Saya Bisa Gila, Tuan!

1306 Words
“Tuan, sudah ada 500 orang yang daftar, saya bingung bagaimana caranya.” “Wow, serius kamu segitu banyaknya? Padahal ini baru setengah hari,” cecar Tuan Father. “Iya dong, pasti banyak. Karena mereka berharap diangkat jadi tuan putri di rumah ini, bukan hanya jadi pengasuh,” ucap sekretaris Al. “Loh, kok gitu? Kenapa bisa seperti itu? Kamu tahu dari mana, Al?” “Karena mereka terang-terangan tulis tanda cinta mereka pada Tuan, saya membacanya, ya, walaupun belum dibaca semuanya, pasti seluruhnya pun begitu, Tuan.” Tuan Father pun geleng-geleng dengan semua itu, dia sendiri tidak menyangka banyak sekali yang daftar, tadinya dia akan mengadakan pengumumannya selama satu bulan, nyatanya baru setengah hari pun sudah meledak yang daftar. “Kamu tahu, Al?” “Tahu apa, Tuan?” “Saya memang sekalian seleksi untuk calon istri, tapi kamu jangan bilang sama siapa-siapa,” bisik Tuan Father. “Hah? Serius, Tuan?!” Mulut Al sampai menganga, apalagi air liurnya muncrat saat berbicara. “Biasa saja kali, berlebihan kamu, Al.” “Gimana tidak berlebihan, Tuan? Saya benar-benar kaget, sungguh.” “Ya, maka dari itu harus ekstra, jangan sembarangan pilih orang, ya,” titah Tuan Father. Sekretaris Al pun tersenyum bahagia, akhirnya tuannya bisa move on juga dari masa lalunya yang kelam itu, walaupun caranya selalu aneh dan di luar pikiran manusia normal. “Kenapa kamu? Stress karena bingung pilih yang mana? Apalagi saya, hmm. Kamu urus, seleksi sampai sepuluh besar oke? Kalau sudah ada sepuluh wanita, baru beritahu saya!” “Siap laksanakan, Tuan.” “Oh, iya, satu lagi, kamu jangan lupa beli medali, sama piala, ya, sekalian cetak sertifikat juga untuk mereka yang nantinya sepuluh besar,” titah Tuan Father lagi. “Hah? Tu-tuan, bercanda, ya?” Lagi dan lagi sekretaris Al menganga tak percaya dengan semua itu, kelakuan tuannya semakin sedeng. Antara tidak jelas dengan sedeng hanya beda-beda tipis, selain mengangguk tidak ada lagi yang bisa Al lakukan saat ini, apalagi mengingat bagaimana rapuhnya perasaan tuannya saat itu, di saat dirinya dikhianati oleh wanita yang sangat dia cintai. “Kenapa kamu hah hah terus dari tadi? Laksanakan! Pokoknya sore langsung tutup pendaftaran, jangan terlalu banyak nanti kamu pusing, pokoknya kamu tahu lah gimana selera saya, intinya mengatas namakan pengasuh bukan istri, oke?” “Kenapa harus begitu, ya? Kenapa tidak langsung umumkan ini untuk calon istrinya Tuan, supaya mereka ....” “Saya tidak mau salah pilih lagi, apalagi harus bertemu dengan wanita haus akan s*x, itu tidak bisa terjadi lagi! Kamu pahami diri saya, Al.” “Hmm, baiklah, Tuan, saya akan kerjakan semuanya dengan sebaik mungkin, saya permisi,” pamit sekretaris Al. Tuan Father pun hanya tersenyum, dia sendiri bingung kenapa juga harus sayembara segala? Padahal sudah sangat jelas, banyak sekali wanita yang ngantri untuk menjadi kekasihnya dari dulu. “Semuanya cantik, tapi sayang ... palsu!” Tuan Father pun melanjutkan lagi acara nontonnya, dia selalu begitu selama kakinya lumpuh. Baginya, berkerja pun tidak ada artinya lagi, dulu dia bekerja keras untuk menghidupi Seli, kekasihnya tujuh tahun bersama, tetapi apa? Di tengah jalan saja sudah menyakitkan, bisa saja dari dulu Tuan Father meminta hak waris dari keluarganya, tetapi dia terlalu mencintai Seli, dan memilih untuk bekerja dengan keahliannya selama kuliah dulu. Sedangkan yang dilakukan oleh Ambar, dia tetap sibuk dengan pencariannya di internet, koran, dan bahkan majalah terkini, di Jakarta belum mendapatkan pekerjaan tetap, selama ini dia bertahan hidup dengan hasil mencuci baju sesama anak kost. Tadinya pun Ambar ingin ngontrak, tetapi biayanya yang tidak pas, dia harus menghemat sampai berhasil mendapatkan pekerjaan tetap, benar kata orang tuanya dulu sebelum dia nekat pergi ke Jakarta, kehidupan di Jakarta itu luar biasa sulit, berbeda dengan kehidupan di desa. “Aku harus nyari di mana lagi coba? Uang mau menipis, mana nggak ada lagi yang minta dicucikan pakaiannya, aku harus cari ke luar, jangan berdiam diri di sini aja.” Ambar mengganti pakaiannya menjadi pakaian sopan, yang tadinya hanya memakai piyama Upin Ipin saja, sekarang dia sudah rapi memakai pakaian putih lengan panjang, beserta celana jeans yang tidak terlalu ketat. “Kayak gini aja kali, ya? Toh, kalau di Jakarta pakai rok terus nggak enak, takut ada penjahat kelamin hih amit-amit gusti.” Menyiapkan bekal, beserta semua perlengkapan untuk melamar pekerjaan, siang hari memang sangat panas, buktinya baru sebentar berjalan kaki saja sudah gerahnya minta dikawini. “Panas banget, sih, beda sama suasana desa yang sejuk.” Ambar pun tak sengaja mendengar percakapan orang-orang yang ada di dekatnya, percakapan itu tentu membuat Ambar mempunyai peluang untuk bekerja. “Kamu tahu belum? Baru setengah hari saja udah 500 orang lebih loh yang daftar, dan katanya juga sore bakalan resmi ditutup.” “Oh, iya? Terus kita gimana dong belum daftar, ayolah, gas ... siapa tahu dapat pekerjaan itu lalu digaet sama sugar Daddy ha ha.” Sugar Daddy? Maksudnya apa? Ambar sampai kebingungan sendiri, daripada penasaran langsung saja Ambar mencari tahu sendiri apa pekerjaannya, sampai diperbincangkan banyak orang. “Nah, ini pengumuman nya ada di tembok juga, wah gajinya Masya Allah, cuma jadi pengasuh? Namanya siapa, ya, yang mau diasuh? Kok pakai tulisan Turkey begini, ah aku daftar aja deh, ini pekerjaan halal kok, sebelum ditutup.” *** Sorenya, sekretaris Al benar-benar sudah menutup pendaftaran tersebut, dia sampai terkejut dengan total jumlah yang daftar, pasti niatnya karena ingin menggoda tuannya, sekretaris Al hafal akan hal itu. “Permisi, Tuan, saya sudah resmi tutup, ya, totalnya yang daftar sebanyak 1.700 ribu orang Tuan, nanti kita seleksi nya bagaimana, Tuan?” tanya sekretaris Al. Tuan Father yang saat ini tengah memasukkan salad buah ke mulutnya pun sampai tersedak saking terkejutnya dengan jumlah orang yang daftar. “Uhukkkk. Uhukkk.” “Eh, Tuan, kenapa? Ini minum dulu, Tuan.” Tuan Father pun meneguk air minumnya dengan cepat, “Kamu seriusan sebanyak itu? Banyak sekali, mereka semua dijamin perawan tidak?” Sekretaris Al sendiri tidak yakin semuanya masih perawan, masa harus dicek satu-persatu? Kan, gila kalau seperti itu. “Saya kurang tahu, Tuan.” “Kamu cek lah, satu-persatu.” “Wah, Tuan, jangan seperti itulah. Saya hanya ingin melihat kepunyaan istri saya nanti, jangan seperti itu haduh beresiko digaplok.” “Gimana kalau Tuan saja yang cek eh.” “Sialan, memang kamu pikir saya apa? Bisa terkena penyakit AIDS kalau saya cek satu-persatu, amit-amit jabang orok.” Sekretaris Al sendiri sampai keceplosan terkekeh di hadapan tuannya, memang sangat lucu jika dibayangkan, apalagi kalau sampai benar seperti itu dilakukan, bisa turun derajat tuannya. “Kamu tahu tidak gimana caranya cek keperawanan wanita tanpa menyentuh apalagi melihatnya, hih ataupun mencobanya, gimana, ya?” tanya Tuan Father. “Saya tidak tahu, Tuan, lagian ada-ada saja deh, memangnya kenapa kalau sudah tak perawan?” “Helo, saya selama ini menjaga dengan baik, selalu dirawat dengan kinclong, belum pernah disentuh wanita manapun selain orang tua saya waktu kecil, terus saya dapatnya bekas? Ogah!” “Terus, gimana kalau seandainya Allah kasih Tuan jodohnya yang sudah tak perawan? Mau gimana coba?” “Ya, selama masih ada perawan, kenapa harus yang bekas? Bukan, bukan masalah untuk kepuasan saya sebagai laki-laki, tapi kamu pikir deh, kalau wanita yang sudah dibobol kucing liar sebelum menikah, apa itu namanya dia wanita baik-baik?” tanya Tuan Father. “Tergantung, Tuan, kecuali yang diperkaos gitu, kan, musibah namanya.” “Heeh, terus saya harus gimana? Saya pengennya pengasuh yang perawan,” cicit Tuan Father. “Pengasuh atau istri, nih, hmm?” Goda sekretaris Al. Tuan Father pun menimpuk sekretaris Al dengan kaleng sarden cis bekas, dia benar-benar malu jika terang-terangan dibahas seperti itu, istri? Mungkin begitu. “Apa kita harus cek di rumah sakit, Tuan?” Sekretaris Al tiba-tiba mendapat ide. “No! Ribet, mereka banyak! Cari ide yang lain, apa kek gitu, besok harus terseleksi Okey! Sepuluh besar baru setorkan pada saya, sekian!” “Hah? Tuan ... saya bisa gila ... ahhhhh!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD