarnya, sang pemilik salon memanggil kembali ke dalam. Ia pun memberikan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih.
"Sy, hari ini kamu ikut training untuk kapster, ya." Dime, salah seorang pekerja senior mengumumkan kabar bagus. Setidaknya ada hal yang bisa Lisy pelajari di sana. Gadis itu mengangguk.
"Sini, kuajarkan dulu caranya. Deborah akan jadi sasaran kita hari ini." Dime melanjutkan. Mengisyaratkan Deborah untuk duduk di kursi pencucian.
Dime berjenis kelamin lelaki, tetapi gerakannya begitu luwes dan gemulai dengan gaya bicara yang khas. Dia lah Posh of Beauty salon ini, atau dikenal dengan Dime Posh. Semua pelanggan mengenal Dime karena gaya khas dan sentuhan tangan ajaibnya mampu menyulap tatanan rambut klien jadi memukau.
"Oke, bagus Lisy. Kamu cepat sekali mempelajari. Selanjutnya, kamu akan coba menangani pelanggan, ya." Dime memberinya izin. Gadis itu mengangguk senang.
'Wah, siapa tau akan dapat uang tips pertama,' bisik batinnya.
Suasana salon kembali sibuk. Lisy pun berkutat dengan sapu dan serok yang siap mengeruk serakan rambut. Sampai tiba satu pelanggan, semua stylist tengah melayani yang lain. Dime mengisyaratkan Lisy untuk mencuci rambut seseorang yang baru saja masuk. Gadis itu pun menurut dan mempersilahkan dengan ramah tamu bercat rambut merah anggur itu untuk duduk di kursi pencucian.
"Aaa! Apa-apaan ini? Dime Posh, siapa gadis bodoh ini!" Terdengar suara melengking dengan kata makian dari pelanggan yang baru saja ditangani Lisy. Semua menoleh ke sumber suara.
Dime Posh dan beberapa orang di sana ternganga saat melihat wajah dan sebagian baju pelanggan itu basah. Sementara Lisy masih bengong dengan gagang selang air yang masih ia pegang.
"Kau baik-baik saja?" Dime Posh menghampiri Lisy. Segera mematikan kran air dan menyuruhnya membersihkan kekacauan yang baru saja terjadi.
"Dime, harusnya aku yang kau tanya. Bukan gadis bodoh itu!" bentak si pelanggan tadi.
"Maaf Nyonya Guterez atas kekacauan ini. Deborah yang akan membantu anda, Nyonya." Secepat kilat Dime memerintahkan Debby alias Deborah untuk mengambil handuk dan mengeringkan baju Nyonya Guterez dengan mesin pengering rambut.
"Dasar gadis bodoh, lain kali jangan suruh dia melayaniku. Kulaporkan nanti kepada Alexandra." Marija Guterez, si pelanggan tetap itu menyebut nama pemilik salon yang dikenal dekat olehnya.
Lisy menyenderkan tubuhnya ke dinding di ruang belakang. Kejadian tadi cukup membuatnya terkejut dan hilang kesadaran beberapa detik. Hilang sudah harapan untuk mendapatkan tips. Masih terdengar jelas suara Nyonya Guterez menggerutu tentang kejadian barusan.
Marija Guterez dikenal sangat detail dalam gaya dan pelayanan. Dia juga termasuk salah seorang pengusaha yang dekat dengan sebagian penguasa Negeri Garuda hitam di Semenanjung Balkan ini. Gayanya yang elegan sudah sangat jelas menunjukkan bahwa ia seorang yang berkelas.
"Ada apa, Dime Posh?" Alexandra yang kebetulan saat itu ada di salon, keluar dari ruangannya menghampiri ruang tata rambut.
Dilihatnya Marija Guterez, si pemilik beberapa restoran di Tirana dan sebagian di Hungaria itu tengah bersungut.
"Alexandra, entah bagaimana kau bisa memperkerjakan gadis bodoh di salonmu ini." Masih dengan nada kesal, Guterez mengungkapkan keluhannya.
"Maaf Nyonya Guterez, apa yang sebenarnya terjadi?" Alexandra tersenyum ramah. Kemudian melirik Dime Posh dan Debby.
"Lisy, Alexa. Tadi--" Ucapan Dime cepat dipotong Guterez.
"Gadis bodoh itu menyiramku dengan air. Basah semua, kau tau? Hari ini aku ada acara pertemuan dengan beberapa investor untuk usaha baruku." Berapi-api Guterez menjelaskan.
"Aku minta maaf atas kejadian ini, Nyonya Guterez. Aku akan menyelidiki pada Lisy kenapa terjadi seperti ini."
"Tidak perlu kau selidiki, Alexa. Langsung tindak saja untuk kau keluarkan gadis tak berguna itu." Mata Nyonya Guterez masih mengilatkan kekesalan.
"Baiklah, biar aku urus dia." Alexandra meninggalkan ruang tata rambut. Tersenyum lembut seraya menepuk bahu sang nyonya demi menenangkannya. Paling tidak, Guterez berhenti bersungut.
Lisy hanya tertunduk saat Alexandra menyuruhnya menghadap ke ruangan.
"Aku betul-betul minta maaf, Madam Alexa. Aku tidak sengaja." Gugup, Lisy berusaha membela diri.
"Lisy, aku paham kau baru satu bulan bekerja di sini. Tidak sepenuhnya salahmu karena baru hari ini kau ditraining lalu langsung menangani tamu. Parahnya yang kau layani itu adalah tamu tetap dan dia VIP di sini."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Kau tidak akan memecatku, kan?" Lisy tampak memelas.
"Begini saja, dalam dua hari ke depan kau tak masuk kerja dahulu. Biarkan situasi mereda, mungkin beberapa hari Nyonya Guterez akan lebih tenang," ucap Alexandra bijak.
Saat memperkerjakan Lisy, memang sedang tak ada lowongan. Namun, melihat kinerja dan kegigihan gadis itu, Alexa merasa sangat terbantu. Begitu juga dengan Dime Posh dan Debby, serta beberapa karyawan lain yang sudah mengenal Lisy dengan baik.
Lemas, Lisy keluar dari ruangan Alexa. Langkahnya gontai, meraih tas dilemari besi lalu menuju pintu belakang khusus karyawan. Baru saja sehari menjadi Kapster, malah menjerumuskannya dalam masalah.
***