“Tuan, saya benar-benar minta maaf loh, tadi ke supermarket dulu,” ucap sekretaris Al di saat dia sudah sampai ke kediaman Tuan Father.
“Ya.”
“Walah, Tuan marah, ya?”
“Iya, marah.”
“Ihhh, kok gitu, Tuan? Bukannya Tuan sendiri yang pengen makan sarden cis, ini saya belikan, segar dan masih fresh.”
“Sejak kapan saya makan ikan? Kamu tahu sendiri saya alergi, kalau dimakan bisa kentut seharian! Buang!” titah Tuan Father, saat ini dia tengah asyik menonton Upin Ipin di televisi.
“Haduh, kok saya bisa lupa kalau Tuan alergi, ya, hih pasti ini ulahnya si ular centil itu, Tuan,” cecar sekretaris Al.
“Ya, lagian kamu mau saja disuruh-suruh sama dia, sudah tahu dia cuma mantan saya,” cicit Tuan Father.
“Iya juga, ya? Maafkan saya Tuan, maafkan.”
“Hmm, buruan kamu buang sana! Saya lagi asyik nonton, jangan diganggu dulu.”
“Tapi, orang tuanya Tuan sudah berkali-kali menghubungi saya, katanya kenapa kita menyembunyikan semuanya dari mereka selama setengah tahun ini, mereka sudah tahu keadaan Tuan,” ucap sekretaris Al.
“Pasti itu juga kerjaannya si ular centil Tuan.”
“Ya, biarkan saja lah, asalkan jangan para media yang tahu, bisa kacau saya, ditanya ini dan itu oleh mereka apalagi sampai diliput,” cetus Tuan Father.
“Gitu, ya, Tuan?”
Tuan Father melihat sekretaris Al seperti itu seketika langsung merinding, mereka lama-lama sudah seperti gay, ke mana-mana selalu bersama, hanya mandi saja yang pisah.
“Tuan, saya izin buang ini dulu, ya, permisi,” pamit sekretaris Al.
Dia tidak jadi membuang makanan cepat saji itu ke tong sampah, dia sibuk sendiri dengan bahan-bahan, serta alat-alat dapur, dengan cekatan juga dia masak semuanya.
“Daripada dibuang, mendingan saya makan he he, enak juga kayaknya.”
Buru-buru menyelesaikan masakannya, sebelum Tuan Father menyadari semua itu, menyajikan makanan tersebut di meja makan dapur, lalu dengan lahap sekretaris Al menghabiskan semuanya.
Sedangkan yang dilakukan Tuan Father adalah bosan, dia selalu duduk, tiduran, dan bahkan kadang-kadang Father ingin mati saja, hidupnya selalu bosan, kesepian.
“Saya harus gimana, ya? Masa harus merepotkan si Al terus, kalau dia terus-menerus ada di sini untuk kepentingan pribadi saya, lalu siapa nanti yang mengurus perusahaan? Aih, saya harus bagaimana lagi.”
Father merogoh saku celananya lalu memainkan ponselnya, dia tidak berminat untuk membaca pesan-pesan dari sang mantan, dia langsung hapus tanpa dibaca terlebih dahulu.
Mencari solusi yang terbaik di Mbah google, apa yang harus dilakukan di saat keadaan sedang lumpuh, agar tidak merasa bosan dan kesal pada diri sendiri.
“What? Harus punya pengasuh? Memangnya saya bayi apa harus diasuh, hih ngeri.”
Tiba-tiba sekretaris Al datang lagi, setelah selesai menyantap makanan tersebut di dapur, dia pun tak sengaja mendengar apa yang diucapkan tuannya.
“Tuan? Itu ide yang bagus, kenapa tidak pakai pengasuh khusus saja? Supaya Tuan ....”
“Malas, Al, nanti ujungnya si pengasuh itu godain saya, terus bucin gitu sama saya.”
“Lah, kok pede banget, Tuan? Eh Maaf Tuan.”
Mereka pun berpikir keras, apa yang harus dilakukan, antara harus mencari pengasuh atau tetap memakai Al sebagai asisten pribadi beserta sekretaris di perusahaan.
***
“Baik, cepat buat pengumuman untuk itu, saya mau pengasuh yang benar-benar baik!”
“Contohnya seperti apa Tuan? Biar saya catat dulu baru diumumkan.”
“Oke, dengarkan baik-baik tidak ada kata pengulangan oke?” Tuan Father pun menyebutkan satu-persatu.
“Pertama, jangan pakai make up apalagi sampai menor kayak badut!”
“Kedua, belum bersuami/pacar, bukan apa-apa, saya malas nanti jika dia alasan cuti untuk itu.”
“Ketiga, jangan terlalu cantik, nanti saya kegoda bisa kacau.”
“Keempat, jangan ambil orang yang latar belakangnya matre, mata duitan, karena dia kerja hanya dapat gaji bulan warisan ha ha.”
“Keelima, dia harus sopan pastinya, dia masih perawan!”
“Keenam, jangan sampai saya tahu kalau dia itu wanita yang sukanya main ke 'klub, itu akan mencemarkan nama baik saya.”
“Ketujuh, harus patuh pada semua perintah saya, jangan sampai dia orang yang pembangkang.”
“Delapan, jangan yang sexy please, bagaimanapun saya masih normal akan s*x, takutnya khilaf.”
“Sembilan, dia harus ... bagus ibadahnya, supaya saya aman bersamanya.”
“Dan sepuluh! Ini yang terakhir, paling penting dan jangan sampai kamu lewatkan, Al! Dia ... harus berasal dari desa asli! Bukan anak kota, selesai!”
Sekretaris Al kelelahan, padahal cuma sepuluh tetapi rasanya benar-benar seperti ribuan persyaratan, dia berpikir di dalam hati, ini mau cari pengasuh? Atau sayembara mencari istri untuk masa depan, Al gelang-gelang dengan semua itu.
“Gimana? Sudah dicatat semuanya, kan?” tanya Tuan Father.
“Sudah, Tuan, sudah.”
“Oke! Besok kamu sebarkan, pakai prin kek, atau langsung tulisan tangan kamu gapapa, kalau perlu modal gesek saja debit saya.”
“Siap paham, Tuan, tapi ... ini yakin persyaratannya, Tuan?”
“Lah? Emang kenapa? Itu sudah sangat benar, Al.”
Ingin rasanya Al komplen, tetapi dia takut kena semprot lagi, akhir-akhir ini tuannya itu memang sering mengamuk sudah seperti betina yang sedang datang bulan.
Menuruti apa yang sudah disepakati dengan tuannya, sekretaris Al sampai kelelahan mencetak pengumuman itu, dia hampir saja begadang semalaman.
Keesokan harinya, sekretaris Al sudah mulai menyebar pengumuman itu, tentu masalah gaji atau upahnya sudah ditulis sendiri oleh Tuan Father.
Besar kali, kenapa tidak Al saja coba kalau besar seperti itu upahnya, sekretaris Al sampai menggerutu sepanjang jalan.
“Asli, Tuan lagi kenapa coba? Sejak kapan pengasuh gajinya segini, sudah kayak nafkah saja.”
Banyak yang langsung tertarik, bahkan sudah mendaftar di link yang tertera, sekretaris Al sangat kewalahan mengatur semuanya, banyak yang mendaftar tetapi belum memenuhi persyaratan.
“Wah, ini gajinya benar segini, Pak? Besar sekali sampai 20juta sebulan, bisa kaya saya.”
“Tampan banget, ya, orang yang lumpuhnya? Kyut banget, sih, aku pengen daftar ah.”
“Pokoknya harus aku yang menang, semoga yes!”
“Dia kaya raya banget pasti, wuhui harus cepat-cepat daftar.”
Masih banyak lagi para gadis ingin daftar, hanya saja sekretaris Al yang kebingungan, kenapa yang daftar kebanyakan sexy banget, itu, kan, paling dibenci tuannya.