bc

CANDU MANTAN ISTRI

book_age18+
61
FOLLOW
1K
READ
billionaire
revenge
dark
family
HE
age gap
second chance
badboy
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
bold
city
office/work place
enimies to lovers
secrets
friends with benefits
surrender
assistant
like
intro-logo
Blurb

Warning area 21++!!🔞" "Gimana? Puas?" tanya Dewa dengan nada datar.Aruna tersenyum malu meski tubuhnya masih terasa nyeri."Iya, Mas... walaupun masih perih. Tapi aku bahagia akhirnya kita bisa melalui malam pertama dan aku bisa memberikan segalanya untukmu," ucapnya tulus.Namun senyum itu perlahan memudar saat Dewa bangkit dari ranjang dan mulai mengenakan kembali pakaiannya. Tatapan pria itu berubah dingin."Mulai malam ini aku menceriakan kamu, Aruna Sasmita," ucap Dewa tanpa perasaan. "Kamu bukan istriku lagi."Aruna Sasmita diceraikan suaminya di malam pertama karena dituduh menjadi penyebab kematian kekasih pria itu. Namun semuanya berubah saat sang mantan suami mengetahui fakta bahwa wanita yang ia cintai ternyata hamil anak pria lain dan yang membunuhnya adalah mantan tunangan Aruna. Penyesalan membuat kebenciannya berubah menjadi obsesi pada Aruna. Kini, di tengah luka dan pengkhianatan, akankah Aruna membalas dendam atau kembali membuka hatinya?

chap-preview
Free preview
Talak di malam pertama
"Ugh..."Aruna Sasmita mengerang pelan ketika malam pertama mereka berakhir. Air mata haru menggenang di sudut matanya. Ia baru saja menyerahkan seluruh kepercayaan dan cintanya kepada pria yang kini sah menjadi suaminya, Dewa Adiwangsa Pradipta. Pria itu menoleh sekilas pada Aruna yang wajahnya masih memerah. "Gimana? Puas?" tanya Dewa dengan nada datar. Aruna tersenyum malu meski tubuhnya masih terasa nyeri. "Iya, Mas... walaupun masih perih. Tapi aku bahagia akhirnya kita bisa melalui malam pertama dan aku bisa memberikan segalanya untukmu," ucapnya tulus. Namun senyum itu perlahan memudar saat Dewa bangkit dari ranjang dan mulai mengenakan kembali pakaiannya. Tatapan pria itu berubah dingin. "Mulai malam ini aku menceriakan kamu, Aruna Sasmita," ucap Dewa tanpa perasaan. "Kamu bukan istriku lagi." Deg. Tubuh Aruna langsung membeku. "A-apa?" suara Aruna bergetar. "Cerai? Kenapa, Mas? Kita baru menikah tadi pagi..." Dewa menatapnya penuh kebencian. "Aku menikahi kamu hanya untuk membalas dendam atas kematian calon istri dan anak ku." Nama itu membuat Aruna terdiam. "Calon istri...?" bisiknya lirih. "Iya!" bentak Dewa penuh amarah. "Wanita yang sedang mengandung anakku! Dia meninggal beberapa bulan lalu karena kamu membunuhnya!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Aruna. Ia menggeleng pelan dengan nafas tak beraturan. "Aku bahkan tidak mengenalnya," jawab Aruna dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu siapa wanita itu." "Diam!" hardik Dewa kasar. "Jangan berpura-pura tidak tahu!" Aruna tersentak. "Aku serius!" ucapnya cepat. "Aku memang pernah dengar calon istrimu meninggal, tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Kita juga baru saling mengenal beberapa bulan sebelum pernikahan ini!" Dewa tertawa sinis. "Jangan bohong, Aruna. Aku tidak akan percaya dengan omonganmu." Dewa mengambil ponselnya dari meja samping ranjang lalu menunjukkan sebuah foto. "Ini kamu, kan?" Aruna menatap layar itu beberapa detik sebelum mengangguk pelan. "Iya... itu aku beberapa bulan lalu." "Nah!" Dewa langsung menunjuk wajah Aruna. "Kamu datang ke rumah Veronica untuk membunuhnya karena iri!" Aruna menatap Dewa tak percaya. "Iri?" ulangnya pelan. "Iya!" Dewa semakin emosi. "Kamu iri karena Veronica cantik, terkenal, seorang model dan artis ternama! Sedangkan kamu tidak sepopuler dia!" Aruna langsung menghapus air matanya. "Untuk apa aku iri padanya?" balas Aruna tajam. "Aku tidak sudi iri pada w************n seperti dia!" Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Aruna hingga wajahnya terlempar ke samping. "Kurang ajar kamu!" bentak Dewa. Plak! Tamparan kedua kembali mendarat. "Apa yang kamu katakan tentang Veronica?" rahang Dewa mengeras penuh amarah. "Dia wanita terhormat, tidak seperti yang kamu bilang!" Aruna memegang pipinya yang terasa panas sambil menatap Dewa dengan mata berkaca-kaca. "Wanita terhormat?" tawanya lirih penuh luka. "Wanita terhormat mana yang tidur dengan tunangan orang lain?" Dewa mengepalkan tangannya. "Jaga mulutmu!" "Dia bahkan merebut Lingga dariku!" suara Aruna mulai meninggi. "Wanita seperti itu lebih hina daripada p*****r!" "Kamu yang p*****r!" bentak Dewa murka. "Veronica tidak mungkin tidur dengan pria lain!" Aruna tertawa pahit. "Oh ya?" tatapannya penuh luka. "Menurutmu dia bisa menjadi artis papan atas karena apa? Karena bakat?" "Jangan fitnah dia," desis Dewa. "Aku tidak memfitnah!" balas Aruna emosi. "Dunia hiburan itu kotor, Mas! Dan Veronica tahu betul cara memanfaatkan wajah cantiknya untuk naik ke atas!" "CUKUP!" bentak Dewa. "Aku muak mendengar kamu terus menghina Veronica!" "Aku hanya mengatakan fakta!" Air mata Aruna kembali jatuh. "Aku sendiri yang melihat dia tidur bersama Lingga, mantan tunanganku, dan beberapa pria lainnya!" Namun Dewa sudah terlalu dibutakan oleh cinta dan dendam untuk mempercayai satu kata pun dari Aruna. "Kalau kamu tetap tidak percaya, itu urusanmu," ucap Aruna dingin sambil turun dari ranjang. Dengan tubuh yang masih gemetar menahan emosi dan rasa sakit, Aruna memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dewa menatapnya tajam. "Kamu mau ke mana?" Aruna mengenakan dress-nya satu per satu dengan wajah dingin penuh luka. Lalu ia tersenyum sinis. "Dan satu lagi..." Aruna menoleh menatap Dewa tajam. "Pelayanan mu kurang memuaskan." Deg. Rahang Dewa langsung mengeras. "Asal kamu tahu," lanjut Aruna sengaja menusuk harga diri pria itu, "aku hanya berpura-pura menikmatinya tadi." "Apa?!" Dewa berdiri dari ranjang dengan wajah gelap penuh amarah. "Bukannya tadi kamu bilang enak? Dasar jalang!" Aruna tertawa kecil penuh ejekan meski matanya masih basah oleh air mata. "Itu karena aku masih menghargaimu sebagai suami," balasnya tajam. "Tapi sekarang? Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku." Dewa mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku." "Kenapa?" Aruna menatapnya tanpa takut. "Harga dirimu merasa dijatuhkan?" Tatapan Dewa semakin menyeramkan. "Jangan main-main denganku, Aruna." "Yang bermain-main itu kamu!" bentak Aruna akhirnya kehilangan kesabaran. "Kamu menikahiku hanya untuk balas dendam! Bahkan setelah mengambil keperawananku, kamu langsung membuangku begitu saja!" Napas Dewa memburu menahan emosi. "Karena kamu pantas mendapatkannya!" "Tidak!" suara Aruna bergetar penuh kemarahan. "Karena aku tidak pernah membunuh Veronica!" Namun Dewa tetap menatapnya penuh kebencian. Air mata Aruna akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. Bukan karena ingin dikasihani, melainkan karena harga dirinya telah diinjak-injak oleh pria yang baru beberapa jam lalu mengucapkan janji suci pernikahan. Dengan tangan gemetar, Aruna mengambil pakaian dari dalam koper dan mulai mengenakannya. Setiap langkah terasa menyakitkan, tetapi ia menahan semuanya dengan tegar. Dewa hanya memandang dingin. "Hari ini bukan kamu yang membuangku, Dewa," ucap Aruna sambil menahan isak tangis. "Aku yang memilih mengakhiri hubungan ini. Jika kamu yakin aku bersalah, buktikan di pengadilan." Aruna menarik koper miliknya dan berjalan menuju pintu.Ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Aku datang ke pernikahan ini dengan cinta dan ketulusan. Tapi aku pergi dengan kehormatan yang masih aku miliki. Sampai bertemu di pengadilan, Dewa Adiwangsa Pradipta." Setelah mengatakan itu, Aruna melangkah keluar dari kamar pengantin yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan rumah tangganya. Malam pertama yang diimpikannya berubah menjadi malam paling menyakitkan dalam hidupnya. Pintu kamar tertutup dengan keras setelah Aruna pergi membawa koper miliknya. Keheningan langsung menyelimuti kamar pengantin yang beberapa saat lalu menjadi saksi hancurnya pernikahan mereka. Dewa Adiwangsa Pradipta berdiri mematung di samping ranjang. Napasnya masih memburu akibat pertengkaran sengit yang baru saja terjadi. Dengan rahang mengeras, ia mengusap wajahnya kasar. "Seharusnya aku puas..." gumamnya pelan. Tatapannya kemudian jatuh pada ranjang yang berantakan. Saat hendak merapikan selimut yang kusut, matanya terhenti pada noda merah di atas sprei putih. Dewa membeku. Tatapannya terkunci pada bercak itu selama beberapa detik. "Noda darah...?" bisiknya lirih. Perlahan, ia meremas sprei tersebut dengan tangannya. "Dia... benar-benar masih perawan?" gumamnya tidak percaya. Pikiran Dewa mendadak kacau. Selama ini ia meyakini bahwa Aruna adalah wanita licik yang mampu melakukan apa saja demi mencapai tujuannya. Namun kenyataan di hadapannya membuat keyakinan itu sedikit terguncang. Bayangan Veronica tiba-tiba muncul di benaknya. "Bahkan Veronica..." Dewa menghentikan ucapannya sendiri. Ia teringat saat pertama kali menjalin hubungan dengan wanita itu. "Saat kami melakukannya untuk pertama kali, Veronica sudah tidak perawan," batinnya. Dewa mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Tapi itu bukan berarti Aruna tidak bersalah," gumamnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar. "Harusnya aku bahagia." Tatapannya kembali tertuju pada pintu yang telah ditutup Aruna beberapa menit lalu. "Aku sudah berhasil menghancurkan hidupnya." Dewa tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar hampa. "Aku sudah membuatnya merasakan sakit yang sama seperti yang kurasakan saat kehilangan Veronica dan anakku." Namun, anehnya tidak ada kepuasan yang ia harapkan. Dewa justru merasa sesak. "Kenapa..." bisiknya lirih. Ia mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa perasaanku jadi tidak karuan seperti ini?" Bayangan wajah Aruna yang dipenuhi air mata terus terlintas dalam pikirannya. 'Mas... aku tidak pernah membunuh Veronica.' 'Aku datang ke pernikahan ini dengan cinta dan ketulusan.' 'Kamu menikahiku hanya untuk balas dendam.' Setiap ucapan Aruna kembali terngiang di telinganya. "Cukup!" bentak Dewa pada dirinya sendiri. Ia memukul dinding kamar dengan keras. "Aku tidak boleh goyah." "Aruna adalah pembunuh." "Itu kenyataannya." Namun, suara hatinya terus mempertanyakan sesuatu yang selama ini ia abaikan. "Kalau dia benar-benar bersalah..." "Kenapa dia terus menyangkal dengan tatapan sejujur itu?" "Kenapa dia terlihat begitu terluka saat aku menuduhnya?" Dewa menatap kembali noda merah di atas sprei. Dadanya terasa semakin sesak. "Kenapa aku tidak merasa menang?" tanyanya lirih. Bukankah ini yang ia inginkan selama berbulan-bulan? Membalas dendam. Menghancurkan kehidupan wanita yang dianggap telah merenggut kebahagiaannya. Tetapi sekarang, setelah semuanya terjadi, yang tersisa justru kehampaan. Dewa menutup matanya sejenak. Untuk pertama kalinya sejak kematian Veronica, keraguan mulai tumbuh di dalam hatinya. "Bagaimana kalau..." Kalimat itu terhenti. Dewa membuka matanya dengan tatapan rumit. "Bagaimana kalau selama ini aku salah menuduhnya?"Pertanyaan itu membuat dadanya semakin terasa berat. Tanpa sadar, ia melirik ke arah pintu kamar. Aruna sudah pergi. Wanita yang beberapa jam lalu menjadi istrinya itu telah meninggalkan tempat ini dengan hati yang hancur. Dewa menghembuskan napas panjang. "Kenapa aku merasa kehilangan..." bisiknya pelan. Ia terduduk di tepi ranjang, menatap kosong noda merah yang masih terlihat jelas di atas sprei putih. Malam yang seharusnya menjadi awal kehidupan rumah tangga mereka justru berubah menjadi awal dari penyesalan yang belum berani ia akui.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
738.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
971.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
354.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook