Bab 4 - Underwear

1513 Words
Kayra menatap kamar serba pink yang sudah ditempatinya sejak bayi. Kerlap-kerlip lampu hias di sekeliling dinding serta berbagai foto dan hiasan yang mempercantik ruangan ini, hal itu cukup berhasil menyita waktunya untuk merenung menatap kamarnya yang tidak akan ia tempati lagi entah sampai kapan. Kayra jadi agak sedih, di kamar Reno tidak seindah kamarnya di rumahnya ini. Reno juga pasti tidak akan pernah mengizinkannya untuk menghias kamar yang saat ini telah menjadi kamar mereka berdua. Sekarang Kayra jadi tidak akan bisa lagi melihat dekorasi dan lampu-lambu cantik serba pink yang biasa ia lihat sebelum dan sesudah tidur untuk menenangkan hati. Ia pun mendengus pasrah, kemudian segera menutup pintu kamarnya seraya membawa sebuah koper berisi beberapa pakaian. Ya, ia harus memindahkan barang-barang miliknya ke rumah Reno yang berada tepat di sebelah kanan rumahnya bersama ayahnya ini. Begitu sampai di depan, Elvina yang sedang menyemproti aneka tanaman hiasnya langsung membantu Kayra menggeret koper yang terlihat berat dibawa oleh tubuhnya yang kecil itu. “Ini aja? Ada lagi nggak yang perlu dipindahin? Biar Mama bantu.” Elvina berkata lembut. Kayra berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat barang apa yang sekiranya ia butuhkan tapi belum sempat ia bawa. Namun kemudian ia menggeleng. “Kayaknya sih nggak ada. Gampang lah itu mah, kalo ada yang kelupaan tinggal ambil aja lagi. Toh dekat juga 'kan.” Elvina hanya menjawabnya dengan tersenyum sambil mengangguk sekali. Ia kemudian membantu mengangkat koper Kayra masuk ke dalam rumah. “Makasih Tan—eh, Mama maksudnya.” Kayra nyengir lebar. “Hehehe ... belum terbiasa.” Elvina melambaikan tangannya. “Nggak apa-apa, nanti lama-lama juga terbiasa.” Kayra tersenyum. Ia pun berpamitan untuk membawa kopernya ke kamar. Sekalian ia mau menjalankan tugas yang diberikan oleh Elvina tadi pagi. Ya, ia harus memilih pakaian kotor untuk di laundry. Sesampainya di kamar, tidak ada Reno disana. Sepertinya dia sedang mandi. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Kayra pun tidak memedulikannya. Ia langsung melakukan pekerjaannya, meletakkan isi kopernya ke dalam lemari yang baru saja dibeli tiga hari lalu. Ada beberapa pakaian Reno juga disana. Kayra merengut ketika melihat gantungan baju yang terlihat agak acak-acakan. Ia tidak habis pikir dengan Reno. Perasaan baru kemarin ia melihat Bu Ningsih, pembantu di rumah ini menaruh beberapa pakaian Reno ke dalam lemari baru ini dengan sangat rapih, tapi saat ini sudah berantakan lagi. Apa memang semua laki-laki seperti itu? Hah ... kalau begitu berarti mulai sekarang Kayra harus sering-sering membereskan lemari yang menjadi lemari mereka berdua saat ini. Kayra pun mendengus pasrah seraya mulai membereskan isi lemari dan menggantungkan beberapa pakaiannya ke dalam sana. Akhirnya pekerjaannya selesai dalam lima belas menit. Kini Kayra beralih ke arah keranjang pakaian kotor yang sudah sangat menumpuk di pojok ruangan sebelah lemari. Ia pun mulai memilahnya satu persatu yang mana yang harus di laundry, dan yang mana yang akan ia taruh di belakang untuk dicuci sendiri. Sebenarnya ini kali pertama Kayra mengacak-acak pakaian kotor Reno. Jujur, rasanya agak ... entahlah. Ini sangat membingungkan. Rasanya masih tidak terbayangkan ia telah menjadi istri Reno dan akan mengurus segala keperluan pria itu padahal selama ini Reno lah yang lebih sering mengurusnya. Satu sisi Kayra merasa senang karena bisa melakukan hal ini untuk Reno, tapi disisi lain ia benar-benar merasa tidak karuan. Pikirannya jadi membayangkan hal yang aneh-aneh ketika menghirup aroma tubuh Reno yang melekat dalam setiap pakaian kotor yang tengah dipegang-pegangnya ini. Bahkan saat ini Kayra sedang termenung sambil tersenyum-senyum sendiri, membayangkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa. Tak sadar kepalanya mulai tergerak maju untuk menghirup pakaian kotor Reno lebih dekat lagi. Namun detik berikutnya, Kayra segera tersadar dari apa yang tengah dilakukannya. Ia pun dengan refleks melempar kaus dalam Reno yang ada di tangannya ke dalam kantung kresek besar tempat pakaian kotor yang akan di bawa ke tempat laundry. Kayra kemudian menggeleng cepat sambil memukul-mukul keningnya, mengutuk dirinya sendiri karena telah melakukan suatu hal yang memalukan serta menjijikkan. “Duh ... kamu ngapain sih, Kayra. Bodoh! Bodoh! Bodoh!” rutuknya pelan sambil melirik ke arah kamar mandi waspada. Tentu saja ia takut kalau Reno mendengar apa lagi melihat hal yang dilakukannya tadi. Tapi untungnya pintu kamar mandi masih tertutup rapat disana. Kayra pun mendengus lega. “Fiuh ... untung Reno nggak liat.” Kayra bergidik ngeri sendiri membayangkan jika hal itu terjadi. Ia pun mengerjapkan matanya lagi, kembali melanjutkan pekerjaannya. Sepertinya sudah hampir selesai. Keranjang rotan tempat pakaian kotor ini sudah terasa ringan sekarang. Dengan santai Kayra kembali mengulurkan tangannya masuk ke dasar keranjang tanpa menoleh. Pasalnya keranjang pakaian ini lebih panjang dibandingkan dengan panjang tangannya. Jadi agak sedikit sulit baginya untuk meraih pakaian yang ada di dasar keranjang rotan ini. Tapi akhirnya ia berhasil meraih beberapa helai pakaian terakhir yang ada di dalam keranjang. Namun saat memegang pakaian terakhir itu, yang kali ini terasa kecil di genggamannya. Kayra pun mengerut bingung sambil bertanya-tanya dalam hati, memangnya pakaian pria macam apa yang sekecil ini? Penasaran, Kayra segera mengeluarkan pakaian dalam genggamannya itu kemudian langsung melihatnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang dipegangnya saat ini, matanya langsung melotot lebar, mulutnya juga ternganga sempurna. Di genggamannya kini terdapat tiga potong pakaian yang sepertinya adalah pakaian dalam Reno. Karena tidak percaya dengan pemikirannya, ia menjembreng salah satunya sambil berbalik perlahan. Kini, terpampang jelas dibawah cahaya terang lampu kamar, celana dalam Reno yang bermodel boxer tutan, berukuran medium dengan warna abu-abu gelap. Kayra menatapnya dengan perasaan tidak karuan. Ditambah lagi kini sang empu celana dalam yang tengah dipandangnya itu tiba-tiba keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih yang menutupi bagian perut ke bawah. Pria itu tengah mematung melihat aksi Kayra. Keduanya bertemu tatap. Lalu kemudian .... “HUAAAAAA!!!” Keduanya menjerit begitu kencang lantaran sama-sama malu dan terkejut bukan main. Kemudian Reno segera berlari menghampiri Kayra dan langsung merenggut celana dalamnya yang tengah dilihat oleh gadis itu. Sementara Kayra sendiri, ia langsung berbalik menutup wajahnya yang sudah memerah seperti tomat. “Ka-kamu ngapain pandangin celana dalam aku kayak gitu?!” protes Reno malu. “Kamu juga ngapain keluar pake handuk doang. Kalo handuknya merosot gimana?!” balas Kayra tidak kalah malu. Dibilang seperti itu, Reno baru sadar kalau ia tidak mengenakan apa-apa lagi dibalik handuknya. Ia pun buru-buru mencengkeram handuknya kuat-kuat, takut kalau yang dikatakan Kayra barusan akan benar-benar terjadi. Tidak terbayangkan bagaimana malunya ia nanti jika itu sampai terjadi. “I-ini ‘kan kamar aku. Suka-suka aku dong mau pake handuk doang juga.” Reno membalas lagi. “Tapi ini ‘kan juga kamar aku sekarang, Reno!” Reno menepuk keningnya. Ya, ia lupa kalau ia sekarang berbagi kamar yang sama dengan Kayra. Ia pun langsung berbalik memunggungi Kayra yang juga masih memunggunginya saat ini. “Ya-ya udah sana kamu pake baju dulu,” kata Kayra lagi. “Gimana aku mau pake baju kalo kamu masih disini? Keluar sana!” Tanpa disuruh lagi, Kayra pun segera berlari kecil hendak keluar kamar. Ia masih belum berani membuka tangannya yang menutupi wajah merahnya. Dan karena itu ia jadi menabrak Elvina yang kebetulan tengah berada di pintu kamar saat ini. “Ada apa sih, kok ribut banget? Kedengaran sampe ke atas, loh, ” tanya Elvina. Kayra menyingkirkan tangannya dari wajahnya, Reno juga mulai berbalik. Keduanya memandang sang ibu dengan tatapan malu. Sementara Elvina semakin memicingkan matanya curiga karena mereka tidak mau bicara. Namun saat melihat celana dalam Reno yang bertebaran di lantai, ia jadi tersenyum jahil. “Oh ... ini toh masalahnya. Dasar pengantin baru,” godanya sambil menatap Reno dan Kayra bergantian. Reno pun langsung memunguti celana dalamnya dan menyembunyikannya di balik tubuhnya. “Ma-Mama keluar sana! A-aku mau ganti baju!” rutuk Reno. Ia masih tidak bisa menyingkirkan rasa malunya di hadapan Kayra serta mamanya yang saat ini terus tersenyum jahil padanya. Elvina memicingkan matanya pada Reno. “Jadi Mama aja nih yang di usir? Kayra enggak? Mau minta asupan tambahan ya habis mandi begini?Enak sih, masih segar. Ya, nggak?” Reno langsung melotot mendengar ucapan mamanya yang sengaja menggodanya itu. Ia jadi bertambah malu di hadapan Kayra yang masih diam bergeming menatap dinding. Reno pun langsung bergerak mendorong mamanya keluar dari kamarnya, kemudian menutup pintu rapat-rapat. Ya, ia terpaksa melakukan itu. Ia tidak mau mendengar godaan Elvina yang pastinya akan lebih memalukan lagi baginya. Apa lagi ada Kayra yang mendengar. “Huh! Dasar Mama ribet!” dengusnya pelan. Elvina hanya menggeleng pelan sambil tertawa kecil di luar kamar. Ya, ia memaklumi putranya itu. Namanya juga pengantin baru, pasti masih sama-sama malu. Elvina pun segera pergi dari sana, tidak mau mengganggu pasangan muda yang sedang berusaha menyesuaikan diri itu. Reno menatap Kayra. Gadis itu sedang memejamkan matanya saat ini. Wajahnya terlihat merengut malu, pipinya agak merona. Melihat ekspresi lucu Kayra yang seperti itu, Reno tertawa pelan. Tapi kemudian ia segera tersadar dan buru-buru mengambil pakaian ganti lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Kayra, ia benar-benar merasa tidak karuan saat ini. Ia malu, tapi rasanya berbeda dari biasanya. Rasa malu yang kali ini membuat dadanya berdetak begitu cepat, dan anehnya ia menyukai perasaan seperti ini. Ia benar-benar tidak paham dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Tapi apa pun itu, ini terasa sangat menyenangkan. Bahkan tidak sadar, Kayra jadi tersenyum-senyum sendiri entah karena apa. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD