Taobh Dorcha

1149 Words
Malam yang dingin disertai hujan yang deras, Elgio dan sahabatnya berkelana menyusuri kota yang mulai sepi. "Ada apa kau membawaku di tengah malam ini, El? Apa tanganmu gatal lagi?" Sebenarnya Otto sangat mengantuk, tetapi panggilan dari Elgio harus segera dipatuhi. "Aku tidak bisa menahan diri, Otto. Jadi kau harus menemaniku." Tanpa perasaan, Elgio berucap dengan santainya seolah-olah sudah menjadi kebiasaannya. "Apa kau tak bisa melakukan besok? Aku mengantuk dan lelah," ujarnya sembari menutup mata berusaha untuk tidur. "Tidurlah sesuka hatimu." Elgio membiarkan Otto tidur. Dia tak merasa bersalah telah membangunkan pria itu lalu menyeret paksa agar ikut. "Tuan, orang itu sudah ada di gudang. Apa perlu aku menyuruh yang lain menyiksanya terlebih dulu?" "Terlalu enak baginya, Axel. Lebih baik yang melakukannya sendiri." Kali ini target sasaran kemarahannya bukan dari napi yang hendak dihukum mati melainkan lawan dari perusahaannya. Ada mata-mata yang bekerja di perusahaannya dan Elgio tak menyukai hal itu. Elgio memang tidak pernah ke kantor, segala urusan dia selesaikan di kastil begitu juga dengan rapat melalui video call. Di setiap ruangan di perusahaan tersebut telah terpasang cctv dengan langsung bisa dilihat oleh Elgio. "Apa perlu aku membangunkan Otto, Tuan?" Setelah sampai di tempat yang dimaksud, Otto masih tertidur lelap dan tak menyadari jika Elgio melihatnya. "Tidak usah. Biarkan dia tidur." Elgio bersama lima pengawalnya masuk ke sebuah gudang yang tak terpakai, jauh dari sudut kota. Di sinilah tempat dia menyiksa atau membunuh orang yang tak disukainya. Ada dua hal yang Elgio tak sukai. Kebohongan dan pengkhianatan. Jika kedua hal itu ada pada diri orang tersebut maka dia tidak menyiksa melainkan langsung membunuhnya. "Di mana kalian membawa orang itu?" "Dia ada di sana, Tuan." Elgio segera melangkah cepat, dia sudah tak sabar ingin menggunakan tangannya yang gatal untuk menyiksa dan membunuh korbannya. "Selamat malam, Ferdinan. Apa kau menyukai hadiah dariku?" Ferdinan yang sudah bekerja selama dua tahun telah berhasil mencuri data dan memberikannya pada sang atasan. "Kau kira aku tidak tahu?" Elgio menarik dagu Ferdinan lalu dia miringkan ke kanan dan ke kiri. Tatapan matanya menyiratkan makna dalam, Ferdinan tak berani membalas tatapannya. "Apa jadinya jika wajah tampan ini rusak?" "Aku akan mengaku. Aku disuruh seseorang untuk menghancurkan perusahaan, Tuan Muda." Anggaplah Ferdinan itu pengecut, dia tak ingin mati malam ini di tangan Elgio. "Oh, ya? Semudah itukah?" tanya Elgio tanpa ekspresi. "Asal anda membebaskanku," ujar Ferdinan memohon agar dilepaskan. "Sebenarnya aku tak ingin terjadi padamu, Ferdinan. Tapi masalahnya tanganku gatal hari ini." Ferdinan tak dapat mengartikan makna dari perkataan Elgio. "Kau tahu? Aku lebih senang menyiksa dulu lalu mengajak orang itu bicara. Tapi kau justru membuka mulut terlebih dulu." Elgio mengambil kursi kayu lalu memutarnya sebelum dia duduk. Elgio melihat korban yang akan menjadi santapan tangannya malam ini. Sorot matanya begitu tajam dan menusuk sehingga membuat lawannya bergidik takut. "Jadi siapa yang menyuruhmu?" tanya Elgio spontanitas. "Tuan Eldricko Sanches. Dia yang menyuruhku mencuri data pembuatan teknologi terbaru milik anda, Tuan." Tak bisa dipungkiri, perusahaan IT milik keluarga Glasdtone memang paling unggul dan berjaya. Tak ada yang bisa menyaingi kehebatan perusahaan tersebut dalam membuat teknologi paling terbaru. Pihak lawan sampai iri dan nekat mencuri semua data. Namun sayang, tak ada satupun yang berhasil. "Aku sudah menduganya. Dia adalah orang paling licik dan tidak pandai memilih mata-mata." Elgio masih dengan wajah datarnya menatap Ferdinan. "Apa yang dia berikan padamu, Ferdinan?" "Uang 25 juta dollar, Tuan." Jika saja Elgio bisa tertawa maka saat ini dia bisa terbahak-bahak. Uang dalam jumlah itu masih bisa dikatakan kecil bagi Elgio. Dia bisa saja memberikan 100 juta dollar atau lebih. "Ternyata kau bodoh, ya? Uang sekecil itu kau terima." Elgio beranjak dari kursinya. Dia merasa inilah waktunya tepat untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. "Apa yang akan anda lakukan, Tuan?" Ferdinan tampak ketakutan saat dia melihat Elgio memegang rantai besi lalu memanaskannya benda itu ke atas api yang membara. Dia sudah terbiasa melakukannya sehingga panas api membuatnya tidak merasakan kepanasan. "Sepertinya aku tidak bisa meminta maaf. Aku bukan orang semacam itu." Elgio membuat Ferdinan menjerit dan berteriak meminta tolong saat rantai besi tersebut dililitkan ke tubuh Ferdinan. "Ah, dia mulai lagi. Dasar Elgio." Di dalam mobil, Otto membuka mata sebentar ketika mendengar teriakan lalu memejamkan matanya kembali. Dia anggap suara meminta tolong dan rintihan adalah suara pengantar tidur yang indah di telinga. **** ["Berita pagi ini, ditemukan tubuh penuh luka bakar di lereng gunung. Penyebab kematian belum diketahui secara pasti. Sampai berita ini diturunkan, identitas korban belum diketahui."] Clementine dan Chattlene sedang menonton berita pagi ini. Mereka bagaikan ibu dan anak yang saling mengomentari isi acara berita tersebut. "Kejam sekali orang itu, Nyonya. Apa salahnya sehingga dibakar seperti ini?" Clementine geram dengan tindakan pelaku yang sengaja membakar sebagian tubuh korban. Dia tak menyukai peristiwa itu. "Di dunia ini memang terkenal kejam, Cle. Kau tak tahu orang-orang bisa dibutakan oleh rasa benci dan dendam," ujar Chattlene menyimak perkataan Cle. "Tapi kan tidak seperti itu jug---" Elgio telah berdiri di depan mereka dengan mematikan televisi dengan seenaknya lalu tanpa merasa bersalah dia melenggang pergi. "Memangnya kau tidak bisa mengatakan dulu untuk mematikan tv ini?" Cle setengah berteriak, dia tak suka kesenangannya menonton berita diusik oleh kedatangan Elgio. Chattlene menatap punggung sang anak yang naik tangga menuju kamarnya. Wanita tua itu segera tahu pasti ada sesuatu yang telah terjadi malam kemarin. "Dia tidak suka keramaian saat menonton, Cle. Jadi jangan marah padanya," bela Chattlene pada putranya. Clementine hanya bisa terdiam dan hatinya dongkol. Di sini dia tak bisa berbuat semaunya. Beda saat dia berada di rumahnya. Tak peduli volume televisi keras, tak ada yang menegur Cle atau mematikan televisi dengan sengaja. "Aku akan ke taman, Nyonya. Apa anda ingin ikut denganku, Nyonya?" Clementine mengajak Chattlene, tetapi ditolak olehnya. Chattlene lebih memilih menemui anaknya. "El, apa boleh ibu masuk?" Meski pintu kamarnya terbuka separuh, tetap saja Chattlene mengetuk. Bisa saja dirinya langsung masuk, tetapi sang anak memiliki privasi sendiri. "Masuk saja. Bukankah ibu bisa masuk?" Chattlene masuk perlahan lalu menutup pintunya. Dia hanya ingin bicara berdua dengan Elgio tanpa yang lain mendengar. "El, semalam kau kemana? Ibu mencemaskan keadaanmu." "Aku pergi bersama Otto. Tanyakan saja dengan pria itu." Jika bicara dengan Elgio sama saja seperti bicara dengan batu. Keras dan tidak bisa dibantah. "Ibu lihat di televisi tadi. Itu bukan ulahmu lagi, El?" Elgio menatap tajam ke arah Chattlene. Dia tidak suka ada yang tahu tindakannya walau itu ibunya sendiri. "Lebih baik ibu urus saja dirimu ibu sendiri atau pria tua itu," ujar Elgio dengan ketusnya. Seberusaha apapun Chattlene meminta Elgio berkomunikasi lagi dengan sang ayah, tetap saja anak itu tidak mau. "Dia ayahmu, Elgio. Jangan menyebut dirinya pria tua!" Ada kemarahan di hati Chattlene. Dia tak menyangka putra kesayangannya telah berubah. "Lebih baik ibu pergi dari sini. Aku tak ingin tangan ini melukai ibu." Chattlene lebih memilih pergi, meninggalkan Elgio yang tampak tak menyukai kehadirannya. "Ibu harap dengan adanya gadis itu, kau bisa berubah," kata Chattlene sebelum menutup pintu. =Bersambung= Taobh Dorcha = Sisi Gelap
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD