7. Gebetan Damar

1803 Words
“Gimana berhasil lo pdkt sama Jihan?” tanya Faris pada Herlan.  Mereka tengah berkumpul di rumah Damar. Kebiasaan mereka memang bermain game di rumah Damar karena rumah temannya ini jarang ada orang.  Maklum kedua orang tua Damar orang sibuk dan hanya ada asisten rumah tangga saja di sini, juga satpam yang berjaga di depan. Meski baru saja selesai kegiatan di kampus tetapi tak membuat mereka urung untuk sekedar berkumpul, mengobrol atau bermain game. Bani yang tadi mengantarkan kekasihnya lebih dulu pun ikut menyusul ke rumah Damar. “Pdkt apa, siapa juga yang pdkt. Gosip aja lo pada!” ucap Herlan. “Lah bukannya lo udah di kasih nomor Jihan. Gue kira langsung tancap gas.” “Pala lo tancap gas! Yang ada gue kena amuk bro,” Herlan melirik Damar yang tengah bermain game melawan Bani. Bukan tak tahu, Herlan sangat hapal sekali dengan sikap Damar, bahkan sejak tadi meski tatapan Damar fokus pada layar di depannya, telinga laki-laki itu sudah begitu tajam mendengarkan obrolan Herlan dan Faris.   “Emang di amuk siapa? Bukannya dia gak punya cowok?” tanya Riki yang kali ini ikut penasaran dengan perkembangan Herlan juga Jihan, mengingat temannya berhasil mengantarkan juniorr mereka itu meski karena Bani juga. “Kakaknya galak cuy! Gue pas nganterin waktu itu aja, beuhh ... kakanya udah ada di depan rumah. Mana itu matanya tajem amat udah kek mau nusuk gue.” Belum lagi tatapan mata temen sendiri, udah kaya mau nerkam gue, batinnya mengingat kembali bagaimana Damar yang dengan begitu terang-terangan menatap tajam dia saat sedang memperhatikan Jihan.  Kalau naksir bilang saja, toh Herlan sama sekali tak memiliki ketertarikan pada Jihan. Dia hanya senang saja mengobrol dengan gadis itu. “Serius lo?! Wah berat kalau gitu, Lan.” “Iya berat banget, apalagi berat buat gue nikung gebetan temen sendiri,” celetuk Herlan membuat Riki dan Faris menatap temannya dengan penuh penasaran. “Maksudnya gimana, Lan?” tanya Riki. “Tanya aja itu sama Pak Ketua,” balas Herlan menunjuk ke arah Damar dengan dagunya. Secara spontan semua yang berada di sini menatap ke arah Damar, membuat laki-laki yang sejak tadi asyik bermain game meski telingannya masih setia mendengar percakapan teman-temannya risih karena di tatapa oleh yang lain. “Apa?” tanya Damar pura-pura tak mengerti. “Mau gue bongkar aja di sini. Gue sih gak masalah, justru dengan senang hati gue bongkar semuanya,” ucap Herlan yang mendapat tatap tajam dari Damar. “Ini ada apa sih?” tanya Agil yang sejak tadi asyik sendiri dengan permainan di handphonenya tetapi melihat semua orang menatap Damar, Agil pun jadi penasaran. Damar masih tetap diam. Dia agak kesal juga dengan Herlan, kenapa sekarang malah membahas dirinya. Bukan tak ingin Damar bercerita pada teman-temannya tetapi Damar juga masih belum tahu apa memang perasaan ini ada untuk gadis yang akhir-akhir ini menghantui pikirannya. Apakah Damar memang menyukai Jihan, seperti apa yang sudah Herlan simpulkan. Damar lupa, Herlan itu orang yang peka sekali dengan sekelilingnya terutama menyangkut teman-temannya, Herlan akan secara cepat tanggap saat melihat gelagat yang aneh dari temannya, begitu juga dengan tingkah Damar.  Damar tak tahu saja selama ini Herlan terus memperhatikan gerak geriknya, terhitung dari rapat pertama dengan semua anggota panitia di mana pertama kalinya mereka mengenal gadis bernama Jihan. “Dam, lo gak akan jujur sama kita semua?” tanya Herlan. Damar mendengkus, kalau sudah seperti ini dia seperti seorang tersangka yang berada di meja hijau. “Iya-iya. Emang mulut lo gak bisa di kunci, Lan,” gerutu Damar membuat Herlan terkekeh sementara yang lain masih bingung melihat keduanya. “Oke. Kayanya kita ketinggalan berita, bro,” ucap Bani mulai menyadari ada yang Damar dan Herlan sembunyikan dari mereka. “Gak ada berita apapun.” “Lah tadi lo sama Herlan pake rahasia segala. Udah pasti berita viral, apa sih?” tanya Faris mulai tak sabar ingin tahu berita apa yang sedang Hot-hot-nya di antara mereka. “Gue naksir sama cewek yang siallnya malah di anterin sama Herlan, puas lo semua!” ucap Damar.  Bani dan yang lainnya -kecuali Herlan- masih meresapi perkataan Damar sampai Faris yang pertama kali sadar dan memekik. “Njirr! Jihan maksudnya? Luar biara Pak Ketua akhirnya suka sama cewek, sob!” “Sialan! Lo kira gue suka batangan juga!” ketus Damar tak terima dengan apa yang di katakan Faris.  Dia masih normal. “Jihan sahabat cewek gue?” “Iya siapa lagi yang gue anterin pulang waktu itu kalau bukan Jihan yang itu, Ban.” “Terus lo sendiri gimana, Lan? Lo suka juga sama Jihan? Saingan lo pada, yang sehat saingannya jangan sampe adu jotos,” ucap Riki. Damar menatap Herlan apa memang mereka harus bersaing, ini pertama kalinya untuk Damar menyukai gadis yang juga di sukai oleh temannya sendiri.  Apa mereka akan bersaing dengan sehat? “Kalem aja lo lihatin gue, serem amat, Dam,” Herlan terkekeh. “Gue sama sekali gak suka sama Jihan. Lagian gue udah ada gebetan lah, jadi Jihan udah milik lo, Dam,” lanjutnya. “Beneran lo? Siapa gebetan lo?” tanya Faris. Kenapa teman-temannya banyak menyimpan rahasia padahal selama ini mereka selalu menceritakan apapun termasuk masalah gebetan seperti ini. “Berisik lo! Kepo amat! Lagian ya gue belum cerita sama kalian, gara-gara tahu sendiri kalian gak bakal diem aja. Yang ada gue bakalan gagal pdkt,” ucap Herlan.  Jelaslah mana mau dia bercerita lebih dulu kepada teman-temannya sementara dia masih dalam pendekatan dengan sang gebetan. Kalau teman-temannya tahu, sudah pasti rusakk acara pendekatannya. Herlan ingat sekali bagaiamana dulu Bani yang tengah pendekatan dengan Nana –kekasihnya sekarang- malah di rusakk oleh Faris dan Riki, mereka berdua bak kembar perusuh. Untung saja Nana itu gadis yang baik hati dan tak mudah terpancing gosip-gosip aneh jadi saat Faris dan Riki mengatakan sesuatu yang aneh pada Nana, seperti Bani yang tukang main perempuan dan lebih parahnya lagi mengatakan kalau Bani sering keluar masuk hotel dengan perempuan berbeda.  Nana tak langsung terpancing emosi. Gadis itu malah bertanya lebih dulu pada Bani, yang membuat Bani sampai mengamuk. Kelakuan Faris dan Riki memang membuat naik darah. “Itu kan test dari kita, gebetan lo tahan apa nggak, setia apa nggak,” ucap Faris membela diri. “Test apa njiir! Yang ada gue gagal jadian! Bani sih lagi beruntung aja ceweknya gak gampang kepancing, lah kalau gebetan gue kan gak tahu.” “Iya iya, lagian kita berdua udah taubat, iya kan, Ki?” “Betul sekali! Cukup Bani sama Agil aja, udah puas kita.” “Gak adil banget,” timpal Bani mengingat dia hampir saja gagal jadian dengan Nana. “Berisik lo semua! Balik sana!” usir Damar. “Enak aja! Lo belum cerita, kok bisa lo suka sama Jihan?” ** Jihan baru bangun saat Ibunya masuk ke dalam kamar untuk mengajak dia makan malam. Tadi setelah sampai di rumah dan membersihkan badan Jihan memang langsung tertidur pulas sekali.  Anaknya itu begitu terlihat kelelahan, maklum saja ini kegiatan yang dia ikuti pertama kali di kampus selain kegiatan lomba akademik yang sering Jihan ikutin. Niken -sang ibu- sangat mengerti dan tahu bagaimana Jihan sudah bekerja keras ikut dalama kegiatan yang akan berlangsung tiga hari ini. Tadi Jihan memang sempat merengek karena kakinya yang terasa pegal, Niken pun menyuruh Jihan untuk merendem kakinya dengan air hangat.  Tak terbiasa dengan kegiatan yang mengharuskan dirinya berjalan ke sana ke mari membuat kaki Jihan pegal, beruntung pegalnya tak lama dan Jihan malah tertidur nyenyak. “Sayang, bangun yuk. Makan dulu,” Niken membangunkan Jihan yang asyik memeluk boneka beruangnya. Pemberian dari Dio di hari ulang tahun Jihan yang ke-17 tahun waktu itu. Jihan terusik mendengar suara sang ibu, kedua matanya perlahan terbuka. Wajah bantalnya membuat sang ibu tersenyum kecil, gemas sekali anak gadisnya ini. Meski sudah beranjak dewasa, Jihan masih tetap sama seperti dulu, puteri kecilnya. “Ma, masih ngantuk,” gumamnya. “Tapi kamu harus makan dulu, belum makan lho dari tadi pas pulang,” ucap Niken mengelus rambut Jihan. Jihan pun perlahan beranjak dari posisinya, duduk dan masih mengumpulkan nyawanya. Matanya memang masih mengantuk tetapi perutnya juga protes ingin makan. Kenapa makan dan mengantuk harus datang secara bersama-sama sih bikin Jihan sebal saja. Akhirnya dengan masih lunglai, Jihan pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. “Mama tunggu di meja makan,” ucap Niken sebelum ke luar dari kamar anaknya. Jihan mengangguk meski sang ibu sudah pasti tak melihatnya karena dia sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dengan buru-buru Jihan pun mencuci muka dan segera ikut bergabung di meja makan bersama dengan yang lainnya. *** “Berapa hari kegiatan kamu di kampus?” tanya Wira –Ayah Damar. Damar sedang menikmati makan malamnya. Makan malam yang sedikit berbeda karena sekarang kedua orang tuanya ada di meja makan, bukan seperti sebelumnya yang masih sibuk perjalanan bisnis.  Tadi sore saat teman-temannya sudah pulang, kedua orang tuanya baru saja sampai di rumah setelah melakukan perjalanan bisnis selama satu minggu ke Semarang. Sang ibu juga ikut dengan Ayahnya, membuat lagi-lagi selama satu minggu ke belakang Damar makan sendiri di meja makan. “Tiga hari.” “Kamu gak nginep di kampus kan A?” tanya sang ibu, yang lebih sering memanggil Damar dengan panggilan “Aa” yang artinya “Kak” padahal Damar anak tunggal tetapi entah kenapa sang ibu selalu memanggilnya begitu. “Nggak, Bu. Aa pulang ke rumah,” balas Damar. “Ibu gak mau kalau kamu sering nginep di kampus. Punya rumah kok malah nginep di kampus,” ucap Permata yang sering sekali mendengar dari asisten rumah tangganya kalau anak mereka kerap kali menginap di ruangan himpunan, di kampusnya. Selama ini meski Wira dan Permata sama-sama sibuk tetapi Permata tetap memperhatikan anak tunggal mereka. Semua yang dilakukan Permata yang juga menjadi wanita karier karena dia merasa bosan bila berada di rumah sendirian sementara suami dan anaknya sedang sibuk di luar dengan pekerjaan dan perkuliahan.  Tiga tahun ini Permata akhirnya kembali bekerja mengingat Damar yang sudah beranjak dewasa lebih sering berkegiatan di luar sementara dia mulai kesepian di rumah dan akhir-akhir ini lebih sering menemani sang suami yang selalu keluar kota. “Itu kan kalau di kampus lagi ada kegiatan aja. Ini juga ada ospek tapi Aa tetep pulang ke rumah.” “Jangan terlalu sibuk nak, apalagi kamu sebentar lagi mau skripsian. Kurangin kegiatan di kampus,” ucap Wira mengingat anaknya ini dari awal masuk menjadi Mahasiswa sudah begitu banyak mengikuti kegiatan di kampus. “Iya, Damar tahu Ayah.” Meski obrolan ini menyebalkan untuk Damar karena kedua orang tuanya selalu mengatakan untuk mengurangi kegiatan di kampus, tetapi dalam hati Damar merasa menghangat. Ternyata kedua orang tuanya masih memperhatikan Damar meski memang lebih sering di luar rumah dengan segudang acara bersama rekan bisnis. Dan makan malam ini terasa berbeda, Damar merasa tak sendiri lagi dan sedikitnya kehangatan makan malam bersama dengan kedua orang tuanya, bisa Damar rasanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD