Insiden tersebut membuat Father maupun wanita itu diam membisu, tak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Seluruh tubuh mereka pun sudah berlumpur, kedua kaki Father kembali sakit.
“Aaaa ....”
“Loh, kamu kenapa? Perasaan tadi nggak kenapa-kenapa deh,” tanya wanita itu.
“Aaaa, kaki saya. Tolong, kedua kaki saya sakit dan keram,” ucap Father.
Tidak tega dengan kondisi laki-laki galak itu, dengan cepat memapah perlahan sampai ke atas tanpa menghiraukan kursi roda yang saat ini sudah berantakan di sawah.
Berteriak meminta tolong pun hasilnya sia-sia, tidak ada orang yang mendengar teriakan wanita itu, Father semakin kesakitan apalagi rasanya keram itu tak dapat lagi tertahankan.
“Hei, kamu ga papa, kan? Rumah aku nggak jauh kok dari sini, mau, kan?”
“Ahhh, lama. Ayo, aku bantu papah kamu sampai ke rumahku.”
Benar saja, wanita itu sangat kuat. Padahal berat badannya lebih ringan dibandingkan Father jika diukur, membuat Father menatap wanita itu tak berkedip.
“Awas tuh mata, aku colok! Udah ayo, kamu nggak bisa jalan sama sekali, ya? Berat banget.”
“Ya, namanya juga saya lumpuh. Kalau saya bisa berjalan, dari tadi juga sudah pergi!”
“Biasa aja dong, nyolot banget jadi laki.”
“Heeeh, itu mulut bisa diam tidak? Buruan, rumah nya masih jauh bukan? Sudah tak tahan lagi,” cetus Father terlihat tidak sabaran.
Tanpa memikirkan bagaimana beratnya dia, Father terus meringis kesakitan, dengan cepat mereka sudah sampai ke sebuah rumah yang sangat sederhana.
“Kok kita ke kandang ayam, sih? Katanya mau ke rumah!” teriak Father, sembari menahan sakitnya.
“Kamu itu nggak tahu diri banget, sih, udah bagus aku tolong kamu. Udah ayo, masuk. Biar aku panggilkan Ibu,” titah wanita itu langsung membantu Father berbaring di tempat tidur yang terbuat dari anyaman bambu, Bale.
Wanita itu pun tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil ibunya, Father hanya bisa memejamkan kedua matanya saja saat ini, kedua kakinya benar-benar keram.
“Ini siapa? Kamu kenapa bawa laki-laki asing ke rumah kita, Bungsu?”
“Maaf, Ibu. Tadi ... pokoknya ceritanya panjang lebar kalau harus diceritakan sekarang juga, kasian atuh orangnya kesakitan sampai tidur gitu,” sahut wanita itu, yang tak lain adalah Ambar.
Ibu Salma pun langsung terkejut di saat kedua matanya melihat bagaimana keadaan anak bungsunya dan juga laki-laki itu.
“Ya Allah, ari kamu kunaon? Eta baju kuat kotor kitu, eta deuih lalaki ngiluan kotor bajuna,” tanya Ibu Salma rempong.
Penuh rasa takut, Ambar pun mulai menceritakan dari awal sampai akhir, tetapi dia tidak memberitahu perihal ciuman itu, takut-takut ibunya nambah syok.
“Waduh, kalau gitu biar bapakmu yang bantu dia, kita sebagai wanita masa iya gantikan pakaian untuk laki-laki asing,” ucap Bu Salma.
Ambar pun setuju dengan usul ibunya, sembari menunggu bapaknya pulang dari tempat kerjanya, Ambar dan ibunya sudah mengobati kedua kaki Father dengan obat herbal, menggotong Father ke dalam rumah mereka dengan susah payah.
“Kenapa atuh kakinya bisa keram, ya?”
“Kan, aku udah cerita. Dia lumpuh, Bu.”
Suara ketukan pintu membuyarkan mereka, yang datang adalah Pak Salim, orang tuanya Ambar. Tanpa berlama-lama Ambar langsung menceritakan semua yang sudah terjadi kepada bapaknya.
“Kita harus lapor Pak RT, jangan dibiarkan di rumah kita seperti ini atuh, takutnya dia orang jahat,” ucap Pak Salim.
“Ihhh, nggak Bapak, dia orang baik ... maksudnya, dia nggak mungkin orang jahat,” protes Ambar.
“Gimana coba kamu bisa yakin dia bukan orang jahat? Bisa aja dia itu ....”
“Bapak ih! Ayo, buruan gantikan pakaian dia dulu, masa harus Ibu yang melakukannya? Emang Bapak ikhlas ha ha,” ucap Ibu Salma menggoda suaminya.
“Hih, ulah kitu atuh, ya baiklah, Bapak saja yang gantikan pakaian untuknya, daripada kalian yang turun tangan, kamu juga ganti pakaian dulu, Ambar,” titah Pak Salim.
Ambar mengganguk, lalu dia dan ibunya meninggalkan Pak Salim yang menggantikan pakaian bersih kepada Father. Entah memang tidur pulas karena lelah, atau pingsan, yang jelas Father tidak berkutik sama sekali walaupun tubuhnya disentuh Pak Salim.
***
Malam harinya, Father pun sudah diberikan makan malam oleh keluarga Ambar, kursi roda yang berantakan dan tadinya banyak lumpur, sudah Ambar bersihkan kembali.
“Loh, kok bisa? Kenapa kursi roda saya jadi bagus lagi?”
“Ya, bisalah. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, selama kita punya kemauan,” jawab Ambar.
“Oh,” tambah Father.
“Cuma oh doang?”
“Terus maunya apa? Saya sudah bagus mau makan makanan tadi! Bau dan tidak ada rasanya.”
“Heh, kamu boleh hina aku, ya, tapi jangan pernah hina apapun yang bersangkutan dengan kedua orang tuaku,” cetus Ambar, berkacak pinggang.
Father hanya mendelekkan kedua matanya dengan tajam, tak memikirkan perasaan Ambar sama sekali.
“Ini terus yang ganti pakaian saya siapa? Kamu hah?”
“Enak aja, bukan aku lah. Mana mau aku lihat kamu hih.”
“Halah, terus siapa? Paling kamu ketagihan yang di sawah itu, kan? Ciuman sama saya, iya? Ngaku aja kali, saya sudah hafal wanita modelan kamu.”
Ambar geram, hampir saja tangannya melayang, hanya saja dia mengingat kembali petuah yang ibunya kasih tahu, jangan pernah bertindak sebelum berpikir dua kali.
“Kenapa? Tampar ya tampar saja.”
“Tanganku terlalu bersih untuk tampar orang kayak kamu, sombong!”
“Heh ... kalian kok malah pada ribut, sudah malam, nggak baik berduaan di luar seperti ini, takut ada tetangga yang ngomong aneh-aneh, ayo, kita masuk,” ucap Ibu Salma tiba-tiba melerai mereka.
“Hmm, tidak usah, saya sebentar lagi akan dijemput oleh asisten kok, terima kasih sebelumnya, Bu,” sahut Father.
“Loh, kok bisa? Asisten siapa, ya?” tanya Bu Salma.
“Kebetulan ponsel yang ada di saku celana saya tadi masih hidup walaupun tercebur, jadi masih bisa berkomunikasi dengan asisten pribadi saya.”
Ibu Salma hanya tersenyum paham, sedangkan yang dilakukan Ambar adalah menahan rasa kesalnya untuk hari ini, hari yang paling buruk baginya.
Sudah diambil ciuman pertamanya oleh laki-laki asing, mana sombong, dan galak pula, ditambah ... hari ini laki-laki itu terus menghinanya. Sudah jatuh tertimpa tangga.
“Ambar, selama asistennya belum datang, kamu tungguin Nak Father ini, ya,” titah Ibu Salma.
“Kok aku, Bu? Bu ... udah di sini aja temenin aku.”
“Kamu takut sama saya? Sampai-sampai ibumu tidak boleh pergi?”