Everhart dan Valdermar tak menyangka pagi ini mereka kedatangan tamu yang tak terduga sehingga membuat mereka jadi salah tingkah.
"Anda pasti ayah dan kakaknya Clementine, bukan? Saya Chattlene, ibu dari Elgio."
Chattlene memperkenalkan dirinya tanpa merasa malu atau risih melihat perkampungan mereka yang jauh dari kata mewah, tidak seperti rumahnya. Namun, ia menghargai sang pemilik.
"Benar. Kami keluarga dari gadis nakal yang berdiri di belakang anda itu," kata Valdermar mencoba mencairkan suasana yang kaku.
"Ayah ... aku bukan gadis nakal." Clementine cemberut dan kesal mendengarnya.
Cle merajuk, ia langsung menghampiri sang ayah.
Cattlene tertawa, dia merasakan kedekatan seorang anak kepada ayahnya. Dia ingin Elgio seperti itu, tetapi tidak sesuai harapannya.
"Maaf nyonya, rumah kami terlalu jelek untuk anda singgahi," sela Everhart yang merasa malu membiarkan tamu berada di luar.
"Saya akan membersihkan dulu, Nyonya," timpal Esme yang segera mengambil sapu dan membersihkan meja dan kursi. Ini ulah anaknya yang selalu meninggalkan mainan di sembarang tempat.
"Jangan memperlakukan saya seperti orang penting, Tuan. Tidak masalah bagi saya untuk di mana saja," ucap Chattlene yang tidak risih langsung duduk di kursi kayu.
Chattlene mengedarkan pandangannya, rumah ini memang tidak mewah, tetapi tampak bersih dan ada kehangatan di dalamnya.
"Anda mau minum apa, Nyonya? Maaf kalau kami tidak bisa memberikan yang mahal," Valdermar menawarkan minum padanya.
"Saya ingin yang diminum Clementine. Rasanya enak," tunjuk Chattlene yang melihat Cle sedang membuat jus apel.
Cle segera membuat dan menyajikannya ternyata wanita itu menyukai jus apel tersebut hingga habis tanpa sisa.
"Buatkan aku jus seperti ini di sana, ya, Cle," pinta Chattlene dan membuat gadis yang bergelut manja di tangan ayahnya menggangguk.
Itu artinya belum saatnya dia pulang. Pasti pria kejam itu tak mengijinkannya.
"Oh, ya apa yang membuat anda ke sini, Nyonya?"
Pertanyaan dari ayahnya yang ditunggu Everhart dan Clementine.
"Jadi begini, Tuan. Saya ingin Clementine tinggal di kastil untuk menemani anak saya."
"Tapi mereka tidak ada ikatan pernikahan," sela Everhart tidak suka.
"Tujuan nyonya sebenarnya apa?" tanya Valdemart pelan tapi tegas.
Cle menunggu jawaban dari Chattlene dengan hati was-was. Jika boleh memilih dia ingin bebas dari kastil itu.
"Saya ingin Cle menikah dengan Elgio."
Hampir saja Cle menyemburkan minumannya akan pernyataan Chattlene. Bahkan Esme yang berada di dapur tak kalah terkejutnya.
"Anda jangan bercanda dengan rakyat kecil seperti kami, Nyonya," Valdemart merasa tersinggung akan ucapannya.
"Saya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah tadi anak anda mengatakan mereka tidak boleh tinggal satu atap tanpa pernikahan?"
"Nyonya, anda mungkin salah memilihku. Aku bukan gadis baik-baik loh," sahut Cle disertai nada bercanda.
"Tentu saja tidak, Cle. Saya yakin pilihan ini tidak salah," sanggah Chattlene.
"Tapi anak saya belum mengenal anak anda. Bagaimana mereka akan menikah?"
Chatlene menampilkan senyumannya dan meneguk air yang disediakan Esme sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Suatu hari mereka akan saling mencintai, Tuan. Percayalah."
"Omong kosong, Nyonya. Bagaimana bisa wanita dan pria saling jatuh cinta dalam waktu semalam?" Everhart tak terima dengan hal dan menentangnya.
"Apa yang membuat anda yakin hal itu, Nyonya?"
Tak seperti anaknya, Valdemart berusaha menutupi rasa marahnya dengan bersabar.
"Saya tahu Cle memiliki hati yang baik dan dia seorang gadis yang memiliki kepandaian juga."
"Jika saya tidak setuju, apa nyonya marah?"
Chattlene menatap Valdemart, dia tersenyum lalu tanpa basa-basi bicara dengan nada mengancam.
"Bagaimana dengan nasib masyarakat di desa ini, Tuan? Apa anda tega?"
Sebenarnya Chattlene tak mau bicara seperti itu, tetapi ini demi sang putra kesayangan. Jika Elgio sudah menginginkan sesuatu maka ia harus memilikinya.
"Apa anda mengancam kami, Nyonya?!"
Everhart hendak mengusir Chattlene, tetapi pengawalan wanita itu sudah sigap. Dalam sekejab kakak Cle diringkus.
"Jangan sakiti kakakku, Nyonya. Baiklah aku akan menuruti permintaan anda," pinta Cle memohon agar sang kakak dilepas.
"Aku tidak memintamu tinggal selamanya di sana, Cle. Cukup satu tahun saja. Setelahnya kau boleh pergi."
"Aku hanya ingin dia memiliki teman yang bisa diajak bicara selain Otto," sambung Chattlene memberi pengertian.
Cle memandang ayahnya. Valdemart menghela napas dengan berat, dia membuat pilihan sulit hari ini.
Hidup masyarakat desa ada di tangannya. Desa ini dibangun di atas lahan milik keluarga Glasdtone. Selama ini hidup mereka aman-aman saja sebelum Cle tersesat di kastil itu.
Namun, di sisi lain. Dia harus merelakan sang putri hidup di kastil dengan pria kejam dan tak berperasaan.
"Bagaimana tuan Valdemart? Jika anda menyetujui, lahan ini akan menjadi sah milik anda sepenuhnya. Anda berhak memiliki lahan dan tanah ini," tawar Chattlene yang menggiurkan.
"Jangan mau menerima tawarannya, Yah. Cle akan menderita nanti di sana," ujar Everhart yang tangannya masih dipegang oleh pengawal Chattlene.
"Semua keputusan ada di tangan Cle, Nyonya."
Itulah yang dikatakan sang ayah. Jauh di hatinya Valdemart tak menginginkan hal ini, tetapi dia merasa kasihan dengan hidup anggota masyarakat yang dipimpinnya. Desa ini adalah tempat paling aman dari jangkauan masyarakat luar dan tetap menjaga rahasia jika mereka adalah perampok juga pencuri.
"Aku akan menikah dengannya asal anda memenuhi syaratku, Nyonya."
"Silakan kau sebutkan, Cle. Semampunya kami akan menerima syarat itu," jawab Chattlene merasa senang saat Cle menyetujuinya.
"Pertama di akhir bulan, ijinkan aku menemui keluargaku di sini."
Cle menatap Chattlene untuk segera dijawab. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Kedua, jangan bocorkan pada siapa saja mengenai keluargaku."
Tak ada sahutan berarti Chattlene juga setuju.
"Ketiga, jangan ada anak di antara aku dan tuan Elgio. Kami hanya sebatas teman."
Nyonya Chattlene langsung menyuruh pengawalnya untuk menghubungi pengacara agar perjanjian tersebut segera diberi tanda tangan oleh kedua belah pihak.
Cara yang mudah tanpa main rusuh, itulah yang dilakukan Chattlene. Dia memang wanita anggun dan bersahaja, tetapi didikan sang ayah membentuknya menjadi wanita yang memiliki pikiran tenang. Dia tak suka main kekerasan seperti menembak atau memukul lawannya. Cukup dengan nada ancaman dan intimidasi maka semua lawan akan mengalah.
****
"Hei ... wanita jelek. Dari mana kau sejak tadi bersama ibu?"
Cle yang baru pulang dari rumahnya malah disambut nada sumbang dari bibir Elgio dari anak tangga.
"Namaku Clementine bukan hei, Tuan Elgio yang jelek."
Cle tak peduli jika saat ini dirinya disaksikan para pelayan. Dia amat kesal dan benci dengan dirinya saat ini. Andai malam itu dia tidak tersesat maka hal ini tak akan terjadi.
Terjebak di sebuah kastil tua dengan pria yang tak memiliki emosi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi?"
"Tanya saja ibumu. Aku capek dan haus."
Cle tak mau menjawab pertanyaan Elgio dan lebih memilih ke dapur.
"Gadis itu akan tinggal di sini setahun dan ibu ingin kau segera menikah dengannya."
Perkataan dari sang ibu mampu membuat Elgio terdiam. Dia tak menginginkan pernikahan. Dia ingin memiliki gadis itu tapi bukan berarti harus terikat.
=Bersambung=
A bheil thu artinya Memilikimu