8. Perhatian Damar

1851 Words
Hari terakhir kegiatan ospek di kampus membuat Jihan lebih semangat. Tentu saja karena setelah ini Jihan tak ingin lagi ikut dalam kepanitiaan kegiatan di kampus, apa pun itu kecuali memang kegiatan yang berhubungan dengan bidang akademik seperti perlombaan.  Jihan sama sekali tak cocok menjadi bagian dari panitia meski sampai di hari ke tiga ini dia berusaha melakukan tugasnya dengan baik dan ya lumayan lancar. Hanya saja kakinya selalu pegal kalau sudah banyak berjalan, bikin Jihan mengeluh terus setelah selesai kegiatan dan harus merendam kakinya dengan air hangat setibanya dia di rumah. “Semangat banget, Dek. Mentang-mentang hari terakhir,” ucap Sean.  Seperti biasa dia yang selalu mengantar adiknya ke kampus di pagi hari meski masih dalam keadaan mengantuk kalau sudah menyangkut adik perempuan satu-satunya ini maka tak akan ada halangan atau penolakan. Bisa di amuk sang ibu kalau sampai menolak dan tak ingin mengantarkan adiknya. “Iya dong! Habis ini Jihan bebas dari kegiatan yang bikin kaki Jihan pegel. Abang juga senang kan soalnya gak anterin Jihan subuh-subuh kaya gini?” Jihan balik bertanya.  Sean mengangguk. Benar juga selain Jihan yang terbebas dari kegiatan yang membuat kakinya pegal setelah melakukan kegiatan itu, Dia juga akan bebas mengantarkan Jihan di waktu yang bahkan matahari masih belum menampakkan sinarnya. “Nanti pulang telepon Kak Dio ya, Abang gak bisa jemput nanti sore.” “Iya, nanti Jihan telepon Kakak. Emang Abang mau ke mana?” “Ada janji,” balas Sean. “Janji kencan? Ah Abang milih kencan dari pada jemput adik sendiri,” ucap Jihan seolah kecewa dengan Sean.  Melihat hal itu Sean jadi gelagapan sendiri. “Bu-bukan kok, Abang janji sama teman aja. Ada kerjaan, gak enak kalau batalin janjinya. Udah dari lama,” elak Sean berusaha bersikap biasa saja. Jihan sudah menebak apa yang sedang di sembunyikan Sean. Lagi pula dia hanya bercanda saja tadi malah bagus kalau Abangnya itu ada janji kencan sama perempuan.  Selama ini Jihan tak melihat Sean dekat dengan perempuan padahal Jihan sudah ingin kenal dengan kekasih Abangnya. Ini mau kenalan bagaimana kalau Sean masih belum memiliki kekasih. “Iya deh percaya. Padahal gapapa lho kalau Abang mau kencan.” “Siapa yang mau kencan. Udah sana turun, nanti kamu kena hukum gara-gara telat.” “Iya Abang. Makasih ya udah anterin Jihan ke kampus, dadah Abang!” pamit Jihan setelah mencium pipi Sean, kebiasaannya sejak dari kecil. Sean menggeleng melihat tingkah adiknya, dia juga bernapas lega Jihan tak mencurigainya karena tak bisa menjemput Jihan nanti.  Bukan tak ingin jujur, Sean merasa belum waktunya saja, nanti juga dia akan mengenalkan gadis yang sedang dia dekati ini ke semua anggota keluarganya, termasuk kedua orang tuanya. Kalau memang Sean sudah memiliki gadis itu. ** Damar duduk bersandar di dinding ruangan panitia, dia datang lebih pagi dari biasanya dan sekarang tengah memejamkan matanya. Tadi malam dia sulit tidur, entah kenapa membuat pagi ini matanya masih mengantuk sekali.  Semua panitia sudah melakukan persiapan, membiarkan sang ketua mereka tertidur mengingat mereka semua tahu bagaimana kinerja Damar selama kegiatan ini berlangsung dari hari pertama.  Mereka juga sibuk tetapi Damar pasti lebih dari sibuk, bukan hanya tenaga saja tetapi juga pikirannya. Apalagi dia menjadi orang yang bertanggung jawab dalam kegiatan ini. Ruangan panitia tampak sepi, hanya ada Damar saja yang masih terpejam dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya.  Jas Almamater melekat di tubuhnya membuat Damar lebih berwibawa dan tampak semakin tampan menurut panitia perempuan yang sejak tadi sempat berpapasan dengan Damar.  Pesona Damar memang tak bisa di ragukan lagi, apalagi menjabat sebagai ketua himpunan dan juga ketua panitia ospek semakin saja terlihat berwibawa. Damar tak menyadari, seseorang baru saja masuk ke dalam dan meletakan tas miliknya di atas meja.  Orang itu adalah Jihan, yang memang memilih untuk masuk ke dalam ruangan panitia selagi ruangan itu sepi karena Nana dan Sinta belum datang dan Jihan masih saja belum nyaman untuk berbicara dengan panitia lain.  Jihan hampir saja memekik saat menyadari ada orang lain di ruangan ini, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan semakin memperhatikan seorang laki-laki yang tengah tertidur dengan bersandar pada dinding di paling pojok ruangan ini.  Jihan mengernyit dan sadar kalau laki-laki itu adalah sang ketua panitia. Tampak sekali gurat kelelahan di wajahnya membuat Jihan entah kenapa merasa khawatir, Jihan menggeleng menghapus kekhawatirannya.  Kenapa juga dia jadi seperti ini pada laki-laki asing? ** Jihan tengah fokus mengambil beberapa jepretan foto, para mahasiswa baru yang tengah mengikuti ospek sedang mendengarkan materi dari salah satu Dosen yang menjadi pemateri.  Sudah cukup banyak foto yang Jihan ambil entah tadi kegiatan di lantai atas maupun di lantai dasar seperti sekarang. Belum lagi kegiatan panitia di belakang layar, semua Jihan jepret dengan menggunakan kameranya. Kali ini Jihan sedang duduk di dekat mading, seperti anak yang kehilangan induknya karena Jihan sendirian.  Dia mulai merasa kelelahan, kakinya juga kembali pegal karena berjalan naik turun tangga. Salahkan lift-nya yang terlalu dekat dengan kegiatan ospek sehingga Jihan malu untuk berjalan ke arah lift dan menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa baru. “Kenapa?” Jihan mendongak saat telinganya menangkap suara seseorang begitu juga dengan matanya yang melihat ada seseorang yang berdiri di hadapannya terlihat dari sepatu yang orang itu kenakan. Jihan menatap orang tersebut, ternyata sang ketua panitia. Secara refleks Jihan pun berdiri tegak melihat siapa yang menghampiri dirinya. “Maaf, Kak,” ucapnya pelan.  Jihan takut sekali kalau dia sampai di cap tidak melakukan tugasnya apalagi ketahuan oleh ketua panitia seperti ini. Damar ingin sekali tersenyum melihat bagaimana gadis di hadapannya ini panik dan menundukkan kepalanya. Padahal dia hanya bertanya saja bukan menegur Jihan.  Tadi dia sedang berbicara dengan Faris dan tatapan matanya tak sengaja menangkap sosok Jihan yang sedang duduk di dekat mading. Entah kenapa kakinya malah melangkah menghampiri Jihan dan mulutnya mengeluarkan suara demikian. Damar tadi sempat melihat wajah Jihan yang sedikit pucat, apa gadis ini sakit? Atau kelelahan? Perasaannya jadi khawatir terhadap Jihan.  “Lo sakit?” tanya Damar, di balas dengan gelengan oleh Jihan. “Kalau capek, istirahat di ruang panitia aja. Masih ada yang lain kan,” ucap Damar. “Nggak Kak. Ini mau lanjut lagi,” balas Jihan. Namun belum sempat Jihan melangkah matanya sudah berkunang-kunang dan setelah itu Jihan tak tahu apa yang terjadi padanya. Damar menangkap tubuh Jihan yang limbung, gadis itu pingsan dan membuat beberapa panitia yang berada di dekat mereka ikut panik.  Damar dengan cekatan menggendong Jihan setelah menyerahkan kamera gadis itu pada salah satu panitia. Damar pun membawa Jihan ke ruang UKS yang berada di lantai dua. Damar sudah menduga kalau Jihan sedang tidak baik-baik saja meski gadis itu mengelaknya. Sesampainya di UKS, Damar merebahkan tubuh Jihan di atas tempat tidur. Meminta petugas untuk membawakan teh hangat. Terlihat jelas bagaimana kekhawatiran Damar pada Jihan, padahal mereka belum begitu dekat.  Tak berselang lama Jihan pun siuman, gadis itu membuka kedua matanya dan yang di lihatnya adalah wajah Damar yang tampak khawatir. Jihan mencoba bangun di bantu oleh Damar. Damar mengambil gelas yang berisi teh, yang tadi ia minta dari petugas UKS. Kemudian membantu Jihan untuk meminumnya dengan perlahan. “Masih pusing?” tanya Damar. Jihan menggeleng. “Kalau sakit bilang aja, jangan sampe pingsan kaya gini,” ucap Damar. “Maaf, Kak,” gumamnya. “Kenapa dari tadi minta maaf sih. Tadi udah makan?” “Udah.” “Jam berapa?” “Tadi pagi.” “Ck! Kalau gitu tunggu, gue beli makanan dulu,” ucap Damar beranjak dari kursi dan tanpa menunggu jawaban dari Jihan, Damar keluar dari UKS membuat Jihan yang masih kebingungan di tempatnya. ** “Lo kenapa telat makan sih, Han,” ucap Nana. Dia tadi memang mencari Jihan sampai ada salah satu panitia yang mengatakan kalau sahabatnya itu di bawa ke ruangan UKS karena pingsan, dengan tergesa-gesa Nana pun pergi menemui Jihan. “Lupa. Tadi asyik ambil gambar,” balas Jihan. “Ya masa lupa sama makan. Emangnya itu perut gak protes, udah tahu lo jangan telat makan. Lagian kan masih ada yang lain, kalau waktunya istirahat ya istirahat, gak makan nasi juga apa kek, roti atau minum s**u. Pokoknya biar perut lo gak kosong,” omel Nana sudah seperti Ibunya sendiri. “Iya, Mama Nana.” “Ck! Di kasih tau juga malah ngatain gue,” kesal Nana. “Ya maaf. Gue makan kok bentar lagi.” “Gue beli makan ya, lo mau apa? Atau konsumsi panitia aja tapi ada lontong sama bakwan tadi.” “Udah beli.” “Sama siapa? Lo tadi keluar?” “Kak Damar.” “Hah?! Siapa Han?” “Kak Damar, Nana,” balas Jihan. “Kak Damar? Maksudnya Pak ketua?” tanya Nana memastikan kalau pendengarannya tidak salah. Jihan mengangguk membuat Nana melotot, “Serius lo? Kak Damar yang anti sama cewek yang lagi beli makan buat lo?” “Iya, Nana. Gue kan udah bilang, Kak Damar yang ketua panitia itu. Emangnya ada Kak Damar yang lain ya selain dia?” “Ya gak ada sih. Tapi serius deh, ko dia mau?” Jihan mengedikan bahunya, “Gak tahu.” “Kejadian langka ni, pasti bakalan heboh satu kampus. Seorang Damar Eka Perwira bisa perhatian sama cewek,” cerocos Nana yang malah membuat Jihan bingung.  Kenapa satu kampus harus heboh?  Memang sampai segitunya? ** “Lo mau ke mana? Buru-buru amat.” Langkah Damar terhenti saat suara Herlan terdengar, “Ke UKS,” balasnya. “Siapa yang sakit?” tanya Herlan penasaran sampai Damar telihat begitu khawatir. “Ada panitia yang pingsan,” Damar memilih untuk berjalan meninggalkan Herlan sebelum temannya itu kembali bertanya membuat dia lama sampai di UKS. Herlan yang melihat Damar sudah pergi masih menatap dengan bingung sampai salah satu panitia melewatinya, Herlan pun kembali bertanya. “Tadi ada yang pingsan?” tanya Herlan. “Ada, Bang. Panitia juniorr, kalau gak salah namanya Jihan,” balasnya. “Oke, makasih.” Herlan tersenyum geli, pantas saja Damar begitu khawatir ternyata yang pingsan Jihan. Astaga bahkan temannya itu mendadak perhatian seperti ini kepada perempuan.  “Jatuh cinta emang bikin orang berbeda dari biasanya,” gumamnya. ** Damar masuk ke dalam UKS dan melihat Jihan sedang bersama dengan temannya. Jihan dan Nana yang sedang mengobrol menoleh secara bersamaan ke arah pintu UKS yang baru saja terbuka.  Damar pun menghampiri mereka dengan membawa kantung plastik berisi makanan untuk Jihan. “Makan dulu,” ucap Damar menyerahkan kantung plastik tersebut kepada Jihan. Gadis itu menerimanya dengan tatapan antara senang tetapi juga bingung. “Makasih, Kak,” ucap Jihan tersenyum. Damar mengangguk. “Habisin,” katanya. Kemudian berjalan ke luar dari ruangan tersebut. “Itu beneran Kak Damar?” Nana yang sejak tadi hanya menjadi penonton menatap Jihan tak percaya. Nana masih asing dengan sikap Damar yang seperti ini, mengingat selama dia menjadi kekasih Bani yang tak lain adalah sahabat Damar, Bani sering menceritakan kalau Damar itu laki-laki yang susah sekali untuk bisa dekat atau tertarik dengan perempuan. Sampai Nana sempat menduga kalau Damar itu “menyimpang” dan sekarang melihat bagaimana Damar yang tampak memberikan perhatian kepada Jihan, Nana berasa mimpi. “Iya lah. Mata lo masih baik-baik aja kan,” celetuk Jihan. “Gak nyangka aja, dia perhatian sama lo. Jangan-jangan Kak Damar suka sama lo.” “Mana mungkin.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD