5. Cemburu gak ada status

1292 Words
“Makasih ya, Kak. Maaf udah ngerepotin,” ucap Jihan sambil melepas helm-nya dan memberikan helm tersebut kepada Herlan. “Yoi! Sama-sama, sering juga gapapa,” candanya membuat Jihan tertawa.  Herlan memang mudah sekali akrab dan asyik di ajak untuk bicara, begitu yang Jihan rasakan selama mereka di perjalanan. Meski Jihan sulit dekat dengan orang baru tetapi pembawaan Herlan yang asyik membuat Jihan tak kesulitan untuk adaptasi dengan orang baru seperti Herlan. “Mau mampir dulu, Kak?” Jihan menawarkan meski dia juga agak ragu karena belum pernah ada laki-laki yang dia ajak ke rumah, ya ini sekedar basa-basi saja sih. “Kayanya lain kali aja, gue harus cepet pulang sebelum ada yang ngamuk,” ucap Herlan membuat Jihan mengernyit.  Siapa yang mengamuk?  Namun  setelah itu Jihan pun mengikuti arah pandang Herlan, dan tak jauh dari mereka Dio tengah mengawasi mereka di dekat pintu rumah dengan tangan yang bersedekap. Jihan meringis, “Iya bener kata lo, Kak. Kayanya lo harus cepet-cepet kabur sebelum Kakak gue macam-macam,” ucap Jihan sedikit berbisik, Herlan tertawa pelan dan itu malah membuat Dio semakin menatap mereka dengan tajam, seenaknya saja tertawa bersama di depan dirinya. Herlan pun pamit pulang dan segera menyalakan motornya, menjauhi rumah Jihan. Sementara Jihan yang sudah memastikan Herlan sudah berlalu kemudian melangkah menghampiri Dio yang masih menatapnya. “Bagus! Pulang sama cowok, kalau kamu kenapa-napa gimana, kata Sean kamu pulang sama Nana. Kenapa sekarang malah sama cowok lain? Kenapa gak telepon Kakak?” tanya Dio berturut-turut tanpa jeda sekalipun. “Satu-satu deh Kak, borongan banget. Jihan kira Kak Dio masih sibuk jadi tadi gak telepon. Lagian Kak Herlan baik orangnya, gak macam-macam sama Jihan kok,” ucap Jihan. “Gak macam-macam bukan berarti gak akan. Ini yang terakhir, Kakak gak mau lihat kamu di anter sama cowok lain! Ini juga demi keselamatan kamu,” balas Dio. “Iya deh maaf. Ini pertama dan terakhir, mungkin,” ucap Jihan memelankan perkataan terakhirnya.  Dia kan tak tahu apa nanti akan diantar oleh laki-laki lagi atau tidak, lagi pula dia sudah dewasa kenapa kedua kakaknya ini sangat over sekali kepadanya. “Aku mau ke kamar, jadi stop omelin aku, aku bukan anak kecil Kakak,” lanjutnya kemudian Jihan berjalan menjauhi Dio. Bisa panas kupingnya kalau masih ada di dekat kakaknya itu.  Dio berdecak, kenapa adiknya susah sekali di beritahu. Dia kan tak ingin terjadi sesuatu pada adiknya, Jihan itu bagi dia masih tetap anak-anak meski usianya memasuki dua puluh tahun. Manjanya Jihan membuat adiknya itu selalu tampak seperti anak kecil, kenapa sekarang malah protes mengatakan dia tukang ngomel. **  Jihan menyimpan kamus dan buku yang tadi dia bawa di atas meja belajar, hari ini begitu melelahkan. Belum lagi tadi dia harus ikut kumpul kepanitiaan yang ternyata memakan waktu cukup lama.  Dia bosan sekali, kalau saja Nana tak terus menegur dan menyuruhnya untuk sabar sampai rapat tadi selesai, dia sudah ingin keluar saja dari ruangan itu.  Di tambah Jihan yang risih sekali dengan tatapan salah satu seniornya, bukannya dia tak tahu kalau sejak rapat berlangsung sang ketua panitia selalu saja memperhatikan dirinya, Jihan hanya pura-pura tak menyadarinya.  Ya ganteng sih, tapi kan Jihan takut juga kalau di tatap seperti tadi. “Kenapa marhatiin gue terus ya,” gumamnya.  “Atau gue terlalu cantik sampe dia terpesona,” lanjutnya kemudian Jihan tertawa dengan perkataannya sendiri. Terlalu percaya diri sekali dirinya, tetapi Jihan benar-benar penasaran, kenapa si ketua panitia tadi terus saja memperhatikan dirinya. “Jangan-jangan gue mau di bully,” ucapnya  lantas bergidik, “Serem amat. Gue gak mau macam-macam deh.” ** Damar baru saja sampai di rumah, merebahkan tubuhnya di sofa ruangan tengah. Sejak di perjalanan pulang tadi dia terus memikirkan gadis yang bernama Jihan, gadis yang sudah mencuri perhatiannya. Lalu Damar kembali ingat dengan apa yang tadi dia lihat, Herlan, temannya itu begitu dekat dengan Jihan membuat hatinya memanas dan entah kenapa seperti ini.  Apakah benar dia sedang merasakan api cemburu? Tetapi hubungannya dengan gadis itu kan masih bukan siapa-siapa, kenapa Damar jadi seperti ini. Suara notifikasi pada handphonenya membuat Damar merogoh saku celananya. Kemudian membuka grup yang isinya Damar, Bani, Agil, Riki, Faris dan Herlan.  Grup yang terbentuk sejak mereka menjadi Mahasiswa semester pertama. Meski berbeda jurusan tetapi mereka tetap dekat karena saat masa orientasi waktu itu mereka berada di satu kelompok yang sama membuat mereka akhirnya bersama sampai sekarang. Grup Bangsull! Bani : Ada yang baru anterin cewek bos! Faris : Siapa? Wah berita viral kali ini. Riki : Beneran ceweknya atau malah cewek orang lain sob? Bani : Tanya aja sama orangnya, baik kan gue udah bikin Herlan si jomblo bisa anterin cewek hari ini. Riki : Anjirr! Serius Herlan si jomblo anterin cewek? Mantap Pak Eko! Faris : Lan, jangan diem-diem bae lo, ayo cerita sini sama Aa. Agil : Apa ni ribut-ribu? Faris : Si Herlan abis anterin cewek, Gil Agil : Siapa? Bani : Lan nongol Lan, netizen kepo ini. Herlan : Jangan bikin gosip lo, Ban. Bani : Nah muncul juga ini si jomblo. Herlan : Bngst! Faris : Ayo sini cerita sama Aa Faris, siap menjadi dokter cinta dengan pengalaman yang alhamdulilah wa syukurilah memadai. Riki : Ceweknya siapa sih? Adek Iki kepo banget Bang Herlan. Herlan : Jijik bangsul! Bani : Sahabatnya Nana, cewek gue. Yang tadi ikut rapat juga, duduk samping Nana. Faris : Njirr! Menang banyak lo, Lan. Gue aja terpesona pada pandangan pertama sama itu dedek gemes, imut gitu kan jadi mau bawa pulang. Riki : Pepet terus Lan jangan sampe kendor. Bani : Chat gue aja kalau lo butuh nomornya. Faris : Kirim sini lah, Ban. Masa Herlan doang, gue juga mau pdkt sama dedek gemes yang itu. Bani : Inget cewek lo di luar kota, Ris. Riki : Putus aja mewek lo pasti. Faris : Oh iya gue kan gak jomblo kaya si Herlan. Herlan : Kenapa jadi bawa-bawa gue k*****t! Damar juga jomblo. Bani : Dia jangan di tanya, susah jatuh cinta. Herlan : Ah lo pada gak tahu aja. Bani : Apa? Riki : Kirim lah nomor cewek itu, Ban. Damar : Berisik lo semua! Herlan : Ada yang cemburu gais. Wkwkwk Damar mendegkus menutup room chat-nya. Kenapa juga mereka harus membahas soal Jihan dan kenapa juga dia makin kesal saat tahu mereka sedang membahas Herlan yang mengantarkan Jihan dan juga teman-temannya meminta nomor Jihan kepada Bani. “Gue kenapa sih, aneh banget,” gumamnya. ** “Jadi kamu akhirnya ikut kepanitiaan itu?” tanya Sean, mereka baru saja selesai makan malam dan sekarang tengah bersantai di ruangan keluarga. Tetapi hanya ada Dio, Sean dan Jihan saja. Kedua orang tua mereka makan malam di luar bersama dengan rekan kerja sang ayah. “Iya lah. Mau gimana lagi, mana tadi lama banget padahal aku udah bosen,” keluh Jihan kepada kedua kakaknya. “Terus itu tadi siapa yang anterin kamu?” kali ini pertanyaan dari Dio meluncur, lebih kepada introgasi sang adik. Sean menatap ke arah Dio dengan tatapan bertanya, dia belum tahu apa-apa tentang ini. “Siapa yang anter? Bukannya tadi kamu bilang mau pulang sama Nana?" tanya Sean semakin membuat Jihan merasa di introgasi dengan sadis oleh kedua laki-laki yang duduk di sisi kiri dan kanannya. “Ini kenapa pada tanyain soal itu sih, udah di bilang Kak Herlan itu seniorr di kampus terus tadi ya karena searah jadi Jihan nebeng deh,” ucap Jihan menjelaskan. “Abang belum tahu, jelasin sejelas-jelasnya,” ucap Sean. Jihan memberenggut, “Udah Jihan jelasin kan barusan.” “Yang jelas, Dek.” “Itu juga udah jelas.” “Kurang jelas!” “Ih! Udah jelas juga, Jihan udah jujur lagian bukan pacar Jihan kenapa Abang sama Kakak kepo banget sih! Kalau punya pacar juga emang kenapa sih,” ucap Jihan. “Gak boleh!” pekik Dio dan Sean.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD