9. Kembali sibuk

1877 Words
Kegiatan perkuliahan semester baru kembali di mulai. Setelah melakukan serangkaian kegiatan masa orientasi mahasiswa akhirnya status mereka resmi menjadi mahasiswa di berbagai jurusan kampus ini.  Jadwal kuliah pun mulai padat meski masih memasuki semester awal, berbanding terbalik dengan semester tengah dan akhir yang sudah mulai berkurang.  Sama seperti yang lainnya, Damar juga kembali sibuk dengan jadwal kuliah yang di semester ini masih lumayan padat, hanya saja jadwal yang waktu itu satu minggu full sekarang hanya sampai hari kamis namun dengan jadwal full sampai sore. Sama saja sibuknya seperti mendapatkan jadwal satu minggu full. Setelah ospek selesai, ada perasaan lega bercampur kecewa. Lega karena kegiatan yang dilakukan selama tiga hari itu berjalan dengan lancar, Damar merasa puas dengan kinerja semua panitia yang terlibat di kegiatan tersebut.  Namun Damar merasa kecewa atau bisa di katakan kehilangan karena setelah kegiatan tersebut selesai, Damar tak pernah bertemu dengan Jihan, sesering saat tiga hari acara ospek berlangsung. Padahal Damar dan Jihan berada di satu kampus dan jurusan yang sama tetapi karena jadwal kuliah mereka yang memang berbeda membuat Damar tak pernah kembali bertemu dengan gadis tersebut. Damar jadi ingat kembali bagaimana dia yang khawatir saat Jihan pingsan dalam dekapannnya, hal tersebut begitu membekas dalam ingatan Damar apalagi dia bisa menggendong Jihan. Dan semenjak hari itu juga gosipnya yang menyukai Jihan semakin kecang terdengar di antara teman-temannya.  Ya siapa lagi kalau bukan Herlan yang mengatakan kepada Bani, Faris, Riki dan Agil kalau Damar begitu perhatian kepada juniorr mereka yang tak lain adalah Jihan. Bani dan yang lainnya tak percaya tetapi Herlan mampu membuat mereka semua percaya dengan perkataan yang begitu meyakinkan.  Respon Damar?  Laki-laki itu tampak acuh saja, lagi pula Damar sama sekali tak keberatan meski sering kesal juga kalau teman-temannya yang selalu meledeki dia yang sekarang sudah mulai mencair.  Memangnya dia es krim yang mudah mencair. Bani yang memang lebih dekat dengan Damar juga sering kali menawarkan bantuan karena mengingat Jihan itu sahabat dari kekasihnya, Nana. Namun Damar menolak, dia hanya ingin berusaha sendiri lebih dulu tanpa bantuan siapapun meski kenyataannya sekarang Damar malah tak sekalipun bertemu dengan Jihan setelah mereka kembali dalam kegiatan perkuliahan.  Damar tak cepat menyerah, laki-laki itu sangat yakin kalau dia dan Jihan akan kembali bertemu. Banyak kesempatan kan, apalagi mereka masih ada di jurusan yang sama dan tak ke mana-mana. ** Jihan dan Nana baru saja selesai mengikuti mata kuliah terakhirnya di hari ini. Mereka selesai di jam 12 siang saat istirahat perkuliahan.  Jadwal mereka memang hanya ada dua mata kuliah saja, pagi tadi jam 08.40 yang kemudian berlanjut di jam 10.20. “Gue kira gak akan ada tugas,” ucap Jihan. Mereka masuk ke dalam lift dan Nana menekan angka 2 letak kantin karena mereka akan makan lebih dulu sebelum pulang. “Mana banyak banget,” timpal Nana sedikit mengeluh.  Ya mereka kembali dengan pola kalimat dan juga huruf kanji yang membuat otak mereka kadang seperti berasap. Dari tiga jenis huruf jepang yang ada, kanji memang yang paling sulit. Belum lagi coretan dalam menulis kanji harus sesuai, kalau tidak bisa salah arti juga nantinya. “Nanti kerjain bareng ya, Na.” “Boleh deh. Biar saling bantu apalagi lo tahu sendiri mata kuliah kanji kelemahan gue. Kalau udah kaya gini gue berasa salah jurusan tau gak,” ucap Nana. “Salah jurusan udah tingkat dua,” balas Jihan terkekeh. Mereka baru saja sampai di kantin, cukup ramai mengingat jam istirahat semua jurusan. Beruntung Sinta yang sejak tadi berada di kantin sudah memberikan tempat untuk mereka berdua, jadi tinggal menyimpan tas lebih dulu kemudian memesan makanan di langganan biasa. “Lama amat lo semua,” ucap Sinta melihat Jihan dan Nana yang baru saja menyimpan tas mereka di atas meja dan duduk di hadapannya. “Lo yang kecepetan ke kantin. Lagian kenapa lo ikut jadwal pagi amat sih?” tanya Nana, karena tadi Sinta malah ada di kelas lain yang masuk lebih pagi sebelum kelas mereka. “Kakak gue tadi berangkat pagi, tau sendiri motor gue di bengkel ngamuk lagi. Jadi dari pada gue naik angkutan umum atau ojek online, mending gue bareng Kak Jeni yang gratis dan ya udah gue masuk kelas lain aja dari pada bengong sendiri.” Jihan dan Nana mengangguk kompak. “Lo udah makan?” tanya Jihan kali ini. “Udah. Ya kali gue udah laper tingkat dewa gak makan. Kasian cacing di perut gue pada demo. Sekarang gue nonton kalian makan aja deh.” “Gak ada kerjaan lo.” “Suka-suka gue. Harusnya lo makasih udah gue tempatin ini meja. Kalau nggak masa lo semua mau lesehan di bawah sini.” “Iya deh. Makasih ya Sinta yang cantik,” ucap Jihan tersenyum. “Aww! Gue di bilang cantik. Thanks lho, Han.” Nana menggeleng melihat kelakuan Sinta, “Lagian kenapa lo malah muji dia sih, Han. Kesenengan itu orangnya.” “Sirik aja lo, Na. Gak suka banget kalau gue bahagia.” “Lagian itu sih lo jadi ge-er gara-gara dipuji sama Jihan.” “Gapapa, sekali-kali Na gue dapat pujian, gratis dari Jihan.” “Iya serah lo! Asalkan kau bahagia,” ucap Nana malah menyebutkan judul lagu. “Karoke yuk!” ajak Sinta saat Nana menyebutkan judul lagu. Random sekali dia, padahal mereka sedang bicara yang lain sekarang malah ngajakin karoke. “Tahu aja lo kesukaan kita,” Nana tersenyum lebar. Sudah lama juga mereka tak pergi ke tempat main bertiga dan sekarang masih belum terlalu sibuk dengan tumpukan tugas sepertinya waktu yang tepat untuk mereka jalan-jalan. “Gue gak ikut deh,” ucap Jihan. “Lo tadi kan mau kerjain tugas kanji, Na. Kenapa malah ikut-ikutan mau karoke segala,” lanjutnya. “Lah iya! Gue sampe lupa. Lo sih Ta, pake bilang karoke segala kan gue kelupaan sama tugas gue,” Nana menyalahkan Sinta. “Lo duluan kali yang ingetin gue sama judul lagu,” balas Sinta tak terima kalau dia di salahkan.  Jelas-jelas karena Nana juga dia jadi ingat salah satu judul lagu dari band yang populer di kalangan remaja indonesia saat ini. Terutama perempuan, termasuk dirinya juga yang memang begitu suka dengan semua lagu band tersebut. “Udah deh malah ribut. Gue pulang ni!” ancam Jihan. “Jangan gitu dong, Han. Kita kan belum pesan makan, tadi katanya laper,” bujuk Nana saat melihat Jihan hendak beranjak dari kursinya. “Habisnya lo semua ribut. Gue ke sana dulu ah, pesan makan,” Jihan memilih untuk segera memesan makanan karena perutnya juga sudah lapar dan nanti dia akan makan dengan tenang. Biarkan saja Nana dan Sinta berdebat kembali kalau memang mereka belum selesai. ** Damar sedang berada di ruang himpunan. Dia dan Bani sedang berdiskusi tentang pemilihan ketua himpunan yang baru, yang nantinya akan menggantikan Damar dalam masa periode berikutnya.  Tak terasa memang, Damar sudah akan lengser dari jabatannya sebagai kaichou (ketua) dalam Himpunan Bahasa Jepang, begitu juga Bani sebagai wakilnya. Kali ini ada dua pasangan kandidat yang akan menjadi calon ketua dan wakil ketua himpunan, yang nantinya akan di pilih secara langsung oleh mahasiswa jurusan bahasa Jepang dan sebelumnya kedua pasang calon tersebut akan memberikan penjelasan tentang visi dan misi masing-masing.  Biasanya penjelasan tersebut akan di lakukan secara langsung oleh para pasangan calon ketua dan wakilnya dengan mendatangi kelas dari angkatan pertama sampai terakhir di jurusan mereka. Perwakilan dari senior akan meminta ijin kepada Dosen yang sedang mengajar untuk meminta waktu lima sampai sepuluh menit. Selain itu, nantinya mereka juga akan kembali promosi di lingkungan kampus dan pemungutan suara akan di saksikan secara langsung oleh semua anggota himpunan, Kaprodi dan juga perwakilan Dosen bahasa Jepang. “Jadi tinggal promosi yang ke setiap kelas itu kan?” tanya Damar. “Iya. Nanti lo sama gue atau mungkin ada anggota lain yang nemenin mereka buat datang ke setiap kelas. Kita juga harus ijin kan sama Dosen yang ngajar. Jangan terlalu lama deh, gak enak juga lagi ngajar diganggu.” “Iya, gue setuju. Nanti kita kasih tahu mereka buat kumpul dulu di sini, kita mulai dari minggu depan aja.” Bani mengangguk, “Iya, nanti gue kasih tahu yang lain.” “Kalau gitu gue balik duluan lah. Nyokap ada di rumah, ngomel kalau sampe gue sibuk kegiatan terus,” pamit Damar dan membereskan bukunya ke dalam tas.  Tadi juga dia sempat mengerjakan tugas di himpunan sebelum membahas tentang pemilihan ketua dan wakil ketua yang baru ini. Jadi wajar saja sekarang buku dan kamus berserakan di karpet yang ada di ruangan ini. “Tumbenan banget nyokap lo di rumah,” ucap Bani yang memang tahu sekali karena Damar sering cerita kepadanya tentang kedua orang tuanya termasuk sang ibu yang sibuk dengan urusan pekerjaan. “Gak tahu. Gue juga heran, kayanya udah mulai bosan kerja,” balas Damar kemudian beranjak dari duduknya. “Gue duluan,” pamitnya keluar dari ruang himpunan.  “Hati-hati lo!” teriak Bani saat Damar sudah berlalu. Damar mengacungkan jempolnya dan berjalan ke arah parkiran. *** Jihan dan Nana sedang mengerjakan tugas mereka. Hanya berdua saja di kamar Jihan yang di dominasii dengan warna putih juga pink. Sementara Sinta, gadis itu malah banyak alasan. Katanya sih harus mengantar Mamanya ke salon, padahal Nana dan Jihan sudah bisa menebak, yang ada Sinta yang memang ingin ke salon.  Temannya itu selalu saja ada alasan jika diajak untuk mengerjakan tugas bersama. Padahal nanti juga dia malah bertanya pada Jihan dan Nana tentang tugas tersebut. Ujungnya lari ke mereka lagi. “Han, ini artinya apa sih? Ko gue lupa ya,” ucap Nana. Dia tengah mengerjakan tugas kanji-nya. Menulis beberapa huruf kanji sambil menghapal cara baca dan arti setiap kosakata yang terdapat kanji tersebut. “Usi, artinya sapi,” “Lah! Gue kira ini kanji toshi.” “Beda coretan, Na. Kalau toshi itu di tengahnya ada lagi coretan, jangan sampe ketuker mentang-mentang ujungnya sama shi,” ucap Jihan menjelaskan. “Ini dibaca juga nen kan? Tahun artinya?” Jihan mengangguk, “Iya toshi itu kalau berdiri sendiri artinya tahun, kalau misal di gabung sama kanji lain misal kanji ko berarti di bacanya kotoshi yang berarti tahun ini." “Ko itu yang kanji ima kan? Artinya sekarang?” “Iya betul sekali, Nana pintar ya sekarang.” “Itu sih kanji semester satu, Han. Jelas gue inget kalau itu.” “Lah ushi juga kanji yang ada di semester satu.” “Kan itu jarang di pake, lagian kapan coba kita pakai kosakata sapi di dalam kalimat.” “Ya bisa aja misal tanbo ni wa ushi ga imasu (ada sapi di sawah), jadi kan kita pake tu kosakata ushi (sapi),” ucap Jihan berlaga seperti Dosen yang sedang menjelaskan kepada Mahasiswanya. “Ya tetep aja jarang di pake. Oke kembali ke kanji lain.” Nana pun kembali mengerjakan tugasnya, begitu juga dengan Jihan.  Beberapa menit kemudian terdengar notifikasi dari handphone milik Nana. Gadis itu langsung siap siaga saat mendengar notifikasi yang di setting dengan bunyi berbeda. Khusus untuk kekasihnya, Bani. Nana membaca pesan dari Bani dengan beberapa kali balikan. Dia hanya belum percaya saja apa yang di lihatnya ini benar. Melihat Nana yang tampak bingung, Jihan pun menatap sahabatnya.  “Siapa, Na?” tanya Jihan. “Kak Bani.” “Terus kok lo kaya bingung gitu. Ada apa?” “Ini, Han. Kata Kak Bani, Kak Damar minta nomor lo.” Perkataan Nana membuat Jihan terdiam. Damar meminta nomornya? Ada apa? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD