6. Ospek bikin capek

1760 Words
Hari yang sama sekali tak di tunggu oleh Jihan malah datang dengan begitu cepat. Meski persiapan menyambut hari yang sama sekali tak di nantikan ini terbilang lancar tanpa hambatan sama sekali untuk Jihan, tetap saja dia merasa sama sekali tak ingin hari ini ada.  Hari pertama orientasi mahasiswa baru di kampus. Artinya Jihan harus melakukan tugasnya yang terbilang susah-susah gampang.  Susahnya, ya Jihan yang sama sekali tak memiliki pengalaman dalam urusan ke-organisasian dan acara seperti ini, membuat dia mungkin akan cepat lelah karena ikut dalam kegiatan ini.  Mudahnya karena jobdesk dia hanya memotret saja selama kegiatan ini berlangsung, pokoknya Jihan menjadi tukang foto amatiran, ya untung sih dikit dia ngerti karena belajar dari Sean. “Siap di hari pertama ini?” tanya Nana, mereka sedang berada di ruangan panitia.  Ospek hari pertama sebenarnya masih berupa upacara pembukaan saja dan mahasiswa baru datang di jam 8 pagi belum datang di jam 6 pagi dan memulai kegiatan ospek.  Jihan dan Nana baru saja selesai sarapan, setelah tadi pergi lebih pagi dari biasanya, beruntung bagi Jihan di hari pertama kegiatannya ini tak terlambat datang. “Siap gak siap,” balas Jihan kemudian membuka tutup botol dan meminumnya.  Ini pertama kalinya dia sarapan di kampus, karena tadi memang semua panitia harus ada di kampus pukul 6 pagi. Jihan bahkan ingin sekali menangis, masa dia harus datang ke kampus sepagi itu sementara acara di mulai pukul 8 pagi. Dan kata Nana, kalau panitia memang harus lebih awal apalagi nanti kalau acara intinya di mulai.  Jihan mendesah, dia terjebak di situasi menyebalkan ini. Jihan tak suka! “Semangat, Han! Lihat tu si Sinta aja semangat 45,” tunjuk Nana pada Sinta yang sudah sejak tadi selesai sarapan dan sekarang tengah siap melakukan tugasnya. Maklum Sinta termasuk ke dalam divisi acara. “Dia sih semangat banget apalagi bisa lihat yang ganteng,” ucap Jihan. “Iya juga sih. Eh gue harus cek konsumsi, lo gapapa kan kalau sendiri?” “Gue juga mau mulai ambil foto, gak enak sama yang lain yang udah siap.” Nana mengangguk, mereka pun mulai dengan tugas masing-masing.  Jihan mengembuskan napas berusaha untuk tenang. Ini kali pertamanya dan Jihan berharap semua lancar, jangan sampai kecerobohannya muncul di saat situasi seperti ini.  Jihan mengeluarkan kameranya yang memang masih berada di dalam tas kamera miliknya, sengaja Jihan memakai kamera milik Sean, biar kalau rusak Jihan tak terlalu merasa bersalah, karena milik kakaknya sendiri. “Semangat Han! Lo pasti bisa!” batinnya. *** Damar tengah memantau acara ospek hari pertama ini, sesekali dia juga berbicara dengan Dosen yang ada mengawasi kegiatan ini. T ugasnya memastikan acara berjalan dengan lancar meski setiap divisi acara ini Damar yakin akan bertugas dengan baik tetapi dia tetap harus mengawasi sebagai ketua panitia acara ini.  Saat Damar tengah memantau kegiatan, berdiri sendiri di dekat mading karena Bani yang baru saja ijin untuk menge-cek lantai atas di mana kegiatan sedang berlangsung juga. Kedua mata Damar menangkap sosok gadis yang akhir-akhir ini membuat konsentrasinya menurun.  Damar tersenyum tipis, melihat Jihan yang tengah sibuk dengan kamera di tangannya, sesekali wajah gadis itu menekuk tampak kesal kemudian tersenyum cerah, bahkan melihat perubahan ekspresi Jihan yang seperti itu membuat Damar tak bisa mengalihkan perhatiannya. “Lo lihatin apa?” tepukan di bahunya membuat Damar tersadar. Dia menoleh ke arah samping di mana Faris tengah menatap dia penasaran karena tadi Faris perhatikan Damar begitu fokus entah pada objek apa karena saat Faris melihat ke arah tatapan Damar, tak ada siapa pun hanya ada tembok pemisah antara ruangan tempat fotocopy dan juga toilet.  Masa Damar memandangi toilet? “Bukan apa-apa, kepo lo!” “Idih! Gue tanya baik-baik juga,” ucap Faris. “Ngapain lo  ke sini?” tanya Damar mengingat tugas Faris di atas bukan berkeliaran di lantai satu seperti ini. Karena di lantai atas juga tengah berlangsung pengenalan jurusan merupakan jurusan Jepang dan Perancis dan di lantai satu ini juga sama hanya saja dengan dua jurusan lain yaitu Inggris dan Jerman. “Gue di suruh Pak Tama panggil lo. Selain lo ketua panitia ospek, lo juga masih ketua himpunan kan. Jadi jurusan lo ada di atas ngapain lo di sini,” ucap Faris. “Gue kan lagi mantau juga,” balas Damar. “Mantau, apa lo lagi cari gebetan,” celetuk Faris membuat Damar menatap ke arah temannya itu dengan kesal.  Gebetan? Ya benar sih tapi mana mau Damar jujur sekarang. Damar pun akhirnya ijin untuk ke lantai atas menemui Kaprodinya, Pak Tama. Damar sampai lupa sendiri kalau dia juga masih memegang jabatan ketua himpunan sudah pasti dia harus ada saat pengenalan jurusan. Nah kan apa kata Damar, dia itu jadi tak bisa konsentrasi karena terlalu memikirkan gadisnya, ah bahkan dengan seenaknya Damar meng-klaim Jihan sebagai gadisnya padahal status mereka belum jelas.  Bukan hanya status, Damar saja masih belum berkenalan dengan Jihan, kecuali di rapat waktu itu. **  “Lo kemana aja sih, Pak Ketua?” tanya Bani saat melihat Damar yang baru saja datang menghampiri dia yang tengah duduk di depan ruang kelas.  Di dalam sedang berlangsung pengenalan jurusan Bahasa Jepang, yang sedang mendapatkan pengarahan dari sang Ketua Program Studi. “Di bawah, gue lupa kalau jurusan kita di atas.” “Lo gimana sih, tadi gue telepon juga kagak di angkat terus.” “Iya sorry. Ponsel gue silent, lagian mana konsen kalau ponsel bunyi terus.” “Alah bukannya akhir-akhir ini lo sering gak konsen, jangan salahin ponsel lo.” “Sok tahu lo!” “Lo mikirin apa sih sampe gak konsen?” “Gak ada apa-apa. Capek doang kali jadi gak konsen.” “Gak biasanya.” “Dam, lo masuk!” ucap salah seorang panitia menyuruh Damar untuk masuk ke dalam ruangan kelas. Damar mengangguk kemudian merapikan penampilannya, di hadapan Mahasiswa baru dia harus mencerminkan yang baik, kan. ** Acara hari pertama selesai, Jihan bernapas lega karena dia bisa melewati hari ini dengan lancar. Meski masih tersisa dua hari lagi, karena acara ospek ini memang di adakan selama tiga hari dan hanya di kampus saja. Jihan jadi ingat kembali saat dia menjadi salah satu mahasiswa baru yang tengah di ospek. Waktu itu Jihan masih memakai seragam sekolah dan rambut yang di ikat dua karena dia lahir di bulan Februari. Beruntung sekali, coba kalau dia lahir di bulan Desember, banyak sekali kan nanti dia kalau mengikat rambut.  Selain masih memakai seragam juga rambut yang di ikat sesuai bulan kelahiran, tali sepatu juga jadi sangat aneh menurut Jihan. Jelas saja karena harus memakai tali sepatu berwarna kuning, sesuai dengan jurusan masing-masing. Jurusan Jepang berwarna kuning, Inggris merah muda, Jerman biru dan Perancis putih. “Lo udah selesai, Han?” tanya Nana membuat ingatan Jihan akan masa ospeknya dulu buyar.  Nana baru saja menghampiri Jihan yang tengah duduk di depan ruangan panitia. Sementara sejak tadi Nana memang masih membereskan sisa konsumsi dengan teman-teman satu divisinya. “Udah. Lo udah juga?” Nana mengangguk, “Kenapa lo gak masuk ke ruang panitia aja dari pada di sini?” “Gak ada teman. Lagian seniorr semua, risih gue,” balas Jihan. “Kebiasaan lo! Coba buat akrab sama orang baru, masa lo dekat sama gue sama Sinta doang. Paling selebihnya sama teman satu kelas.” “Ya gimana, lo tahu gue susah buat deket sama orang baru.” “Ayo semua kumpul dulu di ruangan!” teriakan salah satu panitia menghentikan obrolan Jihan dan Nana.  Mereka pun beranjak dan masuk ke dalam ruangan panitian. Mungkin untuk melakukan evaluasi di hari pertama ospek ini, entahlah Jihan tak mengerti apa istilahnya. Yang jelas sekarang dia ingin segera pulang dan mandi, badannya terasa lengket sekali dan Jihan sudah tak nyaman. Semua panitia sudah berkumpul, Jihan harus duduk dengan teman satu divisinya. Berpisah dengan Nana yang duduk di belakangnya. Mereka masih menunggu kedatang sang ketua panitia yang tadi sepertinya tengah berbincang dengan salah satu Dosen pengawas acara ini.  Tak berselang lama, Damar yang sejak tadi di tunggu oleh mereka masuk ke dalam ruangan. “Selamat sore semuanya, terima kasih atas kerja sama kalian di hari pertama pembukaan masa orientasi mahasiswa baru ini. Kegiatan hari pertama ini berjalan dengan lancar meski ada sedikit hambatan tetapi masih bisa di atasi. Terima kasih kepada semua divisi yang terlibat di kegiatan ini terutama divisi acara yang sudah begitu banyak membantu acara ini berjalan dengan sesuai jadwalnya. Juga divisi lainnya yang melakukan tugas masing-masing dengan begitu baik,” ucap Damar membuat semuanya fokus mendengar sang ketua. “Mulai besok acara intinya selama dua hari ke depan. Semoga kita diberi kesehatan dan kelancaran dalam mengikuti kegiatan dua hari ke depan. Saya selaku ketua panitia mengingatkan kembali untuk semua panitia di mohon hadir tepat waktu sesuai dengan apa yang sudah kita sepakati sebelumnya dan untuk yang terlambat, mendapatkan hadiah pastinya. Hadiah yang membuat tubuh sehat.” “Besok dan lusa pasti butuh tenaga ekstra, jadi jaga kondisi tubuh kalian. Kalau begitu untuk hari ini kita akhiri saja dan sekali lagi saya berterima kasih kepada kalian yang sudah bekerja keras di hari pertama ini, selamat beristirahat dan besok jangan sampai ada yang terlambat,” perkataan Damar menutup evaluasi singkat mereka. Satu per satu panitia meninggalkan ruangan, begitu juga Jihan yang semangat sekali karena akan pulang. Sejak tadi sang ketua berbicara di depan, Jihan benar-benar mengantuk. Dia butuh tempat tidur kesayangannya, dan dia juga butuh air untuk menyegarkan tubuhnya. Jihan dan Nana keluar dari ruangan, Jihan mengeluarkan handphone-nya dan mencari kontak salah satu kakaknya. “Lo di jemput kan?” tanya Nana. “Iya, ini gue mau telepon Abang dulu,” balas Jihan. “Ya udah kita tunggu di bawah aja, gue juga masih nunggu Kak Bani. Kayanya masih bicara sama Kak Damar,” ajak Nana yang di angguki oleh Jihan. Mereka pun masuk ke dalam lift dan menuju lantai bawah, dengan Jihan yang tengah menelepon kakaknya. *** “Sakit banget kakinya,” keluh Jihan saat dia berada di dalam mobil, mereka masih dalam perjalanan pulang ke rumah dan sejak tadi Jihan mengeluh karena kedua kakinya sakit mungkin karena seharian ini berdiri dan berjalan ke sana ke mari. “Nanti di rendam pake air hangat,” ucap Sean masih fokus pada jalanan. “Masih ada dua hari, kapan sih bebas dari penyikasaan ini,” ucap Jihan penuh drama. “Lebay banget kamu, Dek. Lagian bagus kamu bisa aktif organisasi. Kegiatan pertama yang kamu ikutin di kampus selain kegiatan lomba jadi harus semangat dong gak boleh ngeluh terus.” “Semangat sih semangat, tapi kaki aku sakit, Abang,” rajuknya. “Sabar. Kan tadi Abang bilang sampe rumah langsung di rendam kakinya, nanti juga hilang pegalnya. Kamu kaya nenek-nenek aja.” “Abang ih!!” pekik Jihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD